
Selamat! Membaca 🤗
Sementara Rahman, tengah asik memperhatikan Jubaidah yang makan dengan lahap. Dan dalam hitungan menit, wanita itu menghabiskan satu bungkus nasi uduk yang dibelikan oleh sang anak lelakinya.
"Nasinya enak sekali Man, apa kau juga membelikan untuk Rohmah?"
Rahman mengangguk dan ia mengatakan jika sarapan Rohmah ada di dapur.
"Kalau begitu aku pamit dulu ya Bu aku ingin ke pabrik."
"Apa kau ingin kembali bekerja?"tanya Jubaidah dengan wajah berbinar, karena dibayangannya jika Rahman kembali bekerja Ia semakin bisa menguasai anak tirinya itu.
"Jika aku kembali diterima aku akan bekerja di pabrik itu lagi."
"Tidak diterima juga tidak apa-apa Man, kau bisa bekerja di kantor yang sama dengan Selvi, karena beberapa waktu yang lalu Selvi menawarkan pekerjaan yang bagus untukmu, dan ibu sangat yakin! gaji di sana pasti jauh lebih besar dari gajimu di Pabrik itu."
Hati Rahman semakin kesal ketika wanita itu menyebut nama Selvi, membuat Rahman mempunyai niat ingin balas dendam kepada Selvi.
Dalam hati Rahman berdoa, agar racun yang baru saja Ia berikan kepada Jubaidah segera bereaksi merusak organ vitalnya secara perlahan.
"Akan aku pikirkan Bu,"sahut Rahman yang berpura-pura patuh kepada Jubaidah.
Jubaidah tersenyum, ia sangat yakin pasti Rahman akan menuruti keinginannya untuk bekerja di kantor yang sama dengan Selvi.
Tapi sebelum Rahman benar-benar pergi dari sana, Jubaidah meminta uang karena ia berniat ingin berbelanja ke pasar untuk kebutuhan sehari-harinya di kontrakan.
Tanpa berkata apapun lagi, Rahman memberikan beberapa lembar uang kepada Jubaidah agar wanita itu bisa menuntaskan keinginannya berbelanja.
"Sebenarnya ini kurang Man karena ada beberapa benda yang harus ibu beli termasuk keperluan kakakmu, tapi tidak apa-apa, Ibu tahu kau belum bekerja. Setelah kau bekerja nanti, kau jangan lupa ya jatah ibu dan kakakmu."
Rahman mengangguk, mengiyakan apa yang diinginkan Jubaidah, padahal dalam hatinya berkata.
"Aku sudah tidak sudi lagi memberikan uangku kepadamu wanita iblis, jika harus aku memberikan uangku kepadamu, itu ada harga yang harus kau bayar dengan mahal Jubaidah."
Rahman kembali melajukan motornya menuju Pabrik tapi, di tengah jalan lelaki itu menepikan motornya.
Ia merogoh ponsel di saku jaketnya dan menghubungi seseorang.
"Mungkin sekitar satu jam lagi dia akan sampai di pasar, lakukan apa yang akan saya perintahkan."
("Apa yang harus saya lakukan Bang")
Suara seorang pria di seberang sana yang tengah dihubungi oleh Rahman.
Dan Rahman pun menjelaskan apa yang ia perintahkan kepada pria itu.
__ADS_1
("Baik bang, kau tenang saja, semuanya beres. Tapi jangan lupa upah untuk kami")
"Kau tenang saja, saya akan membayar kalian sesuai hasil yang kalian berikan kepada saya."
Setelah menemui kesepakatan, Rahman menutup sambungan telepon dan kembali melajukan kendaraannya menuju pabrik.
❄️❄️❄️
Dengan hati riang gembira, Jubaidah memesan taksi online untuk menuju pasar, uang yang diberikan Rahman cukup banyak tapi wanita itu masih mengeluh jika itu kurang.
Dengan meninggalkan Rohmah sendirian di rumah, Jubaidah melenggang pergi bersama taksi online yang ia pesan menuju pasar.
Namun baru saja beberapa menit Jubaidah mengitari pasar, ada tiga orang preman datang di hadapannya.
"Ada apa ini! Kenapa kalian menghadang saya?"marah Jubaidah ketika ketiga preman itu menghentikan langkah kakinya.
"Serahkan uang lo, jika lo ingin melanjutkan perjalanan dengan selamat!"ancam salah satu dari preman.
"Kalian jangan kurang ajar ya! Berani-beraninya memeras saya di tempat umum seperti ini, dasar tidak tahu malu."Umpat Jubaidah dengan kesal, sambil menunjuk wajah preman itu.
"Ternyata nenek-nenek ini berani juga dengan kita bos!"
"Seberani apa dia dengan kita,"sahut salah satu preman, yang merupakan pos dari kedua rekannya.
Mereka merampas dompet dan ponsel yang ada di tangan Jubaidah. Namun dengan bersikeras, Jubaidah mempertahankannya, sambil terus memaki dan menyumpahi ketiga preman itu dengan kata-kata yang ptidak pantas.
..."Aduuuh..Dasar sampah masyarakat kurangajar!"...
Umpat Jubaidah yang semakin membuat ketiga preman itu kesal, mereka kembali merebut dompet dan ponsel Jubaidah lalu mendorong wanita itu, yang kembali mencoba bangun untuk mengambil dompet dan ponselnya.
"Rasakan ini dasar nenek tua sombong!"
Ucap preman berambut gondrong dan disahuti dengan tertawa menghina dari kedua rekannya.
Setelah mendapatkan apa yang mereka inginkan, ternyata preman itu belum merasa puas!
Mereka menarik paksa Jubaidah untuk bangun dan membawa wanita itu ke tempat yang sepi, meskipun di pasar itu dipenuhi oleh manusia tapi tidak ada satupun yang berani menolong Jubaidah mereka seolah tak melihat dan tak mendengar apa yang terjadi.
Jubaidah yang semakin panik berteriak, minta tolong sambil terus mengumpat tapi tidak ada satupun yang mau mendengarkannya
Setelah sampai di tempat sepi preman itu mendorong Jubaidah dihadapan seorang wanita yang juga preman.
"Ada apa ini, kenapa kau membawa dia ke hadapan saya."
"Gue tidak biasa memukuli wanita, Jadi lu saja yang melakukannya."Sahut salah satu dari ketiga preman itu dan mereka melenggang pergi meninggalkan Jubaidah bersama preman wanita.
__ADS_1
❄️❄️❄️❄️
Assalamualaikum!"
Rahman pulang sebelum Sore.
"Waalaikumsalam, Mas akhirnya kau pulang!" Via menyambut Kedatangan Rahman dengan panik.
"Ada apa? apa terjadi sesuatu?"
"Ibu Jubaidah dilarikan ke rumah sakit."Kata Via.
"Kenapa?"
"Pada saat ibu Jubaidah berbelanja di pasar, ia dihadang oleh 3 preman yang memalaknya, namun preman itu bukan hanya mengharapkan harta benda Ibu Jubaidah, mereka juga memukuli ibu Jubaidah sampai babak belur Mas."
Rahman terlihat biasa saja setelah mendengar penjelasan dari Via, tidak ada ekspresi panik atau khawatir dari lelaki itu.
"Apa kau tidak ingin melihat ibu Jubaidah di rumah sakit, Mas?"
"lain kali saja, bukankah hari ini kita akan mengantar Satria."
Rahman yang biasanya langsung kalap jika mendengar terjadi sesuatu pada Jubaidah, kini membuat Via terheran-heran karena Rahman terlihat tak perduli sedikitpun.
Jangankan sampai babak belur dan masuk rumah sakit, mendengar Jubaidah lecet sedikit saja Rahman akan kalap, dan meninggalkan semua yang ia lakukan demi menemui sang ibu.
Tapi sekarang lelaki itu sudah tidak perduli.
'Begitu besar kebencianmu pada ibu Jubaidah mas."Gumam Via dalam hatinya, tapi ia sangat memaklumi kebencian Rahman, karena jika Via berada di posisi Rahman mungkin saja ia tidak bisa mengendalikan diri seperti Rahman yang masih mau berkunjung dan tidak melaporkan Jubaidah.
Padahal Rahman memilih caranya sendiri untuk membalas Jubaidah.
"Tapi kau harus tetap menjenguk Ibu Jubaidah, Mas, Rania bilang, ibunya histeris dan terus menangis memanggil namamu."
Rahman mengagguk.
"Setelah mengatar Satria aku akan menjenguknya."
Bersambung...
❄️❄️❄️❄️❄️
Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini 🙏
Minta dukungannya ya 🤗
__ADS_1
Tolong koreksi jika ada keslahan dalam tulisan ini 🙏
Lope Banyak-banyak untuk semuanya ❤️❤️❤️