Istriku Boros! Menantu Yang Tidak Di Inginkan

Istriku Boros! Menantu Yang Tidak Di Inginkan
Membawa Via Pergi Jauh


__ADS_3

Selamat! Membaca 🤗


POV Rahman.


Aku benar-benar tidak menyangka jika Via sampai mengambil keputusan ini, bahkan sampai menghubunginya orang tuanya untuk menjemput.


Aku pikir dengan aku meminta maaf seraya memohon dan membujuk, Via akan luluh dan mengurungkan niatnya untuk pergi.


Tapi aku salah! Dan aku baru menyadari jika selama ini aku benar-benar telah menyakiti hati Via. Perkataan ayah Rohim dan Via istriku, seakan menampar ku ribuan kali, air mata yang tiba-tiba mengalir dari mata indah Via membuat hatiku tersayat-sayat dan hancur, dulu aku pernah berjanji tidak akan membiarkan Via menangis, tapi kenyataannya, akulah yang membuat wanitaku itu menangis.


Kenapa aku bisa sebodoh dan sejahat ini. Aku benar-benar tidak menyadari jika kedekatanku dengan Selvie membuat Via terluka. Dan perlakuan Ibu serta mbak Rohmah juga menyakiti Via, sedikitpun aku tidak pernah membela Via ketika ibu dan mbak Rohmah menggunjing, menghina, dan menjatuhkannya.


Bahkan akhir-akhir ini aku benar-benar tidak lagi memperhatikan putra semata wayang kami.


Astaghfirullah. Aku benar-benar menyesal, aku tidak bisa dan tidak mau kehilangan Via ku. Aku akan tetap memperjuangkannya.


Meskipun si temperamen Alvian menghalangiku, aku akan tetap memperjuangkan Via dan Satria. Aku akan membujuk ayah Rohim dan Ibu Aminah aku sangat yakin mereka akan mendengarkanku dan memberi aku kesempatan.


Aku yang terkulai di lantai karena dihajar habis-habisan oleh mas Alvian, mencoba untuk bangkit dan mengejar Via.


Aku tidak mau mati dulu untuk saat ini karena aku belum meminta maaf dan menebus semua kesalahanku pada Via.


Namun, ketika aku mencoba bangkit dan berdiri tiba-tiba pandanganku kabur dan rasa nyeri di seluruh tubuhku semakin terasa, lelaki itu benar-benar seperti iblis ketika sedang marah. Bahkan dia hampir membunuhku.


BRUK..


Karena sudah tak kuat lagi aku pun kembali terjatuh hingga tak sanggup lagi untuk bangkit.


❄️❄️❄️


Aku kembali tersadar, dan mendengar suara riuh dari mbak Rohmah, ibu serta Raina, aku pikir aku sudah berada di akhirat. Tapi setelah mendengar suara-suara mereka aku sadar jika aku masih berada di Dunia.


Setelah membuka mata dengan lebar dan memastikan sekeliling, ternyata aku tengah berbaring di ranjang Rumah Sakit. Entah siapa yang membawaku ke sini, tapi aku sangat berterima kasih pada siapapun itu.


"Mas Rahman! Sudah sadar!"seru Rania ketika melihatku membuka mata.

__ADS_1


Aku masih belum bisa merespon dengan baik semua yang ada di sana, karena kepala dan tubuhku terasa kaku dan nyeri.


Ibu langsung menghampiriku.


"Rahman, akhirnya kau sadar juga nak. Mana yang sakit? Ini pasti ulah kakaknya Via kan! dia memang benar-benar seperti monster, tega membuatmu seperti ini,"ucap Ibu dengan wajah sedih sambil terus memegang tanganku.


"Aku tidak apa-apa Bu,"sahut ku dengan suara pelan lebih terdengar seperti rintihan karena wajahku benar-benar merasakan sakit dari lebam-lebam ini.


"Tidak apa-apa bagaimana, kau sudah hampir dibuat mati seperti ini masih bilang tidak apa-apa. Ibu akan melaporkan ini pada polisi, karena Alvian sudah menyiksamu, Rahman dia harus dipenjara."


Aku menggeleng.


"Tidak Bu, ini salahku."


"Rahman, kamu jangan terus-terusan membela lelaki itu dia harus bertanggung jawab atas penganiayaan yang ia lakukan padamu."


Ibu benar-benar sangat bernafsu ingin melaporkan mas Alvian pada pihak berwajib, namu, aku akan tetap menghalanginya. Karena jika Ibu sampai memperkarakan ini, itu akan semakin mempersulit ku untuk membawa Via kembali pulang.


"Sudah Ibu, biarkan dulu Mas Rahman beristirahat. Jangan marah-marah seperti ini,"kata Rania yang langsung menghentikan ocehan Ibu.


Aku melihat Rania hanya tertunduk ketika Ibu marah-marah padanya. Ya, selama ini hanya Rania lah yang selalu membela Via, dan aku harus berterima kasih pada adikku ini karena selama ini ia selalu mempercayai dan menjaga perasaan Via.


\*\*\*\*\*\*


POV Author.


Rahman benar-benar sudah menyesal atas semua yang pernah ia lakukan pada Via, meskipun Ia melakukan semua itu tanpa sadar, tapi luka yang ditorehkan di hati Via benar-benar sangat nyata terutama luka atas hubungannya dengan Selvi. Tentu Via tidak akan bertahan jika suaminya membagi hati pada wanita lain, seorang wanita akan bertahan seperti apapun kondisi dan keadaan suaminya. Tapi tidak akan bisa bertahan jika suaminya membagi hati pada wanita lain.


Saat ini Via sudah sampai di rumah orang tuanya dan Aminah segera membawa Via ke dalam kamar untuk beristirahat.


Rohim tengah mencecar Alvian, atas tindakan Alvian yang membabi buta menganiaya Rahman, menurut orang yang ditugaskan Rohim membawa rahmat ke Rumah Sakit, luka yang dialami lelaki itu cukup serius dan bahkan, ketika ia membawa Rahman ke Rumah Sakit dalam kondisi tidak sadarkan diri.


Tapi Alvian selalu merasa jika apa yang ia lakukan pada Rahman adalah benar dan memang seharusnya ia lakukan agar lelaki itu sadar dari kebodohannya selama ini.


❄️❄️❄️

__ADS_1


Beberapa hari berlalu.


Rahman masih dirawat di Rumah Sakit dan belum diizinkan pulang oleh Dokter padahal lelaki itu memaksa pulang agar ia bisa menjemput Via.


Di tempat lain, Alvian tengah mempersiapkan segala kebutuhan Via dan Satria, karena Alvian ingin membawa Via pergi jauh dari Kota itu. Iya benar-benar ingin memisahkan adiknya dari Rahman.


"Apa Ibu akan ikut?"tanya pria pada Aminah yang masih menggendong Satria.


"Ibu hanya akan mengantarmu dan menginap beberapa hari di sana Sayang, setelah itu Ibu akan kembali lagi ke sini."Sahut Aminah yang sebenarnya ragu melepaskan Via jauh darinya.


"Ibu dan Via tidak usah khawatir, di sana tempat yang aman dan ada Bude juga yang akan menjaga dan membantu Via merawat Satria. Aku akan menjenguk Via setiap satu Minggu,"sahut Alvian memastikan agar ibunya tidak khawatir dengan adiknya yang ia pindahkan di luar kota.


"Lalu bagaimana dengan perawatan Satria? Bukan ksatria masih menjalani pengobatan?"


"Ibu jangan khawatir, Dokter Bram. Dokter yang pernah merawat Satria di tugaskan di Kota itu. Aku sudah menghubunginya dan memintanya untuk menjadi dokter pribadi Satria, ia yang akan memastikan kondisi Satria, akan selalu baik-baik saja."


Aminah mengangguk. Alvian benar-benar sudah menyiapkan semuanya dan Aminah sudah tidak bisa lagi menghentikan keinginan putranya untuk memindahkan Via ke luar Kota, karena Via pun menyetujui usulan dari Alvian beserta Rohim yang sama sekali tidak keberatan.


"Kita berangkat sekarang."Ucap Alvian setelah memastikan semua barang-barang dan keperluan sudah tersusun rapih di mobil.


"Maafkan ayah yang tidak bisa mengantarmu, hari Minggu nanti ayah pasti akan datang, jaga dirimu baik-baik di sana."kata Rohim sambil mengusap lembut rambut putrinya.


"Tidak apa-apa Yah, aku tahu Ayah sangat sibuk. Ayah jangan terlalu mengkhawatirkan ku, aku dan Satria pasti akan baik-baik saja."


Setelah berpamitan dengan ayahnya, mobil yang di kendari Alvian melesat menjauhi kediaman Rohim, bahkan mungkin Alvian tidak akan lagi membawa adiknya ke Kota itu.


Bersambung....


❄️❄️❄️❄️❄️


Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini 🙏


Minta dukungannya ya 🙏


Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini 🙏

__ADS_1


Lope banyak-banyak untuk semuanya ❤️❤️❤️


__ADS_2