Istriku Boros! Menantu Yang Tidak Di Inginkan

Istriku Boros! Menantu Yang Tidak Di Inginkan
Kembali Bersama.


__ADS_3

Selamat! Membaca 🤗


Rahman tersenyum puas ketika mendapat informasi apa yang ia butuhkan.


Dengan cepat lelaki itu memesan racun yang sudah ia cari tahu sebelumnya di internet.


"Mas pulang dulu ya, kau baik-baik di sini,"kata Rahman pada Rania.


"Iya Mas, tapi Mas Rahman benar-benar akan membawa Putri kembali kan?"


Rahman tidak menjawab, ia hanya diam tanpa berkata apapun dan segera pergi dari Kontrakan itu.


Sementara di tempat lain.


Rudi yang membawa paksa Putri sudah sampai di sebuah rumah besar nan mewah, itu adalah rumah Istrinya. Ya, Rudi menikah kembali dengan seorang janda kaya-raya, wanita itu tidak memiliki anak, dan ia meminta Rudi untuk membawa anaknya ketika wanita itu tau jika Rudi sudah mempunyai anak.


"Aku tidak mau tinggal di sini pa, aku mau pulang saja. Aku mau sama Mama."Rengek Putri.


"Anak manis, kau jangan takut ya, Tante baik ko. Tidak akan menyakitimu dan memarahi mu."Kata Istri baru Rudi, yang bernama Miranda.


"Kau dengar itu! Tante Miranda tidak akan berbuat jahat padamu."


Setelah membujuk Putri dan anak itu patuh, Rudi pergi untuk beberapa hari kedepan, karena ia harus mengurus beberapa usaha milik Miranda yang berbeda di luar kota.


❄️❄️❄️


Dan Rahman, ia mengajak Via kembali tinggal di rumah mereka, yang belum terjual.


"Apa kau yakin akan kembali pada dia?"tanya Alvian pada Adiknya.


"Vian, kenapa bicara seperti itu, tentu saja Via akan bersama Rahman."Sahut Aminah.


"Tapi lelaki ini sudah menyakiti Via Bu."


"Vian, apa yang di lakukan Rahman di luar kuasanya, kita tidak boleh menghakimi kesalahan seseorang. Apa salahnya jika kita memberikan kesempatan kedua untuk Rahman. Ibu tau Rahman lelaki baik dan bertanggung jawab, pasti dia akan membuat adikmu bahagia."


"Aku tidak percaya itu Bu, selama Jubaidah masih hidup."


"Hus! Kau bicara apa!"


"Maafkan aku Mas, aku tau aku salah, dan aku sangat menyesali itu. Tapi kali ini aku berjanji untuk membahagiakan Via, dan tidak akan pernah menyakitinya lagi, soal Ibu Jubaidah. Biar itu yang menjadi urusanku,"kata Rahman.


"Kenapa kau tidak melaporkan wanita itu pada Polisi saja, atas tuduhan pembunuhan."Usul Alvian.


"Tidak biasa Mas, tidak ada bukti yang kuat, jika hanya menggunakan kesaksianku tentu saja polisi tidak akan mempercayainya, karena kejadian itu sudah sangat lama."


"Kalau begitu, Via akan tetap tinggal di sini, aku tidak mengijinkan Via pergi dari sini,selama wanita jahat itu masih berkeliaran."


"Vian, kau tidak boleh seperti ini, Via dan Rahman berhak memutuskan apa yang ingin mereka lakukan,"Rohim membuka suaranya.


Sebenarnya Alvian percaya pada Rahman, ketika mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, ia juga tidak menyalahkan Rahman atas luka hati Via. Tapi Alvian masih sangat mengkhawatirkan Via karena Jubaidah pasti tidak akan tinggal diam, apa lagi akhir-akhir ini Rahman sudah tidak perduli dengan wanita itu, pasti Jubaidah akan semakin murka.


"Via, apa kau masih bersedia tinggal bersama dia?"tanya Alvian kembali, karena sejak tadi Via masih diam tidak mengeluarkan sepatah kata pun.


Via yang sempat merasa kecewa dan sakit hati dengan Rahman memang sudah bertekad ingin mengakhiri rumah tangganya, tapi ketika ia mengetahui kebenaran dan apa yang terjadi di masa lalu Rahman membuat wanita itu tidak tega jika harus meninggalkan Rahman yang saat ini hanya sebatang kara, Via juga mengingat pesan dari Kyai Yusuf jika mungkin saja Rahman dikuasai dendam dan dia tidak akan bisa mengendalikan diri, harus ada seseorang yang senantiasa mendampingi dan mengingatkan lelaki itu agar selalu berada di jalan yang benar dan tidak terhasut oleh bisikan setan untuk membalas dendam.

__ADS_1


Selain akan hal itu, Via juga memikirkan Satria yang masih sangat kecil. Dan wanita itupun menjawab.


"Aku akan tetap bersama Mas Rahman, kita akan memulainya dari awal, dan aku juga memutuskan untuk pulang ke Rumah."


Via mengambil keputusan jika ia akan tetap bersama Rahman, dengan harapan, di masa depan tidak akan ada lagi masalah seperti sekarang dan lelaki itu benar-benar menyayanginya dan Satria.


Mendengar perkataan Via, Rahman tersenyum haru.


"Terima kasih Via, terima kasih untuk semuanya. Aku berjanji akan memperbaiki semua kesalahanku."


"Iya Mas, aku juga minta Maaf, atas semua kesalahanku."


Aminah dan Rohim tersenyum senang, melihat rumah tangga Putri semata wayangnya yang sudah diambang perceraian kini kembali bersatu.


"Berserahlah diri kepada Allah Yang Maha Kuasa, dan senantiasalah berdoa padanya agar kita semua terlindungi dari marabahaya dan kejahatan orang-orang musyrik."


"Iya Yah!"


Sahut Rahman dan Via secara bersamaan.


❄️❄️❄️


Setelah memutuskan untuk kembali pulang ke rumah, pada hari itu juga Rahman memboyong vVa dan Satria ke rumah yang penuh dengan kenangan.


"Via, apa kau masih ingat ketika kita pertama kali memasuki rumah ini?"tanya Rahman pada Via yang sedang merapikan pakaian Satria di dalam lemari.


"Tentu saja aku ingat Mas, mana mungkin aku bisa melupakannya."


"Aku sangat beruntung memiliki istri sepertimu dan aku juga sangat beruntung memiliki ibu dan ayah mertua seperti Ibu Aminah dan ayah Rohim, tapi aku malu pada diriku sendiri karena selama ini aku belum memberikan kebahagiaan untukmu, dan aku lebih sering menyusahkan mereka."


"Mas, kau tidak perlu bicara seperti ini. Ayah dan ibu tidak merasa direpotkan olehmu, aku sudah cukup bahagia jika kau mengerti aku dan menyayangi Satria dengan sepenuh hati, aku ingin kau kembali seperti dulu Mas, di awal-awal kita menikah."


"Tentu saja! bahkan aku akan melakukan lebih dari awal-awal kita menikah."


Rahman memeluk Via dengan penuh kasih sayang. Dan mulai saat ini ia akan melakukan itu setiap jam.


"Sudah Mas! Aku mau masak dulu kau pasti lapar kan! aku juga ingin membuat susu untuk Satria."Kata Via yang mengurai pelukan Rahman.


"Biar aku saja yang melakukan itu, tapi tunggu sebentar. Aku masih kangen dan ingin lebih lama memelukmu."


Via mengusap punggung Rahman, membiarkan lelaki itu lebih lama beranda di dalam pelukannya.


❄️❄️❄️


Keesokan harinya.


"Kapan kita ke dokter untuk memeriksa Satria?"tanya Rahman yang saat ini tengah membuat nasi goreng.


"Sore Mas, Dokter yang biasa merawat Satria tengah ada urusan keluarga, jadi ia baru bisa memulai praktik sore hari."


"Kalau begitu, aku izin ke Pabrik dulu ya. Karena aku ingin menemui Pak Hendra, dulu beliau menawarkan aku untuk kembali bekerja di Pabrik, semoga saja aku masih memiliki kesempatan itu."


"Pergilah Mas."


Setelah selesai Membuat sarapan, Rahman membantu Via untuk memandikan Satria dan membuat susu anaknya.

__ADS_1


"Ini sudah jam 08:00, Mas. Kau bisa kesiangan ke pabrik, biar aku saja yang mengurus Satria Kau pergilah."


"Baik, aku akan segera kembali, kau tetap di Rumah ya!"


"Iya Mas."


Via mengantar Rahman sampai depan pintu, setelah lelaki itu mencium kening Via dan Satria, ia melakukan motornya.


"Hati-hati Mas."


Via masih menatap motor Rahman yang semakin menjauh.


"Semoga akan selalu seperti ini."Gumamnya.


***


Sebelum Rahman menuju ke Pabrik ia membelokkan motornya ke kontrakan Jubaidah.


"Rahman, akhirnya kau datang juga. Ibu dengar kau dan Via kembali ke rumah itu, apa itu benar?"tanya Jubaidah ketika Rahman baru menginjakkan kaki di teras kontrakan.


"Benar Bu."


"Kalau begitu, apa tidak bisa kau mengajak serta Ibu, Rohmah dan Rania untuk tinggal di sana, Ibu sudah tidak betah jika harus berlama-lama tinggal di kontrakan sempit ini Man."


"Aku akan aku pikirkan Bu."


"Jangan cuma dipikirkan, tapi harus kau lakukan juga, Via itu kan istrimu dan sekarang Via sudah mau kembali lagi padamu, dia pasti akan menuruti apa yang kau katakan Rahman."Jubaidah kembali mencoba menghasut Rahman.


"Aku akan coba bicara dengan via Bu."Kata Rahman, dan ia hanya berkata saja tanpa ingin melakukannya, karena Rahman sudah tidak Sudi jika harus tinggal bersama Jubaidah apalagi menyatukan wanita itu dengan istri dan anaknya.


"Sekarang ibu masuklah, aku sudah membelikan sarapan untuk Ibu."Ajak Rahman.


Jubaidah kembali mengulas senyum, karena Rahman begitu memperhatikannya dengan membawakan sarapan.


"Apa Rania sudah pergi sekolah?"tanya Rahman memastikan jika gadis itu sudah tidak ada di rumah.


"Sudah!"


Rahman berjalan menuju dapur dan menyiapkan sarapan berupa nasi uduk ke dalam piring, tapi sebelum ia membawakan sarapan itu di hadapan Jubaidah Rahman merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan botol kecil yang ia beli lewat online shop beberapa hari yang lalu.


dengan senyum miring Rahman menaburkan isi yang ada di dalam botol itu ke dalam nasi uduk yang akan disantap Jubaidah.


"Makanlah Bu."Kata Rahman seraya meletakkan piring berisi nasi uduk + racun di hadapan Jubaidah.


Tampa rasa curiga, wanita itu dengan lahap menyantap sarapan yang diberikan Rahman sambil terus berceloteh menanyakan kabar tentang Putri yang tidak kunjung Rahman bawa pulang, karena sebenarnya Rahman tidak pernah mencari tahu di mana Rudi membawa anak itu.


Bersambung...


❄️❄️❄️❄️❄️


Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini 🙏


Minta dukungannya ya 🤗


Tolong koreksi jika ada kesalahan dalam tulisan ini 🙏

__ADS_1


Lope Banyak-banyak untuk semuanya ❤️❤️ ❤️


__ADS_2