
Selamat! Membaca 🤗
"Kau serius Selvi?"
("Iya Tante, aku serius. Kapan aku pernah bercanda pada Tante soal uang. Sebutkan saja berapa nominal yang Tante inginkan, aku akan segera mentransfernya.")
Dan tanpa ragu-ragu, Jubaidah pun segera menyebutkan nominal yang ia inginkan, dan sudah pasti nominal itu bukan lagi 5 juta rupiah. Melainkan 10 juta rupiah.
Tanpa ragu dan berpikir panjang, Selvi segera mentransfer uang yang diminta Jubaidah.
"Selvi benar-benar perempuan hebat, dia menantu idaman. Belum menjadi Menantu saja dia sudah royal seperti ini, apalagi jika dia sudah menjadi Menantuku, pasti apapun yang aku minta Selvi segera menurutinya. Kalau begitu, aku harus cepat-cepat menjodohkan Selvi dan Rahman, masa bodoh dengan Via. Jika Rahman tidak mau Menceraikan Via, aku akan memaksa Rahman untuk tetap menikahi Selvi. Tidak masalah kan jika lelaki beristri dua, dan Via pun harus bisa menerima itu. Kalau dia tidak mau dimadu, ya dia harus pergi dari kehidupan Rahman,"gumam Jubaidah. Sambil menyusun rencana berlian yang sudah ada di otaknya.
❄️❄️❄️❄️❄️
Rudi tersenyum lebar ketika mendapatkan uang itu, dan ia pun bergegas menuju ke Bank untuk mencairkan uang ratusan juta yang ia dapat dari Negara tetangga.
"Aku ikut ya Mas,"pinta Rohmah pada Suaminya.
"Kau di sini saja, aku akan segera pulang jika uang ini sudah cair. Dan setelah uang itu kudapat, kau bebas membeli apapun yang kau mau."Kata Rudi menyenangkan hati Istrinya.
"Benarkah! Mas Rudi mengijinkan aku membeli apapun yang aku mau?"
"Tentu saja, uang yang akan aku dapatkan nanti sangat banyak, dan tidak akan habis walaupun kau pakai untuk berfoya-foya membeli apapun yang kau mau."
Rohmah seperti mendapatkan sedikit kebahagiaan dari Surga, ia sudah merancang dan menyusun barang-barang apa saja yang akan ia beli dengan uang ratusan juta yang di berikan Rudi.
"Ya sudah kalau begitu Mas, kau berhati-hatilah di jalan."
Rudi mengangguk dan segera pergi menggunakan motor Rohmah, yang selama ini, pembayaran cicilnya dibebankan pada Rahman.
"Rohmah, kita mimpi apa semalam. Ibu senang sekali." Kata Jubaidah, dengan Riang gembira.
"Iya Bu, ini adalah keberuntungan untuk kita. Aku juga sangat senang sekali, kira-kira apa ya Bu yang mau kita beli dengan uang ratusan juta itu?"
"Kita harus memikirkan itu Rohmah. Sekarang ayo kita masuk, kita catat semua apa yang akan kita beli dengan uang sebanyak itu."
"Ibu benar, ayo Bu, kita catat semua apa yang selama ini kita inginkan,"kata Rohmah, berantusias dan langsung masuk ke dalam Kamarnya mengambil buku dan pulpen untuk mencatat apa yang ingin ia beli.
Kedua wanita berbeda generasi itu nampak sangat bahagia ketika melihat daftar barang yang akan mereka beli.
Mulai dari yang mahal, sampai yang paling mahal. Ini adalah hari kebahagiaan Ibu dan Anak itu.
❄️❄️❄️❄️
POV Rahman.
Aku yang terus kepikiran dengan omongan Ibu tadi pagi menjadi tidak fokus dalam bekerja.
__ADS_1
Hatiku gelisah memikirkan apa yang di katakan Ibu tentang Via.
Apa benar Via mendapatkan uang dari cara yang salah.
Tidak! Itu tidak mungkin, Via wanita baik-baik, Ibu dan Ayahnya mendidik Via dengan sangat baik dari ia kecil. Tidak mungkin Via melakukan perbuatan nista seperti itu.
Aku meyakinkan diri untuk mempercayai Via dengan sepenuh hati, tapi. Meskipun begitu, entah kenapa hati kecilku meragukan Via.
Ibu benar, dari mana Via mendapatkan uang untuk biaya berobat Satria, dan kebutuhan sehari-hari kami. Sedangkan, sudah satu bulan ini aku tidak memberi ia uang.
Aku sangat tau, jika uang tabungan Via pun sudah habis sejak satu tahun yang lalu.
Astaga! Kenapa aku jadi seperti ini.
Apa aku bertanya saja pada Via, dari mana ia mendapatkan uang itu.
Tapi aku takut jika Via marah.
Aku mengacak rambutku, karena sakit dan pusing yang aku rasakan di bagian kepala.
"Rahman, kenapa kau malah bengong di sini. Ini kan jam kerja, jika Pak pengawas tau kau pasti kena semprot."
Tiba-tiba Budi, mengagetkanku.
"Aku sedang tidak semangat,"kataku menyahuti ucapan budi dengan lesu.
"Kenapa, apa ada masalah? Jika memang ada masalah cepat kau selesaikan jangan kau bawa di tempat kerja seperti ini, bukannya apa, jika Pak pengawas melihatmu bengong seperti ini dia pasti akan marah besar dan imbasnya kami semua juga kena marah bukan hanya kau saja Man."
Jika saja aku mempunyai kuasa di Pabrik ini, sudah kutendang orang itu jauh-jauh.
"Ayo Man, jangan melamun seperti itu cepat bekerja." Kata Budi, yang terus memaksaku.
"Iya-iya, kau cerewet sekali."Ketus ku pada Budi.
Budi adalah rekan kerjaku di Pabrik. Aku cukup dekat dengannya dan sering berbagi masalah dengan Lelaki ini.
"Aku cerewet demi kebaikanmu Man, jangan sampai membuat bapak pengawas marah lalu kita dipecat. Kau tahu tidak desas-desus di pabrik ini?"
Kata Budi, berbisik di telingaku.
"Desas-desus, apa itu?"
Budi kembali berbisik padaku, sepertinya ini bersifat rahasia.
"Aku mendengar secara tidak sengaja, jika di Pabrik ini akan ada pengurangan karyawan di bulan depan, dan karyawan yang akan dirumahkan. Tentu saja yang memiliki kinerja buruk, jadi kita harus pandai-pandai mengambil hati atasan dan bekerja lebih giat lagi Man, agar kita tidak di Rumahkan."
"Kau dengar dari mana?"Tanyaku, yang juga berbisik.
__ADS_1
"Aku mendengarnya dari obrolan.... Dan aku mendengarnya secara tidak senaja, tapi kau jangan bilang-bilang pada Karyawan yang lainnya ya. Cukup kita saja yang tahu soal ini "
Kata Budi memperingatkan.
Aku hanya mengangguk, mengiyakan ucapan temanku itu, aku juga baru mengetahui kenapa Pabrik ini akan merumahkan Karyawannya, padahal yang kutahu Pabrik ini baik-baik saja.
Sama seperti Budi, akupun tentu tidak mau jika di keluarkan dari Pabrik ini.
Aku belum siap jika harus kehilangan pekerjaanku.
Dengan gesit aku kembali bekerja, dan menunda lamunanku tentang Via.
❄️❄️❄️❄️
Ting!
Notif pesan masuk, berbunyi dari ponsel milik Via yang tergeletak di meja makan.
Via yang tengah sibuk memasak, mengabaikan pesan itu, karena ia pikir itu dari Operator yang memberi tahu jika kartu prabayar nya memasuki masa tenggang.
Ting!
Notif kedua, kembali terdengar oleh Via, dan ia berfikir. Apakah Operator mengirimnya pesan sebanyak dua kali hanya untuk mengingatkan masa tenggang.
Via meletakkan spatula yang ia gunakan untuk membalik tahu yang ia goreng di wajan kecil kesayangannya.
"Nomor ponsel siapa ini?"gumam Via, yang ternyata, itu bukan pesan dari Operator. Melainkan pesan Chat dari Aplikasi hijau berlogo gagang telepon.
Via menekan layar di ponsel untuk membaca isi Chat di sana.
{Selamat! Siang Via, maaf aku mengganggumu. Aku hanya ingin memberi tahu, jika Tante Jubaidah, Ibu Mertuamu, meminta uang sebesar 10 juta rupiah padaku. Dia juga bercerita banyak tentangmu padaku, karena aku tidak tega. Aku memberikan uang itu pada Ibu Mertuamu yang sepertinya sangat membutuhkan uang, maaf ya Via, jika Tante Jubaidah mengandalkan aku, dan kamu jangan salah faham. Aku memang sudah sangat dekat dengan Ibu Mertuamu. Dan sepertinya Tante Jubaidah masih mengharapkan aku untuk menjadi Menantunya. }
Satu pesan panjang lebar terpampang jelas di layar ponsel Via, dan pesan itu ternyata dari Selvi yang di lengkapi dengan Emot senyum miring.
Tangan Via, kembali membuka pesan kedua.
Dan itu adalah, sebuah foto bukti Transfer Selvi ke Rekening Jubaidah.
"Apa maksudnya ini, kenapa dia malah mengirimkan pesan ini padaku, bukan pada Masa Rahman anaknya. Agar Mas Rahman tau jika Ibunya meminta uang pada Selvi."gumam Via, dengan kesal.
Tapi Via berfikir, untuk apa Jubaidah meminta uang sebanyak itu pada Selvi, bukankah Rudi baru pulang.
Bersambung...
Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini 🙏
Minta dukungannya ya 🙏
__ADS_1
Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini 🙏
Lope banyak-banyak untuk semuanya ❤️❤️❤️