Istriku Boros! Menantu Yang Tidak Di Inginkan

Istriku Boros! Menantu Yang Tidak Di Inginkan
Membandingkan Via


__ADS_3

Selamat Membaca πŸ€—


Rahman hanya bisa diam saja tanpa melakukan pembelaan sedikitpun pada Via ketika Jubaidah berkata kejam pada Istrinya.


Sementara Rohmah dan yang lainnya mengukir senyum puas karena Via benar-benar dipermalukan di tengah-tengah Keluarga itu.


Via melangkahkan kakinya masuk ke dalam Kamar dan melihat Satria di sana.


❄️❄️❄️


POV Via.


Aku kesal dengan Mas Rahman, bisa-bisanya dia diam seperti itu ketika Ibu dan Mbak Rohmah mempermalukan aku di depan Selvi dan Mas Rudi.


Sebenarnya aku sudah sangat terbiasa dengan perkataan pedas Ibu Jubaidah, tapi entah kenapa malam ini hatiku terasa lebih sakit dari yang biasanya.


Mungkin karena, selain Ibu mencaci aku dengan sebutan menantu boros dan pengangguran, beliau juga membanding-bandingkan aku dengan Selvi dan Mas Rudi.


Membuat hatiku terasa perih.


Padahal jika di pikir.


Tentu saja aku tidak bisa di bandingkan dengan mas Rudi bukan?


dia itu laki-laki yang memang harus bertanggung jawab atas keluarganya,


masa Ibu membandingkan aku dengan menantu kesayangan laki-lakinya itu tentu tidak bisa dong.


Aku kan wanita, lagi pula jika Mas Rahman mengizinkan aku bekerja tentu aku pun sudah berangkat bekerja dan menjadi wanita karir seperti Selvi.


Mengingat nama Selvi aku semakin kesal, karena mereka membanding-bandingkan aku dengan Selvi yang semakin cantik dan pintar.


Memang penampilannya sangat menakjubkan, dulu wanita itu memang selalu tampil cantik dan sekarang ia kembali dengan penampilan yang jauh lebih cantik.


Entah kenapa tiba-tiba aku merasa nyeri di dada ketika mereka membandingkan aku dengan gadis itu, apa mungkin karena Gadis itu dulu pernah dijodohkan dengan Mas Rahman jadi hatiku merasa tidak nyaman.


Tapi biarlah, toh Mas Rahman sekarang sudah menjadi suamiku kan!


Selvi juga tidak mungkin kan kembali menginginkan Mas Rahman yang sudah mempunyai Istri dan Anak.


Sepertinya Gadis itu sangat baik, dan kami sudah sempat mengobrol tadi bahkan dia juga sempat membelaku di meja makan tadi.


Aku berharap Selvi benar-benar baik dan tidak mempunyai maksud apapun dengan kedatangannya di Rumah Ibu mertua.


Aku memutuskan pergi dari perkumpulan Keluarga itu.


Aku beralasan ingin melihat Satria yang tengah tidur,


tapi niatku berubah karena aku kesal dengan Mas Rahman yang hanya bisa diam saja ketika Ibu dan Mbak Rohmah menggunjing dan merendahkan aku.


Aku segera menarik kain gendongan dan mengangkat Satria yang masih tertidur.


Ya.


Aku memutuskan untuk pergi dari Rumah itu, terserah jika Mas Rahman tidak mau ikut pulang denganku, aku bisa pulang sendiri karena jarak Rumah aku dan Rumah Ibu tidak terlalu jauh kan.


Setelah memastikan Satria aman dan nyaman dalam gendonganku.

__ADS_1


Aku keluar dari Kamar yang dulu menjadi Kamar Mas Rahman.


❄️❄️❄️


"Kau mau ke mana?"tanya Mas Rahman ketika melihatku sudah rapi menggendong Satria dan menenteng Tas.


"Pulang!"sahut ku dengan singkat karena aku masih kesal dengan Mas Rahman.


"Pulang!"tiba-tiba Ibu berdiri dari duduknya dan langsung meletakkan tangan di atas pinggang,"kau mau pulang begitu saja setelah perutmu kenyang makan di sini, dasar wanita pemalas!"


Aku sudah tidak memperdulikan lagi ocehan Ibu dan aku akan tetap pulang ke Rumah.


"Ini sudah malam bu, jadi aku harus segera pulang ke Rumah, kasihan Satria."


"Kau memang akan pulang Via, tidak mungkin kau menginap di sini karena di sini tidak ada Kamar untukmu. Tapi sebelum pulang kau harus membersihkan dan mencuci semua piring ini dulu, kau jangan seenaknya pergi begitu dong."Ibu kembali mengeraskan suaranya.


"Benar! Sudah kau menumpang makan di sini, kau malah seenaknya pulang dengan perut terisi penuh,"dan Mbak Rohmah maupun tidak tinggal diam karena ia langsung menyahuti omongan ibu. Dia bagai api yang langsung menyambar ketika bertemu bensin.


Mereka berdua sangat kompak dalam hal memaki dan menjatuhkan ku.


"Sudah Tante, Mbak Rohmah. Tidak apa-apa jika Via mau pulang, lagi pula ini memang sudah malam kan tidak baik jika Satria berada di luar Rumah malam-malam begini, biar aku yang akan membersihkan dan mencuci piring."


Selvi sepertinya benar-benar baik karena cuma dialah satu-satunya orang yang membelaku di sini.


"Kau lihat ini Via! Selvi saja yang sebagai tamu di sini menawarkan dirinya untuk membantu Ibu, lalu kau yang berstatus sebagai menantu di keluarga ini malah memberi contoh yang tidak baik. Kelakuanmu tidak mencerminkan sebagai menantu."


Aku sudah tidak mendengarkan lagi ocehan Bu Jubaidah karena kupingku sudah cukup kebal untuk mendengar makiannya hanya saja aku merasa malu di depan Mas Rudi dan Selvi.


Yang bikin aku tambah malu dan kesal, kelakuan Mas Rahman. Bisa-bisanya dia hanya duduk santai mendengarkan ocehan Ibu yang sudah keterlaluan pada Istrinya.


Aku mengatur emosiku agar tidak terpancing oleh mereka, karena aku tidak mau membuang-buang tenaga untuk berdebat dengan mereka.


Karena jika harus adu mulut, tentu aku akan kalah jika dihadapkan dengan mbak Rohmah dan Ibu Jubaidah.


Aku bersikap seperti tidak mendengarkan ocehan Mbak Rohmah dan Ibu Jubaidah.


Dan aku lebih memilih berbicara dengan Mas Rahman.


"Mas, Aku mau pulang sekarang. Karena ini sudah larut tidak baik jika Satria harus berada di jalanan selarut ini,"kataku yang bermaksud mengajak Mas Rahman pulang.


"VIA! apa kau tidak mendengarkan kata-kata Ibu!"


bentak Mbak Rohmah dengan sangat keras sampai membuat gendang telingaku berdengung mendengar suaranya yang seperti gluduk itu.


"Aku dengar Mbak, tapi aku memang harus pulang sekarang karena ini sudah larut. Soal mencuci piring, bukankah Selvi menawarkan diri untuk membersihkan meja dan mencuci semua piring yang kotor di sini, jadi tidak masalah kan jika aku pulang sekarang. Seperti apa yang dikatakan Ibu dan Mbak Rohmah, Selvi ini gadis yang sangat baik dan pengertian, sudah pasti dia akan membantu Ibu di sini untuk membersihkan meja,"setelah mengatakan itu aku beralih pada Selvi sambil tersenyum ramah dan manis,"benarkan Sel, kau akan membantu Ibu dan Mbak Rohmah untuk membersihkan meja makan ini?"


Aku melihat raut terkejut di wajah Selvi, aku juga bingung kenapa dia bisa terkejut!


apa karena aku secara tidak langsung memintanya untuk membersihkan meja dan mencuci piring?


tapi bukankah ia yang menawari jasa itu!


dan aku tidak boleh menolak kebaikan seseorang kan?


"Iya, biar aku yang akan membersihkan semuanya,"akhirnya Selvi pun menyanggupi itu.


"Mbak Rohmah dengar sendirikan jika Selvi tidak keberatan."

__ADS_1


Mbak Rohmah semakin menajamkan dan mengeraskan rahangnya, jika tidak banyak orang di sini mungkin ia akan menyerangku secara fisik.


"Jadi bagaimana Mas, apa kau mau ikut mengantarku pulang atau tetap di sini?"tanyaku pada Mas Rahman yang masih diam seperti manekin di depan Toko.


"Aku akan....!"


"Rahman tetap di sini,"sahut Ibu yang memotong ucapan Mas Rahman.


"Tapi Bu," Mas Rahman terlihat keberatan dengan perkataan Ibu yang menyuruhnya tetap berada di Rumah itu.


"Sudah Rahman kau diam di situ, biarkan Istrimu yang pemalas ini pulang sendiri."


Aku masih melihat dan menunggu reaksi Mas Rahman, apakah dia akan kembali mendengarkan perintah Ibunya ataukah ia kali ini memilih untuk mengantarku pulang ke Rumah.


Setelah beberapa detik aku menunggu tapi tidak melihat reaksi apapun dari Mas Rahman selain ia menunduk dan tidak berani berkata apapun lagi.


Aku sangat mengerti dengan reaksi itu, seperti biasa Mas Rahman tidak akan pernah bisa menolak apapun yang dikatakan oleh Ibunya.


"Baiklah. Kalau begitu kau di sini saja Mas temani keluarga berhargamu ini. Aku pulang dulu. Assalamualaikum."


pamitku dan langsung melangkahkan kaki menjauh dari mereka.


"Via tunggu!"


Mas Rahman mengejarku, sepertinya ia sedikit mempunyai rasa kasihan entah untukku atau untuk Satria jika membiarkan kami pulang ke Rumah berdua di malam yang larut seperti ini.


Meskipun jarak Rumah kami dekat tapi mungkin Mas Rahman mengkhawatirkan aku dan Satria.


Aku yang terlanjur kesal tidak memperdulikan panggilan Mas Rahman, dan tetap melangkahkan kaki menuju ke pintu keluar.


"Via tunggu!"Mas Rahman mencekal lenganku.


"Ada apa lagi Mas, kau tidak mau mengantarku pulang kan! jadi kembalilah ke dalam, aku dan Satria akan pulang ke Rumah, temani saja keluargamu ini."


"Via jangan seperti ini, tunggulah sebentar kita akan pulang bersama."


"Tunggu sebentar!"


"Iya, kau turuti dulu apa yang Ibu katakan lalu setelah semua itu selesai kita akan pulang."


Dengan kuat aku menepis tangan Mas Rahman yang masih mencekal lenganku.


"Tidak perlu mas, kau tidak perlu mengantarku pulang, aku bisa pulang sendiri. Jika aku hanya diminta untuk membersihkan dan mencuci piring kotor di sana tentu saja aku tidak akan keberatan Mas, tapi ocehan Ibu dan kakakmu itu sudah lebih dari pisau tajam yang mengiris hatiku."


"Via kau jangan baper seperti ini."


Bersambung......


❄️❄️❄️❄️❄️


Terimakasih sudah berkunjung ke cerita iniπŸ™


Minta dukungannya ya πŸ€—


Tolong koreksi jika ada kesalahan dalam tulisan ini πŸ™


Lope banyak-banyak untuk semuanya ❀️❀️❀️

__ADS_1


__ADS_2