Istriku Boros! Menantu Yang Tidak Di Inginkan

Istriku Boros! Menantu Yang Tidak Di Inginkan
Rencana Rahman Untuk Jubaidah


__ADS_3

Selamat! Membaca 🤗


Jubaidah kembali menelisik Rahman, ia mencari sesuatu yang mungkin saja ada yang lain terhadap diri pria itu.


Namun Jubaidah tidak menemukan apapun karena Rahman memasang wajah seperti biasanya.


"Rahman, dimana Via?"tanya Jubaidah.


Rahman sedikit tersentak ketika Jubaidah menyebut nama Via, ia teringat dengan kata-kata Alvian jika Jubaidah ingin menumbalkan Via untuk kesembuhan Rohmah.


"Di rumah ibu Aminah,"sahut Rahman.


"Apa kau tidak bisa meminta Via untuk datang?"


Rahman menatap Jubaidah.


"Aku akan coba membujuknya Bu."


Jubaidah tersenyum, sampai sini ia sangat yakin jika Rahman tidak berubah dan belum mengetahui yang sebenarnya.


Rahman mencengkram kuat jari-jarinya, ia benar-benar sudah tidak tahan ingin membalas sakit hatinya selama ini pada Jubaidah.


Tapi Rahman memilih membalasnya dengan cara halus, ia menggunakan metode yang Jubaidah lakukan. Menghancurkan wanita itu secara perlahan, itulah yang ingin Rahman lakukan.


Sebenarnya Rahman tidak terhipnotis oleh mantra Mbah Gede, Ia hanya berpura-pura agar dukun itu percaya bahwa Rahman tidak mengingat semuanya, hal ini ia lakukan agar lebih mudah untuk menghancurkan Jubaidah.


"Rahman, kau menginap di sini ya. Beberapa hari ini Ibu sulit tidur karena Rohmah terus saja berteriak di malam hari."


Rahman diam sejenak, ia benar-benar muak dengan kata-kata nanis dari wanita yang sudah menghancurkan kehidupannya itu.


"Aku akan meminta izin Via dulu Bu."


"Meminta izin Via! Untuk apa, kau ini kepala keluarga tidak perlu mendapatkan izin dari istrimu jika ingin melakukan apapun,"kata Jubaidah seperti biasa, menghasut Rahman agar ia membenci istrinya.


"Baiklah, tapi aku harus pulang ke Rumah Bu Aminah terlebih dahulu, karena ada sesuatu yang harus aku ambil."


"Tapi kau segera kembali ya?"


Rahman mengangguk.


❄️❄️❄️


Rohim tengah menyadarkan Alvian dan Wisnu, setelah kedua lelaki itu sadar mereka menceritakan apa yang terjadi di rumah tua milik Mbah Gede.


"Astaghfirullahaladzim!"


Aminah sampai beristighfar ketika mendengar jika Jubaidah ingin menubalkan Via untuk kesembuhan Rohmah.


"Ibu tidak menyangka jika Jubaidah sampai berbuat nekad seperti itu."


"Lalu dimana Mas Rahman?"tanya Via.


"Mas tidak tahu, si bodoh itu mengikuti dukun untuk menemui Ibu kesayangannya yang jahat itu, sepertinya Rahman benar-benar sudah dikuasai oleh mereka sampai ia tidak mau mendengarkan penjelasanku."


"Bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan Mas Rahman,"khawatir Via.


"Kita bisa melaporkan kejadian ini pada polisi, aku akan membantunya."Usul Wisnu.


"Bagaimana kita melapor polisi, kau tahu kan jika dukun itu kebal terhadap senjata dan Ia memiliki ilmu hipnotis yang sangat tinggi, kita saja sampai seperti orang lingung seperti ini di buatnya,"sahut Alvian.


"Serahkan semuanya kepada Allah Yang Maha Kuasa, berdoalah kepada Allah agar sang pencipta selalu melindungi kita dari kejahatan apapun, tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah Maha Besar."Ujar Rohim, yang sejak tadi terlihat tenang.


Mereka mengagguk

__ADS_1


Tentu saja, tidak ada kekuatan dan kehebatan yang sempurna di dunia ini, selain kekuatan Allah Maha Besar.


"Assalamualaikum!"


Di saat yang bersamaan Rahman datang.


"Mas!"Via, bangkit dan menghampiri suaminya.


Semua nampak lega melihat kedatangan Rahman tapi tidak dengan Alvian yang masih kesal dengan adik iparnya itu.


"Waalaikumsalam!"


"Mas, kau dari mana saja?"


"Aku dari Kontrakan Ibu."


"Hey Bodoh. Untuk apa kau kembali lagi ke sini bukankah kau sudah mengikuti dukun itu untuk bertemu dengan ibu kesayanganmu itu, apa kau datang ke sini atas perintah wanita itu untuk membawa Via ke hadapannya?"marah Alvian.


Tapi tiba-tiba Rahman memeluk Alvian.


"Vian, kau Vian!"


"Eh, apa-apaan ini! kenapa kau memelukku. Apa kau sudah gila sama seperti wanita itu!"Alvian berusaha melepaskan pelukan Rahman.


Kemudian Rahman mengatakan kata-kata yang pernah dulu ia sering katakan kepada Alvian di saat mereka kecil.


Alvian terdiam sejenak, dan Rahman menguraikan pelukannya.


Alvian yang masih bingung diberi penjelasan oleh Aminah jika Rahman sudah mengingat semuanya, termasuk kenangan mereka dulu.


"Apa itu benar?"tanya Alvian memastikan.


Rahman mengangguk dan mengatakan jika Dulu mereka sering bermain bersama di saat Aminah berkunjung ke rumah orang tuanya.


Dua lelaki ini adalah teman, meskipun mereka tidak setiap hari bertemu namun mereka cukup dekat dan akrab ketika bertemu.


"Aku terpaksa melakukan itu mas, karena aku ingin kembali masuk ke dalam kehidupan wanita itu dan menghancurkannya secara perlahan, sama seperti apa yang ia lakukan kepada mendiang Ibuku dan merusak keluargaku."


"Astaghfirullah."Rohim sampai mengelus dada mendengar ucapan Rahman.


"Nak, tidak baik menyimpan dendam pada siapapun karena itu hanya akan membuat hatimu tidak merasa tenang."


"Tapi aku setuju dengan Rahman yah, dia harus membalas perbuatan wanita jahat itu, dia juga ingin menggunakan Via demi kepentingannya."


"Alvian, tidak semua kejahatan harus dibalas dengan kejahatan. Seperti yang ayah katakan sebelumnya, serahkan semuanya kepada Yang Maha Kuasa, dialah yang Maha Adil, kita tidak boleh menghakimi manusia dengan cara kita sendiri."


Alvian dan Rahman menunduk.


Apakah Mereka mendengarkan perkataan Rohim!


Jika Alvian mungkin saja iya, karena ia sangat patuh dengan orang tuanya, tapi tidak dengan Rahman. Ia masih dengan niatnya yang ingin menghancurkan Jubaidah. Dengan begitu mungkin hati Rahman akan menjadi tenang ketika melihat wanita itu hancur dan mati.


"Mas kau baik-baik saja kan?"


"Aku tidak apa-apa, kau jangan khawatir dan takut, aku tidak akan membiarkan wanita jahat itu menyentuhmu."


"Dan aku juga akan membalaskan apa yang sudah Jubaidah lakukan padamu,"Batin Rahman.


❄️❄️❄️


Beberapa hari berlalu.


Rahman yang sudah berjanji kepada Jubaidah akan segera kembali namun ia tidak kunjung datang membuat wanita itu gelisah setengah mati di kontrakannya.

__ADS_1


Ia mondar-mandir seperti setrika, menunggu kedatangan Rahman, takut kalau-kalau anak itu sudah tidak lagi peduli kepadanya karena Aminah sudah menghasutnya.


"Rahman, kenapa kau tak kunjung datang."


Wajah Jubaidah sedikit pucat, karena ia terus memikirkan Rahman yang tak kembali dan memberi kabar padanya.


Dan disaat Jubaidah tengah gundah gulana seseorang datang dengan cara tidak sopan.


"Siapa kalian?"Jubaidah melihat dua orang pria memakai pakaian serba hitam.


Dua orang itu tidak menjawab pertanyaan Jubaidah, mereka hanya memberi gerakan seolah mempersilahkan seseorang datang.


Dan dibalik kedua pria tinggi besar itu muncullah sosok yang selama ini membuat Jubaidah naik pitam karena ulahnya Rohmah menjadi gila.


"Rudi!"


Ya, dia adalah Rudi sang menantu kebanggaan Jubaidah, setelah lama menghilang lelaki itu kembali muncul di hadapan mertuanya.


"Bagaimana kabarmu ibu mertuaku?"sapa Rudi, tapi dengan gerakan yang angkuh.


"Dasar berengsek! Cepat kembalikan apa yang sudah kau ambil dari saya."


"Hahaha... Ibu ini bagaimana sih, anak ibu itu sudah memberikannya padaku, masa mau ibu ambil lagi, lagi pula semua itu sudah habis Bu, aku menggunakannya untuk bermain judi dan berfoya-foya!"


Jubaidah yang emosi, tidak dapat di tahan melihat tingkah laku Rudi.


"Dasar menantu kurang ajar! Penipu, kau memanfaatkan Rohmah dengan akal bulusmu itu."


Jubaidah mencakar-cakar baju Rudi.


Dan Rudi yang merasa terganggu memberi isyarat kepada dua orang yang berada di sisinya untuk menghentikan Jubaidah.


"Saya akan mematahkan tangan anda jika anda berani menyentuh Tuan kami."Kata salah satu orang yang datang sebagai pengawal Rudi.


Jubaidah terbelalak mendengar ucapan kedua orang itu, dan kedua orang itu menghempaskan Jubaidah setelah sebelumnya mereka mencengkram tangannya.


"Kurang ajar! Pergi kau dari sini, dasar menantu sialan!"


"Tentu saja aku akan pergi dari sini karena aku juga tidak mau berlama-lama di sini, tapi sebelum aku pergi, aku ingin membawa apa yang menjadi hak ku."


"Apa maksudmu?"


"Aku ingin membawa Putri."


"Apa kau sudah tidak waras! Membawa Putri, tidak! Tidak ada yang bisa membawa Putri termasuk dirimu, apa kau pikir selama ini kau sudah menjadi ayah yang baik untuk anak itu, seenaknya kau datang ke sini untuk mengambil Putri setelah Kau menghancurkan semuanya dan membuat kami menjadi seperti ini."Geram Jubaidah.


Rudi terkekeh.


"Apa Ibu lupa jika aku ini ayah kandung Putri, aku yang lebih berhak atas Putri. Apalagi anak ibu itu sekarang sudah gila kan, mana mungkin ia bisa merawat Putri."


"Kurang ajar!"


Jubaidah melayangkan tamparan di wajah Rudi namun hal itu cepat di tangkis oleh kedua pengawal di kanan dan kirinya.


Jubaidah memberontak dan histeris, ia benar-benar marah, kesal dengan menantunya ini.


Bersambung...


❄️❄️❄️


Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini 🙏


Minta dukungannya ya 🤗

__ADS_1


Tolong koreksi jika ada kesalahan dalam tulisan


Lope Banyak-banyak untuk semuanya ❤️❤️❤️


__ADS_2