Istriku Boros! Menantu Yang Tidak Di Inginkan

Istriku Boros! Menantu Yang Tidak Di Inginkan
Membuat Rahman, Hampir Mati


__ADS_3

Selamat! Membaca 🤗


Alvian menyunggingkan senyum mengerikan di kedua sudut bibirnya, ketika kembali melihat Rahman yang masih di tempat semula.


Rahman yang melihat Alvian kembali, mengedarkan pandangannya ke arah punggung Alvian, lelaki itu sangat berharap jika Via pun ikut kembali masuk dan mengurungkan niatnya untuk pulang ke Rumah orang tuanya.


"Apa yang kau cari? Apa kau mengira jika Via akan kembali masuk dan menemuimu, ingat Rahman mulai dari detik ini aku tidak akan pernah mengizinkan dan membiarkanmu untuk menemui Via dan Satria, bahkan sampai kau memohon dan menangis darah pun, aku tidak akan pernah membiarkan itu terjadi."


"Apa maksudmu Mas, Mas Alvian tidak berhak memutuskan aku dan Via. sampai kapanpun Via akan tetap menjadi istriku dan aku akan kembali membawanya pulang."


"Hahaha.... Apa kau pikir aku akan membiarkannya? Tidak Rahman, dari dulu aku memang tidak pernah menyukai dan menyetujui kau menikah dengan Via, karena Via adalah wanita terbaik dan sempurna. Sangat tidak cocok dengan lelaki yang masih berlindung di bawah ketiak ibunya sepertimu."


Rahman mengepalkan tangannya. Ia tidak terima dengan ejekan ALvin.


"Apa maksudmu Mas, kau tidak berhak membawa nama ibuku di sini."


"Terang saja kau akan membela wanita jahat itu, karena kau sudah di perdaya dengannya, tapi. Apa kau masih akan tetap membela Jubaidah jika kau tahu siapa sebenarnya wanita itu. Dan jika kau tau, aku sangat yakin kau akan menyesal seumur hidupmu karena telah membela dan memujanya mati-matian wanita ular itu."


Rahman bingung dengan maksud dari omongan Vian.


Namun untuk saat ini ia tidak memperdulikannya, yang terpenting sekarang ia harus membawa Via kembali ke Rumah.


"Aku tidak mau berdebat dengan mu mas, minggir lah, aku akan kembali membawa Via dan Satria." Ujar Rahman dan hendak melangkah.


"Aku pun tidak Sudi melihat wajah mu, aku kembali masuk hanya ingin memberi sedikit kenang-kenangan untukmu sebelum status mu sebagai adik iparku musnah." Sahut Alvian yang mencegah langkah Rahman.


Tanpa menunggu Rahman menimpali ucapannya, Alvian sudah lebih dulu melayangkan pukulan terdahsyat yang ia miliki tepat di wajah Rahman.


BUG!


Hanya dengan satu pukulan, Rahman langsung tersungkur.


Dan belum sempat ia menghindar apalagi membalas pukulan Vian, Alvian sudah lebih dulu menghajarnya secara bertubi-tubi tidak memberikan celah sedikitpun untuk Rahman menghindar apa lagi melawan.


"Dasar Brengsek!"


"Brengsek!"


"Pecundang!"


"Pengecut!"


Dan itulah umpatan yang yang keluar dari bibir Alvian, mengiringi gerakan tangannya yang terus menghajar Rahman tanpa ampun.


Seakan tidak puas dengan memukul cara biasa, Alvian naik di atas tubuh Rahman. Tangan kiri ia gunakan untuk mencengkram leher Rahman dan tangan satunya ia gunakan untuk memukuli wajahnya.


Di mobil,


Via memejamkan matanya. Ia tau apa yang di lakukan Alvian di dalam. Rasa khawatir melanda hatinya, Via takut jika Vian sampai kebablasan menganiaya Rahman. Biar bagaimanapun juga lelaki itu ayah anaknya.

__ADS_1


"Ayah tolong hentikan Mas Alvian,"punta Via pada Rohim.


Dan langsung di bantu anggukan oleh Aminah yang khawatir jika Alvian berbuat lebih jauh pada Rahman.


❄️❄️❄️❄️


Rahman sudah hampir kehabisan nafas, karena Alvian mencekiknya dengan sangat kuat.


Ia benar-benar tidak bisa mengimbangi kekuatan Alvian, yang memang memiliki badan yang kekar dan berotot. Karena ia rajin berolahraga dan ia juga pandai dalam ilmu beladiri.


"Alvian!"suara Rohim dari luar pintu berhasil menghentikan kebrutalan Alvian.


Namun lelaki itu memilih pura-pura tidak mendengarnya, dan ia kembali mencekik Rahman. Sepertinya Alvian benar-benar ingin mendiskon nyawa adik iparnya itu.


"ALVIAN!"


Suara Rohim kembali terdengar, namun kali ini dengan nada tinggi, menandakan bahwa lelaki yang ada di balik pintu itu sedikit marah pada Putranya.


"Sial!"Umpat Alvian yang merasa kesal karena harus berhenti, dan ia langsung melepaskan cengkeraman tangannya dari leher Rahman.


"Lain kali aku tidak akan melepaskan kesempatan berharga seperti ini, beruntung sekali kau masih bisa lolos hari ini!" Kata Alvian dan ia segera berlalu meninggalkan Rahman yang terkapar di lantai, dengan nafas tersengal dan wajah yang hampir tidak dikenali, karena banyaknya luka lebam bahkan darah mengalir dari sudut bibir dan hidungnya.


Alvian memang terkenal dengan temperamennya, siapapun yang mengganggu dan menyakiti adiknya, akan berakibat sama seperti Rahman.


"Apa yang kau lakukan pada Adik Iparmu?"tanya Rohim setelah Avian membuka pintu.


"Tidak melakukan apa, dianya saja yang lemah." Sahut Alvian dengan entengnya padahal ia sudah membuat Adik Iparnya hampir mati.


❄️❄️❄️


Via yang melihat noda darah di jari-jari Alvian sudah bisa menduga, jika Rahman telah terluka parah, namun sebisa mungkin ia tidak ingin merasa khawatir lagi dengan lelaki itu, meskipun hatinya sangat mencemaskan Rahman.


Rohim yang menyadari, jika putrinya mengkhawatirkan keadaan Rahman.


Segera menghubungi seseorang untuk menuju ke Rumah Rahman dan membantu lelaki ke Rumah sakit.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


"IBU, sini Bu, cepat kesini."


Teriak Rohmah sesaat setelah ia membuka pesan di ponselnya.


"Ada apa Rohmah, kenapa kau teriak-teriak seperti ini, ibu sedang beristirahat!"kesal Jubaidah yang lagi-lagi istirahatnya diganggu.


"Ibu lihat ini, aku sangat yakin setelah ibu melihat ini, ibu pasti akan melupakan istirahat ibu itu. Dan langsung berbahagia." Kata Rohmah dengan sumringah.


Jubaidah segera meraih ponsel yang disodorkan oleh Rohmah.


Dan seketika, dua bola mata yang sudah keriput itu membelalak sempurna.

__ADS_1


Dengan teliti wanita itu membaca deretan pesan teks yang ada di ponsel Rohmah.


Sebuah pesan panjang, yang memberi laporan pada Rohmah, tentang tragedi yang baru saja terjadi di rumah Via dan Rahman.


"Rohmah, cubit lengan ibu, dan pastikan jika ini bukan mimpi,"ujar Jubaidah tanpa mengalihkan pandangan dari pesan teks itu.


"Tentu saja ini bukan mimpi Bu, ini nyata. Via telah pergi, ia menyerah. Kalau ibu tidak percaya rasakan ini." Rohmah berkata sambil mencubit kuat tangan Jubaidah.


"Aaaaw! Sakit Rohmah!"teriak Junaidah.


"Kan ibu sendiri yang meminta di cubit."


"Iya, dan ibu tidak merasakan sakit, itu artinya ini nyata? Via pergi, menantu yang tidak berguna itu telah pergi?" Jubaidah benar-benar, girang setengah mati, sampai ia melompat-lompat seperti anak kecil yang baru saja di belikan mainan baru.


"Iya Bu, Via pergi."


Hahaha


Kedua wanita itu terbahak-bahak. Merasakan kesenangan yang luar biasa di hatinya.


"Ayo, Rohmah. Kita harus merayakan kemenangan kita."


"Iya bu, kita harus benar-benar merayakan kemenangan ini, ya tuhan aku bahagia sekali."


Kedua wanita itu benar-benar puas. Mendengar kabar jika Via di bawa pulang oleh orang tuanya.


Sementara ada mata lain yang tengah memperhatikan kebahagiaan mereka berdua.


Yaitu Rania dan Rudi.


Rania benar-benar merasa miris dengan kelakukan ibu dan kakaknya. Bisa-bisanya mereka berbahagia di atas penderitaan orang lain.


Tanpa sepengetahuan Jubaidah dan Rohmah, Rania keluar Rumah, ia ingin menemui Rahman, Rania rasa pasti kakaknya itu tengah bersedih.


Dan Rudi,


lelaki itu hanya mengukir senyum, dan berkata.


"Memuakkan sekali, berbahagialah istri dan mertuaku sayang. Sebelum menantu kesayangan ini meminta di manja." Ujar Rudi, dengan tatapan penuh arti pada Mertuanya.


Bersambung......


❄️❄️❄️❄️❄️❄️


Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini 🙏


Minta dukungannya ya 🙏


Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini 🙏

__ADS_1


Lope banyak-banyak untuk semuanya ❤️❤️❤️


__ADS_2