
Selamat! Membaca 🤗
Rahman yang tidak menghiraukan ucapan dari Seno menarik Via dan memasukan Istrinya ke dalam Rumah lalu menutup pintunya dengan cara membanting dengan kuat.
"Apa-apaan ini Mas, lepaskan tanganku,"kata Via yang berusaha melepaskan tangannya.
"Apa kau senang! Apa kau puas!"tanya Rahman dengan berapi-api setelah ia melepaskan cengkeramannya.
"Apa maksudmu, Mas."Tanya Via bingung.
"Sudahlah, aku tidak perlu menjelaskannya padamu karena aku tau kau juga pasti mengetahui itu."
"Mas! Kau ini kenapa sih, kenapa bisa jadi aneh seperti ini?"
"Aneh kau bilang? Aku yang aneh atau kau yang senaja dan pura-pura tidak tahu?"
"Senaja apa Mas?"
Via yang masih belum menyadari jika Rahman marah karena kehadiran Seno terus saja memaksa untuk keluar dan melanjutkan pekerjaannya.
"Tidak! Aku tidak mengijinkan kau keluar Rumah sekalipun hanya untuk menjemur atau mengangkat pakaian,"kata Rahman dengan tegas.
"Ada apa denganmu Mas?"
"Ada apa denganku, harusnya aku yang bertanya, ada apa denganmu, dan ada hubungan apa kau dan Seno?"
"Astaghfirullah, Mas!"Via sampai beristighfar mendengar perkataan Rahman yang benar-benar di luar dugaan,"apa yang kau katakan Mas?"
"Kau tinggal jawab saja ada hubungan apa kau dengan Seno?"
Via benar-benar tidak habis pikir, setan apa yang tiba-tiba merasuki suaminya itu hingga tega berbicara seperti itu. Bukankah pertanyaan ini seharusnya Via layangkan untuknya.
"Hubungi apa maksudmu Mas?"
"Kau sering berbicara dan bertemu Seno? Itu artinya kau memilih hubungan khusus dengan lelaki brengsek itu."
"Mas, aku tidak memiliki hubungan apapun dengan Seno,"kata Via masih menahan emosi.
"Lalu kenapa Seno bisa tau banyak tentangmu?"
"Cukup Mas, mendengar dari pertanyaanmu ini, secara tidak langsung kau menuduhku dan mencurigaiku memiliki hubungan khusus dengan Seno, aku tidak habis pikir kenapa kau bisa bicara dan berpikir seperti itu mas, lalu bagaimana dengan kau dan Selvi? aku rasa pertanyaan itu sepatutnya untukmu Mas. Ada hubungan apa kau dan Selvi, hingga kau pergi bersamanya seharian penuh dan mematikan ponsel?"
Rahman terdiam ketika mendengar pertanyaan itu dari Vua, ia tidak menyangka jika Via masih akan membahas soal ia yang pergi dengan Selvi.
Dan Rahman kembali mengatakan alasan seperti apa yang dikatakan Selvi semalam.
"Kau masih menggunakan alasan itu, dan kau berharap aku mempercayainya. Baik aku akan mempercayainya Mas, sekarang apa kau empercayaiku? Tidak, aku sama sekali tidak membutuhkan jawaban darimu Mas, karena aku tidak salah. Aku sama sekali tidak pernah bertemu hanya berdua dengan Seno. Tidak aku pungkiri jika kemarin malam Seno dan Rina mengantarkan aku pulang, tapi bukankah itu salahmu Mas, kau tidak mau mengantarku pulang karena kau lebih memilih menemani ibumu dan Selvi di sana, sementara kau membiarkan aku dan Satria pulang ke Rumah di malam hari dengan kondisi jalanan yang sepi, apa saat itu kau mengkhawatirkanku dan Satria? jawabannya tentu tidak kan Mas, karena yang kau pikirkan dan kau khawatirkan hanya ibumu, beruntung aku bertemu dengan Ibu Nunung, dan bu Nunung meminta Seno dan Rina mengantarku pulang, apa aku harus menolak kebaikan seseorang dan perhatian seseorang terhadap anakku yang bahkan tidak pernah mendapatkan perhatian sedikitpun dari Ayahnya, sepertinya aku harus mencontoh kata-kata Ibumu. Jika seharusnya, kau mengucapkan terima kasih pada Seno karena sudah mengantarkan aku dan Satria pulang ke Rumah dengan selamat,"kata Via yang mampu membuat Rahman terdiam.
"Kenapa kau diam Mas? apa kau masih mau melayangkan protes?"
__ADS_1
"Via, kau jangan bicara sembarangan, dengan mengatakan jika aku tidak pernah memperhatikan Satria,"kata Rahman mengelak. Namun dalam hatinya membenarkan semua yang di katakan Via padanya, jika selama ini ia tidak pernah memberikan perhatian khusus pada putra semata wayangnya, namun lelaki itu tidak mau mengakui semua kesalahannya.
"Lalu aku harus mengatakan apa Mas, apa aku harus bilang jika kau seorang ayah yang luar biasa, yang memberikan perhatian dan kasih sayang pada anaknya. Bahkan aku sendiri lupa kapan terakhir kali kau menggendong dan menanyakan kabar Satria, apa kau juga sudah lupa jika Satria membutuhkan perhatian khusus."
"Via."
"Cukup Mas, aku lelah terus-menerus berdebat denganmu. Kau berangkatlah bekerja, cari uang yang banyak untuk ibumu karena aku sangat yakin setelah musibah yang menimpa Mas Rudi, ibu akan lebih sering membutuhkan uang darimu."
Kata-kata Via bagai hantaman batu besar bagi Rahman, entah mendapatkan keberanian dari mana Via sampai berani mengatakan apa yang menjadi unek-uneknya selama ini.
Apa Rahman merasa bersalah?
Jika tidak, berarti dia manusia yang tidak memiliki perasaan dan hati.
Tapi untungnya lelaki itu masih memiliki semuanya, karena saat ini hatinya benar-benar merasa sakit ketika menyadari jika selama ini ia memang mengabaikan putranya yang tengah berjuang untuk sembuh.
Rahman mendudukkan dirinya di kursi, setelah Via berlalu masuk kedalam kamarnya.
'Bahkan aku lupa kapan terakhir kali kau menggendong dan menanyakan kabar Satria Mas' kata-kata itu memenuhi benak Rahman dan terasa seperti tombak yang menusuk tepat di jantungnya.
Rahman membodohi dirinya sendiri, bagaimana bisa ia menjadi sejahat itu pada putranya.
"Maafkan ayah nak,"itulah suara hati Rahman saat ini.
Rahman yang merasa bersalah memutuskan untuk tidak masuk kerja hari ini, karena ia ingin menghabiskan waktu bersama Satria,
mungkin anak itu sudah merasa asing dengan Rahman yang selama ini tidak memperdulikannya padahal mereka tinggal satu Rumah.
Namun Rahman masih terus berjuang untuk bisa kembali dekat dengan anaknya.
Via yang merasa tidak tega dengan Rahman yang berjuang hanya untuk menyentuh anaknya, membuat lelaki itu meyakinkan Satria agar mau di gendong dengan Rahman.
Via sedikit tergerak hatinya ketika melihat kesungguhan dan penyesalan dari kedua mata Rahman, ia mengira jika Rahman sudah menyadari semua kesalahannya dan ingin memperbaikinya.
Seperti harapan Via, Rahman terlihat berbeda hari ini, meskipun Via masih menyimpan marah pada lelaki itu karena menuduhnya yang tidak-tidak dengan Seno. Tapi Via tetep merasa bahagia dengan Rahman yang bisa kembali dekat dengan Satria.
Hingga hari ini Rahman habiskan bersama Satria.
❄️❄️❄️
Malam hari.
Via yang masih bersikap dingin menyiapkan makan malam untuk suaminya.
Ya, begitulah wanita semarah apapun dia, ia akan tetep menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri dan memasak untuk suaminya.
"Satria sudah tidur,"ucap Rahman pada Via, memberi tahu jika putranya sudah tidur.
"Eem,"Via hanya menjawab seperti itu.
__ADS_1
Dan merekapun makan dalam diam.
❄️❄️❄️❄️
Beberapa hari berlalu, dan selama itu juga Rahman benar-bebar berubah, ia juga jarang mengunjungi Jubaidah meskipun wanita itu memintanya untuk datang.
Dan hal itu tentu menjadi Bom besar untuk Jubaidah, ia nekad mendatangi Rahman di Pabrik, dan kembali mencuci otak putranya, Jubaidah kembali menciptakan beberapa naskah drama yang ia susun untuk merenggangkan hubungan Rahman dan Via.
Dan dengan bodohnya, Rahman kembali termakan omongan ibunya.
*********
"Via, ini uang untukmu,"ujarnya sambil menyerahkan amplop coklat di atas meja makan.
"Via yang sudah tahu itu uang apa, segera meraih amplop yang Rahman berikan dan rencananya besok ia akan pergi ke Dokter.
Namun ketika membuka isi Amplop, Via terkejut!
Menyadari keterkejutan Via, Rahman pun menjelaskan jika 80% uang gajinya di ambil Jubaidah untuk membayar tagihan Rumah sakit Rudi.
Via pun kembali mengelus dada bersamaan dengan hancurnya harapan, jika Rahman akan berubah.
Bukan hanya itu, Rahman pun jadi semakin dekat dan sering bertemu dengan Selvi. Tentu saja ini semua rencana Jubaidah dan Rohmah.
Lelaki itu lebih sering menghabiskan waktu bersama Selvi di luar rumah.
******
"Via, kemarin aku bertemu dengan suamimu di sebuah Kafe bersama seorang wanita,"ujar Monik,"Maaf Via, bukan maksudku mengadu padamu. Tapi kau memang harus mengetahui ini, karena aku melihat suami dengan wanita yang sama bukan hanya sekali atau dua kali."
Saat ini Monik tengah berkunjung ke Rumah Via, karena sahabatnya itu memintanya untuk datang.
"Aku sudah tahu,"sahut Via datar.
"Apa! kau sudah tau! lalu kenapa kau diam saja, jika ada wanita lain yang berniat mendekati suamimu?"
"Lalu aku harus apa Mon, apa aku harus melabrak wanita itu. Jika suamiku sendiri yang memberi ruang untuk wanita lain mendekatinya?"
Bersambung...
❄️❄️❄️❄️❄️
Terimakasih sudah berkunjung ke cerita ini 🙏
Minta dukungannya ya 🤗
Tolong koreksi jika ada kesalahan dalam tulisan ini 🙏
Lope banyak-banyak untuk semuanya ❤️❤️❤️
__ADS_1