
Selamat Membaca 🤗
Keadaan semakin menegangkan, sedangkan, tidak ada satu orangpun yang berani maju mengakhiri aksi nekad Rudi.
Di dalam kamar, Putri yang masih memeluk Satria melihat ponsel Via yang tergeletak di atas meja.
Anak itu bergegas meraihnya.
("Assalamualaikum, ada apa Sayang, Mas belum sampai Pabrik")
Ya, Putri menghubungi Rahman, dan lelaki itu mengira Via yang menghubunginya.
"Om, tolong! Tolong Tante Via."Ujar Putri, sambil terisak.
("Putri! Ada apa? Kenapa dengan Tante Via.")Panik Rahman.
"Papa datang, Papa ingin melukai Tante Via, hiks.. hiks.."
Putri kembali terisak.
Tanpa bertanya apapun lagi, Rahman mengakhiri panggilannya, dan bergegas memutar arah kembali pulang.
❄️❄️
"Apa sakit! Pasti sakit kan! Sudah ku bilang jangan macam-macam, patuhlah denganku!"
"Mas Rudi, bisa bertemu dengan Putri, tapi tidak dengan cara seperti ini. Putri masih trauma dengan apa yang terjadi, mengertilah itu."Via, kembali membujuk Rudi.
"Sudah ku bilang aku tidak perduli, pokoknya, aku harus bertemu dan membawa Putri."
"RUDI BRENGSEK! TURUNKAN SENJATA MU!"
Teriak Rahman dari kejauhan, ia datang di waktu yang tepat.
Rudi melirik, lalu tertawa terbahak-bahak. Sepertinya ia sudah hampir gila seperti Rohmah.
"Kau datang Man, apa kau ingin menyelamatkan istrimu yang sok menjadi pelindung ini?"
"Tutup mulutmu brengsek, cepat kau lepaskan Via. Jika tidak ingin kedua tanganmu aku patahkan,"ancam Rahman.
"Hahaha, lakukan saja jika kau bisa,"Rudi, bicara sambil menyandra Via.
Rahman maju, sudah siap untuk melakukan apa yang baru saja ia katakan.
"Lihat ini!"Rudi mengangkat tangan Via yang terluka, ia tunjukkan di wajah Rahman, menandakan jika ia serius dengan kegilaannya.
Membuat Rahman tak berkutik, untuk saat ini ia harus mengalah, demi keselamatan Via.
"Baik, katakan apa yang kau inginkan?"Tanya Rahman, dengan suara lemah.
"Hahahaha, sekarang siapa yang pecundang di sini,"ledek Rudi, "Aku hanya ingin membawa anakku Putri, tapi istrimu selalu menghalanginya."
Rahman kesal, karena alasan Rudi seperti ini hanya karena Putri, ia sudah menduga jika anak itu akan membawa masalah.
"Ambillah, dan bawa jauh-jauh anakmu, dan bawa juga istrimu yang sudah gila itu,"Sahut Rahman dengan kejam, karena ia begitu membenci Rohmah.
Rudi terkejut, ia sedikit tidak percaya dengan ucapan Rahman, dulu Rahman sangat menyayangi Rohmah dan Putri, bahkan yang membiayai Putri pun selama ini Rahman.
"Apa kau tidak sedang bermain-main dengan ku?"tanya Rudi, penuh dengan curiga.
"Cih, aku tidak punya waktu untuk bermain-main dengan pecundang sepertimu."
"Baiklah! Jika saja istrimu ini bekerjasama dengan baik sepertimu, tentu dia tidak akan terluka seperti ini."
Rahman berjalan mendekat, ingin meraih Via dari Rudi.
__ADS_1
Tapi Rudi menahannya.
"Aku akan melepaskan Via, jika Putri sudah ada di tanganku, sejak tadi istrimu ini menghalangiku untuk membuka pintu."
Rahman berjalan ke arah pintu Rumah.
"Mas jangan Mas!"Teriak Via, namun Rahman tidak menggubrisnya.
Tok.
Tok.
Tok.
"Putri! Buka pintunya?"panggil Rahman.
Putri yang menyaksikan dari celah gorden, tau jika Rahman akan memberikannya pada Rudi, dan ia tidak mau membukakan pintu, anak itu benar-benar takut pada ayahnya.
"Putri! Cepat buka pintunya!"Teriak Rahman yang kesal.
"Mas, Putri masih mengalami trauma, jika kau memaksa, Putri juga akan takut denganmu,"Teriak Via, pada Suaminya.
"Diam!"
Bentak Rudi, sambil mengeraskan cengkraman lengannya di leher Via.
"RUDI! Jangan kau berani membentak istriku, dan turunkan tanganmu!"
"Waaah, sudah lama aku tidak berjumpa kalian, sepertinya keadaan sudah banyak berubah. Kau sudah perduli dengan istrimu sekarang! bagaimana dengan ibu mertuaku? apa kau masih sangat mendewakan wanita itu?"
"Tutup mulutmu!"
Rahman, mencengkram kuat jari-jarinya.
Dalam hatinya berkata.
Rahman menendang pintu rumah dan sedetik itu juga terbuka lebar.
Putri lari masuk kembali kedalam kamar.
"Putri! Cepat kemari dan ikut bersama papamu!"teriak Rahman.
Rudi Ikut masuk kedalam rumah tapi masih menggunakan Via sebagai tameng.
Rahman tau jika Putri bersembunyi di dalam kamar, dan tanpa membuang-buang waktu ia langsung membukanya.
"Aku mau di sini saja om, aku tidak mau ikut papa, aku tidak mau jika papa membawaku ke Tante Miranda,"rengek Putri dengan tubuh yang bergetar sambil memeluk Satria, matanya yang berkaca-kaca menatap Rahman dengan penuh iba.
Rudi yang mendengar suara anaknya langsung menyahuti.
"Wanita jahat itu sudah tidak ada, dia sudah di penjara, ayo ikutlah bersama papa."
"Kau dengar itu, sekarang cepat ikut papamu, jangan membuat kami susah."kata Rahman, dan ia mengambil Satria.
"Aku tidak mau Om."Tangis Putri.
Namun Rahman sungguh tidak perduli, ia menarik paksa Putri dan menukarkannya dengan Via.
"Mas, kenapa kau seperti ini."
"Mas sudah bilang, jangan perdulikan mereka lagi."
Putri sudah ada di tangan Rudi, ia tersenyum puas.
Rahman mengulurkan tangannya untuk menyambut Via.
__ADS_1
Tapi di luar dugaan, Rudi Yang licik tentu tidak semudah itu berdamai, ia memanfaatkan keadaan ini untuk memeras Rahman.
"Aku akan serahkan istrimu, jika kau memberikan aku uang 20 juta saat ini juga."
"BRENGSEK! Kau benar-benar ingin mati di tanganku?"geram Rahman, yang sudah ingin menghancurkan kepala Rudi, ia meraih Vas bunga dan akan melemparnya di wajah Rudi.
Namun karena ia menjadikan Via tameng, Rudi jadi terhindar dari amukan Rahman yang tidak mungkin melakukan kekerasan, takut jika akan mengenai Via.
Kali ini Rudi mendapatkan 2 Sandra sekaligus.
"Cepat berikan uang yang ku minta."
"Apa dia sudah gila, apa dia pikir aku punya uang sebanyak itu, tapi aku harus tetap menyelamatkan Via dengan cara apapun."
"Kenapa kau diam, Apa kau tidak mau memberikan uang itu padaku?"
"Aku akan memberikan uangnya, tapi lepaskan dulu Via."
"Apa kau pikir aku bodoh, setelah aku melepaskan Via, kau bukan hanya tidak akan memberikan uang itu padaku tapi kau juga pasti akan membuatku mati,"yang mengetahui isi pikiran Rahman.
"Aku akan memberikan Putri juga jika kau memberikan uangnya dua kali lipat,"tawar Rudi, yang juga ingin menukar Putri dengan uang.
"Dasar Gila! memangnya kau pikir aku perduli dengan anakmu,"geram Rahman.
"Rupanya kau sudah berubah seratus delapan puluh derajat."
Saat ini Rahman harus berhati-hati berdebat dan mengambil tindakan, ia tidak mau sampai salah langkah dan melukai Via.
Di dalam kamar lain, Rohmah yang tengah mengoceh tanpa sebab, mendengar suara Rudi.
Wanita itu langsung melebarkan kedua bola matanya.
"Mas Rudi."
Ia beranjak dan bergegas membuka pintu kamarnya.
"Mas Rudi,"teriak Rohmah ketika ia melihat lelaki itu di hadapannya.
Rudi melotot.
"Rohmah!"
"Kau datang Mas."Rohmah berkata dengan nada suara berbeda dan raut wajah mengeras.
Ia berjalan perlahan menghampiri Rudi yang tengah membekap via dan Putri.
Rudi yang melihat ada bara api di bola mata Rohmah, menjadi sedikit takut.
"Jangan mendekat, jika kau tidak mau aku melukai Putri."
Ancaman Rudi bagai angin lalu di telinga Rohmah, karena wanita itu terus melangkahkan kakinya dengan pandangan tak teralihkan dari Rudi, bahkan ia tak berkedip sedetik pun menatap lelaki yang masih suaminya itu.
"Aku bilang jangan mendekat Rohmah!"Rudi yang mulai panik, karena aura Rohmah begitu mengerikan.
Jika dulu Rohmah menyambut Rudi dengan penuh cinta dan senyum, kali ini ia menyambut Rudi bagi serigala melihat mangsa yang sangat di idam-idamkan.
Bersambung...
❄️❄️❄️❄️
Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini 🙏
Minta dukungannya ya 🤗
Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini 🙏
__ADS_1
Lope banyak-banyak untuk semuanya ❤️❤️❤️