Istriku Boros! Menantu Yang Tidak Di Inginkan

Istriku Boros! Menantu Yang Tidak Di Inginkan
Uang Impian Jubaidah Raib.


__ADS_3

Selamat! Membaca 🤗


POV Rahman.


Aku yang tengah kesal karena motorku mogok di saat penting, malah membawaku bertemu dengan Selvi.


Wanita yang dulu pernah di jodohkan denganku oleh Ibu.


Ini pertemuan kedua ku dengan Selvi. Setelah 2 tahun silam.


Di pertemuanku yang kedua ini, aku dibuat terkejut oleh wanita itu karena ia berpenampilan sangat berbeda dari kemarin malam di saat ia berkunjung ke Rumah Ibu.


Aku terjejut bukan karena terpesona oleh penampilan Selvi, justru aku merasa kaget dan tidak menyangka melihat Selvi penampilan super seksi, aku merasa tidak nyaman karena aku tidak biasa melihat perempuan dengan pakaian yang seksi seperti Selvi saat ini.


Dia menggunakan dress berwarna merah yang lebih cocok digunakan oleh Anak yang berumur 5 tahun.


Entah apa yang dipikirkan Selvi, bisa-bisanya ia memakai pakaian minim bahan seperti itu ketika aku ke rumah, apa dia tidak takut jika itu mengundang nafsu para lelaki untuk melakukan kejahatan.


Seperti aku ini, karena aku lelaki normal. Aku sedikit bergejolak di balik keterkejutan ku ketika melihat Selvi dengan pakaian terbuka seperti itu. Untung saja aku cepat sadar dan mengalihkan pandanganku dari Selvi, karena aku mengingat Istriku Via.


Dia berbeda sekali dengan Via yang selalu menggunakan pakaian tertutup ketika keluar Rumah.


Aku membodohi diriku sendiri ketika Selvi menanyakan tujuanku, dan tanpa sadar, aku menjawab sebuah pusat perbelanjaan yaitu Swalayan.


Dan kebetulan dia pun ingin pergi ke sana, lalu mengajakku untuk pergi bersama.


Aku yang tidak punya pilihan lain dan kepepet terpaksa mengiyakan ajakan Selvi, dan kami pun pergi ke Swalayan berdua.


Meskipun aku benar-benar merasa tidak nyaman dan takut kalau-kalau ada yang melihat kami berdua di dalam mobil yang sama, tapi aku mencoba untuk tenang.


❄️❄️❄️❄️


Sesampainya di Swalayan, Selvi segera memarkirkan mobilnya dan kami masuk ke dalam Swalayan dengan jalan beriringan.


Ketika aku memasuki pusat perbelanjaan itu, aku di buat bingung karena aku tidak tahu harus membeli apa di Swalayan ini.


Aku beralasan pada Selvi untuk membeli kebutuhan dapur, tapi aku sendiri tidak tahu apa saja jenis kebutuhan dapur yang di butuhkan. Aaah... Sungguh merepotkan sekali, ini semua gara-gara Via, dia selalu saja membuatku repot dan kesusahan seperti ini. Jika aku tidak membuntutinya, tentu aku tidak akan bertemu Selvi di jalan dan terjebak di Swalayan ini bersama Selvi.


"Kau mau beli apa Man,"tanya Selvi. Yang membuatku tersentak,


tapi bukan karena pertanyaannya aku tersentak, melainkan karena gerakan Selvi yang meraih lenganku dan menggandengnya.


Aku segera melepaskan lenganku dari tangannya, tapi itu tidak berhasil, karena Selvi malah semakin kuat marangkul lenganku.


Aku merasa malu dan tidak nyaman karena ada banyak sekali orang yang berkeliaran di Swalayan ini, apa yang akan mereka katakan jika aku bergandengan seperti ini dengan seorang wanita di tempat umum padahal aku sudah mempunyai Anak dan Istri.


"Maaf Selvi, bisa lepaskan tanganmu. Tidak enak jika dilihat orang,"ucapku sambil menurunkan tangan Selvi.


"Kau kenapa Man, aku hanya memegang lenganmu begini saja masa tidak boleh. Lagi pula orang-orang sini tidak akan peduli kita mau melakukan apapun, mereka tidak akan mencampuri urusan orang lain. Dan di sini juga tidak ada orang yang mengenalimu, jadi kau tidak perlu merasa canggung."

__ADS_1


"Tidak, Sel. Aku hanya merasa tidak nyaman saja,"sahutku.


"Baiklah, aku minta maaf karena membuatmu merasa tidak nyaman,"kata Selvi.


Yang akhirnya melepaskan gandengannya.


Dengan cepat, aku mengambil beberapa benda yang menurutku adalah kebutuhan dapur, sekalipun itu salah aku tidak perduli yang penting aku segera pergi dari Swalayan ini. Karena aku takut terjadi kesalahpahaman atau hilaf jika terus berada di dengan Selvi.


"Sepertinya kau kesulitan, biar aku bantu,"kata Selvi menawarkan diri.


"Terima kasih, tapi aku bisa sendiri. Kau belanja saja untuk kebutuhanmu sendiri." Tolakku.


Entah kenapa, waktu seperti berjalan lambat, karena aku meras sudah sangat lama berada di Swalayan ini.


Mungkin karena Selvi yang selalu mendekatiku dan mengganggu konsentrasi ku hingga membuatku merasa tidak nyaman dan ingin segera pergi.


Aku tidak bisa terus-terusan menolak bantuannya, yang ingin membantuku untuk memilihkan benda-benda yang dibutuhkan di dapur.


Aku sedikit takjub dengan wanita itu, dan aku tidak menyangka rupanya Selvi sangat pandai memilih bahan dapur, bahkan dia tahu semua jenis yang dibutuhkan untuk memasak dan segala macam bumbu, mungkin Selvi juga pandai memasak.


"Kau suka makanan apa Man,"tanyanya sambil memilih jenis sayuran.


"Apa saja aku suka, karena aku tidak memilih-milih makanan. Aku selalu memakan makanan yang dimasak oleh Via,"sahutku.


"Waaah... Via sangat beruntung mempunyai suami yang tidak memilih makanan sepertimu, padahal banyak sekali para Suami di luar sana yang memilah-milah makanan bahkan ada yang tidak mau makan karena masakan Istrinya tidak sesuai dengan keinginannya,"kata Selvi.


Apa benar seperti itu?


Tidak ada lelakinya sepertiku di luar sana, yang mau menerima makanan apapun yang dimasak oleh Istrinya?


Kalau begitu, berarti yang dikatakan Sebagai Selvi sangat benar jika Via sangat beruntung memiliki Suami seperti itu.


Sepertinya aku harus lebih mengajari Via agar lebih bersyukur lagi, memiliki Suami sepertiku.


Dan tanpa aku sadari, lama-lama aku menjadi tidak canggung lagi berada di dekat Selvi.


Karena ia yang selalu bertanya dan bercerita padaku membuat aku terus berbicara padanya untuk menjawab beberapa pertanyaannya hingga kami pun terlihat akrab di hari itu.


❄️❄️❄️❄️❄️


Di Rumah Sakit.


Rohmah menangis sejadi-jadinya ketika melihat Rudi terbaring di ranjang pasien dengan beberapa perban yang melingkar di kepala dan tangannya.


"Astaga Mas! Kenapa kau bisa seperti ini?"


"Aku, di Rampok, untung saja ada Bambang yang menolong dan membawaku ke Rumah Sakit ini,"sahut Rudi dengan nada yang seperti menahan rasa sakit.


Jubaidah yang tadi berdiri di dekat pintu, segera menghampiri menantunya itu setelah ia mengetahui bahwa Rudi bisa bicara dan menjawab pertanyaan Rohmah.

__ADS_1


Itu artinya, Rudi baik-baik saja.


Itulah yang ada dipikiran Jubaidah saat ini, dan ia harus mempertahankan apa yang jadi kekhawatirannya sejak kemarin.


"Rudi, kenapa kau bisa di Rampok?" Tanya Jubaidah ketika ia sudah berada persis di sebelah ranjang tempat berbaring Rudi.


"Ibu ini bagaimana sih, Mas Rudi di Rampok itu musibah, Bu. Kenapa Ibu malah bertanya kenapa,"sahut Rohmah, yang terlihat sangat kesal dengan pertanyaan Ibunya itu.


Jubaidah mengabaikan ucapan Rohmah dan ia kembali bertanya pada Rudi.


"Lalu bagaimana dengan uangmu? Perampok itu tidak mengambil habis uang yang kau ambil dari Bank kan?"


Rudi terdiam tidak langsung menjawab pertanyaan Jubaidah.


"Jawab Rudi,"kata Jubaidah tak sabar.


"Maaf Bu, uang yang aku ambil dari Bank habis dibawa oleh perampok itu, bukan cuma uangku yang berjumlah ratusan juta tapi motor yang aku kendarain punya dibawa oleh kawanan perampok itu,"kata Rudi dengan wajah menunduk dan suara sedih penuh sesal.


"Apa! Astaga!"Jubaidah memegang dadanya, ia hampir tersungkur karena tak kuat menahan beban di tubuhnya yang terkejut mendengar pengakuan dari Rudi jika uang ratusan juta itu benar-benar raib.


Bukan hanya Jubaidah, Rohmah pun terkejut mendengar, jika uang ratusan juta itu digondol perampok berikut dengan motor yang ia cicil selama 1 tahun terakhir ini, bahkan motor itu belum lunas dari cicilan karena masa cicilan motor Rohmah adalah, 2 Tahun.


"Ibu kenapa Bu,"Kata Rohmah yang terkejut melihat Ibunya terlihat oleng sambil memegangi dada dan kepala.


"Rohmah! Katakan pada Ibu jika yang dikatakan Rudi itu tidak benar."Kata Jubaidah yang masih tidak percaya dengan kabar yang dibawa oleh menantunya.


"Maaf, Bu. Semua yang Ibu dengar itu benar."


Dan Rudi yang menjawab pertanyaan Jubaidah..


BRUK!


"Ibu!"


Rohmah panik, melihat Jubaidah benar-benar ambruk.


Sepertinya wanita itu sudah tidak kuat lagi menahan beban tubuhnya yang lemas seperti kehilangan jiwa, ketika mendengar kenyataan jika uang yang ia dambakan, impikan dan ia tunggu-tunggu selama 2 Tahun itu raib di gondol perampok beserta motor cicilan Rohmah yang belum lunas.


Bersambung.....


❄️❄️❄️❄️❄️


Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini 🙏


Minta dukungannya ya 🤗


Tolong koreksi jika ada kesalahan dalam tulisan ini 🙏


Lope banyak-banyak untuk semuanya ❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2