Istriku Boros! Menantu Yang Tidak Di Inginkan

Istriku Boros! Menantu Yang Tidak Di Inginkan
Harus Mendapatkan Uang


__ADS_3

Selamat! Membaca 🤗


"5 juta!"Rahman terkejut ketika mendengar nominal uang yang diminta oleh Jubaidah.


"Iya, kau pasti punya uang tabungan kan?"


"Astaga Bu. Aku tidak punya uang sebanyak itu, Ibu kan tau sendiri gajiku setiap bulan habis, dan bulan kemarin saja, semua gajiku diambil oleh Ibu. Jadi bagaimana aku bisa menabung."


"Ini karena kau mempunyai Istri terlalu boros, coba Istrimu itu pandai mengelola uang yang diberikan oleh suami, pasti kau mempunyai tabungan kan."


"Sudahlah Bu, lagi pula untuk apa Ibu membutuhkan uang sebanyak itu? Bukankah Mas Rudi baru pulang semalam. Ia pasti memberi Ibu uang yang banyak kan."


Dan Jubaidah pun menjelaskan semuanya pada Rahman, jika Rudi membutuhkan uang 5 juta rupiah untuk mencairkan uangnya yang berjumlah ratusan juta rupiah di tabungannya.


Rahman sama sekali tidak mempercayai alasan Rudi, dan dari sini ia mulai mencurigai Kakak Iparnya itu.


"Kenapa kau malah menuduh Rudi yang tidak-tidak Rahman, jika kau tidak mau memberi pinjaman pada Ibu dan Rohmah, kau tidak perlu menjelek-jelekkan Rudi, dia itu menantu Ibu yang terbaik, sangat jauh berbeda dengan Istrimu."Marah Jubaidah, ketika Rahman mengatakan ketidakpercayaan pada alasan Rudi.


"Bukan seperti itu Bu, tapi ini sungguh tidak masuk akal. Jika Mas Rudi harus mengeluarkan uang sebesar 5 juta untuk biaya Administrasi."


"Sudahlah, jika kau tidak mau membantu Ibu dan Rohmah, tidak perlu banyak bicara. Ibu akan mencarinya di tempat lain, kau memang pelit Rahman, tidak bisa di andalkan."


Rahman hanya bisa mengelus dada mendengar kata-kata Ibunya, yang mengatakan jika ia tidak bisa diandalkan.


Padahal selama ini, Rahman lah yang menjadi tulang punggung Keluarganya. Bahkan Rahman sampai menghidupi Rohmah dan Anaknya selama 2 Tahun, semenjak Rudi berangkat ke luar Negeri karena lelaki itu sama sekali tidak mengirimkan uang sepeserpun pada Istri dan Anaknya.


Rahman menatap kepergian Ibunya, ia tidak bisa protes apalagi melawan pada Jubaidah.


Di depan pintu Jubaidah berpapasan dengan Via yang baru pulang dari warung.


"Ibu, Ibu ada di sini. Kapan datang?"sapa Via. Yang heran dan sedikit terkejut, karena tidak biasanya Jubaidah datang ke Rumahnya sepagi ini, apa lagi di Rumah Ibu Mertuanya itu ada Menantu kesayangan.


"Apa peduli mu, mau saya datang kapanpun itu bukan urusanmu,"ketusnya. Lalu ia menatap jinjingan plastik besar yang ada di tangan Via.


"Begini ya kelakuanmu setiap hari, pagi-pagi sudah menghambur-hamburkan uang dengan berbelanja sebanyak itu."


"Menghambur-hamburkan uang? Aku belanja kebutuhan Rumah untuk satu Minggu kedepan, Bu. Dan asal Ibu tahu saja, aku tidak menggunakan uang Mas Rahman karena uang Mas Rahman bulan ini habis diambil oleh Ibu dan Mbak Rohmah kan. Aku menggunakan uangku sendiri Bu." Sahut Via, yang mulai terpancing.


"Uangmu sendiri!"


Zubaidah terdiam.


Otaknya langsung bekerja dengan keras, dan hasil dari kerja keras Otaknya, Jubaidah menyadari jika Via dulu pernah bekerja di sebuah Perusahaan besar dengan gaji yang menjanjikan.

__ADS_1


Dan sudah pasti Via memiliki uang tabungan yang banyak,


Jubaidah jadi berpikir ingin meminta uang sebesar 5 juta itu pada Via.


Tapi tidak mungkin ia mengatakan itu secara langsung pada Via, dan ia pun kembali lagi masuk ke dalam menyeret Rahman yang tengah bersiap-siap ingin berangkat bekerja menuju Dapur, agar pembicaraan mereka tidak terdengar oleh Via.


Via yang belum mengetahui apapun membiarkan kelakuan Ibu mertuanya yang aneh itu.


Via bergegas masuk ke dalam, dan meletakkan belanjaan di meja lalu menuju Kamarnya.


❄️❄️❄️


"Ada apa Bu, kenapa Ibu menyeretku ke sini?"


"Ibu tau siapa yang bisa memberikan uang 5 juta itu,"kata Jubaidah dengan berantusias.


"Siapa Bu?"


"Via, dulu Via pernah bekerja di Perusahaan dengan gaji yang besar kan. Dan sudah pasti, Via mengumpulkan uang yang sangat banyak Kan!"


Rahman paham arah pembicaraan dari Ibu, dan ia pun langsung mengatakan pada Jubaidah jika Via sudah tidak memiliki uang tabungan lagi.


Karena uang tabungan Istrinya itu sudah habis dipakai biaya berobat Satria.


"Aku tidak tahu Bu."


Ya.


Rahman memang tidak tahu, lebih tepatnya ia tidak pernah mau tahu. Ia membebankan semuanya pada Istrinya.


Dan selama ini Via bisa menutupi kebutuhan sehari-hari mereka dan biaya berobat Satria karena bantuan dari Ibu dan Ayahnya, awalnya Via menolak bantuan dari Ibu dan Ayahnya, tapi setelah dipikir-pikir dan demi kesembuhan Satria. Via pun menerima segala bentuk bantuan yang diberikan oleh Orang tuanya.


Karena Aminah puni melarang Via untuk bekerja jika tidak mendapatkan izin dari Suaminya.


"Kau tidak tahu? Astaga Rahman. Bagaimana kau tidak tahu Istrimu mendapatkan uang dari mana untuk berbelanja sebanyak itu, bagaimana kalau Istrimu mendapatkan uang sebanyak itu dari Lelaki hidung belang."


"Astaghfirullahaladzim, Ibu. Kenapa bicara seperti itu? Via wanita baik-baik Bu, aku tidak suka jika Ibu berkata seperti itu pada Via."


"Ibu kan hanya menduga Rahman, kenapa kau marah. Lagi pula di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin, jika orang sudah kepepet bisa melakukan apapun asal menghasilkan uang."


"Tapi aku tidak suka dengan kata-kata Ibu, Via wanita baik-baik dia tidak mungkin menerima uang dari Lelaki lain."


"Terserah kamu saja Rahman, tapi jangan menyesal jika memang benar Istrimu itu mendapatkan uang dari Lelaki hidung belang, bisa saja, Via menjadi simpanan bapak-bapak yang memiliki uang banyak, selama ini ia menganggap kau tidak pernah mencukupi segala kebutuhan hidupnya. Kau tahu kan Via itu boros! belanja sana-sini menghabiskan uang dengan sesuka hatinya, dia tidak mungkin bisa hidup dengan uang pas-pasan."

__ADS_1


Jubaidah benar-benar ahli dalam menghasut dan memfitnah seseorang, kali ini kata-katanya sungguh kejam.


Dia memfitnah Menantunya sendiri, dengan tuduhan menjadi simpanan lelaki hidung belang, karena ia sering melihat Via berbelanja dan bisa membiayai pengobatan Satria. Sedangkan Rahman tidak pernah memberi Via uang yang cukup karena uangnya selalu dimakan olehnya dan Rohmah.


"Sudah Bu, aku tidak mau mendengar apapun lagi, dan Ibu juga tidak perlu mencari uang 5 juta itu, aku yakin jika uang itu bukan untuk biaya Administrasi Bank seperti yang di katakan Mas Rudi."


❄️❄️


Jubaidah yang tidak berhasil mendapatkan uang 5 juta dari Rahman dan Via, pulang ke Rumah dengan tangan kosong.


Tapi meskipun begitu, Jubaidah tetep mengukir senyum di ujung bibirnya.


Karena, ia berhasil menanam benih keraguan di hati Rahman pada Istrinya.


Ya.


Jubaidah bisa melihat itu semua dari raut wajah Rahman tadi, dan Jubaidah bisa memastikan. Setelah ini, hubungan Rahman dan Via tidak akan baik-baik saja, bahkan Jubaidah sudah menyusun rencana untuk lebih gencar lagi membuat Rahman meragukan kesetiaan Istrinya.


Karena Jubaidah rasa, inilah jalan satu-satunya aga Rahman meninggalkan Via.


Kebahagiaan Jubaidah harus redup untuk sementara, karena sesampainya di Rumah. Rohmah memarahinya karena tidak mendapatkan uang itu.


"Aku tidak mau tau, pokoknya Ibu harus mendapatkan uang itu hari ini juga,"kata Rohmah, dengan nada yang penuh penekanan pada Ibunya.


Jubaidah yang bingung dan tidak punya pilihan lain, terpaksa menghubungi Selvi.


("Berapa uang yang Tante butuhkan?") tanya Selvi dari sebrang sana.


"5 juta, Sel. Kamu bisa kan membantu Tante?"


("5 juta! Tante yakin hanya membutuhkan uang segitu?")


Jubaidah terkejut dengan kata-kata yang dilontarkan oleh Selvi. Awalnya ia mengira jika Selvi tidak akan memberi pinjaman, tapi ternyata. Gadis itu malah menawarkan lebih. Membuat mata Jubaidah seketika berubah warna menjadi hijau.


Bersambung.....


❄️❄️❄️❄️❄️


Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini 🙏


Minta dukungannya ya 🙏


Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini 🙏

__ADS_1


Lope banyak-banyak untuk semuanya ❤️❤️❤️


__ADS_2