
Selamat! Membaca 🤗
Dan di akhir kalimatnya, Teman Alvian memberi tahu di mana rumah Miranda berada.
"Mas Vian, bisa tolong antarkan aku ke sana?"pinta Rania.
"Tidak bisa, lokasinya cukup jauh, lagi pula kau ingin ke rumah sakit kan!"
"Aku mohon Mas, tolong antarkan aku dulu ke lokasi yang disebutkan tadi, aku lebih mengkhawatirkan Putri, aku takut istri baru Mas Rudi melakukan hal yang buruk kepada Putri. Tolong Mas!"pinta Rania dengan memohon.
Alvian yang tidak tega pada akhirnya menuruti Rania, dan mereka menuju ke rumah Miranda.
Karena Alvian mengendarai mobilnya cukup kencang, hingga dalam waktu cepat juga mereka sampai di sana.
❄️❄️❄️
"Putri! Untuk apa kalian mencari anak itu?"kata Miranda, saat Rania datang dan mengutarakan maksud dan tujuannya.
"Dia keponakan saya tante, tolong biarkan saya untuk membawa Putri kembali."
"Enak saja, apapun yang sudah datang di rumah ini tidak bisa diambil kembali, lagi pula yang membawa anak itu ke sini kan papanya sendiri."
"Kalau begitu izinkan saya untuk bertemu dengan Putri."
Miranda terdiam, tapi ekspresi wajahnya sama sekali tidak merasa bersalah.
"Apa kau tuli! Dia meminta ingin bertemu dengan Putri, kenapa kau malah diam seperti patung!"kesal Alvian melihat reaksi Miranda.
"Dasar kurang ajar, kalian berani bertamu di malam buta seperti ini, mengganggu ketenangan orang dan sekarang kau berani memakai saya!"Miranda tidak terima.
"Memang wajah anda sangat pantas untuk dipakai,"sahut Alvian dengan suara pelan namun masih terdengar jelas di telinga Miranda.
"Saya ingatkan, lebih baik kalian segera pergi dari sini, karena seperti apapun kalian meminta dan memohon, kalian tidak akan pernah bertemu dengan Putri. Karena anak itu sudah tidak ada di sini."
"Maksud tante!"ketakutan sudah menjalar di seluruh tubuh Rania.
"Apa kau tidak mendengar, saya bilang anak itu sudah tidak ada di sini, apa masih kurang jelas."
"Wanita ini!"
Alvian yang geram dan sudah tidak bisa mengontrol emosinya mencengkram kuat lengan Miranda, ia benar-benar ingin mematahkan tangan wanita di hadapannya itu.
"Kurang ajar! Berani sekali kau menyentuh saya."
"Bukan cuma menyentuh bahkan untuk mematahkan tangan ini pun saya berani, cepat katakan di mana Putri."Kata Alvian dengan suara beratnya.
Miranda tidak tinggal diam, ia memberi kode dan sesaat itu juga beberapa orang datang, mereka adalah para ajudan Miranda.
"Cepat kalian singkirkan tamu yang tidak tahu sopan santun ini,"titah Miranda.
"Baik Madam!"
Satu dari 4 pria mencengkram bahu Alvian, agar lelaki itu melepaskan cengkraman tangannya dari lengan Miranda.
"Aaww, sakit."Rinti Miranda karena Alvian malah semakin kuat mencengkramnya.
__ADS_1
Mendengar bosnya merintih, ajudan ke 2 menendang Alvian dari sisi kanan.
BUG!
"Mas Alvian tidak apa-apa! Sudah Mas kita lebih baik pergi dari tempat ini,"ajak Rania yang menyerah karena ia tidak mau menimbulkan masalah lain apalagi sampai membuat Alvian terluka.
"Cepat Hajar dia,"titah Ajudan ke 3, setelah melihat Alvian tersungkur, dan tengah dibantu bangun oleh Rania.
Ke 4 pria sudah siap dengan posisi masing-masing, mereka kira akan sangat mudah hanya untuk menghadapi satu orang saja, namun ternyata tidak semudah yang mereka bayangkan.
Alvian, yang memang pandai dalam beladiri mampu menyeimbangi ke 4 ajudan Miranda.
Setelah beberapa menit mereka berkelahi, akhirnya usai dengan Alvian yang membuat ke 4 orang itu tersungkur meskipun ia mengalami beberapa luka serius di wajahnya akibat pukulan dari lawan.
Melihat kaki tangannya sudah tak berdaya, Miranda kalap, sudah tidak ada lagi anak buah di rumahnya dan wanita itu memutuskan menghindar.
Dengan cara kabur.
Namun.
sebelum ia berhasil keluar dari gerbang rumah mewahnya, Alvian terlebih dahulu mencegah langkah kakinya.
"Lepas!"Teriak Miranda.
"Cepat katakan di mana kau menyembunyikan anak itu?"
"Saya tidak menyembunyikannya."
Alvian yang sudah sangat kehabisan kesabaran menghadapi Miranda mencekik leher wanita itu.
"Kalau kau tidak mau saya mematahkan leher yang tidak berguna ini, cepat katakan di mana kau menyembunyikan anak itu."
"Mas, jangan kau bisa membunuhnya,"cegah Rania.
"Biarkan saja wanita ini mati karena ia lebih memilih mati daripada harus mengatakan di mana anak itu."
Karena Miranda tidak mau mati dalam keadaan seperti ini, ia memberi isyarat pada Alvian untuk melepaskan cengkeramannya karena ia ingin mengatakan yang sesungguhnya.
Alvian menghempaskan Miranda.
"Cepat katakan di mana?"
"Putri saya jual, dan dia sudah dibawa oleh Mister Dewa, dia yang biasa menampung anak-anak di bawah umur, dan mungkin saja saat ini dia sudah terbang ke luar negeri."
"Apa!"Rania terkejut dengan perkataan Miranda yang dengan tega menjual keponakannya seperti barang.
"Cepat katakan di mana rumah orang itu!"
Dan Miranda pun memberikan lokasi lengkapnya, setelah mendapatkan alamat yang akurat dari Miranda, Alvin beserta Rania bergegas menuju ke lokasi. Mereka sangat berharap jika Putri masih ada di sana.
sementara Miranda, Alvian ikat di pilar besar bersama keempat ajudannya dan setelah itu ia menghubungi Wisnu untuk membawa polisi.
❄️❄️❄️
Di rumah sakit, Rahman yang gelisah karena Rania tidak kunjung datang memutuskan untuk pulang tanpa menunggu adiknya terlebih dahulu, apalagi ia tahu jika Via dan Satria ada di kontrakan Tengah menemani Rohmah.
__ADS_1
Ia melangkah keluar meninggalkan Jubaidah sendirian.
❄️❄️❄️
Sesampainya di Rumah Mister Dewa, Alfian sudah dihadang dengan beberapa pengawal di sana.
Ia juga terlibat perkelahian sengit namun itu semua tidak berlangsung lama karena beberapa anggota polisi tiba untuk membantu, dan Wisnu lah yang mengirim para polisi tersebut.
Di kediaman itu cukup mengejutkan, karena benar yang dikatakan Miranda Dewa adalah penampung para anak di bawah umur dan di Rumah itulah menjadi gudangnya dengan beberapa anak-anak yang masih sangat kecil tengah dikurung di dalam kamar dan siap untuk dikirim ke luar negeri sesuai pesanan. Sungguh biadab.
Rania berkeliling mencari sosok Putri, karena di antara anak-anak yang dikurung di dalam kamar ia tidak melihat putri di sana.
Sementara Alvian dan beberapa polisi tengah menggerebek Dewa yang berada di lantai 3 bangunan itu, ia tengah asyik bersama seorang wanita penghibur di dalam kamar dan ia pun digelandang dalam keadaaan tanpa busana.
"Mas, Putri tidak ada di sini!"Panik Rania, setelah ia berkeliling di lantai 1 dan 2 untuk mencari putri.
"Apa kau sudah mencarinya dengan benar?"
"Sudah Mas."
Alvian melirik kepada Dewa yang sudah di borgol.
"Di mana lagi kau menyembunyikan anak-anak yang lain?"
Dan Dewa hanya tersenyum miring menanggapi pertanyaan dari Alvian, ia benar-benar kurang ajar dan tidak memiliki rasa takut.
"Bajingan!"
Alvian sudah ingin memukul wajah pria itu, namun polisi mencegahnya.
"Maaf pak, ini negara hukum, kita tidak boleh maih hakim sendiri, biar kami yang mengintrogasinya."
"Tapi pak, bagaimana kalau dia sudah membawa keponakan saya terlebih dahulu ke luar negeri,"sahut Rania.
"Tidak! anak itu berada di lantai 3 bersama anak-anak yang lain."Akhirnya Dewa bersuara.
Rania bergegas menaiki lantai 3 dan membuka setiap ruangan yang ada di sana, dan benar saja ia melihat putri dan beberapa anak yang lainnya dikurung di tempat khusus sepertinya anak-anak ini spesial yang menjadi pilihan Dewa sehingga di tempatkan di lantai 3.
"Tante Rania!"
Putri berlari memeluk Rania dengan tersedu-sedu dan terus mengatakan.
"Aku takut!"
"Sudah, Putri tidak perlu takut lagi. Tante ada di sini sekarang kita bisa pulang."
Syukur alhamdulillah, ternyata pria laklat itu belum berhasil membawa Putri ke luar negeri, karena ada beberapa pemeriksaan ketat di setiap bandara menuju ke negara yang akan ia tuju.
Bersambung....
❄️❄️❄️
Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini 🙏
Minta dukungannya.
__ADS_1
Tolong koreksi jika ada kesalahan dalam tulisan ini 🙏
Lope Banyak-banyak untuk semuanya ❤️❤️❤️