
Selamat! Membaca 🤗
"Apa yang kau katakan, Rohmah! Jangan bikin Ibu takut seperti ini."
"Maafkan aku Bu, tapi firasatku tidak enak. Aku takut terjadi sesuatu pada Mas Rudi, Bu."
"Coba kamu hubungi Rudi sekali lagi, atau hubungi teman-temannya yang kau tahu."
"Aku tidak tahu siapa teman-teman Mas Rudi, Bu."
Kekhawatiran mereka semakin bertambah, karena tepat dipukul 00.00 Rudi tak kunjung pulang.
Ke mana sebenarnya Lelaki itu?
Apa mungkin ia mencairkan uang di Bank membutuhkan waktu seharian penuh?
Apakah benar yang dikatakan Rahman dan juga Rania, jika Rudi sebenarnya berbohong?
Atau justru, firasat Rohmah lah yang benar. Jika terjadi sesuatu yang buruk pada Lelaki itu sehingga membuat Rudi tak kunjung pulang di larut malam seperti ini.
Rohmah tidak bisa menghubungi siapapun, karena ia tidak mengetahui teman-teman dekat Rudi. Dan yang Rohmah tahu. Rudi adalah Anak yatim piatu dan tidak mempunyai saudara atau Keluarga.
"Sudahlah Rohmah, Ibu mau tidur dulu. Mata Ibu sangat mengantuk, jika Rudi sudah pulang jangan lupa bangunkan Ibu,"kata Jubaidah yang merasa lelah dan mengantuk.
"Apa! Tidur? Ibu masih bisa ingin tidur di situasi seperti ini? Aku tengah mencemaskan Mas Rudi yang tak kunjung pulang Bu, Ibu bisa kan menemaniku sampai Mas Rudi pulang?"
"Aduh Rohmah, Mata Ibu sangat mengantuk. Kau tahu kan jika Ibu tidak bisa tidur telat, Ibu bisa sakit kepala nanti. Kau saja yang menunggu Rudi pulang, Ibu mau tidur dulu. Jangan lupa jika Rudi sudah pulang bangunkan Ibu,"kata Jubaidah dan segera melangkahkan kakinya memasuki Rumah dan menuju ke Kamarnya.
Rupanya, rasa kantuk yang melanda di kedua bola matanya mengalahkan kekhawatiran terhadap menantu kesayangannya yang tak kunjung pulang.
Mau tidak mau, Rohmah pun harus terjaga sendiri untuk menunggu suaminya pulang, ia yang merasa takut karena harus berdiri di depan teras dipukul keramat ini, memutuskan untuk menunggu Rudi di dalam.
Dalam hatinya berdoa, dan mulutnya terus berkomat-kamit memanjatkan harapan agar Suaminya itu segera pulang dalam keadaan baik-baik saja.
"Di mana kamu Mas, Kenapa sudah selarut ini belum juga pulang. Apa Kau tahu aku sangat mengkhawatirkanmu,"gumam Rohmah.
❄️❄️❄️❄️❄️
KRIIIING........
Suara Alarm menggema di Kamar tidur Rahman dan Via.
Via yang terlebih dahulu mendengar suara Alarm itu segera bangkit dari tidurnya, karena sudah memasuki waktu Subuh.
Via membangunkan Rahman, namun Lelaki itu hanya menggerakkan badannya sambil bergumam 'Eeeemmm' tapi ia enggan untuk bangun dan memilih melanjutkan tidurnya.
"Selalu seperti ini,"keluh Via. Yang lagi-lagi melihat Rahman tidak mau bangun untuk menunaikan kewajiban di waktu subuh.
Padahal, di awal-awal menikah Rahman sangat rajin sekali. Bahkan ia yang bangun terlebih dahulu dan membangunkan Istrinya untuk menunaikan kewajiban bersama, namun semua itu sudah tidak lagi Via rasakan satu tahun terakhir ini.
❄️❄️❄️❄️
"Mas, kau tidak bekerja! Kenapa belum bersiap-siap. Ini sudah jam 07.00?"tanya Via pada Rahman, yang menggunakan pakaian Rumahan, bukan seragam yang seperti biasa ia pakai ketika di pagi hari.
"Aku izin hari ini,"sahut Rahman dengan santai. Dan ia langsung mendudukkan diri di kursi yang melingkari meja makan.
Rahman kembali membelalakkan matanya ketika melihat sarapan yang Via hidangkan di meja makan, menatap beberapa masakan yang tersaji dan terlihat nikmat, Rahman semakin menguatkan tekadnya yang ingin membuntuti Via hari ini.
Semalam Via meminta izin padanya ingin ke rumah Ibunya, dan pergi ke Rumah Sakit mengontrol Satria.
__ADS_1
Rahman yang mengizinkan itu diam-diam menyimpan kecurigaan besar pada Via, hingga timbullah rencana di otaknya untuk membuntuti Via hari ini.
"Libur! Ini bukan hari Minggu kan?"
"Memangnya kenapa kalau bukan hari Minggu, terserah aku mau libur kapanpun aku mau,"sahut Rahman dengan ekspresi wajah yang terlihat kesal.
Via bingung, kenapa Rahman jadi aneh seperti ini. Padahal ia tidak melakukan kesalahan, tapi kenapa Rahman terlihat kesal seperti itu.
"Aku hanya bertanya Mas,"sahut Via.
Setelah selesai melayani Suaminya, dan merapihkan Satria.
Via berpamitan pada Rahman, karena Taksi Online yang ia pesan sudah datang.
"Aku pergi dulu ya, Mas. Kau yakin tidak mau ikut?"tanya Via, memastikan. Karena ia sempat mengajak Rahman untuk ikut serta.
Tapi lelaki itu menolak dengan berbagai alasan.
Dan Via pun pergi bersama Satria.
Setelah memastikan Via pergi, Rahman bersiap-siap membuntuti Taksi Online yang mengantar Via.
Namun baru saja Rahman menyalakan motornya, ia di kejutan dengan kehadiran Seno, yang memanggilnya dari arah belakang.
"Kau mau ke mana, Man?"
"Pergi,"sahut Rahman dengan ketus, karena ia kesal kepada Seno yang secara tidak sengaja mengejutkannya.
"Pergi bekerja?"Seno kembali bertanya, Lelaki itu tidak menyadari jika Rahman sebenarnya sudah sangat kesal dan ingin segera pergi membuntuti Via. Iya takut jika sampai kehilangan jejak Istrinya.
"Bukan, aku hanya ada urusan sedikit."
Rahman menatap Seno.
"Untuk apa kau menanyakan itu? Tentu saja aku sibuk,"lagi-lagi Rahman menjawab dengan nada ketus.
Seno terkekeh mendengar sahutan Rahman.
"Kau ketus sekali, apa seperti ini sikapmu pada teman lama,"kata Seno dengan nada Bercanda.
"Sudahlah, jika tidak ada lagi yang ingin kau tanyakan, aku pergi dulu. Karena ada sesuatu yang jauh lebih penting dari pada membahas tentang pertemanan lama kita,"ujar Rahman.
"Baiklah! Aku tau kau sangat sibuk. Nanti malam aku tunggu kau di tempat biasa dulu kita nongkrong."
"Kau sudah tau aku sibuk, tapi malah mengajakku bertemu?"Rahman menggelengkan kepalanya.
"Hahaha... Kau ini sangat berbeda dengan Via, Istrimu yang ramah jika di ajak bicara."
Mendengar Seno menyebut nama Via, Rahman jadi menajamkan matanya.
Lelaki yang tengah diliputi kecurigaan pada Istrinya itu semakin memanas ketika ada Pria lain menyebut nama Istrinya.
Di tambah lagi, telinga Rahman menangkap nada suara yang berbeda dari Seno ketika menyebut nama Via.
"Kapan kau berbicara dengan Via?"tanya Rahman, menyelidiki.
Seno yang tidak menyadari itu, menyahut seperti bisa.
"Kemarin malam."
__ADS_1
"Kemarin malam!"
Baru mendengar kata kemarin malam saja dada Rahman sudah bergemuruh.
Apalagi jika ia mengetahui kalau kemarin Via di antar pulang oleh Seno.
"Iya, kau kenapa, Man?"
Rahman menggeleng.
"Tidak apa-apa, aku pergi dulu."Ucapanya dengan menyalahkan motor lalu pergi dari hadapan Seno yang masih terlihat bingung dengan ekspresi Rahman.
Setelah mendengar cerita singkat dari Seno, Rahman ingin segera menemui Via untuk mempertanyakan, apa yang Via bicarakan dengan Seno di malam hari.
❄️❄️❄️❄️❄️
"Rohmah! Bangun, kenapa kau tidur di sini! Di mana Rudi? Apa dia belum pulang?"
Jubaidah membangunkan Rohmah, yang tertidur di sofa Ruang tamu.
"MAS RUDI!"
Teriak Rohmah, yang langsung beranjak dari tidurnya, karena terkejut dengan suara Jubaidah yang membangunkan sambil mengguncangkan tubuhnya.
"Astaga! Aku bermimpi buruk tentang Mas Rudi,"gumam Rohmah. Yang baru tersadar dari tidurnya.
Ternyata Rudi masih belum kembali, Rohmah sampai tertidur di sofa karena menunggu lelaki itu.
"Apa! Jadi Rudi belum pulang?" Kata Jubaidah dengan suara keras menggema.
"Belum Bu, aku sangat mengkhawatirkan Mas Rudi."
"Yang harus kau pikirkan itu uang ratusan juta yang dibawa Rudi Rohmah."Kata Jubaidah.
"Aku juga memikirkan Mas Rudi, Bu. Bagaimana kalau sesuatu yang buruk terjadi padanya?"
"Rohmah, ka....!"
Tok.
Tok.
Tok.
Ucapan Jubaidah terhenti ketika mendengar suara ketukan pintu.
"Siapa yang bertamu di pagi hari seperti ini,"kesal Jubaidah.
Bersambung....
❄️❄️❄️❄️❄️
Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini 🙏
Minta dukungannya ya 🙏
Tolong koreksi jika ada Kesalahan dalam tulisan ini 🙏
Lope banyak-banyak untuk semuanya ❤️❤️❤️
__ADS_1