
Selamat! Membaca 🤗
Hari ini aku menemui Monik Setelah aku menitipkan Satria terlebih dahulu pada Ibu.
🕊️🕊️🕊️
"Kau sudah yakin ingin kembali bekerja? Lalu bagaimana dengan suamimu. Bukankah dia tidak pernah mengijinkan mu untuk kembali bekerja?"
Tanya Monik.
"Aku yakin Mon. Seperti yang aku katakan sebelumnya padamu, kalau aku sangat membutuhkan pekerjaan ini."
"Apa kau tidak mau menceritakan sesuatu padaku? Kau terlihat tidak seperti biasanya, apa terjadi sesuatu di Rumah tanggamu?"
"Maaf Mon. Aku tidak bisa menceritakan masalah Rumah tanggaku, aku harap kau mengerti akan hal itu."
Ya. Bagiku, masalah yang terjadi di dalam Rumah tangga adalah Privasi dan tidak bisa di ceritakan dengan mudah pada orang lain.
Meskipun Monik sahabat baikku, tapi aku harus tetap menghormati Mas Rahman untuk tidak menceritakan masalah Rumah tangga kami.
Monik menggenggam tanganku.
"Tidak apa kau tidak mau bercerita padaku, karena itu adalah hakmu untuk menjaga Privasi dalam Rumah tangga kalian. Tapi jika terjadi sesuatu jangan pernah sungkan untuk menghubungiku."
Aku tersenyum sambil membalas genggaman tangan Monik.
"Terimakasih Mon."
Setelah beberapa Jam aku membicarakan soal pekerjaan dengan Monik, aku memutuskan untuk kembali ke Rumah Ibu.
Monik sudah menghubungi atasnya yang dulu juga pernah menjadi atasanku. Dan ia ingin aku datang ke Kantor esok hari untuk mulai bekerja.
Tentu saja hal ini adalah kabar gembira bagiku dan akupun pulang dengan perasaan bahagia.
Tapi selain perasaan bahagia aku juga merasakan gelisah takut jika Mas Rahman melakukan sesuatu, karena ia memang masih belum memberikan aku izin untuk bekerja kembali.
Tapi apa boleh buat! Kami butuh makan dan anak kami butuh berobat setiap minggunya, jadi aku harus bekerja untuk menutupi itu semua, karena semua itu harus di bayar pake uang, sedangkan Mas Rahman tidak memberikan aku uang untuk membayar semua itu.
******
"Assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam! Kau sudah pulang nak,"Ibu menyambut kedatanganku.
"Iya Bu, aku hanya bertemu Monik setelah itu langsung pulang."
"Bagaimana dengan kabar Monik? Ibu sudah lama tidak bertemu dengannya?"
"Alhamdulillah Monik baik Bu."
Ibu mengajakku duduk di Ruang keluarga.
Aku yakin jika ada sesuatu yang ingin Ibu bicarakan padaku dan sudah pasti itu soal ucapan singkatku sebelum pergi, yang mengatakan jika aku ingin bekerja kembali.
"Satria mana Bu?"tanyaku setelah beberapa detik mendudukkan diri di Sofa.
"Satria tidur bersama Kakeknya. Via Ibu ingin bicara denganmu."
"Iya Bu, aku akan mendengarkannya."
"Nak, ada apa kau menemui Monik? Dan tolong jelaskan pada Ibu ucapanmu yang menyatakan ingin kembali bekerja?"
__ADS_1
"Seperti apa yang ibu dengar, aku ingin bekerja kembali Bu."
"Lalu bagaimana dengan Suamimu, apa dia mengijinkannya?"
Aku menggeleng.
"Tidak Bu."
"Jika Rahman tidak mengijinkannya lalu untuk apa kau menemui Monik?"
Aku tertunduk, aku sangat tahu Ibu pasti akan marah padaku.
Tapi aku sudah menyiapkan ini semua, dan dengan sangat terpaksa aku menceritakannya pada Ibu.
"Aku butuh uang untuk berobat Satria Bu, jadi aku harus bekerja."
Aku melihat Ibu mematik nafasnya dalam-dalam dan secara bersamaan Ayah juga datang, sepertinya Ayah sudah mendengar apa yang aku jelaskan tadi kepada Ibu.
Aku sangat berharap mendapat dukungan dari Orangtuaku.
TApi salah!
Mereka malah mengatakan jika yang aku lakukan ini salah besar.
Dan Ibu serta Ayah memintaku untuk mengurungkan niat untuk kembali bekerja.
"Tapi Bu, Yah!"
"Via. Rido suamimu sangat penting Nak, karena Wanita yang sudah memutuskan untuk menikah harus patuh dan mendengarkan apa kata Suaminya. Jadi, jangan kau melakukan sesuatu tanpa Izin dari Rahman."Kata Ayah menjelaskan.
"Tapi Yah. Aku terpaksa, jika saja Mas Rahman tidak bersikap Setega itu, aku juga tidak akan memutuskan untuk bekerja."
"Kau bicaralah baik-baik dengan suamimu, siapa tahu dia akan lebih mendengarkan ucapanmu."
Aku benar-benar sangat kesal hingga aku meluapkan emosiku, aku juga sedikit kesal Kenapa Ibu dan Ayah sepertinya membela Mas Rahman aku kan anaknya.
"Iya sayang, mungkin Ibu mertuamu benar-benar tidak memiliki biaya untuk berobat, jadi ikhlaskan saja jika bulan ini Rahman tidak memberimu uang. Doakan saja semoga Suamimu itu memiliki rizki yang berlimpah agar bisa mencukupi kebutuhan keluarganya dan orangtuanya."
"Jika Mas Rahman terus seperti ini lalu bagaimana dengan aku dan Satria Bu, Satria juga harus berobat kan?"
"Jika kau dan Rahman mengizinkan, biar Ayah yang akan membiayai semua pengobatan Satria."
Aku terdiam.
Ini adalah bantuan yang sangat aku inginkan tapi lagi-lagi aku memikirkan Mas Rahman dia pasti akan menolak mentah-mentah bantuan dari ayah.
"Maafkan aku yah, bukan aku bermaksud menolak bantuan dari ayah, tapi aku hanya tidak mau merepotkan Ayah dan Ibu."
"Sama sekali tidak merepotkan, lagi pula Satria kan cucu Ayah mana mungkin Ayah direpotkan."
"Terima kasih banyak Yah, tapi aku akan mencoba bicara dengan Mas Rahman agar ia memberi aku izin untuk bekerja. Jika aku diizinkan bekerja Aku ingin merepotkan Ibu untuk menjaga Satria selama aku bekerja dan sore hari nanti, aku akan menjemput Satria pulang."
"Iya nak, kau jangan mengkhawatirkan itu. Satria bisa sama Ibu kapan pun kau mau, lagi pula ibu senang jika Satria ada di sini Jadi Ibu tidak kesepian karena ayahmu sering ke ruko dan masmu sering keluar kota."
"Terimakasih Bu."
******
Sore hari aku pulang ke Rumah. Aku sedikit merasa tidak puas, dan rasa senang di hati karena aku bisa kembali bekerja sirnah sudah karena Ibu dan Ayah. Memintaku untuk meminta Izin terlebih dahulu pada Mas Rahman.
Dan sudah pasti Mas Rahman tidak akan mengijinkannya.
__ADS_1
Aku menghela nafas panjang ketika sampai di depan pintu Rumah, aku mendengar suara Ibu dan Mbak Rohmah di dalam.
Ada apa di sore hari seperti ini mereka ada di Rumah ku sungguh tidak biasa.
"Assalamualaikum."
Aku mengucapkan salam sambil melangkah kaki memasuki Rumah yang tidak terkunci itu.
Hal pertama yang aku lihat adalah Mbak Rohmah dan Ibu Jubaidah tengah asik menonton TV.
"Kau pulang juga, aku pikir kau sudah tidak akan pulang lagi."
Kata Mbak Rohmah. Bukankanya menyahuti salamku, dia malah bicara seperti itu.
Tapi sabar Via. Stok kesabaranmu harus di tambahkan untuk menghadapi Orang seperti Mbak Rohmah ini.
"Mbak Rohmah kenapa ada di sini?"
"Memangnya kenapa jika aku ada di sini? Tidak boleh? Kau jangan pelit Via, Rumah ini Rumah Rahman, jadi aku berhak datang dan berada di Rumah ini kapanpun aku mau."
Aku yang sudah merasakan lelah tidak mau berdebat dengan Mbak Rohmah. Dan aku lebih memilih meninggalkannya, biar mereka mau bicara apa aku tidak perduli dan Ibu pun sepertinya tengah fokus dengan sinetron yang ia tonton.
Tapi aku tidak melihat Mas Rahman dari tadi, di mana dia?
Apa ada di kamar.
Tapi setelah aku Cek kedalam Kamar, ternyata Mas Rahman pun tidak ada di sana.
"Viaaaa..!"
Baru saja aku masuk Kamar dan menidurkan Satria, suara Mbak Rohmah sudah mengema sampai terdengar sangat jelas di Kamarku.
"Ada apa Mbak?"tanya ku setelah membuka pintu kamar.
"Aku dan Ibu lapar."
"Lalu?"
Memangnya apa urusannya denganku jika ia lapar.
"Kau ini tidak peka sekali, aku dan Ibu lapar. Ya kau buatkan kami makan dong!"
"Maaf Mbak, sepertinya Mbak Rohmah dan Ibu lupa. Biar aku ingatkan kembali. Mas Rahman tidak memberikan aku uang belanja selama satu bulan ini, jadi tidak ada makanan di Rumah."
"Kau jangan bohong Via, aku melihat masih ada Mi Instan di Rak dapur. Sekarang cepat masakan aku dan Ibu Mie goreng, untuk ku pedas dan untuk Ibu tidak."
Kata Mbak Rohmah dengan sesukanya.
Astaghfirullah.
Aku hanya bisa mengelus dada. Jika aku tidak mengingat nasehat yang di berikan Ayah dan Ibuku, tentu mulut dan tanganku ini tidak bisa terkendali lagi.
Bersambung.....
❄️❄️❄️❄️❄️
Terimakasih sudah berkunjung ke cerita ini 🙏
Minta dukungannya ya 🙏
Tolong koreksi jika ada Kesalahan 🙏
__ADS_1
Lope banyak-banyak untuk semuanya ❤️❤️❤️