
Selamat! Membaca 🤗
"Mas, apa Mas Rahman yakin membawa pulang ibu dengan kondisi ibu yang seperti ini?"tanya Rania pada kakaknya.
"Tentu saja, kenapa tidak! Bukankah memang lebih baik Ibu dirawat saja di Rumah. Jadi kau tidak perlu repot-repot pulang pergi ke Rumah Sakit, kau harus bersekolah kan."Rahman membeli alasan yang cukup masuk akal karena memang sudah beberapa hari ini Rania mengabaikan sekolahnya demi menjaga Jubaidah di Rumah Sakit.
Dan tanpa bisa berbuat apapun lagi, Rania hanya mengangguk karena saat ini memang Rahman lah satu-satunya keluarga yang ia miliki yang bisa membantu dan menjadi harapanya.
❄️❄️
Jubaidah kembali dibawa ke kontrakan.
"Rahman apa kau belum menyiapkan Ibu tempat tinggal yang layak,"kata Jubaidah. Padahal Ia tengah sakit tapi masih sempatnya memikirkan tempat tinggal yang layak, karena ia masih belum Sudi dan ikhlas jika harus tinggal di kontrakan itu.
"Bagaimana aku bisa memberikan tempat tinggal yang layak dari ini Bu, jika uangku sudah habis terlebih dahulu, untuk membiayai pengobatan Ibu di Rumah Sakit. Ibu tahu tidak! jika biaya Ibu selama beberapa hari di Rumah Sakit sudah sangat besar."
Jubaidah sampai terbengong melihat ekspresi Rahman tanpa bersalah berucap seperti itu, bahkan ia sampai mengungkit soal biaya padanya biasanya Rahman tidak pernah hitung-hitungan seperti ini.
"Rahman ada apa denganmu nak?"
"Ada apa!"bingung Rahman menanggapi pertanyaan Jubaidah,"Tidak ada apa-apa denganku, sudahlah lebih baik Ibu beristirahat. Aku ingin berangkat bekerja."
Rahman meninggalkan Jubaidah begitu saja.
Melihat raut wajah Rahman yang nampak lain dengan tutur kata yang tak berperasaan, Jubaidah menaruh curiga padanya.
Di tenaga sisa yang ia miliki, Jubaidah meraih ponsel, dan menghubungi seseorang.
Mbah Gede, ya. Dukun itulah yang saat ini ingin Jubaidah hubungi, namun ia sungguh terkejut! Di saat Jubaidah tidak bisa menghubungi Mbah Gede, tiba-tiba seseorang memberinya kabar bahwa Mbah Gede menghilang entah ke mana.
Pria tua itu tidak meninggalkan pesan atau jejak apapun, ia menghilang bagai ditelan bumi.
"Menghilang."
Mendengar sekutunya sudah menghilang, membuat Jubaidah kaku dan membisu, ia bingung harus melakukan apa tanpa penunjuk dari pria yang sudah selama 20 tahun mendampinginya.
"Apa yang harus aku lakukan?"Kata Jubaidah dengan panik.
Ia terus meracau dalam hatinya.
"Jika Mbah Gede tidak ada, aku tidak bisa mengobati dan mengembalikan Rohmah seperti dulu, aku juga tidak bisa membalas perbuatan Rudi dan beberapa preman yang sudah membuatku seperti ini."
__ADS_1
Jubaidah yang memang sejak dulu selalu bergantung pada Mbah Gede menjadi panik ketika mendapati pria itu menghilang, ia benar tidak tahu harus melakukan apa tanpa bantuan pria yang bernama Mbah Gede itu, karena ialah selama ini orang di balik layar kekejaman Jubaidah.
Di saat emosinya tidak stabil, Jubaidah kembali merasakan sakit bagai tertusuk-tusuk di dadanya, bahkan ia jauh merasakan sakit dari yang biasanya, jika beberapa hari yang lalu bagai ditusuk jarum kali ini bagai ditusuk busur panah. Ia sampai meringis dan mengeluarkan air mata menahan sakitnya.
Jubaidah meraih botol obat yang ia bawa dari Rumah Sakit, Dokter di sana berkata, jika obat yang ada di dalam botol tersebut adalah obat pereda nyeri yang sering dialami Jubaidah.
Tanpa Jubaidah sadari dan tahu ternyata Rahman sudah menukar semua isi yang ada di botol obat tersebut dengan obat yang sudah ia sediakan sebelumnya.
Sebenarnya, bukan obat yang disediakan Rahman, karena lebih tepatnya itu adalah racun yang sengaja ia masukkan di dalam kapsul persis seperti obat yang diberikan oleh Dokter.
Karena sakit yang tidak bisa ia tahan, Jubaidah menelan 2 butir kapsul sekaligus.
"Kenapa akhir-akhir ini dadaku sering sakit,"kekuh Jubaidah sambil memukul-mukul kecil dadanya
Mengabaikan rasa sakit, Jubaidah mengingat putrinya Rohmah yang saat ini tengah menjalani pengobatan di Rumah Sakit Jiwa.
"Jika seandainya, ritual itu berhasil,tentu kau tidak harus berada di Rumah Sakit gila itu, ini semua karena Alvian, dia yang sudah mengacaukan dan menggagalkan ritual itu, aku harus menuntut balas pada lelaki itu, karena percuma Rohmah tidak akan pernah sembuh sekalipun selama bertahun-tahun ia dirawat di sana.
Kata Jubaidah dengan yakin jika putrinya tidak akan pernah sembuh jika melakukan pengobatan lewat medis karena ia sangat percaya apa yang dikatakan oleh Mbah Gede, jika Rohmah akan kembali sembuh jika mantra yang salah sasaran itu dikeluarkan dari tubuh Rohmah dan diberikan pada inang baru.
Jubaidah meraih tongkat yang bersandar di tembok, ya saat ini Jubaidah harus menggunakan tongkat untuk membantunya berjalan.
"Ibu Jubaidah sudah pulang dari rumah sakit?"sapa seorang warga yang melihat Jubaidah tengah berdiri dengan penyangga tongkat menatap p halaman.
Jubaidah hanya menyehutinya dengan senyuman malas.
"Apa Ibu Jubaidah tidak bisa berjalan kembali atas tragedi kemarin?"Tanya Warga yang lainnya.
"Sudah! Diam kalian, jika kalian di sini hanya untuk menggunjing saya, lebih baik kalian prgi dari sini."
Jubaidah yang salah paham, mengira sapaan warga sebagai gunjingan untuknya.
"Kami bukan bermaksud untuk menggunjing ibu, kami hanya bertanya pada ibu Jubaidah saja."
"Sudah pergi sana! tidak usah bertanya dan sok perhatian pada saya, urus saja diri kalian sendiri dengan benar."Usir Jubaidah.
"Wanita aneh, kenapa dia malah marah-marah, padahal kita hanya menyapa tidak lebih, pantas saja ia diberi musibah seperti itu karena kelakuannya memang sangat buruk,"Dumel Warga.
❄️❄️
Via yang berada di dalam Rumahnya tengah berkemas dan membungkus beberapa makanan, hari ini ia berniat mengunjungi Jubaidah, karena selama di Rumah Sakit Rahman tidak mengizinkannya untuk menjenguk wanita itu, tapi sekarang ia sudah mendapatkan izin dari sang suami.
__ADS_1
❄️❄️❄️
Sementara di tempat lain.
Rania tengah pontang-panting berkeliling kota mencari pekerjaan paruh waktu. Ya, di tengah kesulitan ekonomi keluarganya ditambah Jubaidah sakit dan Rohmah juga berada di Rumah Sakit Jiwa, Rania memutuskan untuk bekerja paruh waktu, agar ia bisa membiayai sekolahnya dan mengurus Putri karena ia merasa membebani Rahman serta Via jika harus menyerahkan semua kebutuhan Putri kepada mereka.
Hingga sudah sore menjelang malam seperti ini, Rania belum pulang karena belum mendapatkan pekerjaan.
Mata Rania tertarik pada selembaran yang menempel di kaca pintu minimarket, yang bertuliskan (Dibutuhkan pekerja paruh waktu, yang ditempatkan di gudang. Usai Min 17 tahun. Bekerja mulai pukul 14:00-22:00)
Rania sangat tertarik dengan pengumuman itu. Dan tanpa ragu Rania masuk ke dalam minimarket untuk menanyakan secara langsung tentang lowongan di sana.
"Benar Mbak, tapi apakah mbaknya bisa bekerja di bagian gudang, maksud saya, apakah mbaknya sanggup karena sesungguhnya kami membutuhkan tenaga laki-laki,"ucap seorang wanita yang bekerja sebagai kasir di Minimarket tersebut.
"Sanggup Mbak, saya terbiasa dengan pekerjaan seperti ini karena dulu saya sering membantu Ibu saya, tolong beri saya kesempatan untuk membuktikannya."Sahut Rania dengan mantap.
"Baiklah kalau begitu, Mbaknya sekarang ikut saya, saya akan mengantarkan ke Bos kami, karena beliaulah yang bisa memberi keputusan."
"Iya, baik. Terima kasih banyak!"
Rania sangat senang, karena ia berkesempatan untuk mendapatkan pekerjaan.
Ia di bawa ke sebuah ruangan yang ada di bagian paling belakang Minimarket tersebut.
Setelah Karyawan wanita itu mengetuk pintu dan mendapat izin untuk masuk, ia mendorong pintu dan masuk di ikuti Rania di belakangnya.
"Maaf Pak, ada yang ingin melamar pekerjaan, dengan posisi yang kita butuhkan saat ini,"kata Kasir yang bernama Feby itu, menyampaikan maksud kedatangannya.
Lelaki yang tengah duduk, dengan posisi membelakangi, memutar kursi ke arah dua gadis yang tengah berdiri, menunggu respon dari lelaki tersebut.
Bersambung...
❄️❄️❄️❄️
Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini 🙏
Minta dukungannya 🤗
Tolong koreksi jika ada kesalahan dalam tulisan ini 🙏
Lope Banyak-banyak untuk semuanya ❤️❤️❤️
__ADS_1