
Selamat! Membaca 🤗
Satu Minggu berlalu.
Keadaan Jubaidah semakin memburuk, karena Rahman terus memberinya makan berisi racun setiap hari.
Uhuk..
Uhuk..
Uhuk..
Suara batuk Jubaidah menggema memenuhi isi kontrakan.
Dengan susah payah, ia bangun dari kasur lantai untuk mengambil air minum yang ada di dapur. Semenjak Rania bekerja, Jubaidah jadi lebih sering sendirian dikontrakan, tidak ada yang menemaninya. Hanya Rahman yang datang di pagi hari untuk memberi Jubaidah makan, setelah itu ia tidak muncul lagi sampai Rania pulang.
"Aduh, kenapa semakin hari dadaku semakin sakit, apa obat yang diberikan Dokter ini sama sekali tidak berpengaruh. Kenapa aku merasa semakin lemah dan dan seperti mau mati saja,"kata Jubaidah yang tengah tertatih menuju dapur.
Ia meraih teko plastik dan menuangkan satu gelas air dan langsung meminumnya sampai tandas.
Uhuk..
Uhuk...
Uhuk...
Baru beberapa detik air itu masuk melewati tenggorokan Jubaidah, ia kembali memuntahkannya karena batuk kembali menyerangnya.
Batuk itu semakin menggila sampai Jubaidah tidak bisa menahan sesak dan sakit di dadanya.
Jubaidah menutup mulutnya dengan telapak tangan, agar suara batuknya bisa diredam dan tidak mengganggu para tetangga.
Jubaidah terkejut!
Ketika ia menarik kembali tangannya, ada bercak merah di telapak tangan itu.
"Apa ini!"
Tanya Jubaidah dengan gemetar.
Ia memperhatikan lebih intens bercak merah yang ada di telapak tangannya itu.
"Apa ini darah! Tapi, dari mana? Aku tidak terluka!"ketakutan sudah menjalar di seluruh tubuh Jubaidah
__ADS_1
Untuk memastikan jika itu benar-benar darah Jubaidah kembali mengusap mulutnya dan benar saja darah mengalir dari sana.
"Ada apa denganku! Kenapa bisa seperti ini!"
Nafas Jubaidah memburu, dadanya kembang kempis karena berdebar hebat dan di saat itu juga tiba-tiba Jubaidah melihat bayangan Mira.
"Mira!"gugup Jubaidah, ia mengingat sosok wanita yang sudah ia dzolimi selama bertahun-tahun.
Mengingat di saat Mira batuk dan sampai memuntahkan darah, meminta pertolongan padanya untuk membawanya ke Puskesmas dan menghubungi sang suami yang tengah tidak ada di Rumah.
Tapi dengan berbagai alasan Jubaidah menolak dan enggan membantu Mira, dia juga mengatakan bahwa kejadian seperti ini sudah sangat wajar jika orang yang tengah batuk, tidak perlu dikhawatirkan dan dicemaskan semua akan baik-baik saja. Kata-kata itulah yang dulu diucapkan oleh Jubaidah kepada Mira hingga wanita itu percaya.
Jubaidah ingat betul penyebab Mira mengalami hal seperti itu, ya, tentu saja ia ingat karena itu memang ulahnya sendiri.
karena takut jika ia mengalami hal yang sama seperti Mira, Jubaidah segera menghubungi Rahman meminta anaknya itu untuk datang dan membawanya ke Rumah Sakit.
("Tidak bisa sekarang Bu, saat ini aku tengah mengantar Satria kontrol, Ibu tidak perlu khawatir, itu biasa terjadi jika orang tengah mengalami batuk, apalagi Ibu batuk sudah sangat lama kan lebih dari 1 Minggu! Jadi wajar jika sampai mengeluarkan darah, jadi Ibu tidak usah memikirkannya, semua pasti akan baik-baik saja")
ucapan Rahman membuat Jubaidah mengingat dengan kata-kata yang pernah dulu ia ucapkan kepada Mira.
("Sudah dulu ya Bu, aku tidak bisa berlama-lama menghubungi Ibu, karena saat ini aku tengah berada di Rumah Sakit, Ibu tunggu saja sampai Rania pulang dan ketika ia pulang nanti minta dia untuk membelikan Ibu obat di warung terdekat.)
setelah mengatakan itu Rahman memutuskan panggilan teleponnya.
Dan sore yang dinanti-nanti Jubaidah dengan penuh kegelisahan pun menyapa.
Seperti janjinya, Rahman datang ke kontrakan Jubaidah dengan menenteng satu plastik putih berisi makan.
"Apa Rania belum pulang?"Tahya Rahman.
"Belum Man, Rania akan pulang jam 10.00 nanti."
"Jadi,apa yang Ibu keluhkan akhir-akhir ?"Tanya Rahman kembali.
"Semua Man, dada ibu yang paling parah, seperti di Hajar benda besar dan kuat"
"Lalu!"sahut Rahman berpura-pura bingung.
"Rahman antar ibu ke Rumah Sakit.
"Aku Repot Bu,"tolak, Rahman.
"Tapi Man, ibu takut terjadi sesuatu, tolong bawa ibu ke Rumah sakit untuk memastikan jika ini baik-baik saja."
__ADS_1
"Sudahlah Bu, aku sudah bilang tidak ada yang mesti dikhawatirkan, saat ini Ibu baik-baik saja."
Rahman benar-benar tidak mau lagi perduli, ia melangkah ingin meninggalkan Jubaidah.
"Rahman, jangan pergi!"
Jubaidah menarik lengan Rahman agar tetap bersamanya di sana, dan ia kembali meminta Rahman untuk membawanya ke Dokter.
"Tolong bawa Ibu ke Dokter Man, dada Ibu sudah sangat sesak dan tidak kuat menahan sakit di sini."Jubaidah kembali merintih dengan tangan yang masih bergelantungan de lengan agar Rahman iba dan kasihan padanya.
Namun Rahman menepis tangan Jubaidah yang ada lengannya.
"Sekali aku bilang tidak! ya tidak Bu." kata Rahman
Dengan kejam,"Aku tidak bisa mengantar Ibu ke Dokter," Sambung Rahman.
"Man, apa kau tega melihat ibu kesakitan seperti ini?"
"Sudahlah Bu, Ibu jangan terlalu banyak drama, aku bilang itu tidak apa-apa jangan khawatir yang berlebihan."
"Rahman!"
Panggil Jubaidah dengan mengulurkan tangan kepada putranya itu.
Rahman yang sudah maju beberapa langkah ingin meninggalkan Jubaidah melirik untuk beberapa detik, dan setelah ia menatap Jubaidah untuk beberapa detik ia kembali melajukan langkah kakinya, meninggalkan wanita itu sendirian.
"Rahman!"
Teriak Jubaidah.
Ia lunglai dan menjatuhkan diri ji lantai, sambil tersimpu dan menangis, mengnggil Nama Rahman.
Bersambung..
❄️❄️❄️❄️
Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini 🙏
Minta dukungannya ya 🤗
tolong koreksi jika ada kesalahpahaman dalam tulisan ini 🙏
Lope Banyak-banyak untuk semuanya ❤️❤️
__ADS_1