Istriku Boros! Menantu Yang Tidak Di Inginkan

Istriku Boros! Menantu Yang Tidak Di Inginkan
BAB 26. Melawan Ibu Mertua


__ADS_3

Selamat! Membaca 🤗


Aku menuju dapur untuk mengambil Air dingin berharap bisa mendinginkan hati dan kepalaku yang terasa panas ini.


Aku masih menggerutu pada Via yang semakin kurang ajar!


Dia berani memarahiku, mengusirku dan apa tadi! Bahkan ia ingin kembali bekerja tanpa meminta izin dariku terlebih dahulu.


pokoknya aku tidak akan pernah memberikan izin pada Via untuk kembali bekerja, jika sampai Via kembali bekerja. Mas Alvian pasti mengejek dan merendahkanku, ia akan mengira jika aku tidak mampu membiayai Via dan Satria hingga Istriku itu memutuskan kembali bekerja.


*****


Keesokan harinya.


Aku sengaja tidak berangkat ke Pabrik karena ingin memantau Via, yang aku tahu dia akan pergi jam 10.00 nanti untuk menemui Monik dan tentu saja aku akan melarangnya.


"Kau tidak pergi bekerja Mas?"tanya Via yang melihatku masih bersantai di depan TV.


"Tidak!"


"Kenapa?"


"Aku mau istirahat."


"Kalau begitu, aku titip Satria sebentar karena Jam 10.00 nanti aku ingin bertemu dengan Monik."


Mendengar nama Monik membuat dadaku bergemuru ingin segera mengeluarkan lahar kemarahan,


sepertinya Via tidak mengindahkan peringatanku semalam hingga ia masih berani menemui Monik.


"Via, apa kau tuli? Atau, tiba-tiba kau kehilangan ingatan? aku sudah mengingatkanmu semalam kan jika aku tidak mengizinkanmu untuk bertemu dengan Monik atau siapapun."


"Kau tidak bisa melarangku Mas, kau ingat kan, dulu kau berjanji tidak akan membatasi pergaulanku dengan teman-temanku terkecuali Lawa jenis. Kau tidak boleh mengingkari janji itu Mas. Aku hanya ingin bertemu dengan Monik."


Ya.


Aku ingat dengan janji yang aku ucapkan sebelum kami menikah, tapi mulai dari sekarang aku mencabut janji itu.


"Mencabutnya! Yang namanya janji tetap janji Mas, kau tidak boleh mengingkarinya, apalagi membatalkannya."Protes Via, setelah aku mengatakan jika aku membatalkan janji yang pernah aku ucapkan.


"Apa kau juga lupa kesepakatan kita, jika kau tidak akan kembali bekerja setelah Satria lahir? tapi apa! sekarang kau malah berniat ingin kembali bekerja."


Aku yakin Via pasti tidak bisa berkutik dengan perkataanku ini.


"Itu akan aku lakukan jika kau memenuhi kewajibanmu sebagai seorang suami dan Ayah, Mas, tapi nyatanya apa! Kau malah mengabaikan tanggung jawabmu."


"Mengabadikan tanggung jawabku!" Aku semakin di buat emosi oleh Via.


Istriku ini benar-benar tengah menguji kesabaranku.


"Maaf jika ucapanku membuatmu tersinggung Mas, tapi jika kau tidak merasa, seharusnya kau tidak merasa tersinggung kan."


"Via! Cukup! Apapun yang kau katakan aku tetap tidak mengijinkan mu untuk kembali bekerja dan menemui Monik!"


"Ada apa Rahman. Ibu mendengar suara ribut kalian dari depan."

__ADS_1


Tiba-tiba Ibu muncul begitu saja di hadapan kami.


"Ibu."Aku langsung menghampiri Ibu dan mencium punggung tangannya.


Tapi tidak dengan Via, ia masih berdiri di tempat semula seperti tanpa niat untuk menyambut kedatangan Ibu.


"Via! Apa yang kau lakukan? Cepat! Sambut Ibu dan cium punggung tangannya,"kataku dengan sedikit menyentak Via.


Meskipun dengan raut wajah yang di tekuk seperti tidak ikhlas. Via tetep berjalan dan meraih punggung tangan Ibu.


"Jangan melakukannya jika kau tidak ikhlas, Ibu tidak mau memberikan tangan Ibu ini pada seseorang yang tidak memiliki hati yang ikhlas."


Kata Ibu dan segera menarik tangannya di saat Via ingin meletakkan di puncak kepala.


"Maafkan Via Bu,"aku menyesal dengan sikap yang Via tunjukkan pada Ibu.


Ibu terus berjalan dan mendudukkan dirinya di sofa lalu menyilangkan kaki.


"Sudah Ibu bilang Rahman. Didik istrimu dengan baik, jangan sampai dia bersikap kurang ajar pada Ibu mertuanya ini. Apa dia tidak tahu jika Ibumu ini yang membesarkanmu dari kecil dengan segala pengorbanan. Dan dia hanya tinggal menikmati saja ketika kau besar seperti ini dan memiliki penghasilan setiap bulan,"kata Ibu kembali mengingatkanku karena ucapan ini sudah sangat sering Ibu katakan padaku.


"Sekali lagi maafkan aku dan Via Bu, aku akan lebih menegaskan hal ini kepada Via."


"Ibu percaya padamu nak, tapi sepertinya Ibu tidak percaya dengan Istrimu ini. Selain dia ini pemalas dan boros, dia juga tidak mempunyai sopan santun kepada orang yang lebih tua, entah apa yang diajarkan Aminah pada putrinya ini hingga memiliki sifat yang tidak menunjukkan kesopanan santunannya."


BRAK!


Tiba-tiba Via menggebrak meja setelah Ibu menyelesaikan perkataannya.


Dan tentu saja hal itu membuatku dan Ibu terkejut.


"Diam Mas! Aku hanya ingin bicara pada Ibumu ini."


Aku melihat Ibu bangkit dari duduknya dan segera menghampiri Via. Aku yakin jika Ibu pasti marah besar pada Via dan aku tidak boleh membiarkan ini.


"Bu, maafkan Via Bu. Mungkin dia tidak sadar melakukan itu,"kataku sambil menahan lengan Ibu.


"Cukup Rahman!"Ibu menepis tanganku dengan sangat kuat.


"Jangan pernah kamu membela Istrimu yang kurang ajar ini."


"Aku tidak akan bersikap seperti ini jika Ibu juga bersikap layaknya orangtua."


Astaga! Kenapa Via malah menyahuti ucapan Ibu.


Via benar-benar semakin berani.


"Kau lihat Rahman! Istrimu ini berani berkata dengan nada tinggi seperti itu pada Ibu yang telah membesarkanmu dengan segala pengorbanan."


"Apa ada seorang Ibu yang selalu mengungkit apa yang telah ia lakukan dan berikan pada anak-anaknya."Kata Via yang kembali menyahuti ucapan Ibu.


Aku yang tidak mau ada keributan antara Ibu dan Via segera meminta Via untuk meminta Maaf pada Ibu.


"Aku tidak mau Mas."


"Tapi kau sudah menyinggung Ibu Via?"

__ADS_1


"Ibumu yang terlebih dahulu menyinggung Ibu Ku Mas. Sama sepertimu, akupun akan membela Ibu ku seperti kau membela Ibumu."


"Dasar menantu Durhaka!"


Bentak Ibu.


Namun Via malah tersenyum mendengar kata mengerikan itu.


Yang lebih membuatku tercengang lagi. Via berjalan mendekati Ibu dan ia berkata.


"Aku akan bertindak dan bersikap, sesuai dengan tindakan dan sikap Ibu padaku."


"VIA!"


Aku langsung membentak Via dengan sangat keras.


Dan sedetik kemudian Ibu menjatuhkan dirinya di Sofa.


Hiks...Hiks... Hiks...


Ya. Itu suara Ibu menangis.


Aku benar-benar geram dengan Via. Karena ucapannya sampai membuat Ibu menangis.


Dan bukanya ia meminta Maaf. Via malah berlalu masuk kedalam Kamar tapi sebelum itu ia berkata padaku.


"Mas! Kau lihatkan Ibumu menangis seperti biasa. Tenanglah beliau, aku pergi dulu."


"VIA!"


Aku tau apa maksud Via dengan kata aku pergi dulu.


Aku ingin menyusul Via yang masuk kedalam Kamar, mungkin ia ingin mengambil Tasnya.


Tapi langkahku terhenti karena Ibu menahan tanganku.


"Rahman! Biarkan dia."


"Tapi Bu. Via mau pergi karena semalam ia membuat janji dengan temanya."


"Biarkan Via pergi Rahman!"


Kata Ibu yang tiba-tiba berhenti menangis.


"Kenapa Ibu bicara seperti itu?"


Bersambung....


❄️❄️❄️❄️❄️


Terimakasih sudah berkunjung ke cerita ini 🙏


Minta dukungannya ya, agar Ntor semangat Update 🤗


Lope banyak-banyak untuk semuanya ❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2