Istriku Boros! Menantu Yang Tidak Di Inginkan

Istriku Boros! Menantu Yang Tidak Di Inginkan
Mencari Keberadaan Via


__ADS_3

Selamat! Membaca 🤗🤗


"Tapi....!"


"Rohmah, dengarkan aku baik-baik."Rudi maju dan lebih mendekatkan dirinya pada Rohmah dan menyentuh kedua pundak wanita itu," Dengar, kau bisa meminta uang itu pada Ibumu. Aku sangat yakin jika Ibumu akan mendukung bisnis ku ini."


"Itu benar Mas, tapi Ibu tidak mempunyai uang sebanyak itu. Dan Rahman juga tidak bisa di andalkan karena ia tengah berada di Rumah Sakit."


Rudi berfikir sejenak, ia tengah mencari solusi agar mendapatkan uang yang di inginkannya sebesar 100 juta.


Tidak butuh waktu lama, Rudi yang sudah sangat pandai mengelabui orang tentu akan cepat mendapatkan solusi.


"Bagaimana, kalau kita gadaikan saja sertifikat Rumah ini?" Dan inilah ide gila yang Rudi usulkan.


"Gadai Sertifikat Rumah! Apa Mas Rudi bercanda? Rumah ini satu-satunya peninggalan mendiang Ayah, Ibu tidak akan setuju jika harus menggadaikan begitu juga aku." Sontak saja Rohmah akan menolaknya.


Tapi Rudi tidak tinggal diam, ia akan terus membujuk Rohmah sampai wanita itu mau memberikan Sertifikat Rumah yang mereka tinggali.


"Kita bukan menjualnya, kita hanya menggadaikannya. Dan jika aku sudah mendapatkan keuntungan dari bisnis ku ini, aku akan segera menebusnya bahkan merenovasi Rumah ini menjadi Rumah paling mewah se-Kabupaten ini. Bagaimana?"


Rohman masih ragu ia tidak bisa memberikan jawaban apapun pada Rudi.


"Ayolah sayang! Ini aku lakukan demi kamu, Putri, dan Ibu. Tapi, jika kau tidak mau membantu aku untuk mendapatkan uang modal berbisnis itu. Aku memutuskan untuk kembali merantau ke luar Negeri."


"Jangan Mas!"seketika Rohmah panik,"Aku tidak mengizinkanmu untuk kembali pergi ke luar Negeri."


"Kalau begitu, berikan Sertifikat Rumah ini padaku, aku berjanji akan menembusnya kurang dari 1 bulan. Dan setelah itu aku akan merenovasi Rumah ini."


Akhirnya!


Rohmah mengangguk, mengiyakan apa yang diinginkan Rudi. Dan Ia pun segera masuk ke dalam Kamar Jubaidah untuk mengambil Sertifikat Rumah yang disimpan di lemari pakaian ibunya itu.


Rohmah memutuskan untuk tidak memberitahu Jubaidah, karena selain takut jika Jubaidah tidak mengizinkannya Rohmah juga ingin memberikan kejutan pada ibunya.


"Hanya satu bulan, aku yakin Ibu tidak akan mengetahui bahwa sertifikat ini tidak ada hanya dalam waktu sesingkat itu."Gumam Rohmah, sambil menatap sertifikat yang dibungkus dengan map berwarna coklat yang ada di tangannya.


"Ini Mas."Dengan sangat yakin Rohmah menyerahkan Sertifikat itu kepada Rudi tanpa ia pikirkan apa yang akan terjadi kedepannya.


Tentu saja Rudi menerimanya dengan senyum sejuta wat.


"Terima kasih sayang!"


Rudi mencium kening istrinya, ia sukses mengelabuhi Rohmah hanya dengan kata-kata manis dan iming-iming uang miliaran.


***********


Rahman yang memaksakan diri keluar dari Rumah Sakit segera pergi menuju Rumah orang tua Via.


Namun tidak ada siapa-siapa di sana, Rumah itu terlihat sepi bahkan pintu gerbangnya pun ditutup. Tidak terlihat aktivitas apapun di sana.


"Maaf, cari siapa ya Pak?"


Seorang wanita bertubuh gempal menyapa Rahman yang tengah celingukan di depan pagar Rumah Rohim.


"Saya, Menantu Pak Rohim dan Ibu Aminah, Saya mencari beliau. Tapi kenapa Rumahnya terlihat sepi ya Bu?"

__ADS_1


"Oh.. Bapak ini menantunya Pak Rohim, berarti suaminya Neng Via?"


Rahman menjawabnya dengan anggukan.


"Kemarin saya lihat Mas Alvian dan Bu Aminah beserta Neng Via dan anaknya pergi menggunakan mobil, tapi setelah itu saya tidak melihatnya lagi, mungkin mereka pergi ke luar Kota atau entah ke mana. Karena saya melihat ada banyak barang yang dikemas di dalam mobil itu."


"Apa? Keluar Kota?"


"Saya juga tidak tau Pak, Bapak kan Suami Neng Via. Masa tidak tau keluarganya pergi ke mana."


Rahman sudah tidak lagi menyahuti perkataan ibu itu.


"Kalau begitu terima kasih, saya permisi dulu."


Rahman segera menyalakan motornya dan pergi dari sana, kali ini tujuannya Toko Rohim. Ia yakin jika ayah mertuanya masih ada di sana karena wanita tadi tidak menyebut nama Rohim ikut serta bersama Alvian dan Via.


Memang benar Rohim tidak ikut mengantar Via, tapi Rohim juga tidak ada di tokonya. Karena pria tua itu tengah berada di luar kota untuk mengontrol cabang tokonya yang lain.


Rahman benar-benar frustasi, ia kehilangan jejak dan harus mencari Via ke mana.


"Sial! Ini pasti ulah Mas Alvian yang membawa Via pergi dari sini. Iya benar-benar ingin menjauhkanku dari Via, tapi aku tidak putus asa aku akan tetap mencari Via."


Rahman yang tidak putus asa kembali melajukan motornya dan kali ini ia menuju ke Rumah Monik sahabat Via, Rahman sangat yakin jika Via pasti menghubungi Monik dan memberitahu keberadaannya sekarang.


❄️❄️❄️❄️❄️❄️❄️


"Dokter Bram, bagaimana dengan kondisi Satria?"tanya Via pada dokter Bram, yang baru beberapa menit lalu melakukan pemeriksaan menyeluruh pada Satria


"Semakin membaik, anakmu benar-benar kuat hingga ia menunjukkan kemajuan yang luar biasa."Sahut Dokter Bram. Dengan senyum mengembang di kedua sudut bibirnya.


"Alhamdulillah, terima kasih Dokter Bram."


"Tapi aku akan tetap berterima kasih padamu karena selama ini sudah membantuku."


"Kalau begitu, boleh aku meminta imbalan atas jasaku ini?"


Via mengerutkan keningnya, Kenapa Dokter Bram meminta imbalan bukankah ia melakukannya dengan tulus?


"Imbalan apa Dok?"


"Aku ingin mengajakmu makan malam, di warung yang tidak jauh dari tempatmu tinggal saat ini. Itu juga jika kau tidak keberatan, tapi jika kau merasa keberatan tidak apa-apa aku tidak akan memaksa."Kata Bram, tapi ia mengatakan itu dengan wajah yang sedih, berharap jika Via tidak menolaknya.


Via yang tidak enak hati, dan ia juga benar-benar harus berterima kasih pada Dokter Bram akhirnya mengiyakan ajakan Dokter Bram.


"Baiklah, aku akan datang ke warung sana."


"Kau akan datang bersamaku karena jam 08.00 malam nanti aku yang akan menjemputmu ke Rumah. Dan tidak ada penolakan untuk itu."


Via hanya bisa mengulas senyum dan ia mengangguk.


❄️❄️❄️❄️❄️


Rahman yang berniat mencari informasi melalui Monik, malah mendapat makian dan secara dari wanita itu.


Monik benar-benar melampiaskan kekesalan dan kekecewaannya pada Rahman ketika lelaki itu datang ke Rumahnya untuk menanyakan keberadaan Via.

__ADS_1


"Kau menanyakan Via di saat Via sudah pergi meninggalkanmu, selama ini kau ke mana saja Man? Kau selalu menyia-nyiakan Via ketika berada di dekatmu. Jadi untuk apa kau mencarinya lagi, biarkan Via menjalani kehidupannya sendiri bersama anaknya, Via juga berhak bahagia kan daripada harus hidup tertekan dan membatin bersamamu."


Rahman sedikit pun tidak membela diri dengan ucapan pedas dari Monik, karena ia sadar diri, memang ialah yang bersalah.


"Ada apa ini Mon, Kenapa kau marah-marah pada Rahman. Bukannya disuruh masuk dulu kok malah marah-marah."


Dino keluar dari dalam karena mendengar makian Monik kepada Rahman.


"Masih mending aku hanya marah-marah pada dia Mas, bagaimana kalau aku sampai mencekiknya."


"Monik, kau jangan sekejam ini."


"Mas Dino. Jangan karena Rahman ini teman Mas Dino, Mas Dino jadi membelanya."


"Monik, Aku....!"


"Sudah Din, tidak apa-apa. Monik benar dan ia sangat wajar memperlakukan aku seperti ini karena kesalahanku yang memang besar kepada Via sahabatnya."


"Sadar diri juga kau, dasar Suami kejam."Umpat Monik dengan suara yang pelan. Namun masih terdengar jelas di telinga Rahman dan Dino.


Monik masuk meninggalkan mereka berdua, ia sudah muak melihat Rahman, meskipun bukan dirinya yang disakiti tapi Monik tetap merasakan sakit hati hingga ia bisa bersikap cuek dan sekasar itu pada Rahman.


Dino mengajak Rahman untuk duduk.


"Sudah lama kita tidak bertemu Man, apa yang terjadi?"


"Via pergi meninggalkanku." Sahut Rahman dengan wajah sedih.


Dan ia pun menceritakan semuanya kepada Dino berharap jika temannya itu memberikan solusi dan bisa membujuk Monik untuk memberitahu Di mana Via sekarang.


\*\*\*\*\*\*\*\*


Satu Minggu sudah berlalu.


Rahman masih belum bisa mendapatkan kabar Di mana Via berada, selama satu Minggu itu ia habiskan untuk mendatangi Rumah Rohim agar lelaki itu mau memberitahu di mana Via berada. Tapi selama satu Minggu itu jugalah ia berhadapan langsung dengan Alvian yang tentu saja tidak akan memberitahu di mana Via.


Rahman kembali ke rumahnya dengan keadaan lunglai.


Dan ia melihat keluarganya berkumpul di sana.


"Ibu, Mbak Rohmah, ada apa? Kenapa kalian ke sini? Dan barang-barang ini untuk apa ada di sini? Apa kalian mau pergi"tanya Rahman yang keheranan melihat beberapa tas besar tergeletak di teras Rumahnya.


"Kau ini bagaimana sih Man, pergi lama sekali ,dan juga tidak meninggalkan kunci Rumah pada Ibu. Ibu jadi tidak bisa langsung masukan, dan karena itu Ibu menjadi pusat perhatian para tetangga di sini,"kesal juga udah kepada Rahman yang baru saja tiba.


"Memangnya Ibu mau ke mana? Kenapa harus membawa tas besar sebanyak ini dan diletakkan di depan Rumahku?"


"Kau tanya saja pada kakakmu yang bodoh ini." Sahut Jubaidah sambil menunjuk wajah Rohmah.


Bersambung....


❄️❄️❄️❄️❄️❄️


Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini 🙏


Minta dukungannya ya 🙏

__ADS_1


Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini 🙏


Lope banyak-banyak untuk semuanya ❤️❤️❤️


__ADS_2