
Selamat membaca 🤗
Jubaidah bangkit kembali, otaknya berputar mencari cara agar aksinya ini tidak di ketahui orang.
Rahman yang saat itu panik, karena Mira semakin kesulitan bernafas, spontan pergi ke arah jendela kamar dan berteriak meminta tolong!
Aksi Rahman semakin membuat Jubaidah panik dan kalap setengah mati, jika warga tau apalagi sampai Husain tau, habis riwayatnya.
Jubaidah melirik Vas bunga yang ada di Nakas samping ranjang Mira, tampa pikir panjang, Jubaidah meraih Vas itu dan ia berjalan menuju Rahman lalu menghantamkan benda keras itu tepat di bagian belakang kepala Rahman.
Jubaidah menggunakan tenaga penuh, hingga satu pukulan saja sudah berhasil membuat Rahman ambruk.
Mira yang menyaksikan itu tentu sangat Shock. Dengan tenaga tersisa yang ia miliki, wanita itu mencoba berteriak meminta tolong. Namu sia-sia karena suara Mira tidak menembus jendela.
Jubaidah yang melihat Rahman tersungkur dengan darah yang mengalir di kepalanya, menjadi gemetar dan ketakutan. Ia menatap pecahan Vas bunga yang berserakan di lantai, sepertinya wanita itu baru menyadari apa yang sudah ia lakukan pada Rahman.
"To.. Tolong.. Tolong!"
Suara Mira melintas di telinga Jubaidah, suara yang lebih terdengar seperti rintihan.
Ia menatap marah wanita itu.
"Ini semua gara-gara kamu, jika kamu cepat mati, tentu aku tidak akan melakukan ini pada anakmu."Kata Jubaidah sambil mencengkram wajah Mira.
Menggunakan tenaga yang tersisa, Mira berhasil menepis tangan Jubaidah dan mendorong wanita itu sampai terjungkal untuk yang kedua kalinya.
"Kurang ajar! kau berani padaku!"Geram Jubaidah, seraya membangkitkan tubuhnya.
PLAK!
Jubaidah melayangkan pukulan di wajah Mira, dan wanita yang tengah sakit itu langsung ambruk di atas kasur.
Haha...
Hahahaha.....
__ADS_1
"Kau memang sangat lemah Mira, kau tidak akan bisa melakukan apapun untuk putramu itu."Jubaidah berjalan mendekati Rahman yang masih tergeletak di lantai, kemudian ia mengeluarkan sesuatu dari saku celananya.
"Kau lihat ini! ujarnya sambil menunjukkan botol berukuran sangat kecil kepada Mira,"ini adalah racun yang setiap hari aku berikan kepadamu, asal kau tahu saja, dosis yang aku berikan tidak lebih dari sepertiga isi di dalam botol ini kepadamu tapi saat ini aku akan memberikan satu botol penuh secara langsung kepada Putra semata wayang ini,"sambungnya.
"Tidak! jangan Jubaidah, Tolong jangan lakukan itu kepada Rahman. Dia tidak tahu apa-apa masalah kita, apa yang kau inginkan dariku silakan ambil, tapi tolong jangan sakiti putraku,"pintu Mira dengan suara yang sangat lemah.
"Tentu saja aku akan mengambil semua kepunyaanmu, tapi sebelum itu, aku ingin kau melihat putramu meregang nyawa tepat di hadapanmu."
Jubaidah berjongkok dan mulai membalikkan tubuh Rahman, Ia membuka tutup botol kecil dan mengarahkan itu ke mulut Rahman yang sudah ia renggangkan sebelumnya.
"Jangan! Jubaidah, Tolong jangan lakukan itu kepada Rahman."
Namun tentu saja Jubaidah tidak mendengarkan permintaan Mila, dengan senyum iblisnya wanita yang sudah dikuasai iri dengki itu memasukkan secara perlahan cairan yang ada di botol transparan ke mulut Rahman.
Dengan tenaga yang sudah habis Mila menguatkan kakinya untuk berjalan mendekati Jubaidah dan ia mendorong kembali wanita itu, hingga membuat botol yang coba indah dan terpental.
Jubaidah geram, emosinya semakin tidak terkontrol ia benar-benar kesetanan. dengan kejam Jubaidah mencekik leher Mila.
"Mati kau wanita sialan!"
Mila memberontak dengan menggerakkan kaki dan tangannya berusaha mendorong Jubaidah, namun tentu saja itu tidak berhasil. Dan semakin lama gerakan Mila pun semakin melemas dan terhenti.
Menyadari korbannya sudah tidak bergerak Jubaidah melepaskan cengkeramannya, Iya memeriksa denyut nadi Mila dan benar saja Wanita itu sudah tidak bernyawa lagi.
tanpa Jubaidah sadari, Rahman menyaksikan itu semua.
Ya, Rahman masih bisa membuka matanya dan menyadari apa yang terjadi, tapi karena racun yang bereaksi cepat membuat seluruh anggota tubuhnya tidak bisa bergerak bahkan untuk berucap. Membuat Rahman hanya bisa meneteskan air mata ketika Zubaidah mengeksekusi ibunya.
Setelah itu Jubaidah memanggil rekannya untuk meminta bantuan.
"Sepertinya anak ini mati, kau bawa mayatnya jauh dari rumah ini dan buang di jurang yang ada di jalan menuju ke sekolahnya, dengan begitu orang-orang akan mengira jika Rahman mati karena tergelincir di jurang."
"Baik! kau tenang saja ini akan menjadi urusan saya,"ujar orang suruhan Jubaidah.
Suasana yang sepi di siang hari karena semua warga tengah berada di kebun teh untuk bekerja menjadi kesempatan emas untuk Jubaidah dan orang suruhannya membawa Rahman pergi tanpa diketahui siapapun.
Dan setelah itu Jubaidah membaringkan kembali Mila di atas ranjang dan menyelimutinya dengan rapih, wanita itu sudah menyiapkan skenario yang mulus untuk ia perankan sendiri.
✨✨✨✨
"Milaaaa!"
__ADS_1
Tangis pecah menggema di kediaman Mila terutama Husain, lelaki itu benar-benar sangat terpukul atas kematian istrinya, begitu juga dengan warga yang tinggal di sekitar sana mereka sangat kehilangan sosok Mila yang begitu dermawan dan baik hati.
Tidak ada yang menaruh curiga atau kejanggalan pada kematian Mila, mereka mengira jika Mira mati karena penyakit yang dideritanya selama ini.
Dan di kesempatan inilah Jubaidah mulai masuk dan berperan layaknya Bidadari penyemangat Husain.
("Anak ini masih hidup, apa yang harus aku lakukan?")
Satu pesan teks maksud di ponsel Jubaidah, yang membuat wanita itu terkejut seketika.
Dengan spontan Jubaidah menyuruh orang suruhannya untuk membawa Rahman ke sebuah alamat, dan alamat itu adalah rumah Mbah Gede sekutunya selama ini.
✨✨
Rahman dinyatakan hilang, bahkan di hari ketiga Mila meninggal Husain belum bisa menemukan keberadaan Rahman, pihak sekolah mengatakan jika para siswa pulang lebih cepat dari jam biasanya, karena Guru ada rapat mendadak.
orang-orang mengira Rahma diculik atau mengalami kecelakaan.
✨✨✨
Dan selama 3 hari itulah Rahman mendapat perawatan di rumah Mbah Gede, Jubaidah yang awalnya ingin menyingkirkan Rahman berubah pikiran karena ia tertarik untuk memiliki anak itu.
Ia meminta Mbah Gede untuk melakukan apapun agar Rahman melupakan kejadian naas tiga hari yang lalu dan menganggapnya sebagai ibu kandung yang paling ia sayangi dan cintai sepanjang hidupnya.
Meskipun Mbah Gede mengatakan jika resikonya besar, tapi Jubaidah tetap menyanggupinya hingga kedua orang itu melakukan beberapa ritual untuk mengguna-guna Rahman, dan menghilangkan ingatannya, setelah semuanya berhasil Jubaidah kembali memulangkan Rahman dengan berpura-pura jika ia menemukan Rahman di tengah jalan kepada Husein.
Sejak saat itu di kepala Rahman hanya tertulis nama Jubaidah yang harus dia utamakan, ia sangat menyukai bahkan menyayangi Jubaidah, Rahman jugalah yang meminta Husein untuk menikah dengan Jubaidah. Hingga Husain tidak ada pilihan lain, demi menyenangkan hati putranya ia rela menikah dengan Jubaidah.
2 tahun pasca pernikahannya dengan Jubaidah, Husein meninggal dunia karena sakit-sakitan akibat dia terlalu memikirkan dan bersedih atas kehilangan Mila.
Setelah kepergian Husain, semua harta waris jatuh ke tangan Rahman tapi di kelola oleh Jubaidah, Ia menjualnya berikut rumah dan kebun teh yang dimiliki Husein dan pindah ke kota tempat tinggalnya saat ini.
Bersambung.
❄️❄️❄️❄️❄️
Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini🙏
Minta dukungannya ya 🤗
Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini 🙏
__ADS_1
Lope banyak-banyak untuk semuanya ❤️