Istriku Boros! Menantu Yang Tidak Di Inginkan

Istriku Boros! Menantu Yang Tidak Di Inginkan
Semangat! Rahman


__ADS_3

Selamat! Membaca 🤗


Rania hanya bisa menunduk mendengar apa yang Via katakan, ia sangat tau bagaimana Via di perlakukan oleh keluarganya terutama Rohmah dan Jubaidah. Sekalipun dua wanita itu tidak pernah menghargai Via sebagai menantu di keluarganya.


"Mbk Via, tolong maafkan Ibu dan Mbk Rohmah. Selama ini mereka sering menyakiti Mbk Via." Ucap Rania dengan tulus.


"Iya Rania, Insyaallah Mbk sudah memaafkan Ibu dan Mbk Rohmah, Mbak juga banyak salah pada mereka, Mbk minta maaf."


"Terima kasih Mbk, jika Mbk Via benar-benar sudah tidak mau kembali, bolahkah aku sering main kesini untuk bertemu dengan Satria?"


"Tentu saja boleh, tidak ada yang melarangmu untuk bertemu Satria, karena biar bagaimanapun Satria tetep keponakanmu."


Rania memeluk Via, ia merasa jika Via kakak kandungnya sendiri di banding Rohmah, karena wanita itu lebih sering sibuk dengan urusannya sendiri dan tidak pernah memperhatikan adiknya.


Sebenarnya Via ingin menanyakan sesuatu pada Rania, tapi niat itu ia urungkan karena mungkin saja Rania tidak ingin dengan kejadian 15 tahun silam karena saat itu usia Rania masih sangat kecil dan belum mengerti apapun. Karena terus terang, meskipun Via sudah membulatkan tekatnya yang ingin berpisah dengan Rahman, tapi ia masih penasaran dengan apa yang terjadi 15 tahun silam sampai membuat Rahman melupakan ibu kandungnya.


"Rania, ini sudah malam. Apa kau mau menginap di sini?"tanya Via, sesat setelah ia melepaskan pelukannya.


"Tidak Mbk, aku pulang saja. Meskipun tidak a mungkin ada yang menghawatirkan aku yang belum pulang di jam segini, aku hatus tetap pulang. Putri pasti mencariku."


Via merasa miris, karena ia pun sangat tau seperti apa Jubaidah dan Rohmah, bahkan suaminya. Tidak pernah menghawatirkan Rania sedikit pun ketika anak itu pulang terlambat dan mereka juga tidak pernah menanyakan apa yang di lakukan Rania dan bagaimana dengan sekolahnya.


Dengan Rania yang anak kandungnya saja seperti itu, apa lagi dengan ku yang hanya seorang menantu di keluarganya. Batin Via yang sadar diri.


Rania pulang di antar oleh Alvian, sebenarnya lelaki itu sangat membenci apapun yang berhubungan dengan Rahman, tapi setelah Via menceritakan semuanya, lelaki itu menjadi luluh dan berbaik hati pada Rania sampai mau mengantarkan gadis itu pulang.


Alvian yang secara tidak senaja mendengar percakapan antara Via dan Rania memiliki rencana terselubung, lelaki ini tidak terima jika Jubaidah dan keluarganya tinggal di Rumah adiknya.


❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️


"Turun di sini saja Mas,"pinta Rania ketika mobil Alvian ingin memasuki Gang besar menuju ke Rumahnya.


"Kenapa di sini? Bukankah masih jauh dari Rumah?"


"Tidak apa-apa Mas, aku turun di sini saja. Dan tidak terlalu jauh juga kok hanya berjalan beberapa menit saja sampai di Rumah." Sahut Rania memberi alasan, karena sesungguhnya ia tidak mau jika Jubaidah atau Rohmah mengetahui jika ia diantar pulang oleh Alvian.


"Baiklah, jika itu maumu. Tapi nanti jika Via bertanya padamu kau harus bilang padanya jika kau yang meminta turun di sini, jangan sampai Via marah pada saya karena menurunkanmu di jalan seperti ini,"kata Alvian dengan tegas.


"Beres Mas, tenang saja!" Sahut Rania.


Dan ia pun langsung turun dari mobil Alvian.


"Terima kasih banyak Mas Alvian,"ucap Rania sambil melambaikan tangannya pada lelaki itu.


Setelah memastikan mobil Alvian menjauh, Rania segera melangkah menuju ke Rumah.


Sesampainya di Rumah, Rania mendengar tangis Jubaidah yang pecah, Rania yang merasa khawatir segera berlari masuk.

__ADS_1


"Ibu kenapa menangis?"tanyanya dengan sangat khawatir.


"Rania kau dari mana saja jam segini baru pulang, dan kenapa ponselmu tidak aktif?"dan pertanyaan itu di Sahuti oleh Rahman yang tengah berdiri menjulang di depan pintu kamarnya.


Rahman bertanya dengan nada tinggi, matanya sudah memerah sepertinya lelaki marah pada adiknya yang pulang di malam hari seperti ini.


Alih-alih takut dengan ekspresi Rahman yang marah seperti itu, Rania justru senang kakanya marah, karena dengan marahnya Rahman itu menandakan jika Lelaki itu mengkhawatirkannya. Karena meskipun Rahman yang membiayai semua sekolah dan kebutuhannya, tapi sekalipun Rahman tidak pernah menunjukkan rasa kasih sayang dan perhatian pada adik perempuannya.


"Apa tadi Mas Rahman menghubungi ku?"tanyanya dengan berbinar, dan melupakan sejenak kepanikannya pada Jubaidah.


"Tentu saja, sudah puluhan kali Mas menghubungimu tapi ponselmu tidak aktif. Apa yang kau lakukan di luar sana sampai pulang di jam segini?"


"Aku....!"Rania menggantungkan ucapannya, ia bingung harus mengatakan apa. Apa ia harus mengatakan yang sebenarnya pada Rahman jika ia baru saja dari Rumah orang tua Via dan ia juga bertemu dengan Via. Apa dia berbohong saja jika ia baru pulang dari Rumah temannya.


"Akuuuu...!"


"Rahman, bagaimana ini dengan kakakmu."Kata Jubaidah yang sontak menghentikan perkataan Rania, karena gadis itu kembali fokus kepada ibunya.


"Ibu kenapa? Ada apa dengan Mbk Rohmah?"


"Kakak mu, Rania. Dia seperti ini gara-gara si brengsek Rudi."


Rania memperhatikan Rohmah yang nampak diam dengan tatapan kosong, wanita itu tidak berucap sepatah kata pun padahal Jubaidah histeri sambil memeluk dan mengguncang tubuhnya. Melihat Rohmah yang seperti itu Rania menyadari sesuatu memang terjadi kepada kakak perempuannya.


"Mbak Roma kenapa bisa jadi seperti ini Bu?"


"Memangnya apa yang bisa kita lakukan lagi Bu, ini semua salah Ibu dan Mbak Rohmah yang tidak pernah mempercayai omonganku tentang Mas Rudi."Kesel Rahman.


"Rahman, tapi kau tidak boleh membiarkan kakakmu menjadi seperti ini."


"Iya Mas, Ibu benar,"sahut Rania yang kasihan melihat kakak perempuan.


"Baiklah! Besok kita bawa Mbak Rohmah ke Rumah Sakit, sekarang lebih, Mbak Rohmah beristirahat, mungkin saja ia kelelahan karena seharian mencari Mas Rudi dan ia pun belum makan sejak pagi tadi."Ujar Rahman.


Dan tanpa banyak tanya lagi, Jubaidah segera membawa anak kesayangannya itu masuk ke dalam kamar.


Begitu juga dengan Rahman yang masuk ke dalam kamarnya.


Sementara Rania memilih menemani Putri, karena gadis kecil itu terlihat sangat sedih dengan keadaan Mamanya yang seperti tidak waras.


Setelah menidurkan Putri,


Rania mengetuk pintu kamar Rahman, sejak tadi gadis itu gelisah dan merasa bersalah jika ia tidak mengatakan kepada Rahman bahwa ia baru saja bertemu dengan Via. Padahal sudah berminggu-minggu Rahman mencari istrinya.


"Ada apa Rania, ini sudah malam beristirahatlah, besok kau sekolah kan. Dan jangan sampai kau mengulangi pulang di malam hari seperti ini,"kata Rahman memberi peringatan kepada adiknya setelah ia membuka pintu kamar.


"Aku ingin bicara sebentar Mas,"sahut Rania yang sebenarnya ia juga ragu ingin mengatakan ini.

__ADS_1


"Katakan."


Dengan mengumpulkan semua keyakinan Rania pun mengatakan kepada Rahman.


"Sebenarnya yang membuatku pulang malam hari seperti ini, karena tadi siang aku berkunjung ke Rumah orang tua Mbak Via."


"Apa! Ke rumah Via, apa yang kau lakukan di sana? Apa kau juga meminta pada Ayah Rohim untuk memberitahu di mana Via berada?"


Dengan ragu-ragu Rania menggeleng.


"Lalu apa yang kau lakukan di sana?"


"Awalnya memang seperti itu mas, tapi ketika aku sampai di sana. Aku bertemu secara langsung dengan Mbak Via."


"Apa! Bertemu dengan Via!"mata Rahman berbinar, ia seperti mendapatkan secercah harapan di tengah keputus asaannya, ketika mendengar perkataan Rania bahwa ia bertemu Via.


"Kau yakin Via ada di Rumah?"kata Rahman dengan bahagia sambil membekap kedua pundak adiknya.


"Iya Mas, itu yang membuatku pulang sampai malam seperti ini, karena aku sangat merindukan Mbak Via dan Satria jadi aku berlama-lama di sana."


Rahman sampai tidak bisa berkata-kata karena ia terlalu bahagia, matanya sampai berkaca-kaca mendengar kabar yang dibawa Rania jika Via sudah kembali meskipun kembali ke rumah orang tuanya, tapi setidaknya itu akan memudahkan Rahman untuk bertemu dengan istrinya.


Dengan mengucap berpuluh-puluh rasa syukur, Rahman memeluk adiknya.


"Sekarang kau beristirahatlah, temani Putri dan telepon Mas jika terjadi sesuatu pada Mbak Rohmah."


"Memangnya Mas Rahman mau ke mana?"


"Kemana lagi! Tentu saja menemui Via,"sahut Rahman dengan semangat 45.


"Tapi ini sudah malam Mas, mungkin saja Mbak Via dan Satria sudah tidur?"


"Mas tidak bisa menundanya sampai besok, Mas sudah menunggu dan mencari Via selama berminggu-minggu. Apa mungkin Mas harus menundanya lagi. Tidak kan!"sahutnya sambil meraih jaket yang tergantung di balik pintu kamarnya dan kunci motor yang tergantung di tempat yang sama.


Bersambung...



❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️



Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini 🙏


Minta dukungannya ya.


Tolong koreksi jika ada kesalahan dalam tulisan ini 🙏

__ADS_1


Lope Banyak-banyak untuk semuanya ❤️❤️❤️


__ADS_2