Istriku Boros! Menantu Yang Tidak Di Inginkan

Istriku Boros! Menantu Yang Tidak Di Inginkan
Rudi Membawa Putri


__ADS_3

Selamat! Membaca 🤗


Tanpa memperdulikan Jubaidah, Rudi masuk ke dalam kontrakan untuk mencari anaknya.


"Mas Rudi!"Rania keluar dari kamar ketika mendengar keributan di luar.


"Di mana Putri?"tanya Rudi.


"Ada di...!"


Sebelum Rania menyelesaikan perkataannya Rudi sudah terlebih dahulu menerobos memasuki kamar yang ia duga Putri berada di sana.


"Papa!"


"Putri, ikut papa ya!"ajak Rudi ketika ia menemukan putri benar berada di dalam kamar.


"Kemana pa?"


"Pokoknya Putri ikut Papa saja, jika putri ikut Papa Putri tidak akan pernah merasakan hidup susah seperti ini, kita akan tinggal di rumah besar."


"Lalu bagaimana dengan Mama, apakah Mama ikut juga?"


"Tidak, mamamu akan tetap di sini."


Mendengar Rudi tidak mengajak serta Rohmah, Putri menolak mentah-mentah ajakan papahnya itu.


Namun Rudi yang tidak terima tetap memaksa Putri untuk ikut dengannya.


"Aku tidak mau pah, Aku mau tetap di sini menjaga Mama, kasihan Mama jika ditinggal mama sedang sakit."


Rudi yang sudah tidak sabar dan tidak mau mendengarkan perkataan apapun lagi segera mengangkat Putri dan keluar dari kamar sana.


Putri berteriak dan memberontak minta diturunkan dari gendongan Rudi, Rania yang berada di sana tidak tinggal diam, ia mencegah Rudi membawa Putri dengan cara menarik tangannya namun hal itu sia-sia karena salah satu dari dua orang yang datang bersama Rudi menahan Rania.


"MAS RUDI!"


Suara teriakan menggema dan itu adalah suara Rohmah, ia langsung keluar ketika mendengar suara Rudi.


"Rohmah!"


Rudi menatap Rohmah yang berpenampilan sangat berantakan, rambutnya acak-acakan wajahnya kumal dan kotor serta baju yang compang-camping.


Rohmah memeluk Rudi sambil terus meracau agar lelaki itu tidak pergi darinya.


Namo Rudi yang merasa jijik dengan wanita itu segera menghempaskannya sampai tersungkur di lantai.


Rohmah meringis kesakitan sementara Jubaidah semakin berteriak menyumpahi menantunya itu.


"Ayo cepat pergi tinggalkan tempat ini!"ajak Rudi kepada dua rekannya.


"Rudi jangan bawa Putri!"Teriak Jubaidah.


"Mas Rudi jangan bawa Putri!"Sambung Rania.

__ADS_1


"Mas Rudi jangan pergi, tolong jangan pergi, jangan tinggalkan aku Mas."Teriak Rohmah.


Namun teriakan dari ketiga wanita itu sama sekali tidak menghentikan langkah kaki Rudi yang membawa serta putrinya, bahkan ia pun tidak menghiraukan tangisan Putri yang minta diturunkan.


Setelah kepergian Rudi dan 2 orang berbaju hitam itu, beberapa warga mendatangi kontrakan Jubaidah.


Mereka menenangkan kedua wanita yang masih berteriak di sana yaitu Rohmah dan Jubaidah sementara Rania sudah nampak tenang dan ia memilih untuk menghubungi Rahman.


Rohmah semakin tidak terkendali sampai warga terpaksa harus mengikat wanita itu.


***


"Mas, hp-mu berbunyi sudah berulang kali, sepertinya ada panggilan apa kau tidak berniat untuk mengangkatnya?"kata Via, yang sudah sekian kali mendengar dering ponsel Rahman, namun lelaki itu enggan mengangkatnya karena ia tengah asik bersama Satria.


"Biarkan saja,"sahut Rahman.


Karena penasaran, Via melihat Siapa yang menelpon Rahman.


"Ini Rania Mas, sepertinya ada sesuatu yang penting sampai ia berulang kali menghubungimu seperti ini."


"Biarkan saja!"sahut Rahman kembali yang tidak peduli.


Kriiiing....


Karena ponsel itu terus saja berdering, Via terpaksa mengangkatnya, suara panik dan gemetar terdengar dari seberang sana, dengan terbata-bata Rania menjelaskan apa yang terjadi di kontrakan.


"Mas, Putri dibawa oleh Mas Rudi secara paksa!"kata Via setelah ia menerima panggilan Rania.


"Memangnya kenapa jika lelaki itu membawa Putri, bukankah dia ayahnya, biarkan saja."Kata Rahman.


"Via sayang!"Rahman bangun dan mendekati istrinya,"Kau sudah tidak perlu lagi memperdulikan mereka, biarkan apapun yang terjadi pada mereka kita tidak perlu ikut campur dan memperdulikannya."Sambung Rahman.


Via tahu seperti apa perasaan Rahman saat ini, lelaki itu pasti sangat membenci Jubaidah, tapi Via merasa salah jika Rahman ikut serta membenci Rania dan Putri karena dua gadis itu tidak bersalah dalam hal ini mereka tidak mengetahui apapun permasalahan dan masa lalu yang menimpa Rahman.


Dengan perlahan, Via memberikan pengertian pada Rahman, dan Rahman pun mendengarkan apa kata Via.


"Baiklah, aku akan kesana."


❄️❄️❄️


Jubaidah berlari dan segera memeluk Rahman ketika lelaki itu baru memasuki pintu kontrakan.


"Rahman, tolong ibu nak, Rudi membawa Putri, entah Rudi membawa Putri kemana, tapi sepertinya Rudi akan berperilaku buruk kepada Putri, tolong Rahman tolong selamatkan keponakanmu,"racau Jubaidah, sambil terus mengguncang tubuh lengan Rahman.


"Cukup!"


Rahman menepis tangan Jubaidah.


Dan hal itu sampai membuat Jubaidah terbelalak, ia sungguh tidak menyangka jika Rahman berani berbuat seperti itu kepadanya.


"Bukankah bagus jika Putri dibawa dengan Rudi, jadi tidak harus menambah beban ibu kan!"


Perkataan Rahman bagai samberan kilat bagi Jubaidah, ia benar-benar tidak menyangka dan tidak menduga, jika Rahman bisa berkata seperti itu.

__ADS_1


"Rahman! Apa yang kau katakan nak?"


Rahman Yang sepertinya sudah jengah harus berpura-pura baik dengan Jubaidah menunjukkan ketidaksukaannya terhadap wanita itu.


"Sudahlah Bu, tidak perlu berlebihan seperti ini hanya karena Putri dibawa oleh Rudi."


"Rahman dia itu keponakanmu, kenapa kau tega berbicara seperti itu, lihatlah kakakmu! sejak tadi ia histeris karena Putri dibawa oleh Rudi, apa kau tidak kasihan dengan kakakmu?"


Rahman mendengus kesal.


"Mas Rahman kenapa?"tanya Rania yang menyadari ada sesuatu yang lain dengan kakaknya.


"Tidak ada apa-apa, aku harus pulang sekarang, karena besok harus mengantar Satria ke dokter. Dan aku juga ingin mencari pekerjaan."Kata Rahman yang ingin beranjak dari sana, Ia benar-benar tidak mau tahu dengan urusan Putri yang dibawa oleh Rudi, dia datang ke sini pun atas permintaan Via.


"Rahman!"Jubaidah segera menahannya, dan ia kembali memasang wajah sedih agar mendapat belas kasih dari lelaki itu.


Rahman semakin muak dengan sikap Jubaidah, ingin sekalinya ia mencincang wanita itu tapi Ia teringat akan perkataan Rohim hingga ia mengurungkan niat kejamnya, tapi tiba-tiba niat serupa kembali terlintas di benak Rahman.


Entah apa yang lelaki itu rencanakan tapi ia memasang senyum indah di hadapan Jubaidah sehingga membuat Jubaidah tenang.


"Maafkan aku Bu, aku hanya sedang lelah, Ibu tidak usah memikirkan Putri, aku akan mencari cara untuk membawa Putri kembali sekarang lebih baik ibu beristirahat."


Rahman menuntun Jubaidah masuk ke dalam kamarnya.


"Rahman kau menyayangi ibu kan?"tanya Jubaidah dengan tiba-tiba.


"Tentu saja tidak! karena aku sangat membencimu sampai urat nadiku."


Namun itu hanya Rahman ucapkan dalam hatinya.


"Iya Bu aku sama seperti dulu tetap menyayangi ibu."


"Kamu akan selalu menomorsatukan ibu kan, dan kamu sudah berjanji akan melakukan apapun untuk ibu."Kata Jubaidah memperingati janji-janji Rahman beberapa tahun yang lalu sebelum ia menikah dengan Via.


Dan semua itu dibalas dengan anggukan oleh Rahman.


"Ibu Jangan memikirkan apapun, beristirahatlah."


Setelah memastikan Jubaidah terlelap, Rahman keluar dan ia duduk di teras rumah. Ia mengeluarkan ponselnya dan mulai melakukan pencarian lewat browser dengan kata kunci (racun apa yang ampuh, untuk memastikan organ vital manusia secara perlahan)


Ya, itulah yang Rahman cari. Ia ingin membalas Jubaidah dengan cara yang sama, meracuni wanita itu secara perlahan, bukan hanya itu, Rahman juga akan membuat Jubaidah merasa sedih dan tertekan batinnya karena ia akan mempermainkan perasaan Jubaidah.


Jubaidah sangat menyayangi Rahman dan wanita itu tidak ingin anak lelaki yang ia rebut dari Mira itu meninggalkannya apalagi sampai membencinya, apa jadinya jika secara perlahan Rahman meninggalkan dan menyakiti hati Jubaidah.


Bersambung...


❄️❄️❄️❄️


Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini 🙏


Minta dukungannya ya 🙏


Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini 🤗

__ADS_1


Lope banyak-banyak untuk semuanya ❤️❤️❤️


__ADS_2