Istriku Boros! Menantu Yang Tidak Di Inginkan

Istriku Boros! Menantu Yang Tidak Di Inginkan
Masihkan Ada Harapan Untuk Rahman?


__ADS_3

Selamat! Membaca 🤗


"Mas. Aku memang sudah memaafkanmu, tapi bukan berarti aku bersedia ikut pulang dan bersama denganmu lagi. Sudah tidak ada yang perlu dipertahankan dalam rumah tangga kita, karena aku merasa, jika kita akan lebih baik dan bahagia hidup di jalan masing-masing. Kita tidak akan bisa bersama Mas. Tolong hargai keputusanku, dan secepat mungkin aku akan mengurus perpisahan kita di pengadilan . Dan kau jangan khawatir sekalipun kita sudah berpisah aku tidak akan melarangmu untuk menemui Satria, dia tetap anakmu, dan kau tetap menjadi Ayah Satria sampai kapanpun itu tidak. Akan berubah."


Seluruh tulang yang menempel di tubuh Rahman seolah ditarik secara paksa dari tempatnya, ketika mendengar pernyataan Via yang begitu yakin jika Wanita itu ingin berpisah dengannya.


"Tidak Via, aku tidak ingin berpisah denganmu. Tolong maafkan aku, tolong kembalilah padaku. Tentu saja masih banyak yang harus kita pertahankan dalam rumah tangga ini terutama untuk Satria, aku mohon Via pikirkan baik-baik. Dan aku akan melakukan apapun yang kau minta asalkan kau kembali padaku." Kata Rahman sambil menggenggam kedua tangan Via. Dia benar-benar tidak mau kehilangan wanita yang ia nikahi 2 tahun silam, karena memang faktanya Rahman benar-benar sangat mencintai Via. Tapi hanya karena kebodohannya membuat wanita itu menjauh dan bahkan ingin berpisah darinya.


"Mas, jangan seperti ini." Ujar Via, sambil menarik tangannya. Namun Rahman tetap menggenggam tangan itu dengan kuat.


"Tidak! Via, tolong jangan tinggalkan aku."


Mata Via teralihkan pada lengan Rahman yang terluka. Bahkan membiru, karena handuk yang tadi Rahman gunakan untuk menutupi lengannya yang kedinginan terjatuh kelantai.


Bukan hanya itu, Via juga merasakan tangan Rahman yang begitu dingin dan bibirnya yang membiru. Entah sudah berapa Jam lelaki itu kehujanan dan mengenakan pakaian basah.


Apakah Via, tidak perduli dengan kondisi Rahman yang seperti itu?


Tentu saja tidak! Via bukankah orang yang kejam!


"Kau kenapa Mas, kenapa lenganmu bisa terluka?"tanya Via. Dan itu membuat Rahman mendongak menatapnya.


"Jatuh,"sahut Rahman," Via ikutlah pulang bersamaku,"dan ia kembali meminta agar istrinya ikut pulang bersamanya.


Namun seketika Rahman sadar, jika Via memperhatikan lukanya dan ia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini, ia sangat tahu kalau Via akan panik jika melihat dia terluka seperti ini, Rahman menyadari kekehawatiran Via meskipun wanita itu menyembunyikannya.


Rahman, semakin menunjukkan luka di lengannya yang ternyata cukup banyak dan terlihat mulai memar, bukan hanya itu ia juga menunjukkan luka di kakinya berharap jika Via akan mengobatinya.


"Aku jatuh, karena jalanan licin dan lihat ini!" Kata Rahman sambil menunjuk semua luka yang dia peroleh beberapa jam yang lalu.


Rahman berharap jika luka-luka yang ia dapatkan bisa menarik perhatian Via, setidaknya luka ini bisa membantunya untuk berlama-lama bersama istrinya agar dia bisa terus membujuk dan meyakinkan Via untuk tetap bersamanya.


"Kau pulanglah Mas, segera obati lukamu sebelum terinfeksi. Dan lebih baik kau pergi ke klinik untuk mengobatinya." Sahut Via, yang terlihat tidak perduli.


"Tidak, aku akan tetep di sini."


"Kau jangan keras kepala Mas, jika kau tidak cepat mengobatinya luka itu bisa terinfeksi dan makin parah."Marah Via.


Melihat Via yang marah, Rahman justru bahagia, ia tahu jika Via marah karena istrinya itu sangat khawatir padanya.


Dengan paksa Rahman memeluk Via.

__ADS_1


"Mas, kau jangan kurang ajar seperti ini, lepaskan aku Mas!" Via, yang tentu memberontak. mendorong kuat-kuat Rahman.


Namun, sekuat apapun Via mendorong Rahman , Via tentu tidak akan bisa mengalahkan kekuatan lelaki itu.


"Aku masih suamimu, tidak ada kata kurang ajar untuk suami yang memeluk istrinya."


"Mas, lepaskan! Jika tidak aku akan berteriak. Atau aku tidak akan pernah mengijinkanmu untuk bertemu dengan Satria,"ancam Via.


Rahman yang takut jika ia benar-benar tidak akan bisa bertemu lagi dengan Satria segera melepaskan pelukannya namun ia tetap memegang tangan Via, tak ingin melepaskannya.


"Marahlah padaku, pukullah aku, hukum aku sesuka hatimu. Tapi tolong ikutlah pulang bersamaku."


"Apa dia pikir aku sekejam itu!" batin Via.


"Aku akan mengambilkan obat untukmu. Lepaskan tanganku." Ujar Via.


Rahman mengangguk dan dengan ragu-ragu ia melepaskan pegangan tangannya, tapi ketika Via berdiri dan melangkah menuju ke dalam, Rahman membuntutinya.


"Kau mau ke mana Mas! tunggulah di sini."


"Aku hanya ingin memastikan jika kau tidak akan masuk ke dalam kamar dan enggan untuk menemuiku lagi."


Via yang tidak peduli kembali melangkah menuju di mana tempat biasa Aminah menyimpan obat-obatan.


"Ibu, aku mencari kotak P3K. Kenapa tidak ada di sini?" Sahut Via, yang tidak menemukan yang ia cari di sana.


"P3K! Untuk apa?"


Via tidak menjawab, ia hanya melirik lengan Rahman yang terluka.


"Astaghfirullah! Kau kenapa Man?" Aminah tentu terkejut!


"Di jalan tadi aku jatuh Bu."


"Ya Allah, ini harus segera di obati. Kenapa tidak ke Klinik saja?"


"Dia keras kepala Bu, aku sudah bilang seperti itu tadi,"sahut Via yang kesal.


Aminah mengusap lengan Via.


"Kau tidak boleh seperti itu Nak. Obati sebisamu besok biarkan Rahman ke Klinik."

__ADS_1


Rahman tersenyum, karena sepertinya Aminah membelanya.


"Ibu akan ambilkan baju Alvian, untuk Rahman, kasihan dia basah kuyup seperti itu."


"Terima kasih banyak Bu." Ucap Rahman sambil menundukkan kepalanya berulangkali. Ia senang, itu artinya ia tidak akan di suruh pergi dari rumah mertuanya.


❄️❄️❄️❄️❄️❄️


Di tempat lain


Alvian tengah mendatangi temanya yang berprofesi sebagai Pengacara. Dia meminta bantuan temannya untuk mengurusi perceraian Via dan Rahman.


"Astaga! Aku bingung harus senang atau sedih dengan kabar yang kau bawa ini, jika Via ingin bercerai dengan suaminya." Ujar sang pengacara yang biasa Alvian panggil Wisnu.


"Kenapa kau harus bingung? Kau cukup membantu agar Via bisa secepatnya perpisahan dengan Rahman, dan tentu hak asuh anaknya jatuh di tangan Via."Sahut Alvia, dengan menggebu-gebu. Karena ia sudah sangat jengkel dengan Rahman dan keluarganya.


"Sabar Vian, kau tidak boleh emosi seperti ini, aku sedih karena harus mengurusi kasus perceraian. Tapi aku juga seneng karena mungkin ada sedikit kesempatan dan harapan untuk menjadi adik iparmu."


"Sudah! kerjakan saja apa yang aku minta, jangan kau pikirkan harapanmu yang terlalu tinggi itu."


"Huf. Padahal sudah puluhan kali aku meminang adikmu, tapi kenapa kau menolak dan memilih lelaki lain, sungguh aku terluka saat itu. Tapi sekarang aku kembali di beri harapan, tapi aku takut dosa jika kebahagiaanku ini teragedi di rumah tangga orang." Ujar Wisnu sambil menggelengkan kepalanya.


"Sudah Wisnu, kau jangan Baper seperti ini, sudah seperti ABG saja."


"Baiklah- baiklah aku akan fokus, tapi! ngomong-ngomong, kenapa kau yang datang, bukan Via?"


"Ini sudah malam, apa kau pikir aku akan mengajak adikku di malam dan hujan deras seperti ini?"


"Tapi aku perlu bica dengan adikmu, karena aku harus memastikan jika Via benar-benar mengajukan gugatan cerai untuk suaminya."


"Besok kau bisa bertemu dengan Via, tapi sebelum kau bertemu Via temani aku dulu untuk memberikan kejutan pada keluarga Rahman."


Bersambung....


❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️


Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini 🙏


Minta dukungannya ya.


Tolong koreksi jika ada kesalahan dalam tulisan ini 🙏

__ADS_1


Lope Banyak-banyak untuk semuanya ❤️❤️❤️


__ADS_2