Istriku Boros! Menantu Yang Tidak Di Inginkan

Istriku Boros! Menantu Yang Tidak Di Inginkan
Rahman Yang Tak Kunjung Pulang


__ADS_3

Selamat! Membaca 🤗


"Bu, bangun Bu, Ibu kenapa."Panik Rohmah sambil menepuk-nepuk pelan Bibi Jubaidah yang tergeletak di lantai.


Karena Syok berat Wanita itu pingsan.


Rohmah segera berlari keluar untuk memanggil Suster dan Dokter.


Jubaidah pun segera diangkut di Ruang Darurat.


Setelah Jubaidah diperiksa, Dokter mengatakan jika Jubaidah tidak apa-apa dia hanya mengalami Syok berat hingga membuatnya seperti itu.


Rohmah kembali lagi ke Kamar rawat Rudi.


"Apa benar Mas, uang itu tidak tersisa sama sekali?"tanya Rohmah kembali, ia ingin memastikan jika omongan Rudi itu benar. Dan di pertanyaannya itu, Rohmah menaruh sebuah harapan jika Rudi masih memiliki uang simpanan yang lain.


"Benar Rohmah, aku sangat menyesal. Maafkan aku yang tidak bisa menjaga dengan baik uang yang akan aku berikan kepadamu,"sahut Rudi, dengan wajah yang sangat menyesal.


Rohmah hanya bisa menunduk mendengarkan ucapan dari Rudi, dalam hatinya berkecamuk memikirkan uang yang raib beserta motor cicilannya, tapi ia juga tidak bisa marah pada Rudi karena itu memang sebuah musibah.


Rudi yang sebelah tangan masih dibalut perban, perlahan mengangkat tangan itu untuk menyentuh tangan Rohmah yang tengah menunduk dan berkata.


"Rohmah, kau jangan sedih seperti ini, kau tidak perlu khawatir dengan hilangnya uang dan motor itu karena aku akan mendapatkan yang lebih dari apa yang hilang kemarin."


"Apa maksudmu Mas?"


"Aku akan kembali bekerja untuk mendapatkan kembali uang-uang yang hilang itu."


Rohmah kembali terdiam, ia bingung harus menjawab apa dan bereaksi seperti apa, apakah ia harus senang mendengar Rudi yang akan kembali merantau keluar Negeri untuk mengganti uang yang dirampok itu, ataukah justru ia harus sedih karena Rudi kembali meninggalkannya dan Putri.


Karena sesungguhnya, Rohmah tidak sepenuhnya ikhlas jika Rudi berangkat ke luar Negeri, dan 2 Tahun yang lalu pun Rohmah tidak mengizinkan Rudi pergi ke luar Negeri hanya saja lelaki itu yang memaksa ingin berangkat dengan alasan merubah hidup mereka dan itu semua didukung oleh Jubaidah.


"Jangan pikirkan itu dulu Mas, lebih baik kau fokus dengan kesembuhanmu,"sahut Rohmah dengan bijak. Tapi dalam hatinya masih memikirkan uang dan motornya yang hilang.


❄️❄️❄️❄️


Di tempat lain.


Via yang sudah selesai memeriksa kesehatan Satria berniat langsung pulang ke Rumah, sejak tadi hatinya gelisah tidak tenang karena ia merasa jika ada sesuatu yang terjadi pada Rahman.


lebih-lebih lagi, Lelaki itu bersikap aneh sejak semalam sampai pagi tadi. Bahkan Rahman libur bekerja dengan alasan yang tidak jelas menurut Via.


padahal alasan Lelaki itu libur bekerja, karena ingin membuntutinya.


"Apa kau yakin mau langsung pulang Nak, apa tidak mau mampir ke Rumah Ibu dulu. Kasihan Satria mungkin ia lelah,"ujar Aminah yang tengah berjalan beriringan dengan Via keluar dari Rumah Sakit.


"Maaf Bu, lain kali saja aku mampir ke Rumah Ibu. Sekarang aku pulang dulu karena di Rumah ada Mas Rahman."Sahut Via.


"Apa Rahman tidak bekerja?"


"Tidak Bu, mungkin ia merasa lelah jadi harus beristirahat."Kata Via.


"Baiklah kalau begitu, segeralah pulang jangan membuat Suamimu sendirian di Rumah karena ia pasti membutuhkan teman dan Istri untuk melayaninya."


"Baik, Bu."


Via segera memesan Taksi Online untuk mengantarnya kembali ke Rumah, dan tidak butuh waktu lama. Taksi yang di pesan Via pun tiba.


"Aku pulang dulu ya Bu, assalamualaikum. Ibu hati-hati di jalan,"kata Via yang berpamitan kepada Ibunya sambil mencium punggung tangan wanita itu.


"Iya sayang, kamu dan Satria hati-hati ya."

__ADS_1


Via mengangguk dan segera masuk ke dalam mobil.


Via ingin segera sampai ke Rumah, agar kegelisahan di hatinya bisa terobati, jika sudah bertemu dengan Rahman.


Ketika berada di tengah perjalanan.


Via dikejutkan, karena ia melihat motor Rahman yang terparkir di depan warung kopi di pinggir jalan.


"Pak, bisa berhenti sebentar,"Kata Via pada Sopir Taksi Online.


"Iya, Bu."


Mobil itu pun menepi persisi di depan Warung kopi yang di titipkan Motor oleh Rahman.


"Itu benar motor Mas Rahman. Tapi kenapa ada di sini, di mana Mas Rahman,"gumam Via sambil mengedarkan pandangannya yang lewat kaca mobil.


"Apa Mbaknya ingin turun dulu untuk memastikan?"tanya Sopir sekaligus menjawab rasa keingintahuan Via, karena Sopir itu mendengar dengan jelas gumaman Via.


Via berfikir sebentar. Sambil menunggu kehadiran Rahmah.


Tapi setelah beberapa saat ia menunggu, Rahman tak kunjung menunjukan batang hidungnya


Karena penasaran ia pun memilih untuk turun, memastikan jika itu benar motor Rahman dan di mana Rahman berada.


"Assalamualaikum, permisi Bu,"sapa Via dengan ramah pada Ibu pemilik warung kopi tersebut.


"Waalaikumsalam, iya Mbak, ada apa?"


"Maaf, Bu. Saya mau bertanya, pemilik motor ini kemana ya?"


"Oh.. yang punya motor ini, dia sudah pergi Mbak."


"Pergi!"bingung Via.


"Mobil mewah! Seorang wanita,"Via semakin bingung dan penasaran.


"Iya mbak, apa Mbak kenal dengan yang punya motor ini?"


"Kebetulan saya Istrinya."


"Oh Mbak istrinya toh. Jadi bagaimana dengan motornya Mbak, sebentar lagi warung saya akan tutup."


"Saya akan segera menghubungi Suami saya untuk mengambil motornya, sebelumnya saya ucapkan terima kasih."


"Iya mbak sama-sama."


Setelah memastikan jika itu benar-benar motor Rahman dan ia tidak mendapati Suaminya.


Via pun kembali melanjutkan perjalanannya menuju ke Rumah.


❄️❄️❄️


POV Via.


Ketika menempuh perjalanan pulang aku yang tengah merasa gelisah,


sedikit terkejut dan terheran melihat motor Mas Rahman terparkir di depan warung kopi dekat pinggir jalan, padahal Mas Rahman jarang sekali melewati jalan itu,


jika menuju ke Pabrik atau ke Rumah temannya.


Karena jalanan itu biasanya kami lewati ketika menuju ke Rumah Ibu, apa Mas Rahman menyusul ku ke Rumah Ibu?

__ADS_1


Tapi kenapa dia tidak mengabari ku jika ingin menyusul.


Entahlah, yang jelas aku sangat penasaran dengan wanita yang pergi bersama Mas Rahman menggunakan mobil mewah seperti yang Ibu warung itu katakan.


Siapa wanita itu?


Apa dia teman Mas Rahman?


Setahuku. Mas Rahman jarang sekali berteman dengan seorang wanita, bahkan dengan lelaki pun dia tidak terlalu akrab karena Mas Rahman tipe orang yang tidak senang bergaul dengan siapapun.


Lalu ke mana Mas Rahman dengan perempuan itu pergi?


Apa dia mengantar Mas Rahman pulang ke Rumah.


Beberapa pertanyaan muncul di benakku dan itu semua akan terjawab jika aku sudah sampai ke Rumah.


Aku meminta Pak Sopir Taksi Online untuk lebih cepat melajukan mobilnya karena aku sudah tidak sabar ingin sampai ke Rumah dan bertanya pada Mas Rahman.


❄️❄️❄️


Sesampainya di Rumah.


Aku malah tidak mendapati Mas Rahman di sana, berarti dia belum pulang.


Bahkan pintu Rumah pun dikunci olehnya sehingga aku tidak dapat masuk karena aku tidak membawa kunci cadangan.


Aku coba menghampiri Mbak Dewi yang menjadi tetanggaku, karena Rumahnya persis sekali di sebelah Rumahku aku pikir Mas Rahman menitipkan kunci Rumah pada Mbak Dewi.


"Tidak Via, Rahman tidak menitipkan kunci padaku."Ucap Mbak Dewi di saat aku menanyakan Mas Rahman menitipkan kunci atau tidak padanya.


"Mungkin Mas Rahman lupa, kalau begitu terima kasih ya Bu Dewi."


"Iya, sama-sama Via. Tapi kau bisa di sini dulu sambil menunggu Rahman pulang, kasihan jika Satria harus menunggu di luar, dia pasti lelah karena habis dari Rumah Sakit kan, kau bisa menidurkan Satria di sini untuk sementara waktu,"tawar Mbak Dewi.


"Terima kasih banyak Mbak, aku menunggu di luar Rumah saja, mungkin sebentar lagi Mas Rahman akan pulang."


"Baiklah kalau begitu, jika Satria mengantuk dan Rahman belum pulang kau ke sini saja ya."


"Iya Mbak, terima kasih banyak."


Aku kembali ke Rumahku karena aku tidak mau merepotkan Mbak Dewi dengan menidurkan Satria di sana.


Aku lebih memilih menunggu Mas Rahman dengan duduk di teras karena aku rasa Mas Rahman tidak akan pergi lama mungkin saja ia dalam perjalanan menuju ke Rumah.


Namun, sudah 2 jam lebih aku menunggu. Mas Rahman tak kunjung pulang.


Ke mana dia, ini sudah menjelang sore tapi dia tidak kunjung pulang.


Puluhan kali aku menghubungi ponselnya namun sebanyak itu pula aku mendengar jawabannya (nomor yang anda tuju sedang tidak aktif)


Aku sedikit kesal dengan Mas Rahman yang tak kunjung pulang.


Dan tidak mengaktifkan ponselnya, kemana sebenarnya dia pergi?


Bersambung.....


❄️❄️❄️❄️❄️


Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini 🙏


Minta dukungannya ya 🙏

__ADS_1


Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini 🙏


Lope banyak-banyak untuk semuanya ❤️❤️❤️❤️❤️


__ADS_2