Istriku Boros! Menantu Yang Tidak Di Inginkan

Istriku Boros! Menantu Yang Tidak Di Inginkan
Via Menyerah Dan Ingin Pulang


__ADS_3

Selamat! Membaca 🤗


Setelah Rahman benar-benar keluar dari kamarnya, dan saat itu juga Via meneteskan air mata yang sudah sejak tadi ia tahan. Wanita itu memegang dadanya yang mulai terasa sesak dan sakit.


Dari depan ia mendengar sayup-sayup suara Rahmah dan Selvi yang belum beranjak dari sana.


Via melangkahkan kakinya mendekati jendela dan membuka tirai yang menutupi jendela kaca itu, karena kebetulan jendela kamar Via menghadap ke teras Rumah mereka, sehingga ia bisa melihat dengan jelas apapun yang ada di sana.


Hati Via semakin teriris ketika ia melihat pemandangan di sana, dua insan tengah bercakap-cakap dengan senyum indah di kedua bibirnya.


"Kemeja mu kucel sekali Man, sini aku betulkan,"ucap Selvi dan ia segera mengulurkan tangannya untuk merapikan kemeja Rahman dengan cara mengusap-usap di bagian dada.


Sungguh mereka tidak tahu malu,


padahal apa yang mereka lakukan ini di depan Rumah dan tentu saja menjadi pusat perhatian para tetangga yang melintas di sana.


"Rambutmu juga belum rapih Man."Kata Selvi dan langsung mengeluarkan sisir dari dalam tasnya.


"Kau tidak perlu melakukan ini Sel, aku bisa sendiri,"ujar Rahman yang sebenarnya tidak nyaman dengan perlakuan Selvi saat ini.


"Kau diam Man, aku akan membuatmu semakin tampan dan gagah,"sahut Selvi yang masih terus menyisiri rambut Rahman seperti seorang ibu pada anaknya.


Selvi benar-benar tidak memperdulikan beberapa pasang mata yang melihat ke arah mereka, bahkan wanita itu juga menyadari jika Via juga tengah menyaksikan lewat celah gorden jendela kamarnya.


"Rahman, apa yang kau lakukan?"bentak Seno , yang sontak mengejutkan kedua manusia itu, dan refleks Rahman mendorong Selvi menjauhinya.


Seno yang tidak senaja melintas di depan Rumah Via, tentu melihat dengan jelas apa yang terjadi di teras Rumah itu. Dadanya panas melihat Rahman yang seperti sedang bermesraan dengan Selvi. Ia sungguh tidak terima kalau Rahman menghianati Via.


Seno menepikan motornya, tepat di hadapan Rahman dan Selvi.


"Apa seperti ini kelakuanmu, sebagai seorang Suami?Kau bermesraan dengan wanita lain di depan Rumahmu sendiri, kau benar-benar gila Man,"umpat Seno.


"Bermesraan! kau jangan sembarangan bicara kalau tidak tau apa-apa, Sen,"balas Rahman.


"Tidak tau apa-apa! bahkan orang gila sekalipun tau apa yang sedang kau lakukan dengan wanita ini,"kata Seno sambil menunjuk Selvi.


"Jangan kurang ajar kau!"Rahman yang tidak terima, segera menghampiri Seno dan menarik kerah baju lelaki itu dengan sangat kuat.


Seno yang tidak mau kalah, langsung mencengkram tangan Rahman.


"Kau mau apa? Mau menghajarku,"kata Seno dengan senyum miring sepertinya ia meremehkan Rahman.


Rahman semakin murka, dan ia sudah siap mengepalkan tangan ingin menghajar Seno.


Tapi gerakan Seno jauh lebih cepat, hanya dalam hitungan detik, Seno sudah berhasil melayangkan dua pukulan di wajah Rahman.


Bug!


Bug!


Rahman terjerambah kebelakang, sambil memegangi wajahnya yang sakit.


"RAHMAN!"teriak Selvi, dan segera membantu Rahman untuk bangun.


Namun Rahman menepis tangan Selvi, dan ia bangkit sendiri.


BUG!

__ADS_1


Satu pukulan balasan Rahman berikan pada Seno.


Selvi yang tidak menyerah, kembali mendekati Rahman.


"Kau tidak apa-apa kan Man,"ucapnya sambil mengelus-elus wajah Rahman yang terlihat memerah.


Melihat itu Seno semakin marah, ia kembali ingin menghajar Rahman.


"Cukup Seno!"


Teriakan Mbak Dewi, menghentikan Seno.


"Jangan kau membuang-buang tenaga dan waktumu untuk lelaki seperti dia. Biarkan saja dia mau seperti apa, karena dia yang akan menyesal suatu hari nanti,"sambung Mbak Dewi yang marah sambil menatap Rahman.


Rahman bingung dengan ucapan Mbak Dewi, yang mengatakan jika ia akan menyesal.


Dan ia juga melihat di sekeliling yang ternyata sudah di penuhi dengan kumpulan manusia yang tengah memperhatikannya.


Rahman yang merasa ini semua karena Seno, maju ingin kembali menghajar Seno.


Tapi Selvi segera menahannya.


"Sudahlah Man, kau jangan meladeninya. Ayo kita pergi,"ucap Selvi, dan tidak tahu malu, wanita itu mengalungkan tangannya di lengan Rahman, dan membawa Rahman masuk kedalam mobilnya.


"Aku yakin suatu hari nanti kau pasti akan menyesal Man, karena sudah menyakiti Via,"kata mbak Dewi, yang masih bisa Rahman dengar dengan jelas karena ia belum sepenuhnya masuk kedalam mobil.


"Menyakiti Via! apa maksudnya! apa aku pernah menyakiti hati Via?"Batin Rahman.


"Sudah Man, kau tidak perlu mendengarkan omongan orang-orang itu, mereka hanya iri denganmu,"kata Selvi dan langsung menutup pintu mobilnya.


Sementara Via, ia masih mematung di depan jendela sambil memegang tirai kuat-kuat,


ia menyaksikan semua yang ada di halaman Rumahnya, tapi ia tidak berniat untuk keluar.


Via menutup kembali gorden kaca itu rapat-rapat.


Lalu ia membaringkan tubuhnya di samping Satria yang masih tertidur nyenyak. Via mencium pipi anak itu berulang kali.


"Sudah saatnya kita harus pergi nak, maafkan Ibu yang tidak bisa bertahan lebih jauh. Suatu saat nanti kau pasti mengerti dengan keputusan yang Ibu ambil ini,"ucap Via pada Satria yang masih memejamkan matanya, karena anak itu tidur dengan sangat nyenyak.


Setelah puas mencium Putra semata wayangnya, Via kembali bangkit dan meraih ponsel yang tergeletak di nakas samping ranjang.


"Assalamualaikum, Yah."


("Waalaikummusalam, ada apa Nak, tumben telpon ayah di jam segini?")


"Yah, tolong jemput aku pulang,"ucap Via dengan nada bergetar.


(.....)


Tidak ada sahutan apapun dari sebrang sana.


Dan Via kembali meminta Ayahnya untuk membawa ia pulang.


"Aku sudah tidak sanggup yah, Aku ingin pulang, tolong jemput aku."


Via hanya mendengar duru nafas ayahnya dari balik telepon.

__ADS_1


Hingga, setelah menunggu beberapa detik.


Orang Tua yang ada di balik sambungan telepon sana menjawab.


("Iya Nak, bersiap-siaplah Ibu dan Ayah akan segera menjemputmu.")


❄️❄️❄️❄️


Di tempat lain.


Rohim yang baru saja menerima telepon dari Putri semata wayangnya terduduk lemas di atas sofa.


Lelaki yang sudah tidak muda lagi itu mengadakan wajahnya ke atas, sambil beristighfar menahan sesak di dadanya.


Beberapa hari yang lalu, Monik datang ke Rumah Orang Tua Via, dan menceritakan apa yang terjadi di Rumah tangga Via termasuk kelakuan Ibu mertua, Rohmah dan suaminya.


Bukan maksud Monik untuk mengadu, tapi ia hanya ingin menyelamatkan sahabatnya, karena ia tidak mau jika sahabatnya itu terus-terusan bertahan di tengah-tengah keluarga yang selalu menyakiti hati dan perasaannya.


Namun.


Rohim membiarkan itu semua. Dan memberi Via kesempatan untuk menyelesaikan masalah rumah tangganya, bukan Rohim berbuat tega dan membiarkan putrinya diperlakukan tidak baik oleh Jubaidah.


Tapi Rohim ingin menguji kesabaran dan kedewasaan anaknya dalam menghadapi persoalan rumah tangga yang tengah ia hadapi.


Rohim tidak akan turun jika Via tidak memintanya, Rohim masih menunggu kesabaran putrinya itu. Di saat Via meminta bantuannya situlah Rohim tahu jika putrinya sudah berada di batas kemampuannya.


Namun, ketika Rohim mendengar kata (Aku tidak sanggup lagi Yah, aku ingin pulang, tolong jemput aku)


Dada Rohim seperti diremas kuat-kuat, karena putrinya berkata dengan suara yang bergetar. Ia sangat tahu jika putrinya tengah menahan tangis di seberang sana.


Hati Orang Tua mana yang tidak hancur, ketika Putri yang ia besarkan penuh dengan kasih sayang. Dan mengorbankan segala yang ia punya untuk kebahagiaan putrinya.


Namun orang lain yang baru 2 tahun meminangnya sudah menyakiti dan melukai hati putrinya sampai ia menangis dan meminta pulang.


"Yah, ada apa? Tadi yang menelpon Via kan?"tanya Aminah dengan cemas karena ia melihat raut lain dari wajah suaminya,"Via baik-baik saja kan ya?"sambung Aminah.


Rohim bangkit dari duduknya dan mengatur nafasnya.


"Ayo Bu, kita jemput Savia. Putri kita ingin kembali pada kita,"ucap Rohim dengan nada datar, namun terlihat jelas raut sedih penuh luka di wajah lelaki tua itu.


Aminah mematung.


Ia tahu apa maksud dari ucapan suaminya. Tanpa sadar wanita itu meneteskan air mata, ia seperti merasakan apa yang tengah putrinya rasakan saat ini.


Mendengar cerita dari Monik saja hati Aminah sudah hancur, apalagi ketika ia mendengar bahwa Via ingin pulang dan kembali bersama mereka. Itu artinya Via benar-benar terluka sampai ia tidak sanggup lagi untuk bertahan.


Bersambung....


❄️❄️❄️❄️❄️


Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini 🙏


Minta dukungannya ya 🤗


Tolong koreksi jika ada kesalahan dalam tulisan ini 🙏


Lope banyak-banyak untuk semuanya ❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2