Istriku Boros! Menantu Yang Tidak Di Inginkan

Istriku Boros! Menantu Yang Tidak Di Inginkan
Mungkin Saja, Rahman Mencari Kesenangan di Luar!


__ADS_3

Selamat! Membaca 🤗


Karena terlalu lama menunggu Mas Rahman, dan hari pun sudah semakin sore membuat Satria rewel dan menangis, mungkin saja ia lelah dan merasa haus.


Aku pun terpaksa melangkahkan kaki menuju Rumah Mbak Dewi meminta minum untuk Satria.


Mbak Dewi yang terkenal ramah dan baik tentu saja menyambut ku dengan suka hati, dia segera mengambilkan segelas air untuk kuberikan pada Satria dan ia juga memberikan tempat untuk Satria merebahkan diri.


Satria yang merasa lelah, karena sudah beberapa jam aku gendong, menjadi sedikit tentang dari rewelnya.


Mbak Dewi bertanya tentang kesehatan Satria, dan akupun menceritakan apa adanya.


Di saat aku tengah bercerita tentang kesehatan Satria dengan Mbak Dewi. Tiba-tiba Bu Nunung datang.


"Via kau di sini, Ibu kira kau ke Rumah Sakit,"kata Bu Nunung yang sontak membuatku terkejut karena mendengar kata Rumah Sakit.


"Rumah Sakit!"


"Iya Via, apa jangan-jangan kau belum tahu jika Ibu Mertuamu dan Kakak Iparmu tengah berada di Rumah Sakit?"


Aku menggeleng, seketika hatiku dilanda kekhawatiran, aku takut alasan mereka ke Rumah Sakit karena terjadi sesuatu pada Mas Rahman.


"Apa Bu Nunung tahu kenapa Ibu dan Mbak Rohmah ke Rumah Sakit?"


"Mereka tengah menemani Rudi."


Mas Rudi!


entah kenapa aku tiba-tiba menjadi jahat karena merasa lega mendengar nama Mas Rudi yang menjadi alasan Ibu dan Mbak Rohmah ke Rumah Sakit.


Tapi kenapa mas Rudi bisa berada di Rumah Sakit?


"Ibu dengar, Rudi dirampok dalam perjalanan pulang ketika ia mengambil uang dari Bank. bukan cuma uangnya saja yang Raib tapi motor yang ia kendaraan pun dibawa serta oleh kawanan perampok itu, sekarang Rudi mengalami luka parah akibat peristiwa itu dan membuat dia dirawat di Rumah Sakit,"kata bu Nunung menjelaskan.


"Astaghfirullahaladzim!" Aku sungguh terkejut dan tidak menyangka jika Mas Rudi mengalami musibah mengerikan itu.


Apa mungkin Mas Rahman ada di sana, itu sebabnya ia tak pulang-pulang.


Setelah mendengar berita duka dari Bu Nunung, aku segera pergi ke Rumah Ibu Jubaidah, karena menurut Bu Nunung, di Rumah Ibu masih Rania dan Putri.


Mereka tidak di ajak ke Rumah Sakit.


❄️❄️❄️


"Mbak Via!"


Rania terlihat girang ketika melihat kehadiranku, begitu juga dengan Putri yang langsung memeluk.


Rania langsung menceritakan musibah yang menimpa Mas Rudi.

__ADS_1


Putri yang ingin sekali bertemu dengan Papahnya, memaksaku untuk mengantar ke Rumah Sakit, begitupun dengan Rania, karena ia tidak berani jika harus pergi ke Rumah Sakit berdua saja dengan Putri.


Karena aku pun mengkhawatirkan keadaan Mas Rudi dan ingin bertemu Mas Rahman aku memutuskan untuk mengantar Putri ke Rumah sakit.


Sebelum aku pergi ke Rumah Sakit.


Aku terlebih dahulu kembali ke Rumah Mbak Dewi untuk menitipkan Satria, karena tidak mungkin jika aku harus membawa Satria ke Rumah Sakit dengan kondisi dia yang sering sakit-sakitan.


Aku memilih menitipkan Satria ke Mbak Dewi karena Satria sangat tenang dan anteng jika bersama dengan Mbak Dewi.


❄️❄️❄️❄️


Sampai di Rumah Sakit.


Aku segera membawa Rania dan Putri menuju ke ruang rawat Mas Rudi yang sudah aku dapatkan dari Suster yang berjaga di bagian pendaftaran.


"Papah!"


Teriak Putri ketika melihat Papahnya terbaring dengan perban yang membalut lengan dan sebagian kepalanya.


Aku sedikit terkejut ketika melihat perban itu, apakah Mas Rudi separah itu hingga perban hampir memenuhi kepala dan lengannya?


"Putri, kenapa kau ke sini,"bentak Mbak Rohmah dan ia langsung melirik ke arahku,"apakah kau yang mengajaknya ke sini?"


Ia pun bertanya dengan nada membentak padaku.


"Kau ini bagaimana sih Via, ini kan Rumah Sakit! bisa-bisanya kau mengajak Putri ke sini. Apa kau sengaja ingin membuat Putri sakit dengan terpapar beberapa penyakit yang ada di Rumah Sakit ini! kau tahu kan kalau Rumah sakit ini tempat yang tidak sehat dan tidak bagus untuk Anak-anak,"maki Mbak Rohmah.


"Mbak Rohmah ini bagaimana sih, kenapa malah menyalahkan Mbak Via. Mbak Via hanya mengantarkan Putri ke sini karena Putri yang rewel dan menangis ingin bertemu dengan Mas Rudi,"kata Rania memberi penjelasan.


"Sudah! Kau diam saja Rania, kau selalu saja membela kakak Iparmu yang tidak berguna ini,"bentak Mbak Rohmah pada Rania.


"Percuma saja aku di sini, padahal niatku dan Mbak Via baik, ingin menjenguk Mas Rudi dan mengantarkan Putri yang menangis. Tapi aku malah dimarah-marahin di sini,"keluh Rania pada kakaknya.


"Rania diam!"


Dan kali ini Ibu Jubaidah yang membentak Rania untuk diam, tapi aku melihat raut wajah lesu dan pucat dari Ibu mertuaku itu. Mungkin saja ia tengah sedih karena menantu kesayangannya sakit, atau ia sedih karena uang menantunya di rampok.


Di tengah perdebatan mereka, aku melirik ke seluruh ruangan untuk mencari keberadaan Mas Rahman, tapi aku tidak menemukan Mas Rahman di Ruang rawat Mas Rudi. Apa Mas Rahman tengah keluar.


Daripada aku penasaran aku pun bertanya pada Mbak Rohmah dan Ibu.


"Bu, Mbak Rohmah. Apa Mas Rahman ada di sini?"


Mbak Rohmah dan Ibu menatapku.


"Tidak, memangnya ke mana Rahman! Dia bekerja kan?"tanya Ibu, rupanya Ibu tidak tahu jika hari ini Mas Rahman bolos bekerja.


"Mas Rahman, hari ini tidak bekerja Bu, tapi aku tidak tahu dia pergi ke mana karena sejak tadi pagi sampai siang hari aku mengantar Satria ke Dokter untuk Kontrol."

__ADS_1


"Kau ini memang istri tidak berguna, masa Suami pergi ke mana tidak tahu. Kau selalu sibuk mengurusi urusanmu sendiri dan Anakmu itu sampai kau tidak tahu ke mana perginya Suamimu." Kata Ibu, dengan nada sinis dan menjatuhkan ku.


"Jangan-jangan Rahman pergi mencari kesenangannya sendiri, karena di Rumah ia tidak dapat kesenangan dari Istrinya,"sahut Mbak Rohmah. Dengan tatapan meledek padaku.


Aku hanya bisa menggelengkan kepala dengan kelakuan Mbak Rohmah dan Ibu yang seperti ini, sempat-sempatnya mereka mencela, meledek. Dan menjatuhkan ku ketika mereka sedang tertimpa musibah seperti ini.


Aku yang tidak menghiraukan ucapan mereka lantas beralih pada Mas Rudi untuk menanyakan keadaannya.


Namun, lagi-lagi Mbk Rohmah yang menjawab dengan nada marah.


"Apa kau tidak lihat, jika Mas Rudi diperban seperti ini! bisa-bisanya kau masih mempertanyakan keadaan Mas Rudi, baik-baik atau tidak."


Lagi-lagi Aku hanya bisa menghela nafas sambil mengelus dada.


Kenapa sangat sulit sekali berbicara dan menyapa orang-orang seperti mereka, dengan cara seperti apa aku harus berbicara dengan Mbak Rahmah dan Ibu Jubaidah.


"Mbak Rohmah ini kenapa sih, Mbak Via jauh-jauh datang ke sini berniat menjenguk Mas Rudi, tapi kenapa Mbak Rohmah berkata seperti itu? wajarkah jika Mbak Via menanyakan keadaan Mas Rudi baik atau tidak,"lagi-lagi Rania menjawab pertanyaan kakaknya dan ia selalu membelaku.


Ya.


Hanya Rania lah, satu-satunya di Keluarga itu yang membelaku di saat Mbak Rohmah dan Ibu Jubaidah mencaci dan merendahkan ku.


Mbak Rohmah sudah melebarkan bola mata dan mengeraskan rahang di wajahnya sambil menatap ke arah Rania.


Ia seperti ini menelan hidup-hidup adik Bungsunya itu.


Namun ketika Mbak Rohmah ingin mendekati Rania. Mas Rudi segera menghentikannya.


"Sudah! Kenapa kalian malah ribut di sini, apa kalian tidak lihat jika aku sedang sakit seperti ini."Kata Mas Rudi dengan lantang.


Namun aku merasa heran ketika mendengar suara Mas Rudi yang keras dan lantang seperti itu.


Apakah bisa, orang yang sedang menahan rasa sakit dan luka parah di kepala dan lengannya berbicara dengan nada tinggi seperti itu.


Dari nada suaranya, seperti menunjukkan bahwa ia baik-baik saja.


Mbak Rohmah yang kesel karena dibentak oleh Mas Rudi malah beralih padaku, dia tidak langsung memakiku seperti biasa melainkan menarik lenganku dan membawaku keluar dari kemar Rawat Mas Rudi.


Bersambung......


❄️❄️❄️❄️❄️


Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini 🙏


Minta dukungannya ya 🙏


Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini 🙏


Lope banyak-banyak untuk semuanya.

__ADS_1


__ADS_2