
Selamat! Membaca 🤗
❄️❄️❄️❄️
"Mas, ikhlaskan semuanya, dan kita serahkan semua pada yang berwajib. Ibu Jubaidah telah menyesali semua perbuatannya, biarkan beliau menerima hukuman sesuai peraturan di negeri ini. Kita tidak bisa menghakiminya."
"Tidak, Via. Aku harus membalas apa yang sudah dia lakukan pada Ibuku."
"Mas Rahman."kali ini Rania yang bersuara, ia maju beberapa langkah mendekati Rahman. Lalu mengatupkan kedua tangannya sambil berkata.
"Mas, terima kasih atas apa yang sudah Mas berikan padaku, Mas Rahman, selama ini sudah menjadi kakak yang baik untukku, bahkan setelah Mas, tau apa yang sebenarnya di lakukan ibu ku, Mas Rahman tetep menganggap ku sebagai seorang adik. Aku tidak akan melupakan kebaikan Mas Rahman. Aku tidak akan meminta mas Rahman, untuk memaafkan ibu, karena aku tahu sebesar apa kesalahan ibu pada mas Rahman. Karena jika aku ada di posisi mas Rahman tentu akupun akan membencinya.Aku hanya ingin berterima kasih dan memohon maaf kepada mas Rahman, jika aku selalu menyusahkan mu. Lakukanlah apa yang Mas Rahman ingin lakukan pada ibu, tapi tolong jangan lakukan pada Mbak Rohmah."
"Rania."
Via, menyentuh pundak gadis itu.
Rania menoleh. "Tidak apa Mbak. Ibu memang salah. Jadi ibu harus menerima hukuman dari Mas Rahman, aku tidak akan menghalangi Mas Rahman ingin melakukan apapun kepada ibuku."
Via menggeleng.
"Jangan bicara seperti ini Rania."
"Tidak, Via. Apa yang dikatakan oleh Rania benar,"Jubaidah menyahut."Saya memang bersalah dan berdosa besar pada Rahman, memang sudah seharusnya Rahman membalas apa yang sudah saya lakukan kepada mendiang Mira. Via, saya juga meminta maaf kepadamu atas sikap buruk saya selama ini. Maafkan saya Via, maafkan semua kesalahan yang pernah saya lakukan padamu."Sambung Jubaidah dengan air mata penyesalan yang membasahi wajahnya.
Via mendekat dan duduk menyeimbangi Jubaidah, dan disaat itu juga Jubaidah mengatupkan kedua tangannya, kembali meminta maaf kepada Via.
"Tidak Bu."Via, meraih tangan Jubaidah lalu menurunkannya.
"Aku sudah memaafkan ibu, aku juga minta maaf karena selama menjadi menantu Ibu, mungkin aku pernah menyakiti dan berkata kurang sopan kepada ibu."
"Tidak Via, saya lah yang bersalah, saya selalu menghasut Rahman untuk membenci dan meninggalkanmu. Saya memfitnah mu dengan berbagai cara, saya juga sering menjelek-jelekan mu di depan Rahman. Sungguh saya menyesal, maafkan Ibu mertuamu ini, Via."
Via kembali meraih tangan Jubaidah.
" Aku berharap, atas kejadian ini Ibu mau kembali ke jalan yang benar."
"Iya, jika saya masih diberi kesempatan untuk hidup, saya ingin bertobat dan memohon ampun kepada Allah, atas semua dosa-dosa yang saya lakukan selama hidup saya. Tapi, apakah Allah mau mengampuni pendosa seperti saya?"
__ADS_1
"Ibu jangan bersedih, kasih sayang Allah sangatlah luas. Allah akan memaafkan dan menerima tobat hambanya yang ingin benar-benar bertobat dan memperbaiki kesalahannya, dan berjanji tidak akan pernah mengulangi hal yang sama."
Jubaidah mengangguk.
"Terima kasih Via, kau memang wanita yang baik, Rahman sungguh tidak salah memilih wanita sepertimu."
Rahman yang masih menyaksikan itu semua segera menarik Via untuk bangun, menjauhkan istrinya dari wanita yang saat ini ia benci setengah mati.
Melihat reaksi Rahman, Jubaidah tidak tinggal diam, dia meraih racun yang masih ada di tangan Rahman.
"Rahman, tolong jangan meminta ibu untuk memberikan ini kepada Rohmah, karena Rohmah tidak mengetahui apapun atas kejahatan ibu kepada mendiang Mira, ibu yang akan bertanggung jawab atas semua kesalahan Ibu, jadi ibu yang akan meminum racun ini."
Rahman terdiam.
Sedangkan Via masih berusaha menghalang-halangi.
Setelah mengatakan itu, Jubaidah beralih pada Rania.
Ia meminta maaf pada Putri bungsunya.
Namu Rania tidak mengatakan apapun, ia memilih untuk pergi dari sana, tanpa ingin tahu apa yang akan terjadi selanjutnya di tempat itu. Saat ini, Rana benar-benar sedih dan hancur.
Via masih berusaha menghentikan dengan membujuk Rahman dengan segala kata-kata yang Via yakni bisa meluluhkan Rahman.
Sedangkan Jubaidah sudah siap akan meminumnya.
"Mas, ingat Satria. Apa yang dia rasakan, ketika besar nanti, mengetahui perbuatan Ayahnya. Bahkan tidak menutup kemungkinan jika kau akan di penjara, dan ketika kau menghabisi waktumu di penjara, kau sudah kehilangan momen bersama Satria untuk waktu yang sangat lama. Apa kau mau itu semua terjadi?"
Rahman termenung. Dan ia membenarkan apa yang di katakan Via, Rahman ingin menjadi ayah terbaik untuk Satria.
Ketika Jubaidah sudah membuka tutup botol dan siap untuk meneguk isinya.
Rahman menepisnya sampai botol itu terjatuh.
Jubaidah semakin tersedu dengan menatap wajah Rahman.
Via meraih tangan Rahman.
__ADS_1
"Mas, ayo kita pulang. Satria Sudah menunggu mu di rumah." Dan Via menuntun Rahman keluar dari bangunan kosong tersebut.
Sebelum Via pergi ia menghampiri Alvian.
"Mas, tolong bantu aku untuk mengurus semuanya?"pinta Via.
"Kau tenang saja, Mas akan mengurus semuanya dan meminta bantuan Wisnu. Kau pulanglah, hati-hati di jalan."
"Terima kasih, mas."
❄️❄️❄️❄️
Beberapa hari berlalu.
Dengan semua barang bukti yang terkumpul, dan pengakuan dari Jubaidah sendiri. Akhirnya wanita itu di jebloskan dalam penjara atas kasus pembunuhan pada mendiang Mira. Rahman hanya menuntut itu, ia tidak menuntut Jubaidah atas penyekapan dan percobaan pembunuhan pada dirinya beberapa tahun lalu.
Jubaidah di jatuhi hukum Seumur hidup, karena melakukan pembuahan berencana.
Sedangkan Rohmah kembali di rawat di Rumah sakit jiwa.
❄️❄️
Beberapa bulan berlalu.
Perlahan Rahman sudah bisa berdamai dengan takdir dan mengikhlaskan semuanya. Tapi, meskipun begitu, ia tidak pernah mengunjungi Jubaidah sekalipun.
Rumah tangganya dan Via semakin harmonis dan bahagia, di tambah lagi saat ini Via tengah mengandung anak ke dua mereka yang insyaallah berjenis kelamin perempuan.
Satria pun sudah di nyatakan sembuh dari sakit yang ia derita selama ini, dan anak itu sudah tumbuh semakin besar dan pintar.
Via sudah tidak lagi mengungkit apapun tentang Jubaidah di depan Rahman, dan Via juga tidak pernah memaksa Rahman untuk menjenguk Jubaidah. Biarkan wanita itu menjalani hukuman atas apa yang ia lakukan selama bertahun-tahun ini.
Yang terpenting bagi Via, suaminya kembali ke jalan yang benar, menyayangi dirinya dan anak-anaknya.
(TAMAT)
❄️❄️❄️
__ADS_1
Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini 🙏
Lope banyak-banyak untuk semuanya ❤️❤️❤️