
Selamat! Membaca 🤗
Dengan malu-malu kucing. Selvi pun duduk persis di sebelah Rahman seperti apa yang diminta Jubaidah.
Rahman yang merasa tidak nyaman duduk bersebelahan dengan Selvi sedikit minggir ke sisi sofa agar tidak terlalu dekat dengan wanita itu.
"Ibu tinggal dulu sebentar ya,"kata Jubaidah yang ingin kembali masuk ke Dapur dengan niatan, menahan Via agar tidak masuk ke Ruang keluarga.
"Iya Tante."
Jubaidah mengedipkan mata kepada Selvi menandakan agar Gadis itu memulai pembicaraan yang akrab dengan Rahman.
Meskipun Selvi belum menyetujui permintaan Jubaidah yang ingin menyatukan ia dan Rahman.
Tapi Jubaidah sudah mengetahui dari gerak-gerik Selvi, jika ia masih menyukai Rahman dan mengharapkan laki-laki itu.
Selvi mengangguk mengiyakan maksud dari kedipan mata Jubaidah.
"Rahman, berapa usia Satria sekarang?"tanya Selvi yang memulai percakapan di antara mereka berdua.
"Sudah mau tujuh bulan."Sahut Rahman dengan singkat, karena sebenarnya lelaki itu benar-benar tidak nyaman berada sedekat Itu dengan Selvi.
Selvi meraih tangan Satria dan ia mulai bercanda dengan bayi itu.
"Aaah... Satria lucu sekali. Dia sangat menggemaskan,"ujar Selvi. Tapi selain ia memegang tangan Satria, dengan sengaja Gadis itu pun menempelkan badannya di lengan Rahman.
Mereka berdua terlihat seperti sepasang suami-isteri yang tengah bercanda dengan anaknya.
"Oeekk..!"
Namun situasi seperti itu tidak bertahan lama karena tiba-tiba Satria menangis. Mungkin saja bayi itu tidak menginginkan wanita lain berdekatan dengan Ayahnya.
Karena dengan menangisnya Satria Rahman pun bangun untuk menimang anaknya.
"Kenapa kau menangis! Kau pasti lapar ya,"ujar Rahman dan ingin melangkahkan kakinya menuju dapur menyusul Via.
"Tunggu!"cegah Selvi dan ia langsung bangun dari duduknya mendekati Rahman.
"Anak menangis itu tidak selalu lapar, bisa jadi ia merasa bosan atau ingin bermain."
Rahman diam tidak menjawab perkataan Selvi, ia memang tidak tahu cara mengatasi bayi menangis selain memberinya ASI.
Karena biasanya, itu urusan Via, Rahman hanya tinggal berteriak memanggil Istrinya jika Bayi mereka menangis.
"Sini aku gendong."Kata Selvi dan langsung mengambil alih Satria dari tangan Rahman.
"Apa ini tidak merepotkanmu?"
"Tentu saja tidak! Kenapa kau terlihat canggung dan kaku seperti itu."
"Bukan begitu, aku hanya takut merepotkanmu saja. Kau kan tamu di sini masa harus menggendong Bayi."
"Tidak apa-apa Rahman, aku sungguh tidak keberatan menggendong Bayi selucu Satria."
"Baiklah jika kau memaksanya."
Dan Rahman pun memberikan Satria pada Selvi.
Bagai seorang Ibu yang sudah berpengalaman, Selvi dengan cekatan menghibur Bayi yang sedang rewel itu, tapi ia harus memutari ruang keluarga itu untuk menimang-nimang Satria.
Padahal niatnya ingin duduk berdua dengan manis bersama Rahman tapi iya malah menimang-nimang Satria.
Bagi Selvi itu tidak masalah karena ia masih mempunyai cara lain untuk tetap dekat dan mengobrol dengan Rahman.
Sambil menimang Satria Gadis itu mulai menanyakan perihal pekerjaan dan keseharian Rahman.
"Apa kau tidak mencoba bekerja di tempat lain, seperti di Kantoran mungkin,"kata Selvi setelah mendengar cerita Rahman tentang pekerjaannya di Pabrik.
__ADS_1
"Aku tidak punya keahlian di bidang itu, dan sepertinya aku juga sangat tidak cocok bekerja di Kantoran."
"Kamu jangan merendah diri seperti itu Rahman, kau kan belum mencobanya, jika kau mau dan berminat untuk bekerja di Kantoran aku bisa membantumu, aku mempunyai beberapa teman yang bekerja di Perusahaan besar. Atau jika kau mau kau bisa bekerja di Kantor yang sama denganku. Di Perusahaan itu membutuhkan banyak sekali tenaga kerja, apalagi Lelaki pekerja keras sepertimu."
"Terima kasih Selvi, tapi aku sudah sangat nyaman bekerja di Pabrik yang sekarang."
"Aku paham, tapi jika suatu saat nanti kau berubah pikiran dan ingin bekerja di Perusahaan tempat ku bekerja, jangan sungkan untuk menghubungiku."
Rahman mengangguk, dan obrolan mereka semakin berlanjut ke pembicaraan yang lainnya.
🕊️🕊️🕊️🕊️🕊️
"Aku ke depan dulu ya Bu sepertinya Satria menangis,"kata Via yang sempat mendengar suara tangisan Satria.
"Tidak usah, kau di sini saja membantu Ibu biarkan anakmu itu bersama Rahman. Ada Selvi juga yang akan membantu Rahman menenangkan Satria Jika menangis."
"Tapi Bu....!"
"Sudah! jangan tapi-tapian, kau kerjakan saja apa yang lebih suruh, sebentar lagi Rohmah dan Rudi akan sampai dan kau dengar sendiri kan jika Satria sudah tidak menangis lagi, jadi jangan membuat alasan untuk pergi dari Dapur ini membantu ibu. Bermanfaatlah sedikit sebagai seorang menantu,"ujar Jubaidah penuh penekanan.
Via hanya bang bisa menghela nafas mendengar perkataan pedas Jubaidah, Tapi tentu itu sudah biasa bagi Via Jadi ia tidak marah dan membalasnya.
Sepertinya Via masih belum menyadari maksud dari Jubaidah yang menahannya di Dapur, dia terlalu percaya dengan Gadis yang beberapa menit lalu mengobrol dengannya. Hingga membiarkan ia bersama suami dan anaknya.
❄️❄️❄️❄️❄️
Di tempat lain.
Rohmah sudah bertemu dengan Rudi yang baru keluar dari Bandara.
"Kenapa kamu menyuruhku tunggu di sini Mas, aku kan ingin menunggumu di dalam Bandara."Kata Rohmah yang melayangkan protes pada Rudi karena Lelaki itu tidak mengizinkan ia masuk ke area Bandara, malah menyuruh Rohman menunggu di luar yang letaknya cukup jauh dari Bandara.
"Bandara itu tempat yang ramai, banyak orang di sana, dan itu sangat tidak baik untuk Putri,"sahut Rudi.
"Papah...!"seru Putri dan langsung berhambur memeluk Papahnya,"kenapa Papah lama sekali pulangnya ,Putri kan sudah kangen."
"Iya Pah."
Rohmah pun ikut berhambur memeluk Suaminya yang sudah 2 tahun tidak pulang.
"Ayo Mas kita langsung pulang ke rumah saja agar kau bisa beristirahat,"ajak Rohmah.
"Iya, aku juga suda sangat lelah karena menempuh perjalanan yang panjang,"sahut Rudi.
Setelah taksi Online yang dipesan Rohmah datang.
Mereka pun bergegas menuju ke Rumah Jubaidah.
*********
Taksi Online yang membawa Rohmah, Rudi dan putrinya menepi tepat di halaman Rumah Jubaidah.
Dengan penuh bangga Rohmah membuka pintu mobil,
dan diperhatikan banyak warga yang kebetulan melintas di halaman Rumah Jubaidah.
Jubaidah beserta Via dan Rahman sudah berdiri di depan pintu menyambut kedatangan menantu kesayangan keluarga itu, menantu yang selalu dibangga-banggakan oleh Jubaidah.
"Waaaah... Itu Rudi ya! menantu Ibu Jubaidah yang kerja di luar Negeri 2 tahun yang lalu,"kata seorang Ibu-ibu yang memang sejak tadi memperhatikan mobil yang membawa Rudi dan Rohmah.
"Iya Bu, ini Rudi sudah pulang."Sahut Jubaidah dengan penuh bangga.
"Rudi pasti sudah sukses ya sekarang, karena sudah 2 tahun merantau di luar Negeri. Pasti Pulang membawa uang banyak,"celetus Ibu-ibu yang lainnya.
Rudi tersenyum angkuh mendengar ucapan Ibu-ibu yang memujinya.
"Tentu saja Bu. Seperti niat awal saya ketika berangkat, saya tidak akan pulang sebelum saya sukses dan membawa uang yang banyak untuk keluarga saya di sini,"sahut Rudi.
__ADS_1
"Ibu Jubaidah benar-benar sangat beruntung, mempunyai menantu bertanggung jawab seperti Rudi."
"Tentu saja Bu, itu karena anak saya Rohmah, sangat pintar memilih pendamping hidup, yang tidak boros dan menghambur-hamburkan uang,"sahut Jubaidah sambil melirik Via yang berada di sebelah Rahman.
"Kalau begitu kami permisi dulu ya Bu, Sepertinya Rudi perlu beristirahat."
"Silakan Bu."
Setelah para Ibu-ibu itu pergi,
Jubaidah menyuruh Rohmah mengajak Rudi masuk ke dalam.
Dan ternyata di dalam sana masih ada Selvi yang tengah menata makanan di meja.
"Siapa dia Ibu?"tanya Rohmah dengan bingung, melihat Wanita asing yang tengah menata makanan di meja.
"Masa kau lupa Rohmah, dia itu Selvi."
"Selvi yang dulu ingin dijodohkan dengan Rahman?"
"Iya."
"Astaga! aku sampai pangling tidak mengenalinya karena dia benar-benar sangat cantik dan mempesona,"Rohmah segera menghampiri Selvi dan memeluknya.
"Kau cantik sekali sekarang, sepertinya kau sangat pandai menjaga dan merawat diri. Rahman pasti menyesal dulu menolakmu."Kata Rohmah dengan Bar-bar tanpa memikirkan perasaan Via yang berada di antara mereka.
"Mbak Rohmah bisa saja, aku tidak banyak berubah kok Mbak aku masih seperti yang dulu. Mbak Rohmah juga terlihat sangat cantik dan awet muda sekarang."
"Kau bisa saja."
Dan malam itu pun mereka habiskan dengan mengobrol.
Dan di obrolan itu selalu terselip kata-kata yang menyudutkan Via.
Via selalu disindir.
Bukan hanya itu, Via juga selalu dibanding-bandingkan dengan Selvi yang cantik dan glamor.
Lebih parahnya lagi. Mereka membandingkan Via dengan Rudi, menantu yang baru pulang dari luar Negeri yang Jubaidah duga membawa uang yang sangat banyak.
"Aku permisi sebentar, ingin melihat Satria di Kamar,"kata Via yang berpamitan dari meja makan terlebih dahulu menuju kamar tempat Satria ditidurkan.
Ya.
bayi itu sudah tertidur sejak di timang-timang Selvi.
"Jangan lama-lama melihat Satria di dalam kamar sana, karena kau harus merapikan meja makan ini dan mencuci semua piring kotor. Apa jangan-jangan ini hanya alasanmu saja pergi ke kamar untuk menghindari tugasmu di sini,"sahut Rohmah.
"Via memang hanya ingin melihat Satria sebentar Mbak,"kata Rahman yang akhirnya bersuara membela Istrinya.
Padahal sejak tadi, Lelaki itu hanya dia mengunci mulutnya ketika keluarganya menggunjing dan menyudutkan Via.
"Yasudah cepat pergi sana, kami juga sebenarnya tidak merasa nyaman karena ada kau di sini. Tapi ingat kataku, jangan lama-lama. Kau harus segera membersihkan ini semua."
"Biar Via melihat dan menemani Satria Mbak, yang membersihkan meja Ini biar nanti aku saja,"sahut Selvi.
"Tidak bisa seperti itu, kau kan tamu di Rumah Ini, masa kau yang harus membersihkan meja dan mencuci piring. Biarkan Via yang melakukannya, dia itu pengangguran, kesehariannya hanya makan dan tidur. Jadi biarkan ia sedikit berguna di sini,"Kata Jubaidah dengan kejam.
Bersambung..
❄️❄️❄️❄️❄️
Terimakasih sudah berkunjung ke cerita ini 🙏
Minta dukungannya ya 🙏
Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini 🙏
__ADS_1
Lope banyak-banyak untuk semuanya ❤️