Istriku Boros! Menantu Yang Tidak Di Inginkan

Istriku Boros! Menantu Yang Tidak Di Inginkan
Tinggal Di Kontrakan 3 petak.


__ADS_3

Assalamualaikum 🙏


Marhaban ya Ramadhan.


Selamat Menunaikan ibadah puasa.


Maaf ya Otor baru bisa Update lagi, karena beberapa hari ini kesehatan Otor lagi terganggu.


Semoga kita semua selalu di beri kesehatan dan kemudahan dalam setiap urusan Aamiin 🤲🤲


❄️❄️❄️


Selamat! Membaca 🤗


"Bu, apa yang harus kita lakukan!"


"Ibu juga tidak tahu, Rania."


Rania kembali menahan tangan Rohmah yang semakin liar mencakar seluruh tubuhnya.


"Jangan, Mbak Rohmah. Nanti bisa terluka."


"Tidak! Aku harus menyingkirkan makhluk menjijikan dan mengerikan ini dari tubuhku."


Tidak ada pilihan lain, Jubaidah dan Rania terpaksa mengikat tangan Rohmah agar wanita itu tidak terus-terusan melukai dirinya sendiri.


"Rania, cepat kau hubungi Rahman suruh dia pulang agar bisa membawa mbakmu secepatnya ke rumah sakit."Titah Jubaidah.


"Tapi ini sudah malam bu, lagi pula jika kita harus menunggu Mas Rahman akan semakin lama, bagaimana kalau kita saja yang membawa Mbak Rohmah ke Rumah Sakit, kita bisa membawanya dengan taksi online?"


"Rania, apa kau tidak dengar. Ibu bilang cepat hubungi kakakmu suruh dia ke mari sekarang,"bentak Jubaidah yang membuat Rania mengangguk seketika dan langsung menghubungi Rahman.


❄️❄️


Setelah mendapat kabar dari Rania, Rahman segera meminta izin kepada Via dan mertuanya untuk pulang ke Rumah dan membawa Rohmah ke Rumah Sakit.

__ADS_1


"Pergilah! Hati-hati di jalan,"ujar Rohim.


❄️❄️❄️❄️


"Bagaimana dengan keadaan kakak saya Dok?"tanya Rahman. Yang saat ini sudah berada di Rumah Sakit. Dan beberapa menit lalu Dokter telah memeriksa Rohmah.


"Sepertinya, kejiwaan Ibu Rohmah terganggu, dan saya sarankan beliau di bawa ke Rumah Sakit Jiwa, agar di tangani dengan Dokter yang tepat, Ibu Rohmah mengalami halusinasi berlebihan, dan hal ini sangat mengkhawatirkan sekaligus membahayakan bagi Ibu Rohmah sendiri dan orang yang anda di sekitarnya."


"Apa! Dokter bilang anak saya gila?"sahut Jubaidah, dengan sedikit membentak.


"Maaf Bu, saya..!"


"Tidak! Anak saya tidak gila, Rohmah tidak mungkin gila, Anda pasti salah mendiagnosa anak saya, dasar Dokter gadungan,"potong Jubaidah tak terima.


"Sudah Bu, Ibu kenapa seperti ini, Ibu tidak boleh bicara seperti itu pada Dokter."


"Tidak apa-apa pak Rahman, saya sangat mengerti perasaan Ibu Jubaidah saat ini. Dan saya memang bukan Dokter ahli kejiwaan, oleh sebab itu saya menyarankan Ibu Rohmah sebaiknya di rawat di RSJ."


******


Bukan pulang di Rumah Via, tapi di sebuah kontrak 3 petak yang berada di lingkungan padat penduduk.


"Kau tidak salah, membawa Ibu dan kakakmu yang sedang sakit untuk tinggal di tempat seperti ini?"tanya Jubaidah, memperhatikan di sekelilingnya.


Tidak ada apapun di dalam kontrakan itu, selain kasur busa yang tergeletak di lantai.


"Maaf Bu, aku hanya bisa menyewa kontrakan di sini, Ibu taukan, jika aku sudah lama tidak bekerja."


"Kau sungguh keterlaluan Rahman."


"Sudah Bu, tidak apa kita tinggal di tempat ini, ini jauh lebih baik dari orang-orang yang tidak mampu membayar sewa rumah dan harus tinggal di pinggiran toko bahkan kolong jembatan. "Sahut Rania.


"Benar Nek! tidak apa-apa kita tinggal di sini, aku suka kok."sambung Putri.


Rahman jadi kasihan dengan adik dan keponakannya itu, tapi dia salut. Di situasi seperti ini Rania dan Putri jauh lebih mengerti keadaan.daripada Jubaidah.

__ADS_1


"Mas, tidak punya cukup uang untuk menyewa Rumah yang lebih dari ini, tapi aku akan segera mencari kerja, semoga bisa menyewakan tempat yang jauh lebih layak dari ini,"sahut Rahman pada Putri dan Rania.


Dan di malam itu, Rahman tidak kembali ke Rumah mertuanya, karena ia harus menemani Jubaidah yang tengah kesusahan menenangkan Rohmah, yang masih saja berhalusinasi jika ada makhluk menyeramkan di tubuhnya.


Tapi sebelum itu ia mengabari Via terlebih dahulu.


❄️❄️❄️❄️


Keesokan harinya.


"Ibu mau kemana?"tanya Rahman, yang melihat Jubaidah sudah sangat rapi.


"Pergi sebentar, kau disini saja temani kakakmu."


"Iya, tapi ibu mau kemana di pagi hari seperti ini?"


"Ibu ingin menemui teman Ibu, sudahlah kau jangan banyak tanya, Ibu pergi dulu."


Setelah mengatakan itu Jubaidah langsung berlalu.


Rahman yang heran masih berdiri menatap kepergian Jubaidah.


Padahal ini masih pagi buta, siapa yang ingin di temui Jubaidah. Batin Rahman.


Bersambung..


❄️❄️❄️❄️


Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini 🙏


Minta dukungannya ya 🤗


Tolong koreksi jika ada kesalahan dalam tulisan ini 🙏


Lope Banyak-banyak untuk semuanya ❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2