Istriku Boros! Menantu Yang Tidak Di Inginkan

Istriku Boros! Menantu Yang Tidak Di Inginkan
Rahman Berani Membentak Junaidah


__ADS_3

Selamat! Membaca 🤗


"Rahman kau mau ke mana? Kau masih sakit Dokter belum mengizinkanmu untuk pulang." Jubaidah tengah mencegah Rahman yang memaksa untuk pulang karena ia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Via. Dan membawanya pulang kembali ke Rumah.


"Aku sudah terlalu lama di Rumah Sakit ini Bu. Aku ingin segera menjemput Via pulang, Via pasti sudah menungguku."


"Menjemput Via pulang! Apa kau sudah gila Rahman, kau masih saja memikirkan Istri durhaka kamu itu."


"Ibu, Ibu tidak boleh bicara seperti itu, Via bukan Istri durhaka, dia Istriku yang terbaik." Rahman tidak terima dengan perkataan kejam dari Jubaidah.


"Istri terbaik katamu, mana ada Istri terbaik dan soleha yang membiarkan Suaminya terbaring di Rumah Sakit selama berhari-hari tanpa menjenguk dan menanyakan kabar. Apa itu yang dinamakan istri terbaik?"


Rahman terdiam. Apa yang dikatakan Jubaidah memang benar, selama Rahman dirawat di Rumah Sakit, Via tidak menjenguknya bahkan untuk menanyakan kabarnya lewat sambungan telepon pun tidak Via lakukan, berulang kali Rahman melakukan panggilan pada istrinya namun ponsel Via tidak aktif.


Taoi kali ini Rahman tidak serta merta membenarkan apa yang diucapkan oleh Jubaidah, di sini dialah yang salah. Via seperti ini karena ulah dan karena kesalahannya, Rahman tahu betul seperti apa Via, jangankan sampai dirawat di Rumah Sakit seperti ini ketika Rahman demam ringan dan batuk saja Via merawatnya dengan sangat baik, namun karena hati wanita itu sedang terluka membuat Via enggan untuk menengok apa lagi merawatnya.


"Sudahlah Bu, aku ingin pulang sekarang."


"Rahman! Kenapa akhir-akhir ini kau jadi membantai Ibu, apa ini semua karena Via, kau jadi durhaka pada Ibumu sendiri? Apa kau lupa Rahman, bahwa Surga itu ditelapak kaki Ibu. Kau harus ingat itu baik-baik."


Jubaidah benar-benar murka ketika Rahman membantahnya. Ya, sudah beberapa hari ini Rahman lebih sering membantah ucapan Jubaidah dari pada mendengarkannya.


"Maaf Bu, bukan maksudku untuk membatah Ibu. Tapi aku mohon pada Ibu, tolong jangan pernah menghina dan menjelek-jelekkan Via, dia Istriku Bu, Menantu Ibu."


"Ibu sama sekali tidak pernah mengharapkan menantu seperti Via, Ibu tidak pernah menyukai dan sampai kapan Ibu tidak akan menerima Via sebagai menantu di keluarga kita, Ibu akan membenci Via dan keluarganya sampai Ibu mati."Jubaidah berkata dengan berapi-api sampai dua bola matanya mendelik, sepertinya wanita itu sangat-sangat membenci Via sampai ke urat nadinya.


Rahman tertegun, lidahnya keluh tak mampu berucap apapun lagi ketika melihat raut kebencian yang luar biasa dari wajah ibunya pada istrinya.


Apa yang membuat Ibu begitu benci pada Via?


Apa yang membuat Ibu sama sekali tidak menyukai Via dan keluarganya?


Bukankah Via wanita baik.


Beberapa pertanyaan muncul di benak Rahman,namunk satupun pertanyaan itu bisa ia jawab.


CKLEEK..


Suara pintu terbuka dan menghentikan ocehan Jubaidah pada menantunya.


"Selamat pagi Rahman, Tante?"


Ternyata yang datang adalah Selvi.


Rahman segera membuang wajahnya ketika melihat kedatangan wanita yang sudah mengacaukan Rumah Tangganya. Berbeda sekali dengan Jubaidah yang langsung berhambur memeluk Selvi.

__ADS_1


"Selvi, akhirnya kamu datang juga, Tante sangat sedih dan terluka melihat keadaan Rahman seperti ini, tidak ada yang bisa menguatkan Tante selain dirimu. Tante senang kamu datang."


"Maafkan aku yang baru bisa datang Tan, karena beberapa hari yang lalu aku pergi keluar Kota untuk mengurusi semua pekerjaan di sana. Tapi disaat aku mendapatkan kabar bahwa Rahman masuk Rumah Sakit aku segera pulang dan datang ke sini, aku sangat mengkhawatirkan keadaan Rahman, Tante."


"Tidak apa-apa Selvi, sekalipun kau datang terlambat untuk menjenguk Rahmat tapi kau jauh lebih baik dari Via yang sama sekali tidak datang untuk melihat suaminya ini."


"Apa! Via tidak datang menjenguk suaminya? Apa via juga tidak merawat Rahman?"


Selvi terlihat terkejut, namun ia sudah tahu semua ini, dia hanya pura-pura tidak tahu dan berekspresi terkejut! untuk menarik simpati dari Jumlah dan Rahman.


"Jangankan untuk merawat. Me...!"


"Cukup Bu!"tiba-tiba Rahman membentak, sepertinya ia sudah tidak mau lagi mendengar Jubaidah menjelek-jelekkan Savia di depan orang lain terutama Selvi.


Jubaidah melotot, ini pertama kalinya Rahman membentak dirinya di depan orang lain, tanpa Rahman ketahui Jubaidah mengepalkan tangannya kuat-kuat dadanya bergemuruh menatap tajam Rahman entah apa yang dipikirkan wanita itu, apakah dia tersinggung karena dibentak oleh putranya sendiri.


"Sudah tante! Mungkin Rahman sedangkan lelah,"Selvi segera menenangkan Jubaidah dan membawa wanita itu keluar dari ruang rawat Rahman.


Rahman sama sekali tidak merasa bersalah karena telah membentak Jubaidah, biasanya ia akan mengutuk dirinya sendiri ketika ia berani berbicara dengan nada tinggi apalagi sampai membentak Ibu kesayangannya itu.


Setelah Selvi membawa Jubaidah keluar, ia kembali masuk ke dalam kamar rawat rahman dan ia meminta maaf atas kesalahpahaman beberapa hari yang lalu tepatnya kejadian di mobil.


Rahman sama sekali tidak menghiraukan celotehan Selvi yang meminta maaf dan menyesal.


Rahman mendengus kesal, bisa-bisanya wanita itu mengatakan cinta pada lelaki yang sudah beristri.


Jika saja Selvi bukan wanita mungkin Rahman sudah menghajarnya, seperti apa yang di lakukan Alvian padanya.


"Rahman, aku...!"


"Selvi, apa kau yang mengirim foto menjijikkan itu pada Via?" Bosan mendengar Selvi. Rahman memotongnya dengan pertanyaan yang sontak membuat Selvi ternganga.


"Apa maksudmu Man, foto apa?"


"Selvi, jangan main-main dengan ku, jangan kau pikir selama ini aku baik dan menuruti semua keinginanmu sekalipun itu demi Ibu, kau bisa memanfaatkannya semuanya. Ingat Selvi! aku tidak akan tinggal diam jika kau menghancurkan keluarga ku."


"Rahman, apa maksudmu, aku benar-benar tidak mengerti."


"SELVI!"bentak Rahman sampai membuat wanita itu kaget dan pucat.


"Katakan apa kau yang mengirim foto itu pada Via?" Rahman kembali mengulangi pertanyaannya, namun dengan nada menekan sampai rahangnya mengeras.


"Rahman! apa yang terjadi, tenanglah aku bisa menjelaskannya padamu."


Rahman mencengkram leher Selvi dengan kuat.

__ADS_1


"Kau belum tau kan siapa sebenarnya aku, jadi jangan pernah main-main dengan ku. Mau kau mengaku atau tidak, aku akan tetap menyalahkan dan memberi perhitungan padamu, jika Via benar-benar tidak kembali padaku." Setelah mengatakan itu, Rahman menghempaskan Selvi.


Uhuk....


Uhuk....


Uhuk....


Selvi sampai terbatuk-batuk, ketika Rahman sudah melepaskan cengkeramannya. Ia tidak menyangka jika Rahman bisa sekasar itu padanya, padahal Rahman terlihat seperti lelaki yang lemah.


"CEPAT! KELUAR DARI SINI"


Tanpa menunggu lama lagi, Selvi segera berlari keluar dari Kamar rawat Rahman.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*


"Uang! untuk apa Mas?"


"Aku ingin berbisnis dengan temanku, dan aku membutuhkan modal untuk itu Roh."


"Tapi aku tidak punya uang sebanyak itu Mas?"


"Kau kan bisa memintanya pada Ibumu."


Dua orang tengah berbicara yang terdengar seperti berdebat, membicarakan soal Uang.


Mereka adalah Rudi dan Rohmah.


Rudi memaksa Rohmah untuk memberikannya uang modal berbisnis bersama temannya.


"Kau tau Rohmah, jika bisnis ku ini GOL keuntungan kita bisa miliyaran!"ucap Rudi meyakinkan Rohmah, dengan nominal yang menggiurkan.


Rohmah terdiam, seketika jiwa miskinnya meronta-ronta. Menginginkan uang yang tidak sedikit itu


Bersambung.....


❄️❄️❄️❄️❄️❄️


Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini 🙏


Minta dukungannya ya 🤗


Tolong koreksi jika ada kesalahan dalam tulisan ini 🙏


Lope banyak-banyak untuk semuanya ❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2