Istriku Boros! Menantu Yang Tidak Di Inginkan

Istriku Boros! Menantu Yang Tidak Di Inginkan
Apa Yang Di Lakukan Selvi Dan Rahman?


__ADS_3

Selamat! Membaca 🤗


"Menjemput Via!"


Alvin datang dan ia terkejut ketika mendengar Rohim mengajak istrinya untuk menjemput Via.


Aminah yang sempat mematung kembali tersadar dengan datangnya Alvian.


"Ada apa ini Yah, Bu? Kenapa kalian ingin menjemput Via?"


Alvian tentu bisa menyadari jika ada sesuatu yang terjadi pada Adiknya, hingga Orang Tua mereka harus menjemput Via.


"Alvian, tolong panaskan mobil, Ayah ingin menjemput Adikmu sekarang,"sahut Rohim yang memberi titah pada Putranya.


Rohim berlalu memasuki kamarnya, mungkin lelaki itu ingin mengambil sesuatu sebelum pergi ke Rumah Via.


"Bu, ada apa ini Bu. Kenapa kalian harus sampai menjemput Via, apa terjadi sesuatu dengan Adikku?"Alvian beralih bertanya kepada Ibunya, dan ia sudah sangat khawatir jika terjadi sesuatu dengan Adik kesayangannya itu.


"Tidak apa-apa Vian, Via hanya ingin pulang ke sini dan meminta Ayah untuk menjemputnya,"ujar Aminah menutupi. Karena ia tahu, seperti apa murkanya Alvian jika tau kejadian yang sebenarnya sampai Via meminta dijemput untuk pulang.


"Kalau begitu aku ikut,"kata Alvian.


Aminah yang takut jika Alvian mengamuk di sana, langsung menghentikan keinginan Putra sulungnya itu.


"Tidak Vian, kau di sini saja, biar Ibu dan Ayah yang menjemput Via pulang."


"Tidak Bu, pokoknya aku harus ikut, aku ingin memastikan jika Adikku itu baik-baik saja,"ujar Alvian dan ia langsung menuju ke garasi untuk memanaskan mobil seperti perintah dari Rohim.


Aminah tidak bisa menghentikan putranya, menutupi pun rasanya tidak mungkin karena cepat atau lambat Alvian pasti mengetahui kejadiannya sebenarnya. Jadi wanita itu pun memutuskan untuk mengajak serta Alvian menjemput Savia.


❄️❄️❄️❄️❄️


POV Rahman.


Hari ini aku benar-benar dibuat kesal, bisa-bisanya Seno datang melabrakku dan langsung menuduhku yang tidak tidak bahkan ia sampai memukul wajahku ini, dan apa tadi! Bahkan Mbak Dewi pun turut campur dan mengatakan jika aku akan menyesal karena telah menyakiti Via, memangnya apa yang telah aku lakukan pada Istriku itu?


Aku tidak pernah menyakitinya.


Mereka benar-benar aneh dan sok tahu.


Sepanjang perjalanan menuju Toko yang dimaksud oleh Selvi, hatiku mendumel karena tidak terima kejadian tadi. Aku benar-benar seperti dipermalukan di depan para warga, ini semua ula Seno, tidak! Bukan hanya Seno, Via juga ikut andil dalam persoalan ini, Seno melabrakku karena ia menyukai Via.


Ya, aku tahu itu, Seno menyukai Via, bahkan dari dulu si brengsek itu sudah menyukai Via sejak aku belum menikahinya.


Menyebut nama Via, aku jadi teringat dengan keanehan Via sebelum aku pergi tadi.

__ADS_1


Via terlihat aneh, Via juga mengatakan bahwa ia tidak akan lagi melarangku untuk pergi dan bertemu dengan Selvi, apa maksudnya?


Apa dia sudah mengerti? Baguslah, berarti aku sudah tidak perlu lagi repot-repot menjelaskan pada Via jika aku dan Selvi tidak mempunyai hubungan apapun. Tapi kenapa Via tidak mau menatapku tadi?


Ah, sudahlah! Aku tidak mau menambah kekesalan lagi dengan mengingat Via dan kejadian tadi, tapi aku masih tetap kesal dengan Via, bahkan aku dipukuli seperti ini Via tidak keluar dari Rumah, apa yang dilakukan wanita itu, apa dia tidak kasihan melihat suaminya dihajar oleh si brengsek Seno itu.


"Man, kau kenapa, apa wajahmu sakit? Bagaimana kalau kita ke Dokter, aku takut terjadi infeksi di wajahmu,"ucap Selvi yang menyadarkanku dari kekesalan.


Dia terlihat cemas dan sangat khawatir dengan kondisiku, berbeda sekali dengan Via yang bahkan tidak mau keluar dan melihat keadaanku. Seandainya Via bisa seperti Selvi.


Ah, aku kenapa lagi-lagi selalu membandingkan Via dan Selvi, tapi biar bagaimanapun juga Via tidak akan pernah tergantikan di hatiku.


"Man, kenapa kau diam?"


"Eh, maaf. Aku hanya sedang tidak fokus."


"Apa wajahmu sakit?"tanya Selvi kembali.


"Tidak, aku sudah tidak apa-apa kau jangan khawatir."


"Baiklah, apa kau mengenali lelaki yang memukulmu itu, kenapa dia terlihat marah sekali ketika melihatmu bersamaku?"


Aku mengangguk menyahuti pertanyaan Selvi.


"Dia temanku dulu, dia menyukai Via. Mungkin dia marah melihat kedekatan kita."


"Bagaimana aku bisa pindah Sel Rumahku kan di sana."


"Bisa saja, asal kau mau, aku akan membantunya."


"Tidak Sel, terima kasih, selama ini aku cukup nyaman tinggal di sana."


"Baiklah itu terserah kau saja, aku hanya tidak mau jika lelaki itu kembali menghajarmu di saat aku datang menjemputmu untuk jalan."


Aku hanya diam tidak menyehuti ucapan Selvi karena entah mengapa tiba-tiba hatiku merasa gelisah dan tidak tenang, kegelisahanku ini tertuju pada Via. Kenapa aku bisa memikirkan dia, rasanya aku ingin segera pulang untuk melihat keadaan Istriku itu.


Tiba-tiba Selvi menepikan mobilnya.


"Kenapa berhenti?"tanyaku bingung, padahal ia sendiri ingin buru-buru sampai ke Toko untuk membeli hadiah Ibunya yang esok hari berulang tahun.


Bukannya menjawab pertanyaanku Selvi malah mengukir senyum di sudut bibirnya, Selvi memang cantik apalagi jika tersenyum seperti itu dia jadi semakin cantik. Tapi bagiku, wanita yang paling cantik di dunia ini adalah Via. Tapi sudah sangat lama aku tidak pernah lagi melihat Via tersenyum, ia selalu terlihat murung dan cemberut.


"Sel, bukankah kita mau buru-buru, tapi kenapa kau malah menepikan mobil di sini?"


Biasanya aku yang menyetir mobil ketika kami pergi berdua, tapi karena tadi aku sedang emosi jadi Selvi yang mengambil alih kemudi, dan inilah hasilnya. Selvi sesuka hatinya menepikan mobil.

__ADS_1


"Aku hanya ingin mengobati luka di pipimu itu sebentar Man, itu terlihat merah dan membengkak, aku takut infeksi. Kau tidak mau diantar ke Dokter jadi biar aku saja yang mengobatinya,"sahut Selvi dan dia membuka sabuk pengaman di badannya.


"Tidak usah Sel, aku baik-baik saja dan luka ini juga tidak terlalu sakit kok nanti juga sembuh sendiri, biar Via yang akan mengobatiku nanti di Rumah."


"Via, kenapa harus menunggu Via jika ada aku disini yang bisa mengobatinya lebih cepat."


Aku benar-benar tidak habis pikir, Selvi selalu saja memaksa sesuatu yang sudah menjadi keinginannya.


Tampa menunggu persetujuanku Selvi mengeluarkan kotak P3K yang ia simpan di belakang jok mobil.


Dan ia mulai mendekatkan wajahnya sambil mengulurkan tangan untuk mengoleskan salep ke pipiku yang terasa sakit dan sudah pasti memar.


Tapi Selvi semakin dekat hingga wajahnya pun benar-benar hanya berjarak beberapa centi saja dengan wajahku, hembusan nafasnya begitu terasa menyapu wajahku, tanpa sadar seluruh badanku merinding dibuatnya.


Selvi mengukir senyum menatap mataku, lalu tangan yang tadinya ia gunakan untuk menyentuh pipiku beralih menyentuh bibirku, aku sedikit terkesima dengan posisi ini, apa yang Selvi lakukan sedekat ini. Bergerak sedikit saja tentu wajah kami akan beradu.


Tangan Selvi semakin meraba bibirku dan ia pun memiringkan wajahnya, aku sungguh terkunci dengan posisi seperti ini. Seluruh tubuhku membeku, dengan jarak sedekat ini. Sekarang aku tahu apa yang ingin Selvi lakukan dengan posisi seperti ini, entah kenapa tubuhku merespon dan tidak ingin menolaknya, apakah aku juga menginginkan apa yang diinginkan Selvi.


❄️❄️❄️


POV Via.


Aku sudah mengambil keputusan, langkah apa yang harus aku ambil, karena aku sudah tidak sanggup bertahan dengan situasi seperti ini.


Aku sudah seringkali memberi Mas Rahman kesempatan agar ia berubah, tapi sebanyak itu juga ia mengingkarinya.


Hari ini, aku Savia Putri. Memutuskan untuk pergi dari Rumah ini. Rumah yang sudah 2 tahun lebih aku tempati oleh Mas Rahman dan di Rumah ini juga kami membangun kebahagiaan dengan penuh canda tawa, kasih sayang. Hingga kami pun memiliki buah hati tercinta, tapi ternyata aku tidak bisa mempertahankan kebahagiaan dan keharmonisan Rumah tangga yang sudah aku bangun. Karena aku tidak akan sanggup jika harus mempertahankannya seorang diri, bukankah rumah tangga dibangun dengan bersama, tapi kenapa harus aku yang mempertahankannya, sedangkan Mas Rahman berulang kali coba meruntuhkannya.


Jika hanya karena masalah orang tua Mas Rahman yang terus merendahkan dan mencaciku, aku masih bisa bertahan karena itu pun sudah terjadi selama hampir 2 tahun.


Tapi entah kenapa hatiku remuk ketika Mas Rahman memutuskan dekat dengan seorang wanita bernama Selvi.


Aku akan bisa bertahan dengan Mas Rahman dalam kondisi apapun, tapi aku tidak bisa bertahan jika Mas Rahman sudah membagi hatinya dengan wanita lain.


Karena batas kesanggupan wanita ketika Suaminya mendua.


Bersambung....


❄️❄️❄️❄️❄️


Terima kasih sudah berkunjung ke cerita ini 🙏


Minta dukungannya ya 🤗


Tolong koreksi jika ada kesalahan dalam tulisan ini 🙏

__ADS_1


Lope banyak-banyak untuk semuanya ❤️❤️❤️


__ADS_2