
Selamat! Membaca 🤗
❄️❄️❄️❄️
Rahman membentak, dan Jubaidah semakin membeku. Rasa takut sudah menjalar di seluruh tubuh wanita itu, dia sudah membayangkan hal-hal buruk akan terjadi pada dirinya karena Jubaidah sangat yakin bahwa saat ini Rahman benar-benar sudah mengetahui keburukannya dahulu.
Melihat Jubaidah yang mematung, Rahman kembali menegakkan tubuhnya di hadapan wanita itu, lalu dia menyunggingkan senyum yang semakin membuat Jubaidah merinding.
Rahman membuka tutup botol kecil yang ada di tangannya. Lalu dia berbalik kepada Rohmah.
"Rahman, apa yang ingin kau lakukan. Tolong jangan berikan itu pada Kakakmu Man."Jubaidah memohon.
Rahman, tidak mengindahkan permohonan dari ibu tirinya itu.
"Minum ini."Rahman menyerahkan botol tersebut kepada Rohmah.
Rohmah yang memang sedang dalam kondisi tidak waras, tentu saja tidak mengerti apa yang di bicarakan Rahman dan ibunya beberapa detik lalu. Dengan polos, Rohmah meraih botol yang ada di tangan Rahman.
Rahman tersenyum.
"Ayo, minumlah."
"Jangan! Rohmah!"teriak Jubaidah, dan Rohmah pun menggantungkan tangannya.
"Jangan minum, jangan di minum buang itu Nak!"Jubaidah kembali berteriak.
Rohmah melirik Rahman.
Dan Rahman pun berkata.
__ADS_1
"Minumlah, kau pasti haus kan? sudah tidak ada air lagi di sini, dan obat itu akan menghilangkan haus di tenggorokanmu."
Namun, sepertinya Rohmah lebih mendengarkan omongan Jubaidah. Sehingga wanita itu melemparkan botol racun yang baru saja ia dapat dari Rahman.
Melihat aksi Rohmah, Rahman menjadi murka! wajahnya sudah seperti gunung merapi yang akan memuntahkan lava panas.
Rahman menarik paksa Rohmah, dan mengikatnya kuat-kuat di kursi.
Dan Jubaidah terus berteriak. Ya, dia hanya bisa berteriak tanpa bisa melakukan apapun karena saat itu tubuhnya benar-benar tidak tidak bisa di gerakkan.
Setelah mengikat Rohmah, Rahman kembali mengeluarkan racun dari saku jaketnya.
"Memangnya kau pikir aku bodoh, dengan tidak membawa banyak racun di sini. Aku sudah menyiapkan banyak stok untuk kalian berdua."Kata Rahman, seraya menunjuk botol yang sama kepada Jubaidah. Dan kali ini Rahman ingin memberikan racun itu secara paksa pada Rohmah, seperti apa yang Jubaidah lakukan dulu padanya.
Jubaidah tidak tinggal diam, dengan susah payah ia merangkak mendekati Rahman, dan bersimpuh di kakinya.
Sambil memeluk kedua kaki Rahman, dan berlinang air mata. Jubaidah memohon.
Rahman berjongkok, dan menatap tajam wajah kacau Jubaidah. Dan ia berkata.
"Dulu, ada seseorang Ibu yang memohon seperti ini padamu. Dan apakah kau mendengar permohonan itu?"
Jubaidah tidak bisa menjawab. Ia hanya bisa menangis dan menangis.
"AKU TANYA, APA KAU MENDENGAR PERMOHONAN IBU KU, DI SAAT KAU MEMASUKKAN SATU BOTOL RACUN DI TUBUHKU?"suara Rahman begitu menggelegar. Bahkan, gendang telinga Jubaidah hampir pecah mendengar teriakkan itu, namun ada jauh yang lebih membuat Jubaidah hancur. Yaitu hatinya.
"Rahman!"panggil Jubaidah dengan suara bergetar, ia sungguh tidak sanggup untuk mengatakan apapun pada lelaki itu, selain hanya memanggil. Rahman dan Rahman.
"Kenapa? kenapa saat itu kau begitu kejam? kau mengabaikan ibuku yang bersujud di kakimu, agar kau tidak membunuh ku. Dan kau malah membunuh ibuku dengan begitu kejam! Kenapa Jubaidah?"Rahman, kembali berteriak. Sepertinya ia ingin meluapkan semua kemarahan, kekecewaan dan kebenciannya pada Jubaidah.
__ADS_1
Rahman kembali berdiri, nafasnya sudah naik turun dengan mata yang menyala seperti bara api.
"Rahman, maafkan ibu."Akhirnya Jubaidah meminta maaf.
Tapi dengan kuat, Rahman menghempaskan kakinya, dan membuat Jubaidah yang masih terus memeluk kakinya terpental.
Jubaidah menangis sesenggukan.
Namun Rahman tidak perduli.
"Jangan pernah menyebut dirimu sebagai ibu."Kata Rahman, sambil menunjuk Jubaidah.
"Maaf Rahman, tolong Maafkan ibumu ini."Sepertinya Jubaidah tidak mengindahkan larangan Rahman.
"Maaf? kau sudah menghancurkan keluarga bahagiaku, membunuh ibuku, meracuniku. Dan membuatku sampai seperti boneka yang bisa kau atur sesuka hati, membuatku melupakan siap ibu kandungku. Apa masih ada alasan untuk aku tidak membencimu, lalu memaafkan mu?"
Setelah mengeluarkan kemarahan yang selama ini ia pendam.
Rahman bersimpuh di hadapan Jubaidah. Namun kali ini ia memasang wajah sedih dan penuh luka.
"Aku selama ini sangat menyayangimu lebih dari apapun, mengorbankan segalanya untukmu. Bahkan aku sampai mengorbankan istri dan anakku, demi kau yang aku anggap sebagai ibu yang paling menyayangi ku. Bahkan jika kau meminta nyawaku, dengan senang hati aku akan memberikannya."
Bersambung..
❄️❄️❄️❄️
Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini 🙏
Minta dukungannya ya 🤗
__ADS_1
Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini 🙏
Lope banyak-banyak untuk semuanya ❤️❤️❤️