
Selamat! Membaca 🤗
❄️❄️❄️❄️❄️
Rahman bersimpuh di hadapan Jubaidah, bahkan lelaki itu sampai menitihkan air mata.
Ia benar-benar terluka dan hancur. Bagaimana tidak! Wanita yang selama ini ia puja, sanjung dan sayangi lebih dari dirinya sendiri, adalah penyebab ibu kandungnya meninggal dunia, menghancurkan keluarga bahagianya. Memperalat dirinya sedemikian rupa.
"Rahman."Jubaidah mengangkat tangannya, ia mengusap pelan rambut Rahman, anak yang selama ini ia besarkan dengan kebohongan dan sandiwara. Awalnya Jubaidah hanya ingin membalas Mira dengan memanfaatkan Rahman dan menyiksanya. Tapi, seiring berjalannya waktu kian lama Jubaidah menjadi sayang dengan Rahman, hingga ia melakukan segala cara agar Rahman tidak membencinya terutama tidak mengingat masa lalunya. Jubaidah sudah terlanjur mencintai dan menyayangi Rahman seperti anaknya sendiri.
Melihat Rahman bersimpuh di hadapannya dengan penuh luka dan kesedihan mendalam, membuat Jubaidah terpukul. Ia merasa bersalah, ia menyesali atas apa yang ia lakukan pada keluarga Rahman dulu. Sekarang, Rahman Sudah membencinya tentu tidak ada lagi cinta untuk dirinya dari lelaki tersebut.
Jika waktu bisa terulang kembali, ingin rasanya Jubaidah memperbaiki semuanya. Ia tidak akan datang di tengah-tengah keluarga Rahman, ia tidak akan iri dan mengaggu keluarga bahagia itu.
Namun, nasi sudah menjadi bubur. Jubaidah tidak bisa merubah apa yang sudah terjadi. Ia hanya bisa menyesal dan menyesal selama hidupnya.
"Rahman, maafkan ibu Nak. Ibu salah, ibu berdosa padamu."Tangis Jubaidah yang masih mengusap rambut Rahman, seperti yang sering ia lakukan ketika Rahman masih kecil.
"Kanapa kau tega membunuh ibu ku?" Satu pertanyaan, kembali keluar dari Rahman.
"Rahman, saat itu, Ibu hilaf. Ibu terlalu iri dengan kehidupan bahagia keluarga Mira ibumu, hingga membuat ibu gelap mata menginginkan kebahagiaan yang tidak pernah ibu dapatkan sebelumnya, dan ibu terpaksa melakukan segala cara. Maafkan ibu Rahman, ibu sungguh terpaksa telah meracuni ibumu."Isak Jubaidah.
"Jangan pernah menyebut dirimu sebagai Ibuku."
__ADS_1
Rahman kembali tersadar setelah mendengar pengakuan wanita tersebut, dan ia berdiri di hadapan Jubaidah.
Dan tanpa mereka ketahui.
Rania, Via, dan Alvian berada di sana. Menyaksikan semua dengan mata kepala mereka sendiri.
Rania sampai bergetar dengan dada yang sesak menahan sakit.
Ia sungguh tidak menyangka jika wanita yang ia banggakan dan patuhi selama ini tidak lebih dari seorang iblis.
Hati Rania begitu tersayat melihat kehancuran kakak yang ternyata bukan kakak kandungnya. Ini kali pertama Rania mengetahui kebenaran ini, dan ia sungguh sangat syok dan hancur.
Begitu pun dengan Via, baru kali ini ia melihat Rahman begitu rapuh dan hancur, selama ini lelaki itu berpura-pura baik-baik saja dengan apa yang sudah ia ketahui tentang Jubaidah. Tapi ternyata Rahman menyimpan dendam dan kehancuran yang luar biasa di hatinya.
Rahman kembali mengontrol emosinya. Dan ia meraih botol yang sebelumnya ingin ia berikan pada Rohmah.
"Aku, akan memaafkanmu, jika kau meminumkan ini pada Anakmu, Rohmah."
Jubaidah terbelalak. Begitu juga dengan beberapa pasangan mata yang masih menyaksikan adegan tersebut.
Jubaidah menggeleng.
"Tidka Rahman, tolong jangan lakukan ini."
__ADS_1
"Cepat! lakukan!"bentak Rahman.
"Mas!"akhirnya Via bersuara, dan menyadarkan kedua orang yang tengah bersitegang itu.
"Via! kenapa kau ke sini?"tanya Rahman, dengan menatap siapa yang datang bersama istrinya.
"Mas, aku khawatir dan mencarimu. Ayo, ikutlah pulang bersamaku."Ajak Via, dengan agar Rahman tidak melakukan kegilaannya.
"Sepertinya, Rahman tidak akan mendengarkan kita, kau lihat matanya, bertanda jika ia sudah di kuasai emosi."Bisik Alvian pada Via.
Meskipun yang di katakan Alvian benar, tapi Via harus tetap menyelamatkan Rahman dari kesesatan.
Bersambung..
❄️❄️❄️❄️
Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini 🙏
Minta dukungannya ya 🤗
Tolong koreksi jika ada kesalahan dalam tulisan ini 🙏
Lope Banyak-banyak untuk semuanya ❤️❤️
__ADS_1