Istriku Boros! Menantu Yang Tidak Di Inginkan

Istriku Boros! Menantu Yang Tidak Di Inginkan
Membawa Via Pulang


__ADS_3

Selamat! Membaca 🤗


"Vian, tenangkan dirimu,"kata Rohim, dengan menahan pundak Avian yang sudah ingin bangkit menghajar Rahman.


"Aaah.. Sial, kenapa aku harus menahan diri untuk lelaki brengsek ini,"umpat Alvian Frustasi, sambil mengacak-acak rambutnya, ia benar-benar sudah tidak tahan dengan situasi seperti ini.


"Yah, tolong beri aku kesempatan satu kali lagi, aku berjanji akan memperbaiki semua kesalahanku pada Via, aku akan membahagiakan Via. Aku janji yah, aku sangat mencintai Via, tolong jangan bawa Via." Rahman kembali memohon pada mertuanya, ia benar-benar tidak sanggup jika harus kehilangan Via secepat ini.


"Mencintai Via! Jika kau memang benar mencintai Via, kau tidak akan mungkin bermain gila dengan wanita pilihan ibumu itu,"sahut Alvian dengan geram karena mendengar kata-kata cinta dari Rahman, yang ia anggap hanya bualan semata.


Rahman terbelalak dan mengangkat wajahnya menatap Alvian.


Bagaimana Vian tahu tentang wanita pilihan Ibunya. Begitulah kira-kira yang ada di benak Rahman ketika menatap Alvian.


"Kenapa? Apa kau ingin kembali membual?"sentak Alvian.


"Rahman!"Rohim kembali membuka suaranya, dan Rahman pun kembali fokus pada Ayah Mertuanya.


"Apa kau ingat dengan kata-kata yang pernah saya ucapkan dulu, di saat kua meminang Savia?"


Rahman berfikir, mengingat apa yang di maksud oleh mertuanya.Tapi ia tidak berhasil mengingatnya.


"Jika kau lupa, akan saya ingatkan kembali. Saya pernah bilang padamu. Jika kau sudah tidak lagi menginginkan Savia tolong kembalikan dia pada kami, jangan pernah menyakiti Via dengan kau membagi hati dengan wanita lain, karena itu adalah sesuatu yang paling menyakitkan bagi wanita. Seharusnya, sebelum kau memutuskan untuk menjalin hubungan dengan wanita pilihan ibumu, kau pulangkan dulu Via pada kami, dengan begitu. Kami tidak merasa di khianati oleh mu."


"Tidak! Yah, itu tidak benar,"seketika Rahman panik,"Aku tidak memiliki hubungan apapun dengan wanita lain, itu hanya salah paham. Saya bisa menjelaskan pada Ayah dan Via." Rahman bicara sambil meraih tangan Rohim.


"Aku mohon yah, beri aku kesempatan untuk menjelaskan kesalahan pahaman ini."


"Yah, Via dan Satria sudah siap. Ayo kita segera pulang. Jika terlalu lama bisa kemalaman di jalan."Suara Aminah mengalihkan Fokus Rohim dan Rahman.


"Baik Bu, ayo kita pulang."Sahut Rohim dan ia bangkit dari duduknya.


Rahman semakin di landa ketakutan yang luar biasa, ia takut jika tidak akan bertemu lagi dengan Via dan Satria.


"Yah!" Rahman kembali meraih tangan Rohim.


"Rahman, kami pamit, jika kau rasa, masih ada yang harus di jelaskan, jelaslah pada Via."


"Tidak yah, sudah tidak lagi yang perlu di jelaskan. Ayo kita pulang,"sahut Via.


Dan itu sontak membuat Rahman hancur harapannya.


"Via, aku mohon jangan pergi, tetaplah di sini."Rahman beralih pada Via, ia memegang erat lengan Via, tidak membiarkan istrinya melangkah sedikitpun dari Rumahnya.


"Ibu dan ayah tunggu di luar."Kata Rohim yang mengajak Aminah yang tengah menggendong Satria, ia ingin membiarkan dan memberikan sedikit kesempatan terakhir untuk Rahman dan Via.

__ADS_1


"Via, ayo kita pulang!" Ajak Alvin yang sudah ingin meraih tangan adiknya.


"Alvian!"panggil Rohim, seraya memberi isyarat agar putranya itu ikut keluar bersamanya.


❄️❄️❄️


"Ayah, kenapa membiarkan si brengsek itu berbicara dengan Via?"Protes Alvian pada Rohim ketika mereka sudah berada di depan mobil.


"Berikan sedikit kesempatan mereka Vian, biar bagaimanapun juga Rahman masih suami sah Via, jadi ia harus ijin pada suaminya untuk pergi." Ujar Rohim.


"Tapi aku akan segera membuat si Brengsek itu menjadi mantan suami Via."


"Alvian, tenang Nak. Tidak baik marah-marah seperti itu, lihat banyak orang yang melintas di sini, buatlah ketenangan di rumah adikmu."Sahut Aminah.


Rohim membuka pintu mobil untuk Aminah dan Satria masuk. Sedangkan ia masih menunggu Via keluar dari rumah, bersama Vian yang gelisah sambil menatap pintu rumah Via dan Rahman, Alvian takut jika adiknya itu termakan bujuk rayunya Rahman.


❄️❄️❄️


"Mas, tolong lepaskan aku, Ayah sudah menunggu di luar." Via masih berusaha melepaskan pelukan Rahman.


"Tidak! Aku tidak akan melepaskan mu sampai kau mau tetep tinggal dan mendengarkan semua penjelasanku."


"Mas, jangan seperti ini. Kita bukan anak kecil lagi Mas, tentu kita tahu apa yang terbaik untuk kita."


"Kejam! Bukankah kau sendiri yang menginginkan ini, kau yang menjauhkan dirimu sendiri dari ku dan Satria."


"Via!"


"Sudah mas!"Dengan kuat Via melepaskan pelukan Rahman.


Dan Rahman kembali memeluk Via ketika wanita itu sudah berhasil melepaskan diri.


Rahman memeluk dengan lembut, tidak seperti tadi yang lebih di paksakan.


Pelukan yang sudah sangat lama tidak Via dapatkan dari sang suami, tapi ketika ia kembali mendapatkan pelukan itu. Hatinya sama sekali tidak berdebar seperti dulu.


Apakah benar, cinta Via sudah memudar ketikan hatinya terluka.


Alvian yang mondar-mandir, cemas dan gelisah. Memaksa masuk kedalam Rumah. Ia sudah tidak sabar ingin membawa pulang adiknya.


"Rahman! Brengsek!" Umpat Alvian, yang melihat lelaki itu masih menahan adiknya.


Alvian menarik paksa Rahman yang masih memeluk Via. Dan ia segera mengamankan Via di belakangnya.


Alvian yang ingin menghampiri Rahman di cegah Via.

__ADS_1


"Sudah Mas, ayo kita pulang. Ini sudah sore. Kasihan Satria, dia sedang tidak sehat."


Alvian tentu akan luluh dengan ucapan adik kesayangannya itu.


Ia mengusap wajah Via, yang tanpa wanita itu sadari meneteskan air mata.


"Jangan bilang jika kau menangisi si pecundang itu."


"Tidak mas, ayo kita pulang. Aku lelah." Ajak Via, yang langsung melingkarkan tangannya di lengan Alvian.


"VIA! JANGAN PERGI!"teriak Rahman memenuhi seisi ruangan.


Namun Via tetep tidak memperdulikan teriakan yang menggema dan penuh penyesalan itu. Ia tetep melangkahkan kakinya keluar dari Rumah.


Rumah yang menjadi saksi perjalanan cintanya bersama Rahman hingga akhirnya ia menyerahkan untuk bertahan.


"Masuklah!" Kata Alvian, yang sudah membuka pintu mobil untuk adiknya.


"Alvian, ayo Nak." Kata Rohim mengajak Alvian, karena ia masih menangkap raut tidak puas dari putranya itu.


Benar saja.


Setelah memastikan Via masuk kedalam mobil, Alvian berpamitan untuk kembali masuk kedalam Rumah adiknya.


"Alvian, kau mau kemana, Nak?"tanya Aminah dengan khawatir.


"Ibu dan Via, tunggu sebentar. Aku tidak akan lama." Ujarnya dan langsung berjalan dengan langkah panjang kembali masuk kedalam Rumah yang masih ada Rahman di dalamnya.


BRAK.


Klik!


Terdengar dengan sangat jelas, suara Alvian menutup pintu Rumah dan menguncinya dari dalam.


Bersambung...


❄️❄️❄️❄️❄️❄️


Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini 🙏


Minta dukungannya ya 🙏


Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini 🙏


Lope banyak-banyak untuk semuanya ❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2