Istriku Boros! Menantu Yang Tidak Di Inginkan

Istriku Boros! Menantu Yang Tidak Di Inginkan
Rahman Dan Selvi yang Semakin Menjadi.


__ADS_3

Selamat! Membaca 🤗


"Via, katakan apa yang terjadi?"tanya Monik yang sangat menyadari, dari raut wajah Via, jika sahabatnya itu tengah menanggung beban pikiran yang teramat berat.


Dan karena sudah merasa lelah, dan tidak kuat untuk menahannya sendiri, Via pun menceritakan semua kegundahan yang tengah ia hadapi.


"Astaga Via! Kau masih mau bertahan dengan keluarga suamimu yang seperti itu?"Monik menggelengkan kepalanya merasa heran dengan temannya itu, yang mau-maunya bertahan sampai saat ini di tengah-tengah keluarga durjana.


"Entahlah Mon, ku hanya ingin mempertahankan rumah tanggaku. Karena aku tidak ingin rumah tanggaku hancur hanya karena masalah keluarga Mas Rahman yang tidak menyukaiku."


"Masalahnya bukan itu Via, jika hanya keluarga suamimu yang tidak menyukaimu mungkin aku masih bisa menerimanya, tapi di sini suamimu juga membenarkan dan mendukung kelakuan keluarganya, bahkan sekarang dia pergi bersama, menghabiskan waktu dengan wanita pilihan Ibunya, apa pantas kau mempertahankan suami seperti itu dan tetap stay di rumah tangga yang sudah tidak sehat ini. Via, aku tidak bermaksud untuk memanasi dan memprovokasi mu. Tapi aku ini sahabatmu tentu aku tidak akan rela jika ada orang yang memperlakukanmu seperti ini, kita sebagai wanita boleh bersabar tapi kita tidak boleh menjadi lemah dan bodoh. Kita harus punya prinsip dan ketegasan agar kita tidak selalu diinjak-injak oleh seseorang."


Monik benar-benar menuangkan emosinya, karena ia tidak habis pikir.


Via masih bisa bertahan di pernikahannya yang sudah amburadul itu.


"Apa Orang Tuamu dan Mas Alvian tahu?"


Via menggeleng.


"Ibu tahu aku membutuhkan uang banyak untuk berobat, karena aku pernah meminta pekerjaan padamu, dan Ibu melarangku bekerja karena Mas Rahman tidak mengizinkannya, dan semua biaya pengobatan Satria Ibu dan Ayahku yang menanggungnya. Tapi aku tidak pernah mengatakan apapun pada Ibu dan Mas Alvian tentang perlakuan keluarga Mas Rahman padaku."


"Astaga! Aku sampai tidak bisa membayangkan Via, bagaimana kalau Mas Alvian tahu."


"Aku minta kau jangan memberitahunya."


"Lalu aku harus diam saja melihat temanku seperti ini?"


"Monik, aku mohon padamu jangan ceritakan apapun pada mas Alvian. Aku bertahan karena aku masih sanggup untuk bertahan, aku masih berusaha untuk memperbaiki dan mengembalikan Mas Rahman seperti dulu. Tapi aku juga manusia biasa yang punya batas kesabaran, aku akan bertahan dan melihat ke depannya. Jika aku sudah tidak sanggup tentu aku akan menyerah."


"Tapi mau sampai kapan Vi?"


"Sampai aku sudah benar-benar tidak sanggup."Kata Via dengan tatapan kosong.


"Baiklah, aku hanya akan mendukung dan mendoakan mu. Jika kau membutuhkan bantuan apapun jangan sungkan untuk menghubungiku, sekalipun kau meminta bantuanku untuk aduh mekanik dengan kakak Suamimu itu, dengan senang hati aku akan melakukannya,"kata Monik dengan berapi-api.


Via mengulas senyum mendengar perkataan sahabatnya itu, memang dari dulu Monik selalu menjadi garda terdepan pelindung terbaik baginya setelah Alvian.


"Memangnya kau berani melawan Mbak Rohmah?'tanya Via sedikit meledek.


"Via! Apa kau melupakan jika aku ini pemegang sabuk hitam, melawan Kakak iparmu itu tentu tidak akan mengeluarkan tenaga dan keringat setetes pun bagiku."


"Kau sombong sekali Mon."


"Aku bukan sombong, hanya mengapresiasi dan mensyukuri kekuatan yang aku miliki ini,"sahut Monik yang diiringi kekehan kecil.


Dan hari itu,

__ADS_1


Via habiskan untuk bercanda dan bercerita dengan Monik, kehadiran Monik tentu menjadi pengobat yang luar biasa bagi Via yang tengah merasakan galau, gundah gulana di hatinya.


❄️❄️❄️❄️❄️


Hari-hari berlalu, dan Selvi pun semakin menjadi-jadi,


bahkan wanita itu terang-terangan mengajak jalan Rahman dengan cara mendatangi Rumahnya di hari Sabtu dan Minggu.


Bukan hanya satu atau dua kali, tapi sudah puluhan kali Selvi melakukan itu tanpa memikirkan Via yang ada di sana.


Sebagai seorang Istri tentu Via merasakan cemburu dengan kedekatan Rahman dan Selvi, tapi ketika Via mengingatkan Selvi untuk tidak sering-sering mengajak Rahman pergi, suaminya justru membela Selvi dan mengatakan bahwa dia berlebihan.


Bukan hanya itu Mertua dan Kakak Iparnya pun turun tangan membela dan membenarkan kedekatan Rahman dan Selvi yang sungguh tidak pantas di jalani oleh lelaki yang sudah beristri.


"Apa kau akan pergi dengan Selvi Mas?"tanya Via.


"Iya, hanya sebentar saja. Selvi memintaku untuk menemaninya mencari hadiah ulang tahun untuk Ibunya,"sahut Rahman tanpa melihat Via karena ia tengah fokus merapikan kemejanya di depan cermin.


Dan hal seperti ini, sudah terjadi untuk yang kesekian kalinya.


"Bagaimana kalau aku tidak mengizinkanmu pergi dengannya Mas?"tanya Via yang masih menatap lekat Rahman.


Mendengar perkataan Via, Rahman jadi menoleh ke arah istrinya.


"Via, kau ini kenapa sih! Aku hanya pergi sebentar dengan Selvi, jangan berlebihan seperti ini."


"Berlebihan! jika satu atau dua kali aku masih bisa memakluminya Mas, tapi ini hampir setiap hari kau menghabiskan waktu dengan Selvi, kau ini lelaki yang sudah berkeluarga Mas."


"Apa kau cemburu?"tanya Rahman yang menatap mata istrinya,"Via, aku ini tidak ada hubungan apa-apa dengan Selvi. Kami hanya berteman."


"Itu menurutmu Mas, bagaimana jika Selvi tidak menganggapmu hanya sebagai teman. Karena tidak ada pertemanan yang murni antara wanita dan laki-laki."


"Sudahlah Via! Kenapa kau jadi lebay seperti ini, Jangan bersikap seperti anak kecil,"kata Rahman dengan sedikit menyentak lalu ia kembali fokus pada kancing kemejanya.


Via mengadakan wajahnya ke langit-langit menahan air mata yang ingin menetes dari pelupuk matanya.


"Rahman!"


Terdengar suara teriakan dari luar, yaitu suara Selvi dan suara itu mampu membuat Rahman bergerak cepat menyisir rambutnya.


"Sudah ya aku pergi dulu, kasihan Selvi menunggu,"ujar Rahman yang benar-benar tidak memperdulikan perasaan istrinya.


"Mas!"panggil Via yang sontak menghentikan langkah Rahman.


"Ada apa lagi?"


"Aku tidak mengizinkanmu pergi dengan Selvi Mas."

__ADS_1


"Via, sudah berapa kali aku bilang jangan bersikap seperti anak kecil, kau melarangku pergi dengan Selvi hanya karena kecemburuanmu yang tidak beralasan itu. Lama-lama aku bosan denganmu Via jika kau selalu mengekang ku seperti ini."


DUAAR


Ucapan Rahman bagai bom atom yang menghantam tepat di hati Via.


"Bosan? apa kau bisa mengulangi perkataan itu sekali lagi Mas?"


"Aku lama-lama bosan denganmu Via, jika kau terus mengekang ku seperti ini,"dan Rahman benar-benar mengulangi kata-kata itu.


"Sudahlah kau diam saja di Rumah, aku tidak akan macam-macam dengan Selvi, karena aku hanya berteman dengannya. Harusnya kau bisa bersikap seperti Selvi dong, yang santai, Dia juga cantik pandai merawat diri. Yang paling utama Selvi itu baik kepada Ibu aku harus menghargai kebaikannya dan ...!"


"Cukup Mas!"Via menghentikan ucapan Rahman, karena ia tahu isi lanjutan dari perkataan itu hanyalah memuji Selvi dan menjatuhkan dirinya.


Via berbalik menghadap ke arah lemari, ia tidak sanggup memandang wajah suaminya karena saat ini hatinya benar-benar terluka sampai matanya ingin mengeluarkan bulir bening, namun ia sungguh tidak sudi meneteskan air mata di depan suaminya itu.


"Pergilah Mas, mulai hari ini, detik ini. Aku tidak akan pernah melarang mu bertemu dan pergi bersama Selvi, bahkan aku akan membebaskan rasa bosan mu padaku,"kata Via dengan nada tertahan karena sungguh, sebenarnya ia ingin menangis.


"Apa maksudmu Via?"tanya Rahman yang menyadari jika ada sesuatu yang aneh pada istrinya.


Rahman berjalan ingin mendekati istrinya yang membelakangi dirinya karena Via masih menghadap lemari.


"Rahman! ayo cepat! ini sudah jm 10, kalau kesiangan Tokonya bisa ramai!"


Namun lagi-lagi, teriakan Selvi mampu menghipnotis Rahman, ia menghentikan langkah kakinya yang sudah hampir sampai pada Via.


Rahman dilanda kebingungan, dia penasaran dan merasa ada sesuatu yang aneh pada istrinya, ia ingin memastikan jika Via baik-baik saja, namun ia juga tidak bisa mengabaikan panggilan Selvi di luar sana.


Via masih menahan diri, dia ingin tahu apakah suaminya mendekat ke arahnya atau keluar dari Kamar itu untuk menemui Selvi.


Karena ini semua akan menjadi langkah Via kedepannya.


Setelah beberapa detik.


"Aku pergi dulu, beristirahatlah. Sepertinya kau lelah."


Dan itulah kata-kata yang Rahman ucapkan untuk istrinya, sedangkan langkah kakinya berjalan keluar menuju sumber suara yang terus berteriak memanggil namanya.


Bersambung.....


❄️❄️❄️❄️❄️


Terimakasih sudah berkunjung ke cerita ini 🙏


Minta dukungannya ya 🙏


Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini.

__ADS_1


Lope banyak-banyak untuk semuanya ❤️❤️❤️


__ADS_2