
Selamat! Membaca 🤗
Setelah berhasil menggagalkan kegiatan busuk Dewa dan Miranda, serta membebaskan anak-anak tak berdosa, Alvian kembali mengantar Rania serta Putri pulang.
Di sana Rania terkejut melihat Rahman.
"Alhamdulillah, Putri kau baik-baik saja Nak!"Via langsung memeluk anak itu.
"Aku takut Tante, Tante Miranda menyuruh om jahat membawaku dan aku di kurung bersama anak-anak yang lain,"Putri bercerita dengan sedih.
"Astaghfirullahaladzim! Kamu jangan takut lagi, di sini sudah aman."Via kembali memeluk Putri.
"Aku ingin bertemu Mama!"
"Tentu kau harus bertemu dengan Mamamu."Via mengajak Putri ke Ruangan di mana Rohmah berada. Dan wanita yang sedang terganggu kejiwaannya itu langsung berhambur memeluk anaknya sambil terisak.
"Mas Rahman, kenapa ada di sini? Bagaimana dengan ibu?"
"Mas, Sudah meminta suster untuk menjaga ibu sementara. Jika kau ingin menjaga Ibu kembalilah ke Rumah Sakit."
Rania memutuskan kembali ke Rumah Sakit, karena ia tidak bisa membiarkan Jubaidah seorang diri di sana.
❄️❄️
"Mas, bagaimana untuk sementara kita bawa Putri dan Mbak Rohmah tinggal di Rumah?"
Rahman terkejut! Dan tentunya tidak habis pikir dengan niat Via yang ingin menampung Putri dan Rohmah, bukankah selama ini Rohmah selalu berbuat curang padanya dan mereka tidak pernah akur, tapi kenapa saat ini Via malah memperhatikan wanita itu.
"Tidak perlu, biarkan saja Mbak Rohmah dan Putri tunggal di sini."
"Mas, apa kau tega meninggalkan putri dan Mbak Rohmah di sini, bagaimana kalau tiba-tiba Mas Rudi datang dan kembali membawa Putri, hanya untuk sementara waktu Mas, sampai Rania dan ibunya kembali dari Rumah Sakit."
"Baiklah!"
Dengan terpaksa, Rahman menuruti keinginan Via, membawa kakak dan keponakannya.
❄️❄️❄️
Keesokan harinya.
Rudi yang mengetahui Miranda di tangkap polisi bergegas pulang.
"Miranda! Apa kau sudah gila ingin menjual anakku! Dasar wanita Iblis!"Maki Rudi, yang saat ini berada di Polsek untuk menjenguk istrinya.
"Tutup mulutmu Mas! Kau pikir kau punya hak apa berani memakiku seperti ini!"Miranda tidak terima.
"Dasar wanita keparat, kau berani berbicara seperti ini pada suamimu!"
Rudi mencekik Miranda,"Aku akan mengirim mu ke neraka!"
Miranda sampai mendelik-delikkan matanya, menahan sakitnya cengkraman Rudi.
"Pak! Lepaskan! Anda jangan berbuat seperti ini!"
Beberapa polisi menarik Rudi, yang seperti kehilangan akalnya.
"Sebaiknya Bapak keluar dari sini, karena bapak hanya membuat keributan. Atau bapak kami tempatkan di sel, sama seperti istri Bapak!"
Ancam salah satu Polisi, dan berhasil meredam emosi Rudi.
Karena tidak mau membusuk di penjara, Rudi memilih untuk pergi dari sana.
"Dasar, lelaki pecundang, memangnya kau pikir kau hebat, kau akan menjadi gelandangan jika tidak menikah denganku!"
Teriak Miranda, sebelum Rudi menghilang dari pandangannya.
"KAU!"
__ADS_1
Rudi yang mendengar itu, kembali berbalik ingin menerkam Miranda. Namun polisi kembali menggagalkan niat buruknya.
Polisi mengeluarkan Rudi secara paksa dari Polsek.
"Bapak jangan ke sini lagi jika hanya ingin membuat onar."
Rudi melayangkan beberapa pukulan ke udara.
"Sial-sial, awas ku Miranda."
Dan beberapa saat kemudian.
"Putri, aku harus menemui Putri,"gumam Rudi, ketika mengingat akan anaknya.
❄️❄️❄️
"Kau berhati-hatilah di Rumah, Mas berangkat dulu ya."Ujar Rahman.
"Iya, berhati-hatilah Mas."
Rahman mencium kening Via dan juga Satria, setelah melakukan Ritual yang sudah lama tidak mereka lakukan. Rahman pergi untuk bekerja.
❄️❄️
Baru beberapa menit Rahman meninggalkan Rumah.
Rudi datang dengan tergesa-gesa dan wajah yang memerah.
"Di mana Putri!"
Sentak nya pada Via yang tengah membersihkan teras depan rumah.
"Mas Rudi!"
Melihat kedatangan Lelaki itu, Via siap siaga dengan langsung menutup pintu Rumah.
"Via, kau jangan menyembunyikan Putri dariku, aku tau Putri ada di sini, cepat buka pintunya."
"Kau mengusirku!"
Marah Rudi.
Rudi menarik Via agar menyingkir dari depan pintu.
Via menahan Rudi, dan ia melihat Putri dari jendela kaca.
"Putri cepat kunci pintunya,"teriak Via.
Gadis kecil yang ada di dalam Rumah bergegas melakukan apa yang di perintahkan Via.
Ia ketakutan melihat Rudi, takut jika lelaki itu kembali membawanya pada wanita jahat seperti Miranda.
"Via! Jangan sampai kau membuatku nekad untuk melakukan kekerasan!"Ancam Rudi.
Via berteriak meminta tolong. Dan dari teriakan Via itu warga berbondong-bondong datang untuk menolong.
Namun niat baik para warga terhenti ketika melihat Rudi membawa senjata tajam.
"Kalian berani mendekat, saya akan melukainya,"Rudi mengancam warga dengan mengarahkan senjatanya di leher Via.
"Astaghfirullahaladzim! Bagaimana ini!"
"Jika kita nekad, Mbk Via bisa terluka."
"Lalu apa yang harus kita lakukan?"
"Bagaimana kalau kita lapor polisi saja,"usul satu Warga di tengah-tengah kepanikan.
__ADS_1
"Kalian berani melapor polisi, saya akan lebih nekat."Rudi kembali mengancam.
Warga takut. Mereka benar-benar serba salah, hingga merekapun hanya bisa pasrah sambil membujuk Rudi, agar melepaskan Via.
"Putri! Buka pintunya!"Rudi berteriak pada Anaknya yang masih menyaksikan kegilaannya dari balik jendela kaca.
Via menggeleng, memberi isyarat agar Putri tidak membuka pintu.
"Putri, jika kau tidak membuka pintunya, Papa akan melukai Tantemu ini."Sekarang, lelaki pecundang itu mengancam anak di bawah umur.
Putri yang bingung dan tidak mau terjadi sesuatu pada Via, berniat membuka pintu.
Namun ia mendengar suara Satria menangis dari dalam kamar, ia kembali melirik Via dan wanita itu terus menggeleng.
Dan pada akhirnya, Putri mengambil keputusan untuk tidak membuka pintu menuruti perintah Via, ia berlari menuju kamar dan langsung memeluk Satria yang semakin menangis dengan kencang.
"Kurang Ajar!"Murka Rudi, ia mencengkram kuat tangan Via sampai meninggalkan jejak merah dan membiru di sana.
"Rudi, jangan kau bertindak kejam seperti ini!"teriak Warga.
"Saya tidak perduli! Sekalipun saya harus membuat Via mati."
"Astaghfirullah. Dia benar-benar sudah tidak waras."
"Cepat! Minta Putri untuk membuka pintunya!"Sentak Rudi, tepat di wajah Via.
"Tidak! Sadar Mas Rudi, Putri anakmu."
"Justru karena dia anakku, aku ingin bertemu dengannya."
"Tapi tidak dengan cara seperti ini, kau menakuti Putri."
"Aku tidak perduli! Cepat minta Putri untuk buka pintunya."
"Tidak!"
"Baiklah, kau pikir aku bodoh, aku bisa membukanya dengan caraku sendiri."
Rudi berniat mendobrak pintu, tapi Via menghalanginya.
"Via! Kau ingin belati ini berakhir di lehermu?"
Rudi mendorong Via, sampai membentur tembok dan ka kembali mengarahkan belati di lehernya.
BUG!
Via menendang benda pusaka Rudi, sampai membuat lelaki itu mengerang kesakitan.
Namun dengan cepat, Rudi kembali meraih Via dangan menjambak rambutnya.
"Astaghfirullah! kita tidak boleh diam seperti ini, kasih Via!"
warga memberanikan diri maju.
Namun baru selangkah, Rudi nekat menyayat lengan Via.
Warga menyaksikan Via mengerang, dengan darah yang mengalir di tangannya, hingga mereka menghentikan langkahnya untuk menolong Via, karena takut jika Rudi akan semakin menggila.
"Ini karena kau berani melawanku!"Ujar Rudi tanpa merasa bersalah.
Bersambung...
❄️❄️❄️❄️
Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini 🙏
Minta dukungannya ya 🤗
__ADS_1
Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini 🤗
Lope banyak-banyak untuk semuanya ❤️❤️❤️