Istriku Boros! Menantu Yang Tidak Di Inginkan

Istriku Boros! Menantu Yang Tidak Di Inginkan
BAB 9. Mengetahui Rahasia Besar Ibu Mertua


__ADS_3

Selamat! Membaca 🤗


❄️❄️❄️❄️❄️


Dalam hati Jubaidah berkata. Dari mana Via tahu.


Via kembali menyunggingkan senyum tipis di ujung bibirnya.


Dan ia meraih tangan Jubaidah untuk mencium punggung tangan yang mulai keriput itu, karena Via memutuskan untuk pulang ke rumahnya.


"Tunggu! Sialan, kau mau kemana! Urusan kita belum selesai Via,"Rohmah sudah ingin mencegah langkah kaki Via.


Tapi hal itu segera di tahan Jubaidah.


Dan meminta Rohmah untuk membiarkan Via pergi.


❄️❄️❄️❄️


POV, Via.


Aku kembali terlibat perdebatan dengan mas Rahman, dan tentu itu di karenakan Ibu nya.


Aku kesal dan marah karena mas Rahman tidak pernah mendengarkan apa yang aku katakan, bahkan aku tidak di beri kesempatan untuk menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya.


Tapi percuma juga, sekalipun aku memberikan penjelasan pada mas Rahman ia tentu tidak akan mungkin mempercayai omonganku.


Dia akan lebih mendengarkan omongan Ibunya.


Hari ini mas Rahman menyuruhku, lebih tepatnya memaksaku untuk meminta maaf pada Ibunya dan kakaknya.


Tentu tidak ada pilihan lain bagiku selain menuruti permintaan mas Rahman.


❄️


Aku dan mas Rahman menikah sudah 2 tahun lamanya. Dan pada awalnya pernikahan kami berjalan dengan baik-baik saja, bahkan dengan penuh keharmonisan.


Tapi seiring berjalannya waktu, tepatnya setelah aku memutuskan untuk berhenti bekerja karena harus merawat putraku.


Kehidupan rumah tangga kami mulai berubah drastis.


Mas Rahman. Selalu mengatai aku Boros dan menghambur-hamburkan uang yang ia berikan.


Padahal itu semua tidaklah benar.


Ia memberi aku uang setengah dari gajinya, yaitu Rp 2500 000.


Dan itupun masih ia potong untuk uang bensinnya selama 1 bulan sebesar Rp 1000 000 Dan sudah beberapa bulan ini uang itu masih juga di potong karena mas Rahman harus membantu membayar cicilan motor mbak Rohmah,


karena sudah beberapa bulan suaminya yang tengah merantau di luar Negeri tidak mengirim uang dengan alasan, bahwa ia ingin menabung di sana dan akan membawa uang hasil jeri payahnya ketika pulang.

__ADS_1


Jika dulu, hal itu tentu tidak menjadi masalah bagiku, karena aku masih bekerja dan bisa membantu mas Rahman untuk menutupi semua kebutuhan rumah tangga dan biaya berobat Satria.


Dia tidak tahu betapa pusingnya aku harus mengatur uang sisa yang ia berikan padaku.


Kenapa aku menyebutnya uang sisa?


Ya karena mas Rahman memberikan aku uang ketika ia sudah memenuhi kebutuhan keluarganya terlebih dahulu.


Dia tidak tau, setiap bulannya, beberapa uang yang aku keluarkan untuk membayar Listrik Air dan segala macam tagihan yang ada di rumah ini berikut biaya sehari-hari kami makan dan berobat Satria


Tapi dia tidak mau tahu akan hal itu.


Dia hanya mengeluh dan protes, bahkan membandingkan aku dengan Ibunya yang ia sebut sangat pandai mengatur uang yang ia berikan.


Mas Rahman akan marah dan tidak mau makan jika aku memasak hidangan sederhana seperti Tahu dan Tempat goreng.


Bukan aku tidak mau memberikan mas Rahman makanan enak yang mampu menggugah selera makannya.


Tapi aku memasak sesuai dana yang aku punya, bagaimana ceritanya aku memasak daging rendang sedangkan uang yang aku bawa ke tukang sayur hanya Rp 10 000.


Sungguh rasanya aku ingin menjerit keras, untuk memberi pengertian pada suamiku itu.


Tapi ..


Sepertinya!


Aku menjerit sampai otot-otot di leherku putuspun mas Rahman tidak akan mau mengerti.


Bukan ikut campur untuk memberi pengertian pada anaknya itu, tapi ia malah semakin memperkeruh suasana sehingga mas Rahman semakin yakin jika aku ini istri yang sangat boros dan suka menghambur-hamburkan uang suaminya.


Awalnya aku bersabar akan situasi seperti ini, dan selalu menahan diri untuk tidak protes pada mas Rahman.


Apa lagi pada Ibu mertuaku, tentu aku sangat menghormati beliau dan aku sama sekali tidak mau berkata dan bertindak yang mungkin bisa menyinggung perasaannya.


Selama berbulan-bulan aku menahan.


Ejekan.


Hinaan.


Cemoohan.


Umpatan.


Bahkan fitnah, dari ibu mertua dan kakak iparku.


Tapi setelah aku mengetahui sesuatu yang selama ini di rahasiakan dan di tutupi rapat-rapat oleh ibu Jubaidah. Seketika aku mendapatkan keberanian untuk memberontak pada mereka.


Aku tidak akan merasa bersalah karena sudah melakukan perlawanan pada Ibu mertuaku, karena aku melakukan itu untuk membela diri, dan aku akan menggunakan rahasia besarnya sebagai senjataku.

__ADS_1


❄️


Seperti hari ini.


Mas Rahman memintaku untuk minta maaf pada ibu dan Mbak Rohmah, aku memang sudah melakukan itu.


Tapi mereka sepertinya tidak terima dengan permintaan maaf dariku yang memang tidak ikhlas.


Sehingga membuat mbak Rohmah marah besar padaku sampai-sampai ia melakukan kekerasan padaku.


Tapi aku heran dengan ibu mertuaku itu.


Kenapa ia tidak mencegah anaknya yang melakukan kekerasan, ia malah ikut memegangi tanganku sehingga aku tidak bisa menghindar dari amukan kakak iparku itu.


Walaupun pada akhirnya Ibu Jubaidah menyuruh Mbak Rohmah berhenti, tapi itu sudah tidak ada artinya karena darah di dalam tubuhku sudah terlai mendidih.


Sehingga aku pun melakukan perlawanan pada Mbak Rohmah dengan cara menghantam perutnya dan mendorong ia sampai membentur meja.


Aku pun membalas perbuatan Mbak Rohmah yang menjambak rambutku, sungguh aku puas bisa membalas wanita jahat ini.


Jika dulu aku hanya akan diam saja ketika dia memaki bahkan melayangkan pukulan di wajahku tapi untuk kali ini tidak.


Aku tidak mau lagi menjadi pecundang yang hanya diam saja ketika orang lain menindasku.


Orang tuaku sudah susah payah melahirkan dan membesarkan aku dengan penuh kasih sayang dan cinta hingga aku tumbuh dewasa. Dan mereka berani-beraninya memaki, mencemooh, memfitnah bahkan memukulku dengan sesuka hati.


Ibu tidak terima karena aku melakukan perlawanan pada Mbak Rohmah dan ia pun kembali memukul wajahku dan ini sudah kesekian kalinya.


Tentu aku tidak akan membalas perbuatan Ibu mertuaku itu, aku hanya melakukan perlindungan diri agar ia tidak kembali memukul wajahku yang berharga ini.


Dan ketika ia mengancamku dengan mata penuh amarah aku pun langsung melayangkan kata-kata yang membuatnya pucat pasi.


Tentu saja ia akan sangat terkejut dengan ucapanku itu.


Karena aku mengatakan jika aku mengetahui rahasia besar yang sudah bertahun-tahun ia sembunyikan dari mas Rahman.


Aku puas dan bahagia bisa membalas mereka dan aku pun memutuskan untuk kembali pulang ke rumah.


Terserah nanti Ibu dan Mbak Rohmah mau berkata dan mengadu apa pada mas Rahman karena aku sudah siap menerima semua itu.


Dan tentu aku pun akan membela diri ketika mas Rahman kembali menyalahkanku.


Bersambung.....


❄️❄️❄️❄️❄️❄️


Terimakasih sudah berkunjung ke cerita ini 🙏


Minta dukungannya ya 🤗

__ADS_1


Tolong koreksi jika ada kesalahan dalam tulisan ini agar Ntor bisa segera memperbaikinya 🙏


Love banyak-banyak untuk semuanya ❤️❤️❤️❤️


__ADS_2