Istriku Boros! Menantu Yang Tidak Di Inginkan

Istriku Boros! Menantu Yang Tidak Di Inginkan
Seperti Psikopat!


__ADS_3

Selamat! Selamat membaca 🤗


Via terus menghubungi nomor tersebut berulang-ulang, dia ingin memastikan apakah ponsel tersebut sudah ada di tangan Rahman atau di tangan orang lain. Tentu saja, Via tidak menduga bahwa saat ini ponsel tersebut berada di tangan Jubaidah dan di gudang yang kosong.


Jubaidah tengah berperang dengan batinnya. Jika ia menuruti keadaan dan situasi saat ini, ia ingin sekali mengangkat telepon dari Via dan meminta tolong pada menantunya itu. Namun ketika emosi dan hati dengki Jubaidah kembali membisikkan di telinganya, Jubaidah mengurungkan niat itu dan memutuskan untuk tidak meminta bantuan kepada Via. Ia berpikir Via tidak akan sudi membantunya dan malah akan lebih menyiksanya daripada situasi saat ini.


"Apa yang harus aku lakukan!" gumam Jubaidah sambil terus meremas dadanya yang terasa nyeri.


Karena panggilannya tidak kunjung diangkat, Via memutuskan untuk mengabaikannya saja dan akan bertanya pada Rahman. Jubaidah semakin kehilangan kesempatan untuk bebas dari tempat itu.


"Aaaaaakkkhhhh...." Rohmah kembali berteriak. Entah apa yang terjadi pada wanita itu karena Jubaidah tidak bisa memastikannya. Kakinya terlalu berat untuk berjalan, padahal mereka hanya berjarak di ruangan berbeda saja.


"Rohmah!" teriak Jubaidah. Namun teriakan itu lebih terdengar seperti rintihan.


Kunci dan pintu terdengar dibuka. Jubaidah segera berpura-pura memejamkan mata dan menyembunyikan ponsel milik Rahman. Ada suara ketukan sepatu beradu di lantai yang terdengar nyaring di ruangan kosong seperti ini, membuat Jubaidah semakin merinding. Ia takut jika itu seseorang yang akan berbuat buruk padanya.


Suara ketukan sepatu berhenti tepat di depannya, dan Jubaidah bisa merasakan kehadiran seseorang di sana meskipun tanpa melihatnya karena ia masih berpura-pura tidur.


Kali ini suara saklar lampu terdengar dan seketika ruangan itu jadi terang benderang. Jubaidah juga mendengar suara-suara lainnya, termasuk suara seseorang yang seperti tengah membuka bungkusan di dalam plastik. Namun Jubaidah masih belum berani membuka matanya karena ia belum mendengar suara manusia di sana.


"Bangunlah! Jangan berpura-pura tidur seperti ini, ini sudah siang waktunya kau makan," kata Rahman dengan suara lembut namun terdengar menyeramkan di telinga Jubaidah.

__ADS_1


Takut jika kelakuannya ini membuat Rahman marah, Jubaidah perlahan membuka matanya dan ia berani menatap anaknya yang tengah berdiri menjulang di hadapannya yang masih tergeletak di lantai kotor dan berdebu.


"Rahman!" panggil Jubaidah namun dengan suara yang bergetar.


"Kembali ke tempatmu dan duduk yang benar, lalu makan ini," kata Rahman sambil menyodorkan satu mangkok bubur di hadapan Jubaidah.


Melihat aura Rahman yang begitu mengerikan seperti seorang pemburu, Jubaidah tidak berani mengatakan apapun selain berusaha menyeret kembali badannya menuju karpet.


"Kau ini lelet sekali, di mana kekuatanmu dulu!" kesal Rahman yang melihat Jubaidah sangat lama hanya untuk sampai di karpet padahal jaraknya hanya beberapa langkah saja.


Mendengar perkataan yang menyakitkan itu, Jubaidah meneteskan air mata.


Dan Rahman malah tertawa mendengar ucapan tersebut.


"Ibu, untuk apa aku membawa Ibu ke rumah sakit sedangkan anakmu ini bisa merawat Ibu dengan sangat baik. Ibu lihatkan! Aku datang ke sini untuk membawakan bubur ayam kesukaan Ibu dan setelah itu aku akan memberikan obat untuk Ibu," kata Rahman dengan wajah datar, namun dihiasi dengan senyum yang mengerikan.


Rahman benar-benar menjelma menjadi orang yang kejam. Ia seperti seorang psikopat yang tidak punya belas kasihan dan mempermainkan seseorang dengan rasa takut yang dimiliki korbannya.


"Sungguh benar kata orang, jangan pernah menyakiti hati seseorang! Karena jika hati orang itu sudah terluka dan hancur, ia bisa meng-cosplay diri menjadi apapun termasuk menjadi seperti monster atau psikopat yang tentu saja merugikan dirimu sendiri," pikir Jubaidah dalam hatinya.


"Rahman! Ini Ibu nak. Ini Ibu yang merawatmu sejak kecil, membesarkanmu dengan penuh kasih sayang dan perhatian. Kenapa kau tega melakukan ini pada Ibu! Apa kau tengah bercanda! Jika itu memang ia, tolong akhiri Rahman. Ibu sudah tidak kuat dada Ibu begitu sakit dan semua badan Ibu terasa di-remas-remas, dan di sebelah sana, di ruangan sana ada kakakmu Rohmah, tolong lepaskan Rohmah, bawa kembali Rohmah pulang," pinta Jubaidah yang masih belum menyadari kebencian Rahman padanya.

__ADS_1


"Kenapa Ibu banyak bicara sekali! Sudah lebih baik Ibu habiskan bubur ini agar Ibu cepat sehat kembali, dan untuk Mbak Rohmah, Ibu jangan khawatir. Tentu saja aku juga akan memperhatikan kakakku tersayang itu. Aku sudah menyiapkan makanan kesukaannya," sahut Rahman sambil menunjukkan kantong plastik transparan yang berisi makanan kotak yang ia siapkan khusus untuk Rohmah.


Dengan susah payah, Jubaidah sudah kembali ke karpet dan duduk di sana. Ia meraih mangkuk bubur yang diberikan Rahman lalu memakannya secara perlahan. Di saat Jubaidah menikmati makan siangnya, Rahman berlalu menuju ruangan di mana Rohmah berada.


Dan ternyata, Rahman mengeluarkan Rohmah dari sana dan membawanya ke hadapan Jubaidah. Dengan mata berkaca-kaca, Jubaidah menatap putri sulungnya. Rohmah semakin terlihat berantakan. Bahkan dia sudah benar-benar kehilangan kewarasannya dengan sempurna. Sampai dengan Jubaidah pun Rohmah tidak mengenali. Entah apa yang dilakukan Rahman pada kakaknya itu sehingga Rohmah semakin parah.


"Rahman, kenapa kakakmu menjadi semakin parah seperti ini? Bukankah dia sempat dirawat di Rumah Sakit Jiwa? Seharusnya dia sudah sembuh, kan, Rahman?" kata Jubaidah dengan mata yang sudah meneteskan airmata karena tidak tega melihat kondisi putrinya.


"Seperti apa yang Ibu bilang, Mbak Rohmah baru akan sembuh jika ia menjalani pengobatan secara ritual seperti yang hendak Ibu dan dukun itu lakukan!" sahut Rahman dengan santai. Lalu, ia menarik sebuah bangku dan mendudukkan Rohmah di situ. Dia membuka kantong plastik berisi nasi kotak dan memberikannya kepada Rohmah. "Makanlah, Mbak! Bukankah Mbak Rohmah sangat senang dengan makanan pemberianku!"


Rohmah yang sudah sempurna kehilangan akal sehatnya dengan tergesa-gesa menyantap makanan itu seperti anak kecil yang baru belajar makan, dengan nasi yang berceceran di mana-mana. "Lihatlah, Bu! Kakakku ini sangat bernafsu sekali! Dari dulu sampai sekarang, dia memang sangat bernafsu dengan apa yang aku berikan!" kata Rahman yang tersenyum lebar, seolah puas dengan pemandangan seperti ini.


Rahman menyodorkan botol air mineral, dan seperti orang yang sudah puluhan tahun tidak minum, Rohmah menyambarnya dan meminum air itu secara brutal. Rahman semakin tersenyum senang, ia seperti melihat tontonan yang paling ia sukai di muka bumi ini.


Sementara itu, Jubaidah semakin berlinangan air mata dan menangis dalam hati. Tanpa bisa berbuat apa-apa, karena kelemahannya.


Bersambung...


❄️❄️❄️❄️


Terima kasih telah berkunjung ke cerita ini 🙏. Tolong dukungannya ya 🤗. Mohon koreksinya jika ada kesalahan dalam tulisan ini 🙏. Terima kasih banyak untuk semuanya ❤️❤️❤️.

__ADS_1


__ADS_2