
Selamat! Membaca 🤗
"Jangan-jangan itu Mas Rudi, Bu?"ucap Rohmah dengan penuh harap.
"Kau benar, ayo kita lihat!"
Dua wanita itu bergegas membuka pintu.
"Selamat! Pagi, Bu?"
Sapa seorang Pria yang menjadi tamu pagi Rohmah dan Jubaidah.
Ternyata harapan Rohmah harus pupus, karena yang mengetuk pintu bukanlah Rudi.
Melainkan Pria asing, yang baru pertama kali ia lihat.
"Siapa kau?"tanya Jubaidah, penuh dengan selidik, dan curiga.
Karena Pria yang datang di Rumahnya itu berpenampilan seperti Preman. Dengan tato yang memenuhi kedua lengannya.
"Perkenalkan, nama saya Bambang. Saya teman dari Rudi Supriadi. Apa benar ini kediaman Rudi Supriadi?"
"Mas Rudi!"mendengar nama Rudi di sebut, membuat Rohmah jadi berantusias,"Iya benar, kau siapa? Kenapa bisa mengenal Mas, Rudi?"tanya Rohmah dengan tergesa-gesa.
"Saya, teman dari Rudi. Saya datang ingin menyampaikan kabar tentang Rudi, apa Ibu Istri dari Rudi?"
Rohmah langsung mengangguk.
"Iya benar, saya Istrinya, ada apa dengan Mas Rudi?"tanya Rohmah yang mulai di landa kekhawatiran.
"Rudi mengalami musibah Bu, dia di rampok ketika dalam perjalanan pulang, setelah dari Bank."
"Apa! Di rampok!"ucap Jubaidah yang terkejut, sampai membuat bola matanya hampir lepas.
Sementara Rohmah, ia langsung terkulai lemas dan menjatuhkan dirinya di lantai ketika mendengar kabar buruk yang dibawa oleh Pria yang bernama Bambang.
Jubaidah semakin panik dan cemas, yang membuat wanita itu panik dan cemas bukan tentang kondisi menantunya yang dirampok, tapi sesungguhnya. Ia lebih mengkhawatirkan uang ratusan juta yang diambil dari Bank oleh Rudi.
Jubaidah pun sudah berpikir buruk akan hal itu, bayang-bayang uang ratusan juta yang sejak kemarin berputar-putar di otaknya seketika Raib, ketika mendengar kabar bahwa Rudi dirampok.
"Bagaimana ini Rohmah!"tanyanya pada Rohmah, sambil mengacak-ngacak rambut karena frustasi.
Si Pria, membantu Rohmah yang terkulai di lantai.
"Yang, sabar ya Bu."
"Bagaimana dengan kondisi Mas Rudi? Dia baik-baik saja kan?"
"Rudi selamat Bu, dan sekarang dia ada di Rumah Sakit."
Tanpa membuang-buang waktu. Rohmah dan Jubaidah segera pergi ke Rumah Sakit di antar oleh Pria yang bernama Bambang itu.
Ternyata.
Rudi yang tak kunjung pulang mengalami Musibah.
Ia di Rampok di saat perjalanan pulang setelah dari Bank.
Tapi, apakah semua itu benar?
❄️❄️❄️❄️❄️❄️
Di tempat lain.
Rahman yang tengah kesal karena motornya tiba-tiba mogok. Di saat ia tengah membuntuti Via. Menggerutu di pinggir jalan sambil mendorong motornya menuju ke Bengkel terdekat, meskipun ia tidak tahu Bengkel terdekat itu ada di mana.
__ADS_1
Tit....
Tit....
Tit....
Tiba-tiba Rahman di kejutkan dengan suara klakson mobil di belakangnya.
Hal itu tentu saja membuat Rahman yang tengah kesal jadi memaki si pengendara mobil.
Tapi makian Rahman terhenti ketika melihat siapa yang mengendarai mobil berwarna putih itu.
"Selvi!"ucapnya, tak percaya.
Selvi tersenyum imut.
"Iya, ini aku Selvi. Maaf ya Man, kalau aku membuatmu terkejut."
Rahman terpaku melihat penampilan Selvi, yang sangat berbeda dari terakhir kali ia bertemu, yaitu kemarin malam.
Selvi kembali mengukir senyum manis dan manja, ketika melihat Rahman yang terperangah melihat penampilannya.
Dress mini yang ia kenakan. Tidak cukup bahan untuk menutup bagian atas lututnya.
Dengan warna merah terang, semakin menyala ketika berada di bawah triknya matahari.
Itulah yang membuat Rahman terperangah.
Ehem..
Selvi ber dehem.
Dan dehemaman itu membuat Rahman tersadar dari bengong nya.
"Eeeh, maaf,"ucap Rahman dengan canggung, dan langsung mengalihkan pandangannya ke segala arah.
"Sepertinya kau sangat kaget sekali, maafkan aku Man."
"Tidak! Apa-apa, meskipun aku sedikit terkejut tapi itu tidak masalah, justru aku yang minta maaf,"sahut Rahman tanpa melihat Selvi, karena pandangan masih berkeliling. Ia tidak mau menodai kedua bola matanya, dengan menatap sesuatu yang tidak halal untuknya.
"Motor mu kenapa, Man?"Tanya Selvi.
"Entahlah, tiba-tiba mogok."
"Apa kau berniat membawanya ke Bengkel?"tanya Selvi kembali.
"Iya."
"Tapi, Bengkel sangat jauh dari sini."
Rahman menghela nafas berat.
"Ya, mau tidak mau aku harus tetep membawanya ke Bengkel."
"Memangnya kau mau kemana?"
Rahman terdiam sejenak, ia tidak langsung menjawab pertanyaan Selvi. Otaknya tengah berputar untuk mencari alasan apa yang akan ia katakan pada Selvi. Karena Rohmah tidak mau mengatakan yang sebenarnya, jika ia tengah membuntuti Via.
"Aku, ingin ke Swalayan, untuk membeli beberapa kebutuhan Rumah."
Dan alasan Swalayan yang tiba-tiba muncul di otak Rahman.
"Ke Swalayan? Aku juga ingin pergi ke sana, ini sangat kebetulan. Bagaimana kalau kita pergi bersama?"ajak Selvi dengan berantusias.
Rahman membodohi dirinya sendiri, karena menggunakan Swalayan untuk jadi alasan.
__ADS_1
"Tidak, terima kasih. Sepertinya aku tidak jadi ke Swalayan, karena motorku mogok."
"Siapa yang memintamu untuk menggunakan motor ini, kita ke Swalayan menggunakan mobilku, bagaimana?"
Rahman masih belum mengiyakan ajakan Selvi, karena ia ragu jika harus pergi berdua saja dengan wanita itu di satu mobil yang sama pula.
"Kau kenapa, Man? Aaah.. Aku mengerti, kau takut kan jika Via salah paham. Kau tenang saja, Via tidak akan tau apa lagi salah paham,"ucap Selvi meyakinkan Rahman.
Dengan bujukan, dan keadaan yang kepepet. Daripada ia harus mendorong motornya sampai Bengkel yang tidak pasti letaknya di mana, Rahman pun mengiyakan ajakan Selvi.
"Tapi, bagaimana dengan motor ku?"
"Kau jangan khawatir, aku akan menghubungi Bengkel langganan ku, agar mengirim Montir untuk mengangkut motor mu."
Rahman mengangguk.
"Baiklah, aku akan titipkan dulu motor ini ke warung itu,"kata Rahman sambil menunjuk warung kopi yang berada di pinggir jalan.
Setelah memastikan motornya aman dititipkan di warung kopi, Rahman pun pergi bersama Selvi.
Karena dia menggunakan alasan Swalayan. Selvi pun melajukan mobilnya menuju ke tempat itu.
Sepertinya Rahman sudah melupakan niatnya yang ingin membuntuti Via.
❄️❄️❄️
Rahman masih tidak merasa nyaman ditambah lagi ia duduk berdekatan dengan Selvi.
"Tante Jubaidah bilang, kau bisa mengendarai mobil kan?"tanya Selvi yang mencairkan suasana, karena ia melihat Rahman sangat tegang, Selvi semakin dibuat gemas karena Rahman dari tadi mengarahkan pandangannya di kaca jendela mobil.
Lelaki itu tidak mau menatapnya bahkan di saat dia berbicara sekalipun Rahman masih membuang wajahnya.
"Iya,"sahut Rahman dengan cepat tanpa menoleh.
"Kalau begitu, arah pulang nanti kau yang membawa mobilnya ya."
"Aku pulang sendiri saja nanti."
"Tidak bisa seperti itu dong, kita kan berangkat bersama, jadi pulang juga harus bersama aku akan mengantarmu sampai Rumah."
"Tidak perlu Sel, aku pulang sendiri saja."
"Baiklah, kita ambil jalan tengah. Aku akan mengantarmu ke Bengkel langganan ku saja, karena motormu ada di sana."
Rahman pun mengangguk menyetujui usul dari Selvi.
Gadis itu nampak terlihat bahagia karena dia bisa pergi berdua dengan Rahman apalagi duduk bersebelahan di dalam mobil seperti itu.
Bukan hanya itu, Selvi bahkan sudah membayangkan jika ia berbelanja berdua dengan Rahman di Swalayan. Dia sudah menggambarkan di Swalayan nanti mereka akan seperti pasangan suami-istri yang tengah berbelanja kebutuhan bulanan.
Sebenarnya, tujuan Selvi bukanlah ke Swalayan,
itu tadi hanyalah alasan agar ia bisa pergi bersama Rahman.
Dan sangat beruntung, karena lelaki itu tidak menolak meskipun Selvi harus membujuknya dengan berbagai cara dan kata.
Bersambung....
❄️❄️❄️❄️❄️
Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini 🙏
Minta dukungannya ya 🤗
Tolong koreksi jika ada kesalahan dalam tulisan ini 🙏
__ADS_1
Lope banyak-banyak untuk semuanya ❤️❤️❤️