
Selamat! Membaca 🤗
"Menyuruh dia datang! Apa Tante sadar dengan apa yang Tante lakukan?"
"Kau kenapa ketakutan seperti itu Sel, tenanglah,"sahut Jubaidah dengan entengnya.
"Tenang! Di saat seperti ini Tante menyuruhku tenang! Apa Tante tidak membaca pesan yang di kirim pengacara itu! Ia datang bersama polisi Tan, habis kita."Panik Selvi.
"Hahaha... Selvi-Selvi, kau benar-benar polos, sepertinya kau harus banyak belajar dari Tante, sudah kau tidak usah memikirkan itu, kau hanya perlu menonton, mempelajari, dan menikmati hasilnya. Paham!"
Selvi yang masih ragu dengan apa yang di lakukan Jubaidah hanya bisa diam mengikuti apa yang di minta wanita itu, di saat dan di tempat seperti ini Selvi tidak bisa berkehendak sesuai keinginannya, ia harus mengikuti apa yang di inginkan Jubaidah.
❄️❄️
(Ikuti lokasi yang sudah aku kirimkan padamu, dan jangan membawa polisi karena aku merubah rencana, datanglah bersama Via, karena ia harus tau semua)
Wisnu yang menerima pesanan tersebut sedikit bingung.
"Semudah itu dia merubah rencana! Padahal aku sudah membawa pasukan,"gumam Wisnu.
Untuk memastikannya kembali ia menghubungi Alvian, namun sama seperti sebelumnya Alvian tidak mengangkat panggilan dari Wisnu dan kali ini ia memberi alasan agar pengintaiannya tidak diketahui.
Meskipun sedikit bingung dan ragu, Wisnu tetapi mengikuti apa yang diinginkan Alvian ia merubah rencana dengan tidak membawa anggota polisi dan segera pergi menuju kediaman Rohim untuk mengajak serta Via ke tempat yang sudah di-share oleh AlVian.
❄️❄️❄️
"Apa! Alvian meminta nak Wisnu membawa Via?"Aminah cukup kaget dengan niatan Wisnu, pasalnya ia belum mengetahui soal Putri dan Rania yang dalam bahaya hingga Alvian datang untuk menyelamatkan mereka.
"Benar Bu,"Wisnu yang takut di kira berakal-akalan, menunjukkan pesan yang dikirim Alvian.
"Rencana apa maksudnya ini nak Wisnu?"
"Maaf Bu, saya tidak bisa menjelaskan secara detail, tapi sepertinya Via bisa menjelaskan pada Ibu."
***
"Jadi seperti itu Bu,"ujar Via setelah memberi penjelasan pada Aminah.
"Jadi apa kau akan pergi! Ibu khawatir Via, lagi pula suamimu masih harus di temanikan, lebih baik minta Alvian untuk kembali pulang saja dan serahkan ini semua pada polisi,"pinta Aminah.
"Mas Wisnu, bisa tolong hubungi Mas Alvian?"Pinta Via.
"Maaf Via, aku sudah beberapa kali menelponnya, tapi Alvian tidak menjawab, ia hanya mengirim pesan untuk berkomunikasi lewat pesan teks saja, dan ia juga meminta untuk tidak membawa polisi karena itu sangat membahayakan keselamatan Putri."
Via sedikit tercengang mendengar apa yang dikatakan Wisnu ditambah lagi ketika ia membaca pesan yang dikirimkan Alvian, tidak biasanya lelaki itu memperhatikan Putri. Padahal Via sangat tau juga Alvian tidak perduli dengan anak itu.
"Jadi apa yang harus aku lakukan?"
"Sebenarnya aku sangat setuju dengan ibu Aminah, jika itu memang benar penculikan, sangat berbahaya jika kita datang hanya berdua saja, aku sangat setuju untuk melibatkan anggota polisi, tapi setelah melihat pesan yang dikirim Alvian yang meminta kita untuk tidak melibatkan polisi, sepertinya keadaan tidak menghawatirkan, aku tau seperti apa Alvian. Dia tidak mungkin membawamu dalam keadaan yang berbahaya.
Setelah berdiskusi dengan Aminah dan Wisnu. Via memutuskan untuk ikut serta bersama Wisnu.
"Di mana Ayah Bu?"tanya Via.
"Ayahmu tengah keluar untuk menutup toko, dan untuk beberapa hari kedepan toko akan tutup untuk sementara waktu."
Via mengangguk, ia tahu alasan Rohim menutup tokonya sementara waktu karena pria itu ingin fokus mengawasi Rahman seperti apa yang dinasehatkan Kyai Yusuf.
__ADS_1
❄️❄️❄️
"Apa! Pergi bersama Wisnu! Aku tidak mengijinkannya,"tolak Rahman setelah Via meminta izin.
"Di sana ada Mas Vian, Mas! Dan alasan aku pergi karena ini!"
Via menunjukkan beberapa pasan yang di kirim Alvian dan Rania. Dan menceritakan apa yang menyebabkan Alvian dan ia harus datang ketempat asing itu.
"Ini tidak mungkin Rania."Ujar Rahman, ia
bangun dan bersiap-siap.
"Kau mau kemana Mas?"
"Aku yang akan pergi kesana."
"Apa! Tapi kau masih sakit."
"Aku baik-baik saja, kau tetap di sini."
"Baik Mas, berhati-hatilah!"
❄️❄️❄️
Dan pada akhirnya, Wisnu pergi bersama Rahman ke tempat di mana ritual gila yang akan Jubaidah dan Selvi lakukan.
"Kenapa di tempat seperti ini?"tanya Rahman bingung.
"Aku tidak tau, aku hanya mengikuti alamat yang di berikan Vian."
"Sepertinya, kita harus turun di sini, jalanan di depan sangat sempit mobil tidak akan masuk, kita harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki."
Baru beberapa langkah mereka menulusuri tempat yang lebih mirip hutan itu.
"Aku takut kita salah jalan, ini sungguh tempat yang sangat asing bagiku, kenapa harus di tempat sesulit ini sih."Keluh Wisnu.
Di saat Wisnu asik mengeluh, tiba-tiba
Rahman merasakan sakit di bagian kepalanya.
Ia memperhatikan jalanan yang ada di depannya, dan Rahman teringat kejadian di mana ia di sekap oleh seorang pria Tua yaitu Mbah Gede.
"Kau kenapa?"tanya Wisnu, yang melihat ada sesuatu yang aneh dengan Rahaman.
Rahman tidak langsung menjawab, ia hanya mengepalkan tangannya sambil menatap arah depan yang nampak jalanan setapak lurus.
"Ikuti aka!"ucapanny, sambil berjalan terlebih dahulu.
"Apa kau tau lokasi tepatnya?"
"Sudah jangan banyak bicara, cepat ikuti saja."
"Baiklah!"
*****
"Dasar wanita Iblis!"hina Alvian, yang saat ini sudah sadar dari pingsannya, dan ia sudah mengetahui jika semua ini rencana Jubaidah.
__ADS_1
Namun ia tidak bisa melakukan apapun, karena kedua tangan dan kakinya di ikat dengan kuat.
"Hahaha... Haaa.. Iblis! sepertinya, sebutan itu hanya cocok untuk Ibumu yang munafik itu."Sahut Jubaidah.
"Kurang ajar! jaga mulutmu wanita jahat!"
Jubaidah semakin tertawa terbahak-bahak mendengar umpatan dari Alvian.
"Untung saja hati ini aku tengah bahagia, jika tidak! sudah ku cincang habis tubuhmu."
Selvi hanya tersenyum sambil melipat kedua tangannya, memperistrikan betapa kejam dan jahatnya Jubaidah, ia sungguh tidak menyangka jika seperti inilah sosok asli seorang Jubaidah.
"Semua sudah siap. Kita hanya tinggal menunggu tumbal pengganti saja,"Mbah Gede Munjul membawa kabar yang semakin membuat Jubaidah senang.
"Mereka dalam perjalanan ke sini Mbah."
"Sambil menunggu, cepat kau ambil anakmu, dan bawa ke tempat ritual."
"Baik Mbah."
Jubaidah berjalan menuju satu ruangan yang tertutup seperti kamar, dan beberapa menit kemudian ia keluar bersama Rohmah.
Alvian terbelalak melihat adanya Rohmah di sana.
Dengan hati-hati, Jubaidah mendudukkan Rohmah di sebuah bangku tua.
"Bersabarlah sebentar lagi, kau akan kembali pulih seperti dulu,"bisik Jubaidah.
Rahman dan Wisnu sudah sampai di tempat Mbah Gede.
"Astaga, aku sungguh tidak menyangka jika ada rumah di tempat terpencil seperti ini, tapi bagaimana kau bisa tahu jika di sini ada Rumah?"Tanya Wisnu.
"Tentu saja, karena aku sangat tau dengan tempat ini,"sahut Rahman naman dengan mata yang tidak teralihkan dari bangunan tua di hadapannya.
"Aku sangat yakin jika ini ulah perempuan laknat itu, tunggu saja aku akan membalas lebih kejam dari apa yang pernah kau lakukan pada Ibuku."
"Rahman! tunggu!"cegah Wisnu, ketik Rahman mulai melangkah ingin memasuki rumah.
"Ada apa?"
"Apa kau yakin kita masuk hanya berdua saja, apa kita tidak mencari bantuan terlebih dahulu, aku merasa ada yang tidak beres di dlam rumah ini."
"Tentu saja ada yang tidak beres dengan rumah ini, itu sebenarnya kita datang kesini kan!"sahut Rahman, dan kembali melanjutkan langkahnya.
"Dia benar juga ya."Gumam Wisnu, dan ia Mengikuti langkah kaki Rahman.
Bersambung...
❄️❄️❄️❄️❄️❄️
Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini 🙏
Minta dukungannya 🤗
Tolong koreksi jika ada kesalahan dalam tulisan ini 🙏
Lope Banyak-banyak untuk semuanya ❤️❤️❤️
__ADS_1