Istriku Boros! Menantu Yang Tidak Di Inginkan

Istriku Boros! Menantu Yang Tidak Di Inginkan
Memancing Via


__ADS_3

Selamat! Membaca 🤗


Setelah mengirim pesan pada Via, Jubaidah segera pergi dari kontrakan, ia merubah rencana awal karena takut kalau Rania akan mengadu pada Via atau Rahman.


❄️❄️❄️❄️


Setelah menjalani Rukiyah dari Kyai Yusuf, Rahman tiba-tiba tidak sadarkan diri.


"Astaghfirullah! Kenapa Mas Rahman pak Kyai?"panik Via, melihat suaminya tepar di atas karpet.


"Insyaallah tidak apa-apa Nak Via, Rahman akan baik-baik saja. Kita berdoa dan serahkan semuanya pada Allah SWT."


"Tapi kenapa Rahman bisa pingsan pak ?"tanya Aminah yang juga merasa sangat Khawatir.


"Terlalu banyak ilmu hitam yang menyerang tubuh Rahman, dan sihir itu mengendalikan semua pikiran dan perilaku Rahman sehingga ia kehilangan jati diri yang sebenarnya, Atas ijin Allah shir di tubuh Rahman perlahan keluar, dan ini yang membuat Rahman pingsan. Tapi Insyaallah semua akan baik-baik saja."


Semua lega mendengar penjelasan dari kyai Yusuf, semoga saja Rahman baik-baik saja.


Via beranjak untuk mengambil bantal guna alas kepala suaminya.


Dan Ketika memasuki kamar pandangan Via teralihkan dengan ponselnya yang berkedip-kedip, menandakan jika ada pesan yang belum terbuka.


(Via, kenapa kemarin tidak datang ke kantor? Bukankah kau ingin melamar pekerjaan?)


Itu satu pesan dari Monik yang sontak membuat Via beristighfar, karena ia baru mengingat lamaran kerjanya.


Dengan cepat Via membalas pesan sahabatnya itu, dengan meminta maaf dan menceritakan masalah yang tengah ia hadapi kemari dan hari ini.


Via mengerutkan keningnya ketika ia membaca pesan kedua yang ternyata dari kontak Rania.


Kalimat yang tertulis di teks itu tidak seperti biasanya, karena khawatir, Via segera menghubungi ponsel Rania, namun tidak aktif karena Jubaidah menonaktifkan ponsel Rania dan menyembunyikannya sampai urusan ia selesai.


Setelah embaca pesan yang dikirim dari ponsel Rania membuat Via cemas, sebenarnya ia sudah tidak mau perduli lagi dengan apa yang menyangkut Rohmah atau Jubaidah, karena Via ingin memulai hidup baru setelah urusannya dengan Rahman selesai. Tapi karena di pesan itu menyangkut nama Putri tentu Via merasa tidak tenang, siapapun tidak akan tega jika mendengar anak kecil dalam bahaya, begitupun dengan Via.


"Via ada apa! Kenapa wajahmu terlihat gelisah?"tanya Aminah yang menyadari kekhawatiran Via setelah keluar dari kamarnya.


"Tidak apa Bu."Sahut Via, seraya memasang bantal di bawah kepala Rahman.


Sedangkan Kyai Yusuf dan Rohim tengah berbincang di teras belakang rumah.


"Apa tidak sebaiknya kita pindahkan Rahman di dalam kamar saja?"tanya Aminah.


"Tidak perlu Bu, lagi pula siapa yang mau mengangkatnya. Dia itu berat."Sahut Alvian.


"Aku ke kamar dulu Bu, kasian Satria hanya di temani bibi."Pamit Via.


Wajahnya terlihat gelisah, ia seperti sedang memikirkan sesuatu, itulah yang di tangkap Alvian ketika melihat Via.


"Kenapa dengan Via Bu?"

__ADS_1


"Ibu juga tidak tau, mungkin ia memikirkan Rahman."


"Tidak mungkin jika Via memikirkan Rahman, tadi setelah Rahman di Rukiyah, Via terlihat tenang. Tapi kenapa sekarang dia terlihat gelisah!"


"Biar ibu yang bicara pada Via, mungkin ada sesuatu yang terjadi yang tidak bisa Via ceritakan pada kita, kau temani Rahman, sampai Ayah dan Kyai Yusuf kembali."


Aminah sudah hendak beranjak, tapi Alvian mencegah.


"Biar aku saja yang bicara pada Via Bu, dari pada aku harus menemani si brengsek ini."


"Alvian, kau tidak boleh bicara seperti itu pada Adik iparmu."


"Calon mantan adik ipar Bu,"sahut Alvian.


**


Tok.


Tok.


Alvian mengetuk pintu kamar yang sebenarnya tidak di tutup.


"Mas Vian! Masuk!"ujar Via yang tengah duduk di sisi Ranjang sambil bermain dengan Satria.


"Hai jagoan, apa yang sedang kau lakukan!"kata Alvian yang berbicara pada Satria, lalu ia memangku Satria.


"Ada apa?"tanya Alvian, yang membuat Via Bingung.


"Apa yang mengganggu pikiranmu?"


"Sepertinya aku benar-benar tidak bisa menyembunyikan apapun."Keluh Via.


"Katakan siapa yang menggangu pikiranmu! apa Si brengsek Rahman?"


"Bukan Mas."


"Lalu?"


Via memberikan ponselnya pada Alvian, ia menunjukkan pesan yang dikirim Rania.


"Ini soal Putri dan Rania."


"Apa pedulimu dengan anak itu, dia punya orang tua kan! Jadi kau tidak usah memikirkan anak itu." Alvian yang memang sudah sangat membenci keluarga Rahman, sama sekali tidak peduli dengan nama-nama yang Via sebutkan, padahal ia belum membaca pesan yang Via tunjukkan.


"Coba Mas Vian baca dulu pesan yang dikirim Rania, dan sampai sekarang ponselnya sudah tidak aktif lagi."


Dengan terpaksa Alvian pun membaca,


sebuah pesan yang berbunyi (Ada orang jahat yang membawa Putri, nyawa putri dalam bahaya! aku tidak bisa menolongnya, aku hanya bisa membuntuti orang yang membawa Putri. Tolong aku Mbak Via, aku tidak tau harus meminta tolong pada siapa lagi, aku takut Mbak. Tolong Putri, Putri di bawa ke sebuah rumah usang yang ada di jalan Xxx sampaing perkebunan karet desa Xxx, tolong jangan beri tahu Mas Rahman, dia pasti akan khawatir dan jangan lapor polisi juga karena itu akan membahayakan Putri)

__ADS_1


"Apa kau yakin yang mengiram pesan ini Rania?"Tanya Alvian yang meragukan pesan itu.


"Itu di kirim dari kontak Rania, Mas!"


"Tapi bukan berarti Rania yang mengirimnya kan?"


Via terdiam.


"Maksud Mas Vian?"


"Seperti ada orang yang ingin menarik perhatianmu."


Via semakin terdiam dan ia kembali memperhatikan pesan yang dikirim Rania, memang tulisan yang ada di sana nampak berbeda dari yang biasa Rania kirim yang lebih sering menggunakan singkatan.


Tapi bisa saja, karena panik Rania menulis dengan Teks berbeda.


"Lalu aku harus bagaimana Mas! aku juga tidak bisa mengabaikan pesan ini, aku takut jika ini benar."


"Sudah mas bilang kau tidak usah peduli dengan mereka lagi."


"Aku bisa tidak peduli dengan mereka, mereka yang kumaksud adalah Mbak Rohmah dan ibu Jubaidah, tapi tidak dengan Putri dan Rania Mas. mereka tidak tahu apa-apa tentang masalahku dan Mas Rahman, terutama Putri, dia masih sangat kecil, Mas Rudi pergi meninggalkannya entah ke mana sedangkan kondisi Mbak Rohmah sangat tidak memungkinkan jika harus menjaga dan melindungi Putri."


"Jadi kau ingin pergi ke sana menolongnya?"


"Iya Mas, tapi, sama seperti Mas Vian, aku juga meragukan pesan itu, jadi aku minta bantuan Mas untuk menolong Putri dan Rania."


Alvian berpikir sejenak!


❄️❄️❄️


"Alhamdulillah."


Semua mengucap syukur ketika melihat Rahman terbangun dari pingsannya.


"Bagaimana nak Rahman! apa masih merasakan pusing?"tanya Kyai Yusuf.


Rahman terdiam, ia terlihat bingung sambil terus memegangi kepalanya, kemudian ia menatap Aminah.


"Bibi Aminah! Ibu!" kata Rahman dengan lirih.


Aminah terperangah, Bibi Aminah, itulah panggilan dari Rahman untuk 15 tahun silam.


Bersambung...


❄️❄️❄️❄️


Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini 🙏


Minta dukungannya 🤗

__ADS_1


Tolong koreksi jika ada kesalahan dalam tulisan ini 🙏


Lope Banyak-banyak untuk semuanya ❤️❤️❤️


__ADS_2