
Selamat! Membaca 🤗
"Vian, kenapa wajahmu menyeramkan seperti itu! Apa yang akan kau lakukan pada keluarga Mertua Adikmu?"tanya Wisnu yang melihat aura mistis dari wajah Alvian.
"Sudah! Kau jangan banyak tanya, sudah seperti Ibu-ibu saja, cerewet sekali. Besok temani aku dan malam ini kau harus sudah menyiapkan semuanya."
Tanpa mengatakan apa yang menjadi tujuannya pergi menemui keluarga Jubaidah, Alvian memaksa Wisnu agar menemaninya esok hari. Dan karena hari sudah semakin larut Alvian pun memutuskan untuk menginap di rumah Wisnu.
Menginapnya Alvian di rumah Wisnu, menjadi keberuntungan besar bagi Rahman, karena saat ini tidak ada yang menghalanginya untuk bertemu dan berbicara dengan Via. Bahkan lelaki itu pun menginap di rumah mertuanya karena Aminah tidak mengizinkan Rahman pulang di tengah malam dengan kondisi ia yang sedang terluka.
"Kau mau kemana?"tanya Rahman bingung yang melihat Via menenteng selimut dan hendak keluar dari kamar, setelah ia usai mengobati luka Rahman.
"Aku akan tidur bersama Ibu, kau tidurlah di sini bersama Satria,"sahut Via tanpa melihat, karena ia terus berjalan menuju pintu.
"Tidak!"
Rahman segera bertindak dan dengan secepat kilat ia menutup pintu yang baru saja hendak dibuka oleh Via.
"Kenapa tidak Mas, aku mau tidur bersama Ibu?"
"Kau tetap di sini."Sahut Rahman dan ia mengunci pintu kamar, serta menyimpan kunci di saku celananya.
"Mas, apa-apaan ini? Buka pintunya?"
"Tidak!"
"Kalau kau tidak membuka pintunya, aku akan meminta Ayah untuk menyuruhmu pulang?"
"Ayah atau Ibu tidak akan menyuruhku pulang, kau lihat ini,"Rahman menunjukkan beberapa luka di tangannya.
Dan Via paham apa artinya itu, Rahman menjadikan luka yang ia peroleh sebagai senjata menarik belas kasih dari Rohim dan Aminah agar mengizinkannya untuk tetap tinggal di sana.
"Aku sedang sakit seperti ini, apa kau tidak mau menemani ku?"sambung Rahman dengan wajah sedih.
"Aku sudah mengobati mu Mas, jadi jangan meminta lebih."
__ADS_1
"Aku hanya ingin di temani Istriku."
"Cukup Mas, sekarang tidurlah! ini sudah malam, dan besok pagi-pagi sekali kau harus sudah pulang jika tidak ingin berhadapan dengan mas Alvian."
"Ini aku mau tidur,"sahut Rahman sambil membaringkan diri di samping Satria yang Sudah terlelap,"Kemarilah!"kata Rahman sambil merentangkan kedua tangannya.
Via mendekat karena memang ia sudah tidak akan bisa keluar, tapi ia mendekat bukan untuk menyambut rentangan tangan Rahman tapi ia berniat menggelar selimut yang ia teng-teng tadi, di lantai samping ranjang yang tengah ditempati Satria dan Rahman.
Rahman terkejut dan segera beranjak.
"Apa yang kau lakukan! Kenapa menggelar selimut di bawah?"
"Aku akan tidur di sini Jika kau tidak mau membuka pintunya."
"Via, jangan seperti ini. Kau bisa sakit jika tidur di lantai, bangunlah kita tidur bersama di sini." kata Rahman sambil membujuk Via dengan bersimpuh menjajari Via yang tengah terduduk di lantai.
"Tidak!"Tolak Via.
"Ayolah sayang, kau bisa sakit!"
"Jika kau tidak ingin aku sakit, cepat berikan kuncinya padaku."Sahut Via, sambil mengulurkan tangannya.
Dan kesungguhan dari lelaki itu membuat Via sedikit goyah.
Ia pun bangun dari duduknya dan menaiki ranjang.
"Baiklah jika itu maumu."
Rahman mengangguk dengan mantap, dan Ia pun segera mengambil bantal lalu tidur di lantai yang beralaskan selimut tipis.
Apapun akan Rahman lakukan asalkan Via tetap bersamanya. Dan Lelaki itu sudah berjanji pada dirinya sendiri akan mengutamakan Satria dan Via dari apapun, karena ia tidak mau mengulangi kesalahan yang kedua kalinya.
❄️❄️❄️❄️❄️❄️
Di tempat lain.
__ADS_1
Jubaidah tengah kebingungan dan juga panik karena tidak mendapati Rahman di rumah, karena malam ini ia akan melakukan apa yang di perintahkan Mbah Gede, ia membangunkan Rania secara paksa untuk menanyakan keberadaan Rahman.
"Mas Rahman, pergi ke rumah orang tua Mbak Via, Bu!"ujar Rania dengan mata yang masih mengantuk, karena saat ini menunjukkan pukul 01:00 dini hari.
"Apa! ke rumah orang tua Via," Jubaidah benar-benar sangat terkejut,"Untuk apa kakak mu pergi ke sana, dan kenapa dia tidak memberitahu Ibu terlebih dahulu?"
"Mas Rahman buru-buru Bu, lagi pula Kenapa Ibu sampai terkejut dan marah seperti ini. Memangnya kenapa jika Mas Rahman pergi ke rumah orang tua Mbak Via. Bukankah itu bagus! Mas Rahman jadi bisa membujuk Mbak Via agar kembali pulang ke sini."
"Bagus apanya! Kau ini bodoh sekali Rania. Kenapa kau tidak menghalangi kakakmu malah mendukung dan membiarkannya pergi di rumah wanita sialan itu."
"Ibu kenapa marah-marah seperti ini?"
"Sudah cukup! percuma saja bicara denganmu Rania, karena kau sama saja seperti Via dan Rahman." Kesal Jubaidah dan ia segera pergi dari kamar yang ditempati Rania.
Jubaidah kembali masuk ke dalam kamarnya, ia mondar-mandir seperti sebuah setrika sambil terus memegangi kepalanya yang tengah berpikir keras bagaimana caranya menyuruh Rahman segera pulang saat ini juga.
"Ini tidak bisa dibiarkan, benar-benar tidak bisa, semakin hari Rahman semakin tidak patuh padaku dan ini benar-benar sangat bahaya, aku harus segera meminta Rahman untuk cepat pulang sebelum Aminah mencekokinya dengan kata-kata yang tidak benar."
Jubaidah melirik pada botol kecil yang ia simpan di atas nakas, matanya yang tajam menatap benda yang ia peroleh dari Mbah Gede siang tadi, lalu Jubaidah bergumam.
"Aku harus segera memberikan itu kepada Rahman, sebelum semuanya terlambat. Dan aku harus memberikannya malam ini juga karena bisa jadi Aminah dan Via menghasut Rahman di sana, tapi bagaimana caraku meminta Rahman agar segera pulang saat ini juga."
Jubaidah melirik ponsel, dan dengan cepat ia meraih benda pipih itu lalu mencari nomor Rahman dan melakukan panggilan.
"Sial!"umpat Jubaidah, sambil melemparkan ponselnya di atas kasur. Karena sudah berulang kali ia menghubungi Rahman namun yang menjawab malah operator yang mengatakan ( Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan cobalah beberapa saat lagi)
Tapi beberapa detik kemudian, Jubaidah kembali meraih ponselnya. Dan saat ini ia memilih untuk mengirim pesan teks kepada Via, tentu saja pesan yang dikirim oleh Jubaidah bukan menanyakan kabar menantu dan cucunya, tapi ia malah mengancam Via dan meminta Via untuk segera menyuruh Rahman pulang.
Bersambung...
❄️❄️❄️❄️❄️❄️
Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini 🙏
Minta dukungannya ya 🙏
__ADS_1
Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini 🙏
Lope banyak-banyak untuk semuanya ❤️❤️❤️❤️