
Selamat! Membaca 🤗
"Maaf Sus, boleh saya tahu siapa yang membawa pulang Mbak Rohmah?"tanya Via yang ingin memastikan.
"Atas nama, Pak Rahman Wijaya, beliau datang satu minggu yang lalu dan memaksa Ibu Rohmah dibawa pulang."
"Apa! Mas Rahman. Mas Rahman selama ini tidak mengatakan apapun padaku, apa alasan Mas Rahman membawa paksa Mbak Rohmah!"
"Baik suster kalau begitu terima kasih banyak."
"Sama-sama Bu."
"Tante Via. Om Rahman sudah membawa Ibu pulang? Apakah Ibu sudah sembuh?"tanya Putri yang mendengar semua percakapan antara Via dan Suster.
"Mudah-mudahan saja seperti itu ya sayang, nanti Tante akan menanyakan kepada Om Rahman."
Mereka kembali pulang ke Rumah, dan Via tengah berpikir keras, apa maksud dari Rahman membawa pulang Rohmah, bukan Rohmah belum dinyatakan sembuh, karena menurut Dokter, Rohmah harus menjalani perawatan selama beberapa bulan ke depan untuk mengontrol mental dan emosinya.
Jika Rahman benar membawa Rohmah! Lalu di mana lelaki itu membawa Rohmah, sedangkan di Kontrakan tidak ada begitu juga di Rumahnya! Apa mungkin Rahman menyediakan tempat khusus untuk Rohmah, agar mempermudah proses penyembuhan wanita itu. Semoga saja seperti itu, itulah yang ada di pikiran Via saat ini.
"Sudah Via jangan memikirkan itu, mungkin saja Rahman memberikan tempat yang layak dan lebih baik untuk kakaknya."Ujar Aminah yang mengerti jika anaknya memikirkan keadaan Rohmah.
"Untuk apa kau memikirkan wanita gila itu Via, biarkan saja Rahman membawanya ke mana itu bukan urusan kita,"sahul Alvian dengan sangat kesal.
Dan saat itu juga ia langsung mendapat tatapan tajam dari Aminah, bagaimana bisa ia berkata seperti itu di hadapan Putri yang tak lain tak bukan adalah anak dari dari wanita yang tengah ia bicarakan dan disebut gila.
"Maaf-maaf aku tidak sengaja."Ujar Alvian.
❄️❄️
Sore hari.
Seperti janjinya kepada Via, Rahman datang untuk menjemput istri dan anak serta keponakannya.
Via tidak langsung mempertanyakan apa yang membuatnya penasaran sejak siang tadi, karena ia ingin membicarakan itu kepada Rahman di Rumah saja.
Sesampainya di Rumah, Rahman yang lebih dulu mempertanyakan Via yang datang ke RSJ bersama Aminah.
"Iya, aku memang dari sana siang tadi bersama Ibu, Mas. Tapi aku tidak bertemu dengan mbak Rohmah karena Mbak Rohmah sudah tidak ada di sana, dan Suster bilang Mas yang membawa pulang Mbak Rohmah apa itu benar Mas?"Jawab Via, sekaligus memberikan pertanyaan pada Rahman.
Tanpa ada yang ditutup-tutupi Rahman pun menjawab.
"Benar."
"Kenapa Mas? Apakah Mbak Rohmah sudah sembuh! Lalu di mana Mbak Rohmah sekarang?"
"Ada, Mas sudah memberikan tempat yang cocok untuknya, dan kau tidak perlu lagi mengkhawatirkan atau menanyakan dia lagi,"kata Rahman.
"Lalu bagaimana dengan Putri Mas, dia selalu mempertanyakan Ibunya. Apa kau tidak mengizinkan Putri untuk bertemu dengan Mbak Rohmah?'
"Belum waktunya, jika sudah waktunya, Mas akan mempertemukan mereka. Sudahlah kau jangan membahas lagi soal Mbak Rohmah, Karena semua itu sudah menjadi urusan Mas dan Mas sudah pasti akan melakukan apa yang seharusnya Mas lakukan kepada mbak Rohmah."
__ADS_1
Perkataan Rahman justru menimbulkan kekhawatiran di hati Via, entah kenapa Via merasa jika Rahman akan berbuat buruk kepada Rohmah. Tapi semoga saja itu tidak terjadi karena Via berharap jika Rahman benar-benar akan membantu proses penyembuhan Rohmah.
"Baiklah, apa Mas Rahman sudah makan?"tanya Via mengalihkan pembicaraan, ia tidak mau terus-terusan menekan dan mempertanyakan Rahman soal Rohmah, karena ia takut jika suaminya itu merasa tidak nyaman, biar Via akan mencari tahunya di lain waktu.
"Belum, sepulang dari Pabrik tadi Mas langsung ke Rumah Ibu untuk menjemputmu."
"Kalau begitu Mas mandilah dulu, aku akan memasak makan malam untuk Mas."
Rahman mengangguk dan ia berlalu memasuki kamar.
*
Usai memasak, Via masuk ke dalam kamar berniat untuk memanggil suaminya.
Tapi ketika Via berada di dalam kamar pandangannya tertarik oleh botol kecil yang ada di nakas samping ranjang.
"Apa itu, apa itu botol obat! Tapi aku merasa tidak mengkonsumsi obat! Apa itu punya Mas Rahman!"gumam Via yang tak mengalihkan pandangannya dari botol kecil yang seperti ada di apotek-apotek.
Di saat Via ingin meraih botol tersebut tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka dan Rahman keluar dari sana, dan hal itu mengejutkan Via hingga ia tak jadi meraihnya tapi ia bertanya pada Rahman tentang benda itu.
"Itu obat untuk Ibu, tadi Mas menebus obat Ibu di Apotek sebelum menyusulmu."Sahut Rahman tanpa menimbulkan kecurigaan.
Via mengangguk percaya.
"Kalau begitu ayo kita makan dulu Mas, mumpung masakannya masih hangat Kau pasti lapar kan."Kata Via.
Rahman mengangguk.
"Tentu saja Mas sangat lapar, tapi...."
"Tapi apa Mas, jika kau lapar Ayo segera makan."
Alih-alih keluar kamar untuk menyantap makanan yang sudah dimasak oleh istrinya, Rahman justru menarik pinggang Via, dan mendaratkan badan mungil itu kedalam pelukannya, dengan posisi Via membelakanginya, lalu Rahman berbisik di telinga Via.
"Mas, memang lapar, tapi mas jauh lebih lapar akan dirimu,"kata Rahman yang menurut Via ambigu.
Seketika Via, merinding mendengar bisikan itu, tapi sebisa mungkin Via bersikap biasa-biasa saja.
"Tapi kau makan dulu Mas!"Sahut Via, yang menghindari, ia menghindari bukan karena tidak mau, tapi karena Via gugup dan salah tingkah, meskipun ini bukan yang pertama kali. Tapi bagi setiap istri, selalu merasa gugup dan deg-degan saat suaminya meminta jatah malamnya.
"Mas, masih cukup kuat walaupun belum makan, ayolah!"Rahman kembali bicara dengan cara berbisik, padahal ia bisa bicara dengan normal tanpa harus berbisik seperti ini, membuat merinding Via saja, bukan hanya merinding, tapi Via juga merasakan ada sesuatu yang lain di tubuhnya.
"Apa!"
Rahman, mendekatkan bibirnya ke telinga Via lalu berbisik kembali.
"Mas, sangat merindukanmu, sudah lama kita tidak melakukan apa yang seharusnya rutin kita lakukan."Dan Rahman mengigit telinga itu di akhir ucapanny.
"Auuww... Sakit Mas, kenapa kau menggigitnya?"protes Via, seraya mengusap telinganya, sebenarnya gigitan itu tidak terasa sakit karena Rahman mengigitnya dengan lembut. Hanya karena reaksi yang sulit di ungkapkan dengan kata-kata Via jadi keceplosan mengaduh, padahal ia hanya geli.
"Maaf, Mas tidak senaja."
__ADS_1
Rahman membalikkan tubuh Via agar menghadap kearahnya.
Ia mengusap wajah Via dengan sangat lembut.
"Kau masih sama seperti dulu, cantik dan manis,"goda Rahman.
Via tersipu, namun hatinya sangat berbunga-bunga.
Kadang hal sepele seperti ini bisa membuat hati wanita menjadi kebun bunga.
"Sudah Mas, ayo kita makan!"ajak Via, dan berusaha melepaskan diri.
Namun Rahman semakin erat memeluknya.
"Kenapa?"
"Kenapa, apanya Mas?"
"Kenapa menghindar, apa kau tidak merindukan dan menginginkan suamimu ini?"tanya Rahman dengan memasang wajah sedih.
"Bukan seperti itu Mas, aku hanya... Uuumph..!"
Via tidak bisa menuntaskan ucapannya, karena Rahman sudah lebih dulu membungkam mulutnya.
Bukan membungkam dengan telapak tangan apalagi telapak kaki, tapi Rahman membungkamnya dengan bibir basah yang ia miliki. Atau lebih sering di sebut. Menciumnya.
Rahman tersenyum genit, setelah ia melepaskan ciumannya.
Dan Via, wajahnya seketika berubah warna menjadi hijau eh merah bagai buah naga.
Mereka sudah seperti pengantin baru, yang akan memulai malam pertama.
Rahman mengangkat wajah Via menggunakan telunjuknya.
Dan sedetik itu juga ia kembali mendaratkan bibirnya di bibir mungil sang istri.
Ya, mereka kembali melakukan adegan Kiss..
Dan untuk kali ini Kis Rahman di balas oleh Via, hingga terciptalah ciuman dalam dan saling balas di sana, karena sama-sama menuntut akan ciuman yang seolah tidak ada ujungnya itu. Suhu di tubuh pasutri ini jadi meningkat, kamar yang sudah di lengkapi AC itu menjelma menjadi Padang pasir yang gersang, hingga membuat Rahman dan Via bercucuran keringat.
Puas dengan pemanasan global. Rahman mendorong Via di atas Ranjang. Sejenak ia melepaskan tautan bibirnya untuk membuka pembungkus yang ada di tubuhnya.
Sementara Via, masih mengatur nafasnya dan menatap Rahman yang mengkilat karena bermandikan keringat dengan wajah yang memerah karena tidak sabar ingin menerjang sesuatu.
Bersambung..
❄️❄️❄️❄️
Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini 🙏
Minta dukungannya ya 🤗
__ADS_1
Tolong koreksi jika ada kesalahan dalam tulisan ini 🙏
Lope Banyak-banyak untuk semuanya ❤️❤️❤️