
Selamat! Membaca 🤗🤗
Rahman terus saja meminta pada Rohim untuk mempertemukannya dengan Via dan Satria, ia bersungguh-sungguh meminta maaf dan menyesali semuanya.
Namun, lagi-lagi Rahman harus kecewa karena Rohim mengatakan.
"Saya baru akan mengizinkanmu untuk bertemu dengan Via, jika Via yang ingin bertemu denganmu."
Dan pada akhirnya Rahman pun harus kembali pulang dengan kecewa tanpa mendapatkan kabar keberadaan Via dari Rohim.
❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️
"Akhirnya kamu pulang juga Man, Kenapa kau bisa terlambat pulang seperti ini? Apakah kau lembur?"tanya Rohmah pada adiknya yang baru saja menginjakkan kaki di pintu masuk.
"Kenapa lampunya mati Mbak?"tanya Rahman yang melihat rumahnya hanya menggunakan penerangan dari satu lilin.
"Token listriknya habis Man."
Rahman menghembuskan nafasnya dengan kasar, ia yang terlihat lesu, tidak merespon Rohmah lagi, karena Rahman langsung nyelonong masuk dan mendudukkan diri di sofa sambil memijat pelipisnya, terlihat gurat lelah dan sedih serta putus asa di wajah lelaki itu.
"Kau kenapa Man?"Rohmah kembali bertanya dan kali ini ia duduk berhadapan dengan Rahman.
"Aku dipecat!"sahut Rahman tanpa melihat Rohmah, karena ia memejamkan matanya sambil bersandar di sofa.
"Dipecat! Kau tidak sedang bercanda kan Man?"
"Memangnya Mbak Rohmah melihat aku seperti sedang bercanda!"kesal Rahman dan ia langsung mengangkat tubuhnya dan beranjak meninggalkan Rohmah tanpa mengatakan apapun lagi.
"Rahman tunggu, aku belum selesai bicara."
__ADS_1
"Ada apa lagi mbak, aku lelah ingin beristirahat."
"Aku ingin meminta uang."
"Uang! Untuk apa Lagi, Mbak baru dengarkan, kalau aku dipecat dari pabrik. Aku sudah tidak mempunyai uang lagi Mbak, bahkan aku dipecat tanpa pesangon sedikitpun."
"Untuk memberi makan Putri, Man, kasihan dia belum makan sejak pagi."Ujar Rohmah dengan wajah yang sedih, "Putri belum makan dari pagi!"Sambungnya.
Rahman tiba-tiba melemah, ketika mendengar jika keponakannya itu belum makan sejak pagi, tentu saja ia tidak akan setega itu jika mendengar anak kecil yang belum makan sejak pagi sampai malam hari seperti ini.
"Kenapa Mbak Rohmah tidak memberinya makan?"
"Aku tidak punya uang sepeser pun Rahman, dan di rumahmu ini tidak ada bahan makanan yang bisa aku masak."
Rahman merogoh saku jaketnya dan ia mengeluarkan satu lembar uang berwarna biru dan memberikannya kepada Rohmah.
"Aku rasa ini cukup jika untuk membeli makan Putri."
Setelah memberikan uang kepada Rohmah, Rahman kembali masuk ke dalam kamarnya dan mengunci rapat-rapat pintu itu, sepertinya ia tidak ingin diganggu oleh siapapun di sana.
❄️❄️❄️❄️
Suasana Rumah yang temaram, karena hanya berbekal penerangan dari satu lilin. Dan tidak ada makanan apapun di sana membuat Jubaidah menjadi kesal dan semakin meningkatkan emosinya, ia keluar dari Kamarnya karena gelap dan panas, serta perutnya yang keroncongan..
"Rohmah!"teriaknya menggema ke seluruh ruangan, namun teriakan Jubaidah tidak membuat Rohmah menunjukkan batang hidungnya.
Jubaidah yang penasaran dan diliputi rasa jengkel karena panggilannya tidak ada yang menyahuti, berjalan menuju dapur untuk menyusul Rohmah lalu ia lanjutkan ke teras, karena di dapur Jubaidah tidak menemukan siapapun di sana.
tapi lagi-lagi ia tidak mendapati anak sulungnya itu.
__ADS_1
"Rania!" Setelah berteriak dan mencari Rohmah, ia pun berteriak memanggil nama Putri bungsunya, namun! sama seperti Rohmah, Rania pun tidak ada di sana.
Rahman yang merasa terganggu di dalam kamar dengan suara teriakan dari Jubaidah, memutuskan! Menunda ratapannya dan membuka pintu Kamar.
"Kenapa Ibu berisik sekali? Ini sudah malam, kenapa Ibu harus berteriak-teriak seperti ini?"kata Rahma dengan sangat kesal pada ibunya.
Lagi-lagi Jubaidah membelalak, ia benar-benar harus bertindak karena makin hari Rahman makin berani padanya.
"Kau sudah pulang Man." Tanya Jubaidah namun dengan suara pelan.
"Sudah!"Sahut Rahman ketus.
"Rahman, dari pagi Ibu belum makan apapun. Bisakah kau membelikan Ibu makanan?"
"Ibu minta Rania saja untuk membelinya, Aku sedang sedikit sibuk Bu."
"Tapi Rania tidak ada di rumah Man. Sepertinya dia pergi dengan Mbakmu dan Putri."
Rahman yang tidak tega melihat Jubaidah kelaparan dan wajah wanita itu pun sedikit pucat, memutuskan untuk keluar dan membeli makanan untuk Ibunya itu.
Bersambung...
❄️❄️❄️❄️❄️❄️
Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini 🙏
Minta dukungannya ya 🙏
Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini.
__ADS_1
Lope banyak-banyak untuk semuanya ❤️😘😘❤️