
Selamat! Membaca 🤗
"Istrimu susah di atur, jadi biarkan saja jika ia ingin pergi."
Tak lama, Via kembali dengan menggendong serta Satria.
Dia sudah sangat rapih dengan Tas selempang andalannya.
"Via!"aku kembali memanggilnya, tapi kali ini dengan nada lembut tidak seperti tadi, berharap jika Via mau mengurungkan niatnya untuk menemui Monik.
"Aku pergi dulu Mas."
"Ya sudah cepat sana pergi!"sentak ibu, sebelum aku menyahuti ucapan Via yang meminta izin.
"Ibumu mengizinkan aku pergi Mas, jadi aku anggap kau juga mengijinkan aku."
Via meraih tanganku untuk salim dan ia benar-benar pergi menemui Monik.
Aku tidak bisa berbuat apa-apa, karena Ibu menahan tanganku ketika aku hendak mengejar Via.
"Biarkan dia Rahman!"
Aku menunduk, mengiyakan apa kata Ibu dan merelakan Via berlalu dari hadapanku.
"Untuk apa dia pergi menemui temannya?"
Tiba-tiba Ibu bertanya.
"Via ingin kembali bekerja Bu,"sahutku dengan nada kecewa.
"Apa! Bekerja!"
Ibu nampak terkejut dengan apa yang aku katakan, tapi seketika aku melihat raut wajah Ibu berubah.
"Kenapa Bu? Ibu pasti tidak setuju juga kan jika Via ingin kembali bekerja?"
"Siapa bilang Ibu tidak setuju? Ibu sangat setuju Rahman jika istrimu itu kembali bekerja."
"Kenapa Ibu bicara seperti itu?"
"Rahman. Coba kau pikirkan baik-baik, jika Via kembali bekerja otomatis penghasilan di keluarga kalian bertambah kan! maksud ibu, Via sudah memiliki uangnya sendiri jadi kamu tidak perlu memberikan Via uang bulanan lagi."
__ADS_1
Aku berpikir sejenak, mencerna apa yang Ibu katakan.
Memang benar, jika Via kembali bekerja penghasilan di keluarga kami tentu akan bertambah dan bisa jadi aku tidak perlu memberikan uang bulanan pada Via.
Tapi tetap saja, sebagai kepala keluarga aku tidak mengizinkan dan tidak menginginkan Via kembali bekerja.
Dan dengan tegas aku pun mengatakan pada Ibu atas ketidaksetujuanku itu.
"Astaga Rahman! Apa yang membuatmu tidak setuju jika Via ingin kembali bekerja, bukankah ini menguntungkan bagimu?"
"Tidak Bu. Aku tetap tidak akan mengizinkan Via untuk bekerja, apa kata orang nanti terutama Mas Alvian jika tahu Via kembali bekerja, dia pasti akan meremehkan ku dan mengira jika aku tidak mampu menghidupi Anak Istriku sampai Via memutuskan kembali bekerja."
"Itu tidak mungkin terjadi Rahman, Via bekerja atas kemauannya sendiri. Lagi pula dia itu sangat boros seberapa pun uang yang kau berikan padanya selalu habis dan habis. Jadi biarkan dia bekerja memenuhi kebutuhannya sendiri."
"Tidak Bu. Keputusanku sudah bulat, tidak akan pernah mengijinkan Via kembali bekerja."
Baru kali ini aku bersikap tegas dan menolak keinginan Ibu, aku tidak suka dan tidak akan pernah mengizinkan Via bekerja sekalipun Ibu merayuku untuk mengizinkan Istriku itu kembali bekerja.
"Terserah kau saja Rahman, mau mengizinkan Via bekerja atau tidak. Tapi Ibu minta bulan depan uang bulanan Ibu ditambah."
Aku terkejut dengan keinginan Ibu yang meminta tambah uang bulanannya, bukankah bulan ini uang gajiku semuanya aku berikan pada Ibu, dan Ibu berjanji jika bulan depan tidak akan meminta uang bulanan padaku karena Mas Rudi akan pulang.
"Tapi Bu. Bukankah Ibu dan Mbak Rohmah, sudah berjanji jika bulan depan tidak meminta uang bulanan karena Mas Rudi akan pulang?"
"Tapi Bu..!"
"Kenapa? kau tidak mau? Apa kau berniat memberikan semua uang gajimu itu pada Via?"
Ya.
Ibu benar, aku memang berniat memberikan semua gajiku kepada Via bulan depan, karena bulan ini uangku semuanya sudah diambil habis oleh Ibu, bahkan tidak menyisakan uang bensin untukku.
Aku sampai berhutang pada temanku untuk membeli bensin motorku.
"Kau berikan saja Via seperti biasa, Istrimu itu sangat boros Rahman. Jangan biarkan dia memegang uang dengan jumlah yang sangat banyak, dia bisa kalap dan menghambur-hamburkan uangmu." Tegas Ibu.
"Baik Bu." Kataku patuh.
Pada akhirnya aku tetep tidak bisa menolak keinginan Ibu.
********
__ADS_1
POV VIA.
Aku sangat puas bisa kembali melawan Ibu mertuaku itu.
Dia bahkan sampai membentak ku dengan sebutan Menantu Durhaka. Tapi aku sungguh tidak peduli.
Aku memang sudah tidak perduli lagi dengan kebencian Ibu mertuaku itu setelah aku mengetahui siapa dia sebenarnya.
hari ini aku berjanji ingin bertemu Monik untuk membicarakan soal lamaran kerjaku di kantor tempat ku dulu bekerja.
semoga saja Monik bisa membantuku agar aku bisa masuk kembali ke Kantor itu, karena terus terang saja aku sangat membutuhkan pekerjaan ini.
Bulan ini dengan sangat tega Mas Rahman tidak memberikan aku uang sama sekali, bahkan untuk menebus obat Satria pun ia tidak memberikannya karena uang itu habis ia berikan untuk Ibu dan kakaknya yang serakah itu.
Aku benar-benar heran, mereka selalu membangga-banggakan Mas Rudi yang bekerja di luar Negeri dengan gaji yang besar.
Tapi kenapa mereka selalu memepet Mas Rahman untuk membiayai hidupnya bahkan untuk membayar cicilan motor Mbak Rohmah pun harus Mas Rahman yang membayarnya.
Apakah aku salah jika aku menegur suamiku itu, agar dia tidak terlalu mengutamakan keluarganya?
Sungguh aku tidak keberatan jika Mas Rahman membiayai orang tuanya apalagi adiknya yang masih Sekolah, sebagai kakak laki-laki, Mas Rahman memang harus bertanggung jawab pada adik bungsunya itu ditambah lagi Ayah Mas Rahman sudah meninggal beberapa tahun yang lalu jadi otomatis semua tanggung jawab Raina ada pada Mas Rahman sebagai kakak laki-lakinya.
Tapi jika Mas Rahman membiayai dan menghidupi segala kebutuhan Mbak Rohmah sungguh aku keberatan, apalagi sampai membiayai cicilan motornya. Bukankah Mbak Rohmah mempunyai suami! Jadi Mas Rahman tidak perlu kan membiayainya lagi.
Tapi aku bingung harus menjelaskannya dari mana karena Mas Rahman selalu termakan omongan Ibu Jubaidah dan Mbak Rohmah.
Aku juga bingung kenapa Mas Rahman tidak pernah bisa menolak perkataan Ibu Jubaidah meski satu kata pun, dia benar-benar seperti kerbau yang di cucuk hidungnya ketika berhadapan dengan Ibu Jubaidah dan Rohmah.
Apakah Mas Rahman akan bersikap sama jika ia mengetahui siapa Ibu Jubaidah sebenarnya!
Tapi aku rasa Mas Rahman tau siapa sebenarnya Bu Jubaidah, tidak mungkin kan jika Mas Rahman tidak tau karena di saat itu usianya sudah cukup besar. Mampu mengingat sesuatu dengan sangat baik dan jelas.
Tapi kenapa ia masih sangat patuh pada Bu Jubaidah, bahkan ia lebih rela mengesampingkan Satria anak kandungnya sendiri.
Bersambung....
❄️❄️❄️❄️❄️
Terimakasih sudah berkunjung ke cerita ini 🙏
Minta dukungannya ya 🙏
__ADS_1
Lope banyak-banyak untuk semuanya ❤️❤️❤️