Istriku Boros! Menantu Yang Tidak Di Inginkan

Istriku Boros! Menantu Yang Tidak Di Inginkan
Flash Back


__ADS_3

Selamat! membaca 🤗


Maaf ya, Otor baru bisa Updatagi 🙏


***


"Bibi! Rahman apa kau tau saya ini siapa?"


Aminah cukup senang karena sepertinya Rahman sudah kembali mengingatnya, tapi Aminah juga merasa khawatir takut jika Rahman melupakan kalau saat ini ia ibu mertuanya.


"Bibi Aminah! Dan sekarang, Ibu mertuaku!"Kata Rahman dengan suara parau.


"Alhamdulillah!"


Aminah mengucapkan syukur karena ternyata Rahman masih mengingatnya saat ini.


"Lalu Siapa ibumu?"tanya Rohim yang sudah tidak sabar dengan reaksi Rahman.


"Ibu Mira."Sahut Rahman, dengan suara yang terdengar sedih.


"Lalu siapa Jubaidah."


Ketika mendengar nama Jubaidah seketika Rahman diam, otaknya tengah bekerja keras mengingat nama itu dan semua tentang Jubaidah.


"Mas kau baik-baik saja!"tanya Via khawatir karena melihat reaksi Rahman yang tidak biasa.


"Jubaidah!"lirihnya.


"Iya, Ibu Jubaidah! Mas mengingatnya kan?"tanya Via.


Rahman menatap Via, lalu mengangguk.


Dengan mata memerah dan tangan mengepal, Rahman kembali menyebut nama wanita itu.


"Jubaidah!"


"Tenang Mas! Ada apa?"


Melihat Rahman yang sepertinya dikuasai oleh emosi dan kemarahan, Kyai Yusuf dan Rohim segera menenangkan lelaki itu, kemudian mereka meminta Rahman untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.


Flash Back.


15 tahun silam.


"Mira, perkenalan, ini Jubaidah. Dia yang bekerja di kebun Teh kita,"kata Husain Memperkenalkan Jubaidah pada istrinya.


Mira yang terkenal dengan kebaikannya, tentu menyambut perkenalan itu dengan hangat.


"Saya Mira, dan ini putra saya dan Mas Husain, Rahman."

__ADS_1


"Saya Jubaidah, terima kasih sudah menerima saya bekerja di perkebunan Anda."


❄️❄️


Sejak saat itu, Jubaidah yang baru beberapa Minggu bekerja di perkebunan Husain terlihat sangat akrab dengan Mira, dan Mira yang mengetahui jika Jubaidah seorang janda dengan dua anak merasa iba dengan kehidupan Jubaidah, di upahnya yang tidak terlalu besar, Jubaidah harus menghidupi kedua anaknya dan membayar sewa rumah untuk tinggal, Jubaidah juga sering mendapatkan perlakuan buruk dari orang sekitarnya.


Meskipun Mira belum mengetahui asal-usul Jubaidah, ia tidak segan untuk mengajak wanita itu tinggal di sebuah rumah yang posisinya berada di sebelah rumah yang ia tinggali bersama keluarganya.


Dan dengan senang hati, Jubaidah bersedia menempati rumah kedua keluarga Husain.


Saat itu Jubaidah membawa kedua putrinya, Rohmah yang berusia 2 tahun lebih tua dari Rahman dan Rania yang saat itu usianya kurang dari satu tahun.


Mira yang sangat mendambakan seorang anak perempuan, senang ketika melihat Rania. Di saat Jubaidah pergi ke kebun untuk memetik Teh, dan Rohmah pergi sekolah, Mira menawarkan diri untuk menjaga Raina karena ia sangat menyukai bayi itu.


Mira selalu mengatakan pada Rahman jika Rania adiknya.


Hingga beberapa bulan kemudian, peristiwa yang sama sekali tidak di duga dan di harapkan terjadi.


Suasana Rumah Mira sepi karena saat itu Husain pergi ke kota untuk membawa hasil kebunnya, Biasanya ia meminta pengawasan kebun untuk membawanya, namun karena di kebun sedang terjadi beberapa masalah, membuat Husain harus turun tangan. Sebelum pergi ia meminta Jubaidah untuk menemani Mira yang dalam kondisi sakit. Ya, sudah 2 bulan lamanya Mira hanya berbaring di ranjang dengan sakit yang di deritanya.


Namun tidak di sangka, ternyata selama ini Jubaidah mempunyai niat jahat! Ia iri dengan kehidupan Mira yang terlihat sangat sempurna, Suami baik dan kehidupan mapan, Berbeda dengan dirinya.


Sudah lama Jubaidah merencanakan, untuk mengambil alih posisi Mira. Ia diam-diam memberikan racun pada Mira yang membuat wanita itu, terlihat kurus, pucat karena sakit-sakitan, dangan niat. Agar Husain Merasa tidak tertarik lagi dengan istri dan mencari pengganti.


Namun, Husain Tetep setia dan merawat istrinya dalam kondisi apapun, bahkan ia lebih banyak meluangkan waktu untuk merawat dan menemani Mira yang kian hari kondisinya semakin melemah.


"Dasar wanita sial. Susah sekali kau Mati, padahal aku sudah menambahkan dosis racun yang setiap hari kau konsumsi dari bubur yang setiap pagi aku berikan,"ujar Jubaidah, yang sudah merasa sangat kesal dan muak.


Mira yang mendengar pengakuan Jubaidah tentu saja terkejut setengah mati. Ia sungguh tidak menyangka, dan masih menduga jika Jubaidah tengah bergurau.


"Kenapa kau terbengong seperti itu! Apa kau tidak percaya!"bentak Jubaidah.


"Aaa.. Apa yang kau katakan?"tanya, Mira dengan suara yang bergetar.


"Apa kau tuli! Aku setiap pagi memberikanmu bubur yang sudah aku campur dengan racun yang perlahan membuatmu sakit, jelek, tidak menarik di mata Mas Husain, dan mati, dan racun itu sulit untuk terdeteksi, jadi semua orang akan mengira jika kau mati karena penyakit."


"Astaghfirullah! Jubaidah! Apa kau sadar dengan apa yang kau lakukan?"


"Tentu saja, dan sekarang aku sudah bosan menunggu kematianmu yang ternyata sangat sulit."


Astaghfirullah! Jubaidah!"


"Dan sekarang aku sudah bosan menunggu kematianmu yang ternyata sangat lama. Di luar dugaanku."


"Jubaidah! Kenapa! Kenapa kau lakukan semua ini, apa salahku padamu?"Mira bicara masih dengan suara bergetar dan lemah.


"Salahmu adalah! Kau memiliki segalanya."


"Istighfar Jubaidah!"

__ADS_1


"Diam! Aku tidak butuh nasehatmu, aku hanya butuh kau mati saat ini juga, karena aku sudah muak harus berpura-pura baik di depanmu."


Jubaidah meraih bantal dan membenamkannya di wajah Mira.


"Mati kau wanita sialan! Pergilah ke neraka."Umpat Jubaidah, terus menekan bantal dengan kuat.


Sebisa mungkin Mira memberontak, tapi karena keadaannya yang sangat lemah, tentu tidak bisa mengimbangi apalagi melawan tenaga Jubaidah yang sehat walafiat.


Tanpa Jubaidah ketahui.


Rahman, yang seharusnya pulang di siang hari. Tiba-tiba kembali dari sekolahnya.


Rahman yang tidak melihat siapapun di ruang depan, karena ia tahu jika Husain subuh tadi pergi ke Kota. Segera berlari menuju kamar Mira, untuk melihat keadaan ibunya.


Dan sepertinya Jubaidah lupa untuk mengunci pintu depan.


CKLEK...


"Ibu!"


Seru Rahman, seraya membuka pintu kamar Mira.


Rahman terkejut! Melihat apa yang terjadi di dalam kamar ibunya.


Jubaidah yang tengah membekap Mira, seketika panik melihat kehadiran Rahman.


"Apa yang Bibi lakukan!"teriak Rahman.


"Ti.. Tidak! Bibi tidak melakukan apa-apa."Gugup Jubaidah, dengan membuang bantal.


Rahman yang saat itu sudah berusia 15 tahun, tentu sudah mengerti apa yang terjadi. Ia tahu jika wanita yang ia sebut Bibi ingin mencelakai ibunya.


Rahman berlari seraya mendorong Jubaidah sampai wanita itu terhempas membentur lemari, kemudian Rahman beralih pada Mira.


"Ibu tidak apa-apa!"tanya Rahman dengan panik karena melihat Mira dengan nafas yang tersenggal.


"Ra.. Rahman! cepat pergi Nak!"lirih Mira. Di tengah nafasnya yang terasa sesak.


Jubaidah yang ketakutan kalap, ia tidak mau jika kejahatannya terbongkar. Pikirkan kalut dan harus melakukan sesuatu.


Bersambung...


❄️❄️❄️❄️


Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini 🙏


Minta dukungannya ya🤗


Tolong koreksi jika ada kesalahan dalam tulisan ini 🙏 Lope Banyak-banyak untuk semuanya ❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2