
Selamat! Membaca 🤗
Rahman sama sekali tidak menggubris protes Jubaidah, karena ia tetap mengantarkan Via pulang ke Rumah.
"Apa kau yakin tidak apa-apa Mas tinggal?"tanya Rahman ketika akan keluar Rumah.
"Iya Mas, kau tidak perlu khawatir, ada Putri yang menemani aku dan Satria di sini, kau pergilah, cari Ranai."
Rahman mengangguk.
Dan pergi menggunakan Motornya.
❄️❄️❄️❄️
("Untuk apa lagi Tante menghubungi ku, aku sudah tidak mau lagi berhubungan dengan Tante Jubaidah, karena percuma saja, aku sudah menghabiskan waktu dan uang banyak untuk Tante, tapi hasilnya apa! Aku tidak pernah mendapatkan Rahman, bahkan untuk membuat Rahman bekerja di kantor yang sama denganku saja Tante Jubaidah tidak bisa.")
Suara kesal Selvi, terdengar nyaring di telinga Jubaidah.
"Selvi kau tenang dulu, dengarkan tante. Saat ini tante sedang sakit, dan Mbah Gede pun menghilang entah ke mana, jadi tante tidak tahu harus meminta bantuan dan pertolongan pada siapa lagi jika bukan padamu."
Suara mendengus kesal dari Selvi terdengar jelas meskipun lewat sambungan telepon. Ketika mendengar ocehan Jubaidah
Namun meskipun begitu, Ia tetap mendengarkan apa yang disampaikan oleh Jubaidah sampai selesai.
Dan setelah panjang lebar Jubaidah memberi penjelasan kepada Selvi, Gadis itu pun menimpalinya dengan kata-kata.
(Tante, aku sudah tidak sudi lagi berhubungan dengan tante. Apalagi harus mengeluarkan uangku dengan sia-sia, jika aku mau, aku bisa mendapatkan Rahman dengan cara yang lain. Karena melewati cara tante sungguh sangat melelahkan dan sia-sia, sudah aku harap ini terakhir kali tante menghubungiku lagi dan jangan pernah menghubungiku dengan alasan apapun.")
Setelah mengatakan itu Selvi mematikan sambungan telepon.
"Sial!"
Jubaidah mengarang, bahkan ia hampir membanting ponsel satu-satunya, tapi hal itu tidak jadi ia lakukan mengingat sudah tidak ada lagi benda berharga yang ia miliki selain ponsel tersebut.
"Apa yang harus aku lakukan, aku tidak bisa diam seperti ini dengan perubahan Rahman yang signifikan, aku harus mencari tahunya sendiri. Ya, hanya itulah yang bisa aku lakukan tidak ada yang bisa aku andalkan saat ini selain diriku sendiri,"gumam Jubaidah.
❄️❄️❄️
Di tempat lain.
Tepatnya di minimarket milik Alvian tempat Rania sekarang bekerja.
__ADS_1
"Astaghfirullah, ini sudah jam 10 malam, aku lupa memberi kabar pada ibu, Ibu pasti mencari-cariku."Rania langsung bergegas meraih ponselnya yang tengah diisi daya, ketika melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 22: 00.
Setelah ia mengaktifkan ponsel, puluhan pesan dan panggilan tidak terjawab datang dari Jubaidah dan Rahman.
"Aku sudah sangat membuat mereka khawatir,"keluh Rania, dan membalas pesan mereka satu persatu.
"Rania, ini sudah jam 10.00 malam, sebaiknya kau berkemas untuk pulang. Sebentar lagi minimarket akan tutup."Ujar Azam.
"Ah, baiklah!"
Mengetahui jika ia sudah diperbolehkan pulang, Rania segera berkemas dan membantu Azam serta Feby menutup minimarket.
"Apa besok kau akan datang lagi?"tanya Azam pada Rania.
"Iya. tapi aku akan datang di jam 02.00 siang karena pagi aku sekolah."
"Ah iya, kau masih sekolah ya!"kata Azam.
"Tapi, Jangan khawatir tahun ini aku lulus, dan 2 minggu lagi aku akan mengikuti ujian."
"Semoga kau bisa lulus dengan nilai terbaik semangat."sahut Feby.
Setelah usai membenahi minimarket dan siap untuk ditutup, mereka masih belum keluar dari sana karena menunggu sang Bos yang masih ada di ruangannya, entah apa yang dilakukan Alvian di sana hingga berjam-jam lamanya tak kunjung keluar, biasanya Ia hanya membutuhkan waktu 2 jam saja ketika sedang mengunjungi Minimarketnya, tapi sekarang entah kenapa sampai malam Alvian belum juga pulang.
"Apa kita tidak memanggil Pak Alvian?"kata Rania, yang masih menunggu di depan minimarket, karena menunggu Rahman yang berjanji akan menjemputnya.
"Kenapa harus memanggilnya! Biarkan saja Bos ada di dalam, walaupun kita mengunci minimarket ini, dia tetap bisa keluar karena mempunyai kunci cadangan."Sahut Azam.
"Kenapa seperti itu, sejak tadi Pak Alvian tidak keluar dari ruangannya. Aku khawatir terjadi sesuatu. Apalagi jika kita meninggalkan dia begitu saja tanpa memastikan dulu jika Pak Alvian baik-baik saja di ruangannya."Cema Rania.
"Ah, kau masih baru di sini Rania, jadi kau tidak tahu seperti apa itu Pak Alvian. Kita yang sudah tahunan bekerja di sini sangat tahu betul sifatnya dan kelakuannya, dia jarang datang ke sini dan sekalinya datang ya mungkin dia ingin melepas kangen dengan ruangannya."Sahut Azam.
"Tapi, tunggu! Kamu sebelumnya sudah mengenal Pak Alvian kan Rania? Aku ingat saat pertama kali aku mengajakmu ke ruangan Pak Alvian kamu langsung memanggilnya dengan sebutan Mas Vian?"tanya Feby yang mengingat kejadian sore tadi.
Rania bingung harus menjawab apa! Jika ia menjawab kenal dengan Alvian, Rania takut jika itu menimbulkan masalah. Karena seperti yang Rania lihat Alvian sendiri enggan untuk menyapanya sebagai seseorang yang sangat dikenali.
"Ah, itu,tidak! sebenarnya tadi aku salah sebut saja, dan ternyata kebetulan Bos saya juga namanya Alvian."
Dan disaat yang bersamaan serta minimarket belum ditutup sepenuhnya, Rahman tiba.
"Apa sekarang kau bekerja di tempat seperti ini?"Tanya Rahman.
__ADS_1
Rania mengangguk.
"Iya Mas."
"lain kali jika ingin berpergian, beri kabar kepada Ibu atau Mas, agar tidak khawatir seperti ini."Tegas, Rahman. Sedikit memarahi Rania.
"Iya Mas, aku minta maaf." Sahut Rania.
Setelah beberapa saat mengobrol dan Rahman juga berkenalan dengan kedua rekan kerja Rania, tiba-tiba Alvian munculnya dalam.
"Mas Vian, Kenapa bisa ada di sini!"tanya Rahman yang terkejut melihat kedatangan Avian.
"Kau tanya saja kepada adikmu untuk apa aku ada di sini,"sahut Alvian.
Rahman melirik Rania.
"Ini Bos aku Mas, pemilik minimarket ini."Ujar Rania.
Rahman sedikit terkejut, karena sesungguhnya ia tidak tahu banyak soal Alvian dan apa pekerjaannya, Via pun tidak pernah bercerita tentang pekerjaan kakaknya itu.
"Jadi minimarket ini punya Mas Vian?"
"Benar, dan adikmu ini yang datang sendiri melamar kerja di sini."Akhirnya Alvian membuka suaranya.
"Terima kasih Mas Vian"Ucap Rahman, dan ia kembali fokus pada Rania,"Rania ayo kita pulang sekarang, Ibu tidak ada yang menemani di kontrakan, dan Mas juga tidak bisa meninggalkan Mbak Via serta Satria berlama-lama."Ajak Rahman.
"Baik Mas."
"Aku pulang dulu ya Mas,"pamit Rahman pada Alvisann
Bersambung..
❄️❄️❄️
Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini 🙏
Minta dukungannya ya 🤗
Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini 🤗
Lope banyak-banyak untuk semuanya ❤️❤️
__ADS_1