Istriku Boros! Menantu Yang Tidak Di Inginkan

Istriku Boros! Menantu Yang Tidak Di Inginkan
Jubaidah Kepergok!


__ADS_3

Selamat! Membaca 🤗


"Ibu! Buka pintunya Bu." Teriak Rahman sambil menggedor-gedor pintu Rumahnya. Namun tetap tidak ada yang membukakan pintu, karena di Rumah itu memang tidak ada siapapun.


Jubaidah langsung pergi setelah menerima uang dari Selvi dan sampai sore menjelang Maghrib wanita itu belum pulang, sementara adiknya Rania memutuskan untuk ke Rumah orang tua Via setelah ia pulang dari sekolah.


Berulang kali Rahman menghubungi Jubaidah tapi wanita itu tidak mengangkat panggilannya.


"Dimana Ibu, dan kenapa Mbk Rohmah dan Rania belum pulang, ponselnya juga tidak aktif." Kesal Rahman karena ia tidak bisa masuk ke dalam Rumahnya sendiri, padahal ia sudah sangat lelah seharian ini mencari kerja, karena lamarannya di Kantor tempat Dino bekerja menolaknya mentah-mentah karena Rahman telat 2 jam dari jadwal pertemuan dengan Dino dan atasnya.


Tin..


Tin...


Suara mobil mengejutkan Rahman, dan yang paling membuat ia terkejut bercampur heran, mobil itu memasuki halaman Rumahnya.


"Om Rahman!"teriak Putri ketika ia turun dari Mobil Hendra.


"Putri!"Rahman yang terkejut karena Putri turun dari mobil itu segera menghampiri gadis kecil itu,"Putri! Dimana Mamamu, kenapa kau bisa naik mobil ini?"


Belum sempat Putri menjawab pertanyaan Rahman, Hendra keluar mobil terlebih dahulu sambil menyapanya.


Dan Rahman sangat terkejut ternyata lelaki itu adalah bosnya di Pabrik.


"Pak Hendra!"


"Kau, Rahman kan!"


Kata Hendra yang juga terkejut dan tidak menyangka, jika ia bisa bertemu dengan Karyawannya dengan cara yang kebetulan seperti ini.


Tapi, apakah ini memang sebuah kebetulan?


"Benar Pak, saya Rahman yang pernah bekerja di Pabrik bapak."


"Pernah berkerja di Pabrik saya? Apa maksudnya. Bukankah kau masih bekerja di Pabrik?"


Rupanya Hendra belum mengetahui jika Rahman sudah di pecat!


Dan Rahman pun menceritakan jika ia di pecat dari Pabrik itu. Setelah ia mengajak Hendra untuk duduk di teras Rumahnya.

__ADS_1


"Saya akan meminta penjelasan pada pengawas di sana,"sahut Hendra setelah mendengar penjelasan dari Rahman penyebab ia di pecat.


"Tidak apa-apa Pak, itu memang kesalahan saya, dan saya menerimanya." Kata Rahman, "Saya ucapkan terima kasih banyak, pada Pak Hendra karena sudah menolong dan mengantar pulang Kakak dan keponakan saya."


"Jangan sungkan Rahman, jika saya boleh memberi saran, sebaiknya kakakmu jangan dulu diizinkan untuk keluar Rumah, sepertinya ia dalam kondisi tidak baik."


"Baik, Pak. Sekali lagi terima kasih!"


Dan Hendra pun segera pamit dari Rumah Rahman, dan sebelum ia pamit Hendra meminta Rahman untuk kembali ke Pabrik esok hari, menemuinya dan pengawas.


"Putri! Kenapa Mamamu bisa seperti ini?"tanya Rahman pada anak itu.


"Aku tidak tahu Om, tiba-tiba Mama seperti ini ketika bertemu dengan teman Papa yang bernama Bambang, dan Om Bambang tidak mau mengenali mama dan tidak mau mengatakan di mana Papa berada."


"Sudah kuduga! Si brengsek Rudi itu benar-benar merencanakan semua ini bersama temannya yang bernama Bambang,"gumam Rahman dalam hatinya.


Lalu ia melirik Rohmah yang hanya duduk termenung dengan tatapan kosong, wanita itu seperti tidak memperdulikan yang ada di sekelilingnya bahkan ia tidak merespon semua pertanyaan yang dilontarkan oleh Rahman dan Putri. Pandangannya terus saja menatap ke depan namun kosong sambil menyebut nama, Mas Rudi dan Mas Rudi.


Rahman yang tidak ingin Rohmah jadi tontonan warga, memilih untuk mendobrak pintu Rumahnya agar ia bisa membawa Rohmah masuk ke dalam.


"Om, kenapa Mama bisa seperti ini? Mama tidak mau bicara denganku? Sejak tadi mama hanya memanggil Papa?"


"Belum Om, sejak pagi aku dan Mama belum makan."


"Kau tunggu di sini, Om pergi sebentar membeli makanan sambil membeli token listrik agar Rumah ini tidak gelap."


"Baik Om."


Rahman keluar menuju warung terdekat untuk membeli makanan dan token listrik, namun di tengah jalan ia melihat Jubaidah turun dari motor. Sepertinya wanita itu menggunakan jasa ojek untuk mengantarnya pulang ke Rumah, tapi yang membuat Rahman heran kenapa Jubaidah turun di tengah jalan tidak di depan Rumah saja! Dan Rahman semakin merasa heran ketika melihat Jubaidah berinteraksi sangat akrab dengan si pengendara motor yang wajahnya tertutup helm dan masker, meskipun Rahman tidak bisa mendengar percakapan mereka tapi Rahman sudah bisa memastikan jika orang itu adalah lelaki.


Dengan mengendap-endap dan tengok kanan kiri Jubaidah berjalan menuju ke Rumah setelah orang yang mengantarnya pergi.


"Ibu dari mana? Sampai malam seperti ini baru pulang?"


Tanya Rahman yang tentu saja membuat Jubaidah terkejut sampai membuat wanita itu tersentak dan mengangkat kedua tangannya ke atas, dan karena keterkejutan itu tanpa senaja Jubaidah menjatuhkan sebuah benda berupa botol kecil yang ia genggam sejak tadi.


Tentu saja pandangan Rahman tertuju pada botol kecil yang dijatuhkan Jubaidah, tapi Jubaidah segera sadar dan meraih botol yang terjatuh di tanah itu.


"Ibu... Ibu dari Rumah teman, teman arisan. Man,"sahut Jubaidah dengan gugup.

__ADS_1


"Apa harus sampai semalam seperti ini? Dan Ibu tidak meninggalkan kunci Rumah sampai aku terpaksa mendobrak pintu?"tanya Rahman namun pandangan matanya tertuju pada botol kecil yang digenggam Jubaidah, sepertinya Rahman sangat penasaran dengan benda itu. Tapi ia tidak mau bertanya karena Rahman lebih memilih menyampaikan keadaan Rohmah pada Jubaidah.


"Astaga! Apa itu benar, kalau begitu Ibu ke Rumah dulu ya Man Ibu harus memastikan jika kakakmu baik-baik saja,"kata Jubaidah dengan terburu-buru karena sesungguhnya ia pun ingin segera menghindari Rahman, ia takut jika Rahman mempertanyakan benda yang ia bawa itu.


Rahman mengangguk tanpa bertanya apapun lagi dan membiarkan Jubaidah berjalan menuju ke Rumahnya.


Jubaidah mengelus dadanya, ia merasa lega karena terhindar dari pertanyaan yang mungkin saja sulit untuk Jubaidah jawab karena ia belum mempersiapkannya.


Tanpa Jubaidah sadari, sebenarnya Rahman pun sangat penasaran dan bertanya-tanya dengan benda yang ia bawa itu.


Mungkin saja Rahman akan mencari tahunya sendiri tanpa harus bertanya pada Jubaidah.


❄️❄️❄️❄️❄️


Di tempat lain.


Rania yang sejak siang berkunjung ke Rumah Rohim dan Aminah bertemu dengan Via, karena ternyata. Via ikut pulang bersama dengan ibunya.


Rania yang sangat senang luar biasa bisa bertemu kembali dengan kakak ipar dan keponakan, seketika menghabiskan setengah hari untuk berbincang dan membujuk kakak iparnya agar kembali pulang ke Rumah.


Rania pun menceritakan semuanya kepada Via tentang apa yang terjadi pada Rahman semenjak ditinggal ia pergi, dan ia pun mengatakan jika Rumah Ibunya sudah dijual oleh Rudi dan saat ini mereka tinggal di Rumah Via.


"Aku mohon Mbak, kembalilah pulang ke Rumah. Kasihan Mas Rahman menjadi sedih sejak di tinggal Mbak Via dia benar-benar terlihat putus asa, dan karena kesedihannya itu juga membuat Mas Rahman jarang masuk kerja hingga ia dipecat dari pekerjaannya. Mas Rahman benar-benar menyesal Mbk, aku yakin Mas Rahman sudah berubah. Tolong kembalilah." Pinta Rania dengan memohon sambil menggenggam kedua tangan kakak iparnya.


Via menarik nafasnya dalam-dalam, dan ia berkata kepada adik iparnya yang selalu membela dan menyayanginya.


"Rania, Maafkan Mbak. Ini bukan hanya karena Mas Rahman dan semua kelakuannya, tapi. Untuk membangun sebuah rumah tangga harus ada kerja sama dan di bangun secara bersama-sama, rumah tangga yang di bangun hanya dengan satu tiang tidak akan bisa bertahan, sekalipun tiang itu berusaha keras menopangnya dan sekuat tenaga mempertahankan keutuhannya, tetap tidak akan mampu untuk bertahan. Dan selain itu, harus ada dukungan dari keluarga yang bisa menerima dan mengerti satu sama lain. Suatu hari nanti kamu pasti mengerti dengan apa yang Mbak Via katakan, intinya. Mbak tidak bisa jika terus mempertahankan rumah tangga Mbak seorang diri, sedangkan begitu banyak terjangan yang Mbk terima, karena Mbak selama ini sudah cukup lelah dengan semuanya, lagi pula Ibumu juga tidak akan pernah menerima kehadiran Mbak, jadi biarkan semua berjalan di jalannya masing-masing, termasuk Mbak Via yang memilih untuk menyerah. Dan Mbak mohon tolong hargai keputusan Mbak."


Bersambung....


❄️❄️❄️❄️❄️❄️


Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini 🙏


Minta dukungannya ya 🙏


Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini 🙏


Lope banyak-banyak untuk semuanya ❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2