
Selamat! Membaca 🤗
Tidak butuh waktu lama.
Rahman dan Via sampai di Rumah Jubaidah, mereka melihat mobil mewah terparkir di depan rumah Jubaidah membuat Rahman dan Via bertanya-tanya! siapakah pemilik mobil ini?
"Apakah Ibu kedatangan tamu? Atau ini mobil Mas Rudi?"tanya Rahman pada Istrinya.
"Aku tidak tahu Mas,"sahut Via yang memang tidak tahu.
"Kalau begitu ayo kita masuk, jika benar ini mobil Mas Rudi, berarti Mas Rudi sudah sukses sampai pulang membawa mobil sebagus ini,"kata Rahman dan segera meraih tangan Via untuk masuk ke dalam Rumah Ibunya.
"Assalamualaikum!"kebetulan pintu Rumah Jubaidah tidak dikunci hingga Rahman dan Via bisa langsung masuk setelah mengucapkan salam.
"Itu suara Rahman! Akhirnya dia datang juga,"kata Jubaidah dengan antusias setelah mendengar suara Putra yang ia tunggu kehadirannya.
Membuat Selvi tersenyum malu-malu.
Jubaidah langsung beranjak ingin menyambut kedatangan Rahman.
Sementara Selvi masih duduk di Ruang Keluarga, sambil menata deguk jantungnya yang berdebar-debar karena mendengar suara Rahman, suara Lelaki yang sampai saat ini masih mengisi pikiran dan relung hatinya.
"Rahman. Kau datang juga nak, sudah lama Ibu menunggumu,"kata Jubaidah dengan riang gembira.
Tapi kegembiraannya itu segera surut ketika melihat Via datang bersama Rahman.
Ia mulai mengerucutkan bibirnya dengan mata yang mendelik ke kanan dan ke kiri sambil mengoceh kecil.
Rahman dan Via segera mengulurkan tangan untuk mencium tangan Ibunya.
"Rahman kenapa kau mengajak Via dan juga Satria?"tanya Jubaidah dengan berterus terang, bahkan ia bertanya seperti itu pun di hadapan Via.
Via yang sudah menduga akan hal ini menjadi biasa saja.
"Ibu, Via ini Istriku. Jadi dia memang harus ikut denganku kan, untuk menyambut kepulangan Mas Rudi."
"Bagaimana Rahman bisa bercengkrama dengan Selvi, jika ada Via dia sini. Menyebalkan sekali."
"Tapi bukan Satria sedang sakit, harusnya biarkan saja Via menjaga Satria di Rumah, tidak baik anak sedang sakit harus dibawa keluar malam-malam begini,"crocos Jubaidah.
"Tidak apa-apa Bu. Via sudah memasangkan mantel yang hangat pada Satria, Ibu tidak perlu khawatir,"kata Rahman yang berpikir kalau Jubaidah mengkhawatirkan kesehatan Putranya. Padahal wanita itu mengkhawatirkan kalau Rahman tidak bisa berbicara dan berdekatan dengan Selvi yang saat ini berada di ruang keluarga, jika Via ikut bersamanya.
"Oh ya Bu. Di depan mobil siapa? Apa Mas Rudi sudah sampai?"
"Belum, Rohmah masih menjemput Rudi di Bandara, dan katanya ada keterlambatan di jadwal penerbangan Rudi, hingga tertunda beberapa Jam. Tapi Rohman sudah mengabari Ibu, sekitar satu jam lagi mereka akan sampai ke Rumah."
"Lalu di depan mobil siapa Bu?"tanya Rahman bingung dan penasaran.
"Nanti juga kau akan tahu mobil mewah di depan itu milik siapa, sekarang ayo masuk ke dalam,"Jubaidah segera menarik tangan Rahman dan mengajak Putranya itu memasuki Ruang Keluarga.
Sementara Via.
Ia biarkan saja menantunya itu berada di Ruang tamu, tanpa berbasa-basi sedikitpun.
"Sudah kuduga akan seperti ini, kehadiranku memang tidak pernah diharapkan oleh Ibu mertuaku. Tapi kenapa Mas Rahman selalu memaksaku untuk datang ke sini,"gumam Via.
Tapi karena penasaran, Via pun mengekori langkah kaki Jubaidah dan Rahman memasuki Ruang Keluarga.
🕊️🕊️🕊️
Langkah kaki Rahman terhenti karena terkejut!
__ADS_1
Ia sangat terkejut dengan sosok wanita yang tengah duduk dengan anggun di sofa berwarna coklat dengan senyum yang merekah.
"Siapa dia Bu?"tanya Rahman yang sepertinya tidak mengenali Selvi.
Jubaidah tersenyum.
"Astaga Rahman! masa kamu tidak mengenali wanita cantik yang sedang duduk itu, dia Selvi. Kau masih ingat kan?"
"Selvi!"Rahman masih mengingat-ingat nama itu, karena terus terang Lelaki itu memang sudah melupakan nama dan wajah Gadis bernama Selvi sejak 2 tahun yang lalu.
"Iya dia Selvi, Gadis cantik yang dulu pernah Ibu jodohkan denganmu. Tapi sayang seribu sayang, kamu menolaknya mentah-mentah dan malah memilih wanita boros seperti Via yang bisanya cuma menghambur-hamburkan uang,"gerutu Jubaidah dengan memelankan kata menghambur-hamburkan uang, karena ia melihat Via berjalan menghampirinya.
"Iya aku sudah ingat,"kata Rahman yang berhasil mengingat nama Selvi,"tapi untuk apa dia datang ke sini Bu?"
"Untuk apa lagi! Selvi ini Gadis yang baik dan penuh perhatian, dia datang ke sini tentu saja untuk bersilaturahmi dengan Ibu,"Jubaidah melirik Selvi,"benar kan nak Selvi?"
"Iya Tante,"sahut Selvi dengan nada manja dan tersenyum cantik.
Via yang sudah berdiri tepat di sebelah Rahman memudarkan senyum di bibir Selvi.
Mata kedua wanita itu saling bertemu dan sepertinya mereka saling mengingat satu sama lain.
Ya. Sebelumnya Selvi dan Via pernah bertemu beberapa kali, dan sampai saat ini mereka masih saling mengingat. Terutama Via yang masih mengingat jelas jika wanita itulah yang di pilih Jubaidah 2 tahun yang lalu.
"Selamat malam Via, Rahman. Bagaimana dengan kabar kalian, udah lama kita tidak bertemu dan sepertinya kalian sudah mempunyai anak,"sapa Selvi dengan ramah, mengurangi kecanggungan antara dirinya dan Via.
Tidak hanya itu,
Selvi juga bangkit dari duduknya menghampiri Via dan ia memeluk wanita itu dengan hangat, lalu berbicara singkat dengan Satria sambil memegang pipinya yang gembul.
"Alhamdulillah aku baik-baik saja, begitupun dengan Mas Rahman. Lalu bagaimana dengan kabarmu?"sahut Via.
Selvi dan Via terlibat obrolan kecil. Sementara Rahman hanya diam saja, ia tidak memperdulikan kehadiran Selvi di sana.
"Boleh aku menggendong anakmu? Ngomong-ngomong siapa namanya?"
"Namanya Satria."
"Wah nama yang bagus!"Seru Selvi.
Selvi terlihat sangat akrab dengan Via dan hal itu membuat Jubaidah menjadi geram.
"Apa-apaan ini! kenapa Selvi malah bersikap baik seperti itu pada Via, ini tidak bisa di Biarkan."
"Via, bisa kau bantu Ibu sebentar ke Dapur,"panggil Jubaidah.
Panggilannya itu bertujuan, agar Via pergi dari Ruang keluarga meninggalkan Selvi dan Rahman berdua saja di sana.
"Iya Bu,"dan Via bangkit dari duduknya.
"Biarkan Satria bersama saya saja, pasti akan kerepotan jika membawa Satria di Dapur,"kata Selvi.
"Terimakasih!"
"Kau tidak perlu sungkan Via, aku sangat menyukai anak kecil,'ujarnya.
Via tersenyum. Dan segera melangkahkan kakinya mengikuti Jubaidah menuju Dapur.
❄️❄️❄️
Seperti yang direncanakan Jubaidah.
__ADS_1
Di ruang keluarga itu hanya meninggalkan Selvi dan Rahman beserta Satria yang masih Bayi.
mata Rahman masih fokus ke layar Televisi yang ada di depannya tanpa menghiraukan kehadiran Selvi yang duduk tidak jauh darinya.
sementara Selvi, terus saja menarik perhatian Rahman dengan ia mengajak bercanda Satria.
Tapi Rahman seperti tuli, tidak mendengarkan ocehan-ocehan manis Selvi yang ia lontarkan pada Bayi itu.
❄️❄️❄️
Di dapur.
Jubaidah dan Via tengah sibuk membuat minuman dan menyiapkan makan malam di meja.
"Via, kau hangatkan sayur ini. Sepertinya ini sudah dingin,"kata Jubaidah.
"Iya Bu,"Via meraih mangkuk sayur yang disodorkan Jubaidah.
Tapi ia sedikit bingung dengan kata Jubaidah, yang mengatakan jika sayur itu sudah dingin, padahal sayur itu masih hangat bahkan panas. Sepertinya sayur itu baru matang.
"Bu, bukankah sayur ini masih hangat bahkan masih terasa panas, kenapa mesti dihangatkan lagi?"
"Kamu jangan banyak tanya Via, kamu tahu apa soal sayur. Sudah cepat hangatkan saja tidak perlu banyak protes!"kata Jubaidah dengan nada galak.
Ia senaja ingin mengerjai Via.
Agar menantunya itu berlama-lama di dapur
Seperti yang Via katakan, sayur itu masih hangat bahkan cenderung panas. Karena memang baru beberapa menit yang lalu sayur itu matang.
Dan tanpa banyak tanya lagi, Via pun segera menyalakan kompor dan memindahkan sayur itu ke dalam panci.
"Kau jangan meninggalkan sayur itu Via, itu sayur SOP yang harus ditunggu sampai benar-benar panas. Ibu mau ke dalam dulu untuk mengambil sesuatu kau tetap di sini jangan kemana-mana,"kata Jubaidah, lalu ia meninggalkan Via sendirian di Dapur.
Jubaidah berjalan menuju Ruang keluarga.
"Rahman! Kenapa kau membiarkan Selvi bermain sendiri bersama Satria,"kata Jubaidah yang memecahkan kediaman Rahman yang tengah fokus menatap Televisi.
"Tidak apa-apa Tante, mungkin Rahman sedang fokus melihat berita. Aku senang kok bermain dengan Satria seperti ini, anak ini benar-benar lucu dan menggemaskan aku sangat menyukainya,"kata Selvi, namun lirikan matanya menuju ke Rahman bukan ke Satria.
Sepertinya Gadis itu lebih menyukai Bapaknya daripada Anaknya.
Jubaidah meraih Satria dari tangan Selvi dan meletakkan Bayi itu ke pangkuan Rahman.
"Maaf Selvi sudah merepotkan mu,"kata Rahman singkat.
"Tidak apa-apa Rahman, seperti yang aku katakan tadi aku sangat menyukai anak kecil."
"Kalau begitu duduklah di sini, jangan berjauhan seperti itu agar kau bisa dekat dengan Satria dan bermain dengan Satria yang lucu ini,"kata Jubaidah sambil menepuk-nepuk sofa persis yang berada di sebelah Rahman.
Bersambung...
❄️❄️❄️❄️❄️
Terimakasih sudah berkunjung ke cerita ini 🙏
Minta dukungannya ya 🙏
Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini 🙏
Lope banyak-banyak untuk semuanya ❤️❤️❤️
__ADS_1