
Selamat! Membaca 🤗🤗
Via benar-benar tidak menyangka, jika kejadiannya akan seperti ini.
Dengan cepat Rahman berlari mendekati Jubaidah.
"Bu tenang Bu, Ibu jangan seperti ini. Kita bisa bicarakan ini baik-baik."
"Rahman! Cepat kau katakan pada orang-orang ini jika rumah ini adalah milikmu bukan milik Via."
"Maaf Bu, rumah ini memang bukan milikku, ini rumah Via dan ayah Rohim yang membangunnya untuk Via. Ibu jangan khawatir aku akan menyewakan tempat tinggal untuk Ibu, jadi Ibu tenanglah!"kata Rahman yang berusaha meraih benda tajam yang ada di tangan Jubaidah.
Nafas Jubaidah semakin naik turun ia benar-benar merasa ditampar ribuan kali mendengar pembenaran dari Rahman jika rumah itu memang bukan miliknya, padahal sejak tadi Jubaidah kekeh dan ngotot sampai ia harus berbuat anarkis seperti ini untuk meyakinkan bahwa rumah itu memang milik Rahman.
Beberapa orang yang menyaksikan mulai berbisik-bisik, ada yang menggunjing Jubaidah dengan mengatakan bahwa ia tidak tahu malu yang ingin menguasai rumah orang lain.
Tapi tidak sedikit juga ada yang menggunjing Via, mereka mengatakan jika Via kejam dan tega mengusir Ibu mertuanya sendiri dengan cara seperti ini.
Alvian yang melihat Via datang bersama Rahman tentu saja menjadi marah.
"Via, kenapa kau bisa datang bersamanya?"
"Itu nanti aku ceritakan Mas, sekarang aku minta pada mas Alvian tolong hentikan semua ini. Tolong bubarkan kerumunan polisi yang ada di sini, perbuatan seperti ini menakuti Rania dan Putri Mas?" Pinta Via.
"Mas tidak perduli, toh ini semua karena ulah mertuamu itu, jika saja ia percaya dan mau pergi dari rumah ini secara baik-baik semua tidak akan terjadi kan! jadi jangan salahkan Mas yang melakukan semua ini sampai mereka benar-benar keluar dari rumahmu."
"Astaghfirullah, Mas Vian. Tapi tidak seperti ini, kita tidak boleh berbuat sekasar ini pada orang lain, apa bedanya Mas Alvian dengan Ibu Jubaidah jika Mas Alvian berbuat seperti ini? Ayah pasti marah jika Mas Alvian bertindak dengan cara seperti ini. Mas lihat kan banyak orang yang menonton dan menyaksikan kejadian ini, mereka pasti menganggapku menantu yang kejam yang telah mengusir Ibu mertuanya sendiri, dengan cara yang memalukan seperti ini."kata Via yang sudah tidak bisa mengontrol emosinya.
"Yang dikatakan adikmu benar Vian. Dengan kita mengambil cara seperti ini itu sama saja kau menjatuhkan nama adikmu sendiri, lihatlah mereka memandang sinis Via." Sambung Wisnu, padahal sejak tadi lelaki itu sudah mengatakan hal ini kepada Alvian namun lelaki yang sedang dikuasai emosi itu sama sekali tidak mendengarkan perkataan Wisnu.
Namun ketika Via yang mengatakannya Alvian jadi merenung dan berpikir jika apa yang dikatakan Via dan Wisnu ada benarnya, Alvian juga menatap di sekeliling, puluhan pasang mata menatap tajam Via dan mulai berbisik-bisik sambil mendelik-delikkan matanya.
"Maafkan Mas Vian,"ucap Alvian dengan sangat menyesal kepada adiknya.
"Kalau begitu tolong hentikan semuanya Mas, dan ayo kita segera pulang. Biarkan Dulu mereka di sini, masih ada cara lain yang jauh lebih baik, tidak dengan cara seperti ini Mas."
Alvian mengangguk, dan ia membubarkan semuanya, Alvian juga meminta para polisi untuk membubarkan kumpulan warga dan mengunci mulut mereka jika ada yang membicarakan Via.
Setelah situasi cukup tenang, dan kumpulan para warga sudah musnah.
Rahman membawa Jubaidah yang sudah bisa mengontrol emosinya ke dalam rumah.
"Putri, sudah tidak apa-apa, sekarang kau masuk ke dalam ya." Kata Via yang menuntun Putri untuk masuk ke dalam rumahnya.
"Apa polisi itu akan datang lagi tante dan mengusir kita dari sini?"
Mendengar perkataan bocah yang masih polos itu hati Via benar-benar tidak tega.
"Tidak sayang. Tante yang akan menjamin jika polisi itu tidak akan datang lagi ke sini."
"Terima kasih Tante Via."Ujar Putri seraya memeluk Via begitu juga dengan Rania yang sangat berterima kasih kepada Via, karena kehadirannya bisa menghentikan kekacauan yang terjadi di sana.
Mata Via teralihkan kepada Rohmah yang tengah terkulai di teras rumah.
"Kenapa Mbak Rohmah?"tanya Via kepada Rania, dan tanpa sungkan Rania pun menceritakan apa yang terjadi kepada Rohmah.
"Astaghfirullahaladzim!"
Meskipun Via dan Rohmah tidak pernah akur, dan Via lebih sering merasa kesal dengan kakak iparnya itu tapi ia sungguh tidak tega ketika melihat kondisi Rohmah yang seperti saat ini.
"Apa sudah dibawa ke Dokter?"
__ADS_1
"Belum Mbak, tapi secepatnya kami akan membawa Mbak Rohmah ke Dokter."
Via mengangguk sambil terus menatap Rohmah dengan penuh iba.
"Semoga Mbak Rohmah segera pulih kembali."Gumamnya.
"Rahman, kenapa sebelumnya kau tidak bilang pada Ibu jika Rumah ini milik Via?"tanya Jubaidah yang sudah mendudukkan dirinya di sofa ruang keluarga.
"Bu, memangnya kenapa jika sebelumnya aku tidak mengatakan kalau ini bukan Rumahku?"
"Dasar anak bodoh! setidaknya aku tidak malu seperti ini di depan orang banyak, tapi aku akan melakukan segala cara agar rumah ini menjadi milikku.!"
"Kenapa Ibu diam?"
Jubaidah menggeleng, untuk saat ini ia tidak bisa bicara dengan Rahman seperti biasanya karena akhir-akhir ini Rahman sudah berubah, apa lagi tadi Jubaidah melihat jika Rahman sedikitpun tidak menyalahkan Via atau Alvian.
"Aku harus segera memberikan ramuan yang di berikan Mbah Gede pada Rahman."
"Ibu jangan khawatir, aku akan mencarikan tempat tinggal yang layak untuk Ibu dan Rania, tapi tolong Ibu tinggalkan rumah ini."Pinta Rahman.
Yang sontak membuat Jubaidah melotot sampai kedua bola matanya hampir lepas.
"Jadi kau juga mengusir Ibu, seperti apa yang di lakukan istri durhaka mu itu?"
"Bu, jangan bicara seperti itu. Via istriku Bu." Rahman terlihat marah dengan ucapan yang di lontarkan Jubaidah untuk Istrinya.
Secara bersamaan Via dan Alvian masuk.
"Saya, akan memberikan waktu satu Minggu untuk kalian meninggalkan rumah ini." Kata Alvian dengan menatap tajam Jubaidah.
Via hanya bisa menunduk, sebenarnya ia tidak mau, apa lagi ketika melihat Rania dan Putri, bagaimana dengan kedua anak itu jika mereka tidak memiliki tempat tinggal. Tapi Via juga tidak bisa melarang apa yang di inginkan Vian, karena ini memang bentuk pelajaran untuk Jubaidah dan Rohmah.
Rahman mengangguk.
"Via, ayo kita pulang!"
Ajak Alvian, sambil menuntun lengan Via keluar dari rumah.
"Tunggu!"
Cegah Rahman dan ia segera bangkit dari duduknya menghampiri Via dan Vian.
"Via, akan pulang bersamaku Mas."
"Pulang bersamamu! apa kau sudah gila!"
"Tidak! Via istriku Mas, dan aku yang lebih berhak atas Via."
"Lebih tepatnya mantan Istri, karena sebentar lagi kalian akan bercerai."
"Sampai kapanpun aku tidak akan pernah menceraikan Via."
"Kurang ajar!" Alvian yang sudah emosi meraih kerah baju Rahman, dan siap untuk menghajar lelaki.
"Mas Vian jangan!"beruntung Via segera mencegahnya,"lepaskan Mas." Sambung Via sambil menarik tangan Alvian.
Alvian yang geram karena tidak bisa melampiaskan emosinya, hanya bisa menggerang sambil menekan kuat-kuat jari tangannya.
"Apa kalian sudah siap! ayo kita kembali,"Suara Wisnu mencairkan ketegangan, tapi kehadiran lelaki itu justru membuat Rahman semakin panas. Sebelumnya Rahman pernah bertemu dengan Wisnu dan ia tahu, selain Seno Wisnu juga menyukai Via.
Alvia mengangguk.
__ADS_1
"Via, kau pulanglah bersama Wisnu, ada sesuatu yang harus mas kerjakan."
Dan tentu saja kata-kata yang keluar dari Vian membuat Rahman marah.
"Apa-apaan ini Mas, kau menyuruh orang ini untuk mengantar istriku pulang! benar-benar sudah gila."
"Kau bilang apa!"Marah Vian.
"Sudah! Vian, tahan emosimu." Wisnu menarik Vian yang sudah ingin menabrak Rahman.
"Mas Vian, tolong pulanglah bersama Wisnu, aku akan tetap di sini." Sahut Via yang tentu saja membuat Vian terkejut.
"Via, apa lelaki ini mengancam mu?"
"Tidak Mas, ada beberapa barang Satria yang harus aku kemasi."
"Mas, akan menunggu mu!" kata Alvian yang tidak mau meninggalkan Via di tengah-tengah keluarga durjana itu sendirian, ia takut jika mereka melakukan sesuatu yang buruk pada adiknya.
"Mas, Via istriku. Jangan terlalu berpikir negatif, tentu aku akan menjaga dan melindungi Via." Sahut Rahman, yang menyadari kekhawatiran Vian.
"Cih! menjaga dan melindungi! bahkan kau sama sekali tidak melakukan apapun ketika Ibu dan kakak mu menyakiti Via."
Rahman menunduk, ia menyadari kebodohannya itu, dan saat ini ia berjanji tidak akan mengulanginya lagi.
"Sudah mas Vian, aku akan baik-baik saja, tidak ada yang perlu di takuti di sini. Aku minta Mas Vian pulang!" kata Via dengan lembut, sambil mengusap lengan Alvian.
Bukan Via ingin perduli dengan keluarga Jubaidah, tapi ia kembali mengingat rencananya yang ingin mencari tau apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang di sembunyikan Jubaidah, dan Via rasa saat inilah waktu yang tepat untuk memulainya, karena Jubaidah tinggal di rumahnya hingga ia bisa memantau apa saja yang Jubaidah lakukan pada Rahman.
Alvian dan Wisnu pergi dari rumah itu dengan perasaan was-was, namun mereka harus menghargai keputusan Via.
"Terima kasih Via sayang! untuk memilih tetep di sini bersamaku." Kata Rahman dengan wajah bahagia.
"Aku hanya ingin mengemasi barang Satria Mas, setelah itu aku akan pulang ke rumah Ibu dan Ayah." Sahut Via, yang berlalu meninggalkan Rahman.
"Aku akan membantumu mu." Dan Rahman menyusul Via masuk ke dalam kamarnya.
Sementara Jubaidah, sudah di antar masuk kedalam kamarnya oleh Rania.
"Cepat keluar!"usir Jubaidah kepada anaknya.
"Apa Ibu tidak ingin aku temani?"
"Tidak perlu, kau ambilkan saja satu gelas air putih dan baju milik Rahman."
"Untuk apa baju Mas Rahman Bu?"bingung Rania dengan perintah dari ibunya.
"Sudah Rania kau jangan banyak bicara cepat ambilkan saja apa yang Ibu minta."
Dengan takut Rania mengangguk, dan ia segera keluar dari kamar Jubaidah untuk mengambil apa yang diinginkan wanita itu.
Bersambung...
❄️❄️❄️❄️❄️❄️
Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini 🙏
Minta dukungannya ya 🙏
Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini 🙏
__ADS_1
Lope banyak-banyak untuk semuanya ❤️❤️❤️