Istriku Boros! Menantu Yang Tidak Di Inginkan

Istriku Boros! Menantu Yang Tidak Di Inginkan
Tindakan Alvian, Mengisi Jubaidah


__ADS_3

Selamat! Membaca 🤗


"Cuih! Saya rasa anak Aminah yang satu ini benar-benar sudah gila,"gumam Jubaidah.


Dan untung saja, Alvian tidak mendengar gumaman Jubaidah, hingga tidak ada perang dunia terjadi di sana.


"Assalamualaikum Mas Alvian,"sapa Rania yang mencairkan suasana yang sudah sangat tegang.


Alvian melirik, dan baru menyadari adanya Rania di sana.


"Waalaikummusalam, kenapa kau masih di sini apa tidak sekolah?"tanya Alvian, karena ia, sebenarnya tidak mau jika Rania ada di sana dan melihat apa yang akan ia lakukan.


"Tidak Mas, aku...!"


"Cukup!"potong Jubaidah,"Tidak perlu kau terlalu banyak bicara dengan anak saya, sekarang cepat katakan apa yang membawa mu datang ke Rumah saya?"sambung Jubaidah.


"Rumah saya? Apa Saya tidak salah dengar Anda mengatakan jika ini rumah Anda?"


Jubaidah mendelik.


"Tentu saja! Ini rumah dibangun oleh putra saya Rahman, dan sudah pasti ini juga Rumah milik saya,"sahut Jubaidah dengan yakin.


"Kenapa kupingku sakit mendengar ocehan orang tua ini." Kata Alvian sambil mengucak-ngucek telinganya.


"Dasar anak kurang ajar dan tidak tahu sopan santun!"umpat Jubaidah yang marah dan kesal melihat kelakuan Alvian,"Sekarang! lebih baik cepat kalian pergi dari sini sebelum saya mengusir kalian secara paksa."


"Bu, jangan seperti itu." Rania menyentuh lengan Jubaidah, berharap agar wanita itu tenang dan tidak marah-marah.


"Kamu ini apa-apaan sih Rania! Kenapa kamu sangat membela keluarga mereka, apa selama ini kau diberi makan oleh keluarga Aminah?"marah Jubaidah yang menepis dengan kuat tangan Rania.


"Bukan seperti itu Bu, tapi apa Ibu tidak malu pagi-pagi seperti ini berteriak di depan Rumah, lihatlah banyak orang yang memperhatikan Ibu."


Benar saja, beberapa orang yang melintas di depan rumah Rahman tentu saja memperhatikan dan melihat Jubaidah yang tengah meninggikan suaranya di depan Alvian dan Wisnu.


"Vian, sebaiknya kita bicara di dalam, tidak enak jika diperhatikan banyak orang seperti ini."Bisik Wisnu kepada temannya.


Alvian mengangguk dan tanpa permisi lagi ia melangkahkan kakinya memasuki Rumah Rahman dan Via.


"Hei! Apa-apaan ini! Siapa yang mengijinkan kalian masuk ke dalam rumah saya, cepat pergi! cepat kalian pergi dari rumah saya!"teriak Jubaidah yang menggema membuat semua orang memperhatikannya.

__ADS_1


"Sudah Bu Ibu jangan berteriak-teriak seperti ini, ayo kita masuk ke dalam, sepertinya ada yang ingin Mas Alvian sampaikan."Ajak Rania dan segera menarik secara paksa tangan Jubaidah agar masuk ke dalam rumah setidaknya menghindari perhatian para tetangga di sana.


Jubaidah semakin geram ketika melihat Alvian dengan santainya duduk di sofa ruang tamu sambil menggoyang-goyangkan kakinya.


"Ayo Bu, duduk!"ajak Rania, dan dia membantu Jubaidah yang tengah murka namun ditahan untuk duduk di sofa yang persis berhadapan dengan Alvian dan Wisnu.


"Maaf Mas Alvian, sebenarnya apa yang membawa Mas Alvian kemari?"tanya Rania.


"Tidak ada maksud apa-apa, saya hanya ingin melihat Rumah adik saya ini. Dan ternyata Via merawat Rumah ini dengan sangat baik, sepertinya Rumah ini memiliki harga yang cukup tinggi jika dijual."


Jubaidah dan Rania membulatkan matanya, mereka hanya terkejut dengan ucapan yang keluar dari mulut Alvian tanpa tahu maksud dari perkataan itu.


"Apa maksudmu yang mengatakan jika ini ?Rumah Via, asal kau tahu saja ya, Ini Rumah Rahman putra saya."


"Astaga! Sepertinya Putra kesayangan anda itu tidak mengatakan apapun soal Rumah ini, baiklah saya yang akan mengatakannya kepada anda Ibu Jubaidah."


Baik Jubaidah atau Rania harap-harap cemas, dengan apa yang akan dikatakan oleh Alvian.


Jubaidah sendiri sangat yakin, jika Rumah itu adalah rumah Rahman, rumah yang dibangun satu tahun silam.


Namun Alvian tidak mengatakan apapun ia malah memberi isyarat pada Wisnu untuk menjabarkan fakta tentang rumah itu kepada Jubaidah.


BRAK!


Jubaidah menggebrak meja dengan sangat kuat, padahal Wisnu belum selesai dengan penjelasannya.


"Apa kalian tengah membual? Dengan kata-kata dusta yang kau ucapkan? Sekali lagi saya tegaskan Rumah ini milik Putra saya Rahman dan Istrinya yang pemalas dan Boros itu tidak memiliki hak apapun atas rumah ini."


Kata-kata Jubaidah sukses memancing emosi Alvian, tentu saja lelaki itu tidak terima dengan Jubaidah yang menjelek-jelekkan adik kesayangannya.


"Ini Rumah milik adik saya Via, dan yang tidak memiliki hak apapun di sini adalah putramu itu, selama ini dia hanya menumpang hidup dengan adik saya, karena semua uang yang ia miliki kau yang menguasai dan menghabiskannya."


Wajah Jubaidah semakin memerah, jika Jubaidah memiliki sebuah tanduk mungkin ia sudah mengeluarkan tanduk itu dan menyeruduk Alvian saat itu juga.


"Kau jangan coba-coba mengarang cerita,"kata Jubaidah yang masih belum terima dengan apa yang dikatakan oleh Alvian.


Wisnu kembali melakukan tugasnya, Ia membuka tas hitam yang sejak tadi ia jing-jing. Dan di dalam tas hitam itu ternyata berisi dokumen dan sertifikat kepemilikan Rumah, yang tertulis dengan sangat jelas jika rumah itu sepenuhnya milik Savia Putri.


"Memangnya kalian pikir saya akan percaya hanya dengan bukti selembar kertas seperti ini?"Jubaidah masih menolak untuk menerima fakta.

__ADS_1


Dan akhirnya Wisnu serta Alvian menjelaskan semuanya kepada Jubaidah, jika 1 tahun yang lalu, rumah itu dibangun oleh Rohim. Dan Rohim menyerahkan rumah itu kepada putri satu-satunya Savia. Tidak ada sedikitpun uang Rahman yang ikut andil dalam pembangunan rumah itu, bahkan semua isi yang ada di dalamnya pun Aminah yang membelinya.


Raina dan Jubaidah terkejut, Rania masih bisa tenang dan ia yakin jika yang dikatakan Alvian dan Wisnu adalah benar. Tapi berbeda dengan Jubaidah, wanita itu masih kekeh dengan keyakinannya jika rumah itu milik Rahman.


"Sekarang! cepat kalian pergi dari rumah ini saat ini juga."Kata Alvian yang sudah berdiri sambil merentangkan tangan ke arah pintu keluar.


"Tidak! Saya tidak percaya dengan omongan kalian, kalian berniat menipu saya kan hahaha. Tidak akan bisa."


Alvian hanya menggelengkan kepala melihat keangkuhan Jubaidah, lalu ia mengeluarkan ponsel di saku celananya.


"Baiklah! jika Anda tidak mau keluar dari rumah ini dengan cara baik-baik, maka saya akan menggunakan cara lain agar menyingkirkan Anda dari Rumah adik saya, karena sebentar lagi Via dan Rahman akan bercerai Jadi kalian sudah tidak berhak lagi untuk menginjakkan kaki apalagi tinggal di Rumah adik saya." Tegas Alvian kemudian ia menghubungi seseorang.


Jubaidah masih enggan mempercayai dan ia akan tetap tinggal di Rumah itu.


Beberapa menit kemudian.


Orang yang dihubungi Alvian tiba, dan ternyata Alvian menghubungi beberapa polisi untuk ia tugaskan menyeret Jubaidah dan keluarganya dari Rumah itu.


Kedatangan polisi tentu menyita perhatian para warga di sana, mereka berbondong-bondong menuju Rumah Rahman menyaksikan di mana Jubaidah diseret dengan paksa dari rumah itu, Jubaidah yang histeris karena tidak terima tetap bertahan bahkan ia berpegangan ke daun pintu di saat polisi menyeretnya keluar.


Begitu juga dengan Rohmah, wanita yang sedang tidak stabil itu dikeluarkan secara paksa oleh Polisi dari kamarnya, situasi gaduh dan riuh tentu tidak terelakkan di sana, beberapa warga enggan membantu mereka hanya menonton evakuasi keluarga Jubaidah.


"Sudah, Bu. Ini memang Rumah Mbak Via, kita memang harus pergi dari sini Bu, karena ini bukan milik kita."


Sudah puluhan kali Rania membujuk ibunya agar menerima dan pergi secara baik-baik dari Rumah itu tanpa harus membuat keributan dan memalukan seperti ini.


Rania yang bingung harus berbuat apa, segera menghubungi Rahman, namun ponsel lelaki itu masih belum aktif. Dan Rania pun memutuskan untuk menghubungi kakak iparnya yaitu Via.


Bersambung....


❄️❄️❄️❄️❄️❄️


Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini 🙏


Minta dukungannya ya 🙏


Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini 🙏


Lope banyak-banyak untuk semuanya ❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2